Kening Adro semakin mengkerut. Ia memindahkan duduknya dari kursi meja tulis menuju pinggir ranjangnya agar bisa bicara berhadapan dengan Elvis. “Kenapa kau mengatakan itu? Apa ada yang salah?”
Sembari mengusap air matanya, Elvis balik bertanya, “Biar aku tebak. Gadis bernama Grace itu, dia adalah temanmu, benar?
“Benar,” Jawab Adro, memiringkan kepalanya sedikit.
Jawaban Adro kembali membuat Elvis tertawa hingga ia memeluk perutnya sendiri. “Astaga, Neptune. Aku tidak menyangka pria dewasa sepertimu masih melakukan permainan bodoh seperti itu. Adik perempuan dan kakak laki-laki bohongan, namun saling memperlakukan satu sama lain seperti pasangan suami istri. Haha… Ini gila. Bahkan anak SMA merasa jijik mendengarnya,”
Kalimat Elvis membuat sensasi panas menggerayangi wajah Adro. Ia segera berdehem untuk mengatasi perasaan malu yang entah mangapa bisa menyerangnya. “Apa maksudmu Seperti Pasangan Suami Istri? Aku tidak pernah menganggap Grace sebagai istriku. Jika aku memiliki adik perempuan sungguhan, aku akan memperlakukannya seperti aku memperlakukan Grace,”
“Ya, mungkin kau benar,” Elvis mengangguk-angguk seraya melipat lengan di depan dada. “Tapi aku sendiri memiliki satu-satunya adik perempuan dan sangat menyayanginya dengan seluruh nyawaku; namun aku tidak bersikap sepertimu. Dengar, Adro; tidak pernah aku melihat seorang sudara laki-laki membuat wajah sepertimu ketika berbicara dengan saudara perempuannya, apalagi melalui telepon. Kau persis seperti orang yang sedang jatuh cinta parah,”
Mata membesar, Adro tertegun sesaat. Jatuh Cinta Parah? Ia pada Grace? Apa maksud pria itu?
Kemudian, Adro menaikkan wajahnya untuk kembali menatap Elvis. “Seperti katamu, kita bahkan belum 24jam saling mengenal. Namun, kau sudah berani menilai-nilai wajah dan pikiranku,”
“Well… Aku hanya memberitahukan padamu apa yang aku lihat dan pikir,” Elvis menggidik bahu sebelum melepas lipatan lengannya. “Aku bukan ingin membanggakan ini, namun aku adalah pria yang sudah berkelana ke berbagai tempat hiburan dan memiliki ratusan teman pria dan wanita,”
Melihat Adro kembali terdiam sambil menatap kosong ke lantai, Elvis menyipitkan matanya sedikit. Ia pikir, Adro hanyalah seorang pria aneh biasa. Namun, pria itu ternyata lebih aneh dari yang ia pikirkan. Bukan hanya sikapnya, namun pola pikir Adro juga sangat kaku seperti manula.
Kemudian, Elvis berdehem. “Jadi, adik perempuan permainanmu itu diganggu oleh teman-temannya di kampus?”
Adro mengangguk lemah. “Ia berusaha menutupinya dariku sehingga membuatku terus mengkhawatirkannya,”
“Hmm… Padahal kau terlihat kuat dengan semua otot itu. Aku bahkan berpikir kau mahir berkelahi, melihat beberapa bekas luka di tubuhmu – yang entah mengapa tetap mengijinkanmu menjadi model. Kenapa kau tidak bisa melindungi adik yang sangat kau cintai itu?”
“Aku takut ia terkena masalