Langsung ke konten utama

43. Adik Perempuan // Pengantin Pria Dari Negri Dongeng

 

“Baiklah. Semoga beruntung,” Ucap Grace pada Adro setelah menarik rem tangan mobilnya.

Adro tersenyum lembut, lalu mengusap kepala Grace sejenak. “Jangan terlambat makan dan jangan bergadang,”

Grace tertawa kecil. “Aku sudah dewasa, Adro. Bahkan sebelum kau datang, aku sudah mengatur hidupku sendiri,”

“Tapi sekarang ada aku di sini, jadi tidak peduli kau sudah dewasa dan bisa mengurus dirimu sendiri, aku tetap akan mengingatkanmu,” Jawab Adro dengan nada mengejek hingga membuat Grace kembali tertawa.

“Baiklah. Terima kasih sudah mengantarku. Hubungi aku jika terjadi sesuatu,” Ucap Adro sebelum keluar dari pintu mobil.

“Bye…” Grace melambai kecil saat Adro tersenyum padanya sebelum menutup pintu.

“Hhh…” Napas panjang mengalir keras dari mulut Grace di kala Adro telah membalikkan punggung padanya. “Kenapa rasanya agak berat, padahal ia hanya pergi menginap selama lima hari?”

Sedikit rasa berat menekan hati Grace. Ia pikir, ini hanya berlangsung sebentar – namun, kini, matahari sudah bergerak terbenam hingga mengubah seluruh ruang tamu rumahnya menjadi jingga. Kenapa perasaan ini masih menghantuinya?

Duduk sendirian di sofa, Grace termenung menatap seisi rumahnya. “Sepi sekali,” ia bergumam.

Terakhir kali Grace merasa seperti ini adalah ketika ia pulang dari pemakaman neneknya. Sepi, sunyi, kosong; terasa menyedihkan.

Sekali lagi, meski seorang pendiam, Grace bukannya suka hidup sendirian. Meski begitu, ia sudah bertahan dan membiasakan diri dengan kondisi itu sejak neneknya meninggal. Namun, tidak ia sangka, ia bisa secepat ini beradaptasi dengan keberadaan Adro sehingga kini perasaan nyamannya bergantung pada pria itu. Semua perjuangannya selama ini untuk membiasakan diri menjadi sendirian remuk seketika.

Semakin menyadari pengaruh Adro kepada dirinya, semakin Grace mengkhawatirkan dan membayangkan apa yang akan terjadi padanya jika Adro telah menemukan jalan kembali ke dunia asalnya. Sama seperti sang nenek, Grace juga selamanya tidak bisa bertemu dan berhubungan dengan Adro lagi, seakan pria itu sudah mati. Hanya membayangkannya saja terasa berat bagi Grace. Ia tidak ingin merasakan kesedihan mendalam itu lagi.

‘Aku harus menahan perasaanku padanya. Kalau tidak, akibatnya akan sangat fatal untukku. Aku harap Adro akan berhasil menjadi model. Dengan begitu, ia tidak lagi harus bergantung padaku, dan mungkin bisa memiliki rumahnya sendiri,’ Grace menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa, dan menatap langit-langit rumah.

Ya, satu-satunya cara agar ia dapat menghentikan perasaannya bertumbuh semakin besar terhadap Adro adalah mengusir pria itu dari rumahnya. Jika mereka jarang bertemu, Grace yakin ia bisa perlahan mengikis perasaannya dan kebergantungannya kepada Adro, meski ia yakin awalnya tidak akan mudah.

Namun yang menjadi masalah, ia tidak mungkin terang-terangan mengusir Adro - Ia tidak memiliki hati untuk melakukannya. Jika Adro tidak memiliki kesadaran diri untuk keluar dari tempat ini, itu akan menjadi hal yang sangat memusingkan Grace.

***

Beberapa lantai dari sebuah bangunan apartment adalah lokasi asrama khusus para pekerja Sky Talent Agency. Salah satu unitnya merupakan tempat Adro menginap selama ia berada dalam masa pelatihan. Di unit tersebut, Adro menempati sebuah kamar yang ia bagi dengan seorang model pria lain bernama Elvis.

“Oh, jadi kaulah yang menempati posisi terakhir tim ini,” Ucap Elvis sebelum menunjuk sebuah lemari. “Kau bisa menyimpan pakaianmu di bagian kiri – Aku sudah menempati yang kanan,”

“Baiklah,” Ucap Adro sembari mengeluarkan pakaian-pakaiannya dari dalam tas.

“Maaf jika aku menyinggung, namun apakah kau tahu bahwa penampilanmu tidak terlihat seperti model? Apa kau memang menggunakan pakaian seperti itu sehari-hari?” Tanya Elvis.

Adro melirik tubuhnya sendiri sekilas, lalu mengangguk. “Aku mengikuti pelatihan karena aku adalah orang biasa yang hendak menjadi model. Apakah itu sesuatu yang aneh?”

“Tidak juga,” Elvis menggidik bahu. “Namun itu sangat jarang terjadi, kau tahu. Aku adalah model, namun aku tetap mengikuti pelatihan karena portofolioku masih belum cukup bagus,”

“Jadi, meski kau tidak pernah bekerja sebagai model, apa setidaknya kau pernah belajar di sekolah model? Sebelumnya kau bersekolah di mana?” Tanya Elvis.

“Aku tidak bersekolah model. Aku adalah anak petani yang baru datang ke kota,” Jawab Adro datar, mulai terbiasa dengan kebohongannya.

“Hmm,” Elvis menganggung-angguk. “Karena kau tidak berpengalaman di industri ini, maka aku akan menyarankan padamu agar kau, yah, sedikit berhati-hati karena dunia modeling itu sangat keras,”

“Trimakasih,” Ucap Adro singkat.

Keras? Adro ingin melihat sekeras apa berpose di depan kamera dan mengenakan baju-baju bagus dibandingkan berdiri di garis depan pasukan dengan puluhan ribu musuh bersenjata di depan wajahnya.

Peringatan Elvis tidak ditanggapi Adro karena ia yakin bahwa ia pasti bisa melakukan apa pun hal berat itu. Sejak kecil, tidak ada satu pun hal yang tidak bisa Adro kuasai setelah ia mempelajarinya. Bahkan, ia hanya membutuhkan waktu singkat untuk belajar.

Namun setelah melakukan pelatihan menjadi model majalah di hari pertama, Adro menyadari bahwa tubuh kekarnya yang biasa mengayunkan pedang tidak terbiasa untuk membuat pose dengan standar majalah dan menyadari sisi menarik ototnya.

Ia pikir, ia hanya perlu berdiri di depan kamera dan tersenyum, seperti ketika Grace memotretnya. Namun ternyata, sangat banyak teknik yang harus ia pelajari. Meski begitu, kembali pada kejeniusan Adro, seberapa asingnya sebuah hal baginya, ia bisa menyerapnya dengan baik dan menyesuaikan diri.

Namun, ada satu hal yang Adro sadari berbeda di tempat kerjanya yang baru ini – Sebuah hal yang membuat ia menikmati waktunya disini. Hal itu adalah bagaimana cara orang-orang memperlakukannya.

Di sini, ia diperlakukan seperti orang biasa, bukan seorang pangeran, juga bukan seorang pria tampan - Mungkin karena model yang terlihat menarik merupakan salah satu hal standar di industri ini sehingga semua orang harus bekerja dengan professional tanpa mengistimewakan satu orang hanya berdasarkan wajahnya saja.

Di tempat ini, Adro merasa tidak diistimewakan. Namun, justru perasaan inilah yang terasa istimewa bagi seseorang yang selalu menjadi pusat perhatian dan disanjung-sanjung sejak ia bayi.

“Itu sangat menarik. Aku lega kau tidak kesulitan di sana,”

Adro menggeleng pelan. “Tidak ada yang sesulit mengatasi rasa khawatirku meninggalkanmu sendirian,” Sahut Adro dengan senyum tipis. “Jadi, apa kau sudah makan? Kau akan tidur sebentar lagi?”

“Sudah. Mungkin sebentar lagi aku akan pergi tidur setelah tugasku selesai,” Jawab Grace.

Adro menyipitkan matanya sedikit. “Dari suaramu, kau terdengar lelah. Apa kau baik-baik saja?”

“Tentu aku baik-baik saja. Aku memang lelah setelah mengerjakan tugas selama beberapa jam. Tapi mengobrol bersamamu dan mengetahui kau baik-baik saja bagaikan sebuah istirahat bagiku,” Jawab Grace dengan tawa kecil. “Maaf sudah membuatmu khawatir,”

Adro menggeleng kecil. “Itu tidak perlu, Grace. Tapi kau yakin bahwa kau benar tidak diganggu di kampus, ‘kan? Aku harap kau tidak menutupi apa pun,”

“Hari ini sama seperti hari biasanya,” Jawab Grace pelan.

Adro terdiam beberapa saat seraya mengatur napasnya. Lalu ia kembali tersenyum tipis. “Lalu bagaimana dengan hasil lukisanmu?”

“Aku mendapatkan pujian dari itu. Ini semua berkatmu, Adro. Terima kasih banyak,” Nada suara Grace berubah ceria.

“Senang mendengarnya. Aku senang bisa membantumu,” Jawab Adro dengan senyum melebar. “Jangan terlalu memaksa dirimu. Beristirahatlah jika kau lelah, hem? Terima kasih sudah mengijinkanku mengganggu waktumu. Aku akan menutup teleponnya,”

“Hei… Kau tidak mengganggu sama sekali,” Grace tertawa kecil. “Baiklah kalau begitu. Semoga beruntung besok. Selamat tidur, Adro,”

“Selamat tidur, Grace,” Jawab Adro sebelum menutup teleponnya.

“Wah… Apakah kau sudah gila, berteleponan seperti itu seakan tidak ada orang di sini?”

Senyum Adro yang masih tersisa setelah berbicara dengan Grace seketika meredup. Ia menoleh pada pria berambut blonde yang tengah berbaring di ranjang yang bersebrangan dengan ranjang miliknya.

“Jika kau keberatan, aku akan menelepon di luar lain kali. Tapi sejak tadi aku tidak melihatmu sedang tidur atau membaca buku, jadi aku pikir tidak apa berteleponan di sini,” Jawab Adro datar.

“Dengar, kawan, bukan itu yang aku maksud. Aku tidak masalah jika kau berteleponan di sini, namun aku sangat terkejut pada kepercayaan dirimu untuk bermesraan di telepon dengan pacarmu di depan orang yang belum 24jam kau kenal,” Elvis bangkit duduk dari tidurnya. “Seumur hidupku, semua pria yang aku kenal akan bersembunyi atau setidaknya menjauh dari orang lain jika ia ingin berteleponan dengan kekasihnya secara serius seperti kau barusan,”

Kening Adro mengkerut sedikit. “Itu bukan kekasihku,”

Mengikuti ekspresi wajah Adro, Elvis menebak, “Jadi, apakah itu saudara perempuanmu?”

Terdiam beberapa saat, lalu Adro menjawab, “Ya, aku menganggapnya sebagai adik perempuanku,”

“Bu-buahahaha!!” Jawaban Adro mengirim Elvis tergelak hingga air mata menggenangi ujung matanya. “Sialan. Katakanlah bahwa kau bercanda! Sungguh, aku tidak menyangka kau adalah pria sepolos itu. Haha… Bahkan di lokasi pemotretan tadi kau berbicara seperti seorang jendral perang, namun sekarang kau terlihat seperti laki-laki remaja yang baru mendapat mimpi basah pertamanya!”




Komentar