“Menjadi model?” Kedua mata Grace terbelalak.
Adro mengangguk. “Ini adalah hari terakhirku bekerja di restoran. Mulai besok, aku akan menjalani pelatihan dan mengiap di asrama agency mereka selama lima hari,”
“O-oh… Ini… sejujurnya sangat mengejutkanku,” Gumam Grace.
‘Kenapa Adro tidak memberitahukan hal ini padaku sebelum benar-benar menandatangani kontraknya? Namun, bukankah aku tidak memiliki hak untuk berpikir seperti ini? Kami hanya teman, ‘kan?’ Pikir Grace.
Kemudian, ia tersenyum pada Adro. “Itu sangat keren, Adro. Yang aku tahu, Sky Talent adalah perusahaan agency yang sangat terkenal. Aku yakin kau akan menghasilkan banyak uang dan bisa membeli apa pun yang kau inginkan seperti para selebriti di luar sana. Aku akan terus mendukungmu sampai sukses!”
Sukses? Kata itu membuat Adro terdiam. Sebenarnya apa devinisi sukses? Ia terlahir dengan status calon raja di dalam mulutnya, di mana raja adalah pemimpin tertinggi di kerajaannya. Sejak kakeknya memimpin, mereka selalu memenangkan peperangan sehingga kemampuan berperang itu mengalir dalam darah ayah dan dirinya, ditambah, mereka memiliki para jendral dan panglima hebat.
Jika dipikir, semuanya sudah tersedia untuknya sejak awal. Namun di dunia ini, ia harus memulai segalanya dari nol. Apakah jika ia berhasil dalam pekerjaannya nanti, ia akan merasakan sukses yang sebenarnya? Ia penasaran bagaimana rasanya.
Menyadari Adro malah melamun, Grace menghentikan celotehannya. “Eum, Adro, apa kau baik-baik saja?”
Terjaga dari lamunannya, Adro tersenyum. “Aku baik-baik saja, hanya tiba-tiba terpikirkan tentang sebuah hal kecil. Grace, terima kasih karena selalu mendukungku,”
Grace tersenyum, dan menggeleng. “Ini bukan apa-apa. Aku hanya menyemangatimu saja,”
Kemudian, ia teringat sebuah hal. “Oh, yah. Aku dari tadi sudah menunggu-nunggumu pulang untuk memberikan kejutan,” Grace melompat bangkit dari sofa.
“Kejutan apa?” Adro tertawa kecil melihat wajah ceria gadis itu.
“Kau akan tahu nanti. Sekarang, tolong tutup matamu. Jangan dibuka hingga aku mengatakannya, oke?”
“Baiklah… Kau ini ada-ada saja,” Kekeh Adro sambil menutup matanya.
Begitu mata Adro sudah tertutup, Grace melesat menuju kamarnya. Tidak lama, ia kembali dengan membawa sesuatu, lalu berdiri di hadapan Adro yang masih duduk di sofa. “Baiklah. Kau bisa membuka matamu sekarang,”
“Apakah itu sesuatu yang sangat-“ Kalimat Adro terputus ketika matanya sudah terbuka penuh hingga ia dapat melihat apa yang berada tepat di depannya.
“Aku minta maaf karena terlalu lama mengerjakan lukisan ini, ditambah pernis yang kali ini aku gunakan ternyata mengering sedikit lebih lama dari yang biasa. Aku akan mengumpulkan lukisannya besok, jadi sekarang-“ Grace menghentikan bicaranya saat menyadari wajah tertegun Adro yang tidak biasa, seakan pria itu sangat terkejut pada lukisan yang masih ia pandang.
“Jo-Joselyn…” Gumam Adro sebelum mengangkat tangannya untuk meraba lukisan itu. Lukisannya benar-benar mirip, seakan calon ratunya itu sungguhan berada di hadapannya.
Sejak meninggalkan istana dan terdampar di dunia asing ini, Adro hanya dapat melihat wajah Joselyn di dalam ingatannya. Namun, kini ketika wajah gadis itu muncul di depan kedua matanya, ia menyadari bahwa ia sudah cukup lama melupakannya. Bagaimana mungkin ia bisa melupakan Joselyn selama ini?
“A-Adro…” Gumam Grace seraya memegang dadanya sendiri. Itu adalah wajah yang sama yang Adro perlihatkan ketika pertama kalinya mereka gagal mendapat petunjuk untuk jalan pulangannya di mansion terbengkalai.
“Aku… Aku hampir melupakannya – Joselyn. Hampir melupakan mereka semua – Rumahku,” Ucap Adro pelan sebelum mengusap wajahnya dengan telapak tangan. “Kau benar, Grace. Aku sudah kehilangan tujuan awalku, namun aku terus menyangkalnya selama ini. Sekarang ketika aku melihat wajah Joselyn lagi, aku baru menyadari bahwa aku benar telah kehilangan harapan dan tujuan untuk kembali,”
“Adro…” Grace ikut duduk di samping pria itu.
Merendahkan punggungnya sambil memegangi kepalanya, Adro melanjutkan, “Aku bingung. Harga diri dan tanggungjawabku sebagai putra mahkota menyuruhku untuk terus mencari jalan kembali. Namun, sesuatu yang jauh berada di dalam diriku menyuruhku untuk berhenti, dan malah berjuang di dunia baru ini. Aku merasa kehilangan jati diriku. Tidak. Aku bahkan tidak yakin jika sejak awal aku memiliki jati diri yang aku bentuk sendiri atau tidak,”
“Adro, tenanglah…” Ucap Grace pelan sembari mengusap punggung bergelombang pria itu.
Namun tiba-tiba, Adro bergerak memeluk Grace erat, hingga membuatnya mematung.
“Aku melihat banyak orang yang sedang terpuruk melakukan hal ini. Ibuku pernah memelukku saat aku kecil. Ini tidak apa, ‘kan? Apa aku mengejutkanmu?” Tanya Adro pelan dengan dagu bertengger di pundak Grace.
Kalimat lirih Adro membuat ketegangan pada tubuh Grace seketika mencair. Ia menggeleng pelan sambil tersenyum lembut sebelum mengusap punggung lebar pria itu lagi. “Rasa terkejutku tidak penting sekarang. Aku senang jika hal kecil ini bisa membuatmu merasa lebih baik. Aku pun selalu memeluk nenekku saat sedang terpuruk. Aku tahu bagaimana rasanya,”
“Terima kasih… Grace,” Ucap Adro pelan sembari mengeratkan pelukannya, dan menguburkan wajahnya di rambut harum dan lembut Grace.
Terakhir kali Adro memeluk seseorang adalah ketika ia berusia sekitar sebelas tahun – memeluk ibunya. Saat itu, ia masih berada dalam usia anak-anak di mata kerajaan, sehingga dianggap masih membutuhkan perlindungan dari seorang ibu.
Grace adalah wanita pertama yang Adro peluk setelah sang ibu. Dan ia tidak dapat menyangkal betapa nyamannya berada dalam pelukan gadis ini. Hal yang lebih lucu adalah, ia bahkan secara tidak sadar memeluk Grace tadi. Ya, ini bukanlah bagian dari apa yang ia pikirkan, melainkan sesuatu yang nalurinya katakan. Sepertinya, keadaan ini benar-benar membuatnya berantakan.
“Aku merasa lemah,” Ucap Adro tanpa melepas pelukannya.
Merekatkan kedua telapak tangannya di punggung Adro, Grace dapat merasakan kehangatan dan rasa penuh dari tubuh pria itu. Namun, ini bukan tempat di mana ia bisa merasa tersipu atau berdebar. Kini, ia bisa merasakan bagaimana duduk di posisi neneknya dahulu.
“Kau tidak lemah, Adro. Justru, kau sangat kuat. Apa yang kau alami bukan sesuatu yang biasa, sehingga sangat wajar jika kau merasa seperti ini sekarang. Kau bukannya menyerah sejak awal cobaan ini datang padamu, ‘kan? Melainkan, kau sudah berusaha sekuat tenaga dan melakukan segalanya, namun tetap tidak menemukan jalan kembali. Kau sudah melakukan yang terbaik. Jadi… mengistirahatkan dirimu sejenak bukan menandakan kau lemah. Kau hanya sedang mengisi ulang tenagamu yang terkuras,” Jelas Grace.
Adro bukannya tidak mendengar kalimat Grace - Terlalu banyak hal di pikirannya membuat ia memilih untuk diam. Namun, kenapa ia tidak terkejut pada perasaan yang tiba-tiba datang padanya ini? Perasaan lega, seakan hatinya yang terbakar diguyur oleh seember air, seakan semua beban yang memberatkan dadanya diangkat.
Semua perasaan itu timbul hanya karena kata-kata dari seorang gadis; Tanpa perang, tanpa pedang, tanpa perundingan, dan tanpa perjanjian politik. Anehnya, sejak awal, lubuk hatinya seakan sudah bisa memprediksi ini. Itukah alasan mengapa ia tanpa sadar memeluk Grace?
Jika dipikir, sudah cukup lama Grace tidak pernah berpelukan lagi dengan pria, mengingat Victor sangat jarang memperlakukannya dengan manis, seperti memeluknya. Ia akan mengakui tanpa malu bahwa ia menikmati kehangatan ini.
Namun… tanpa sengaja, mata Grace melirik lukisan di samping mereka. Ini adalah pertama kalinya ia merasa takut pada lukisannya sendiri. Padahal, lukisannya kali ini membuat ia sangat puas karena mata objeknya terkesan hidup. Sayangnya, hal itu juga membuat seakan calon istri Adro yang bernama Joselyn itu sedang memandangi mereka.
Berdehem, Grace segera menurunkan kedua tangannya dari punggung Adro sebelum berusaha mendorong pria itu lepas selembut mungkin. “Maaf… Aku senang bisa menghiburmu, namun… aku rasa sebuah pelukan singkat sudah cukup,”
Adro yang merasakan Grace berusaha melepaskan diri, tersadar dari rasa nyamannya. Ia segera membuka kedua tangannya untuk melepas gadis itu. Awalnya, ia hendak meminta maaf karena berpikir Grace merasa tidak nyaman atas sikapnya. Namun, setelah melihat kedua mata gadis itu, ia menyadari bahwa Grace sedang menatap lukisan Joselyn.
“Oh,” Gumam Adro, turut penoleh pada lukisan tersebut.
Grace tersenyum tipis. “Aku tidak memiliki maksud apa-apa dan aku tahu bahwa kita hanya berpelukan sebagai teman yang sedang saling menguatkan. Namun bagaimanapun, kau dan aku adalah pria dan wanita. Sebagai sesama perempuan, aku mengerti posisi calon istrimu meski ia tidak berada di sini. Dan aku harap… aku harap kau juga bisa mengerti,”
Terdiam sejenak, Adro bergumam pelan, “Begitukah?”
“Kau pernah bercerita bahwa hidupmu selalu dikelilingi laki-laki. Kau mengenal sangat sedikit perempuan dan sangat jarang berbicara panjang dengan mereka. Karena itu… aku berpikir bahwa kau mungkin kurang memahami kami. Kebanyakan dari kami memiliki hati yang sensitif. Bukan hanya aku, tapi kebanyakan wanita yang aku kenal tidak akan suka jika kekasih mereka berpelukan terlalu berlebihan dengan wanita lain, bahkan jika itu adalah sahabatnya sendiri,” Jelas Grace pelan dengan wajah sedikit tertunduk.
.png)
Komentar
Posting Komentar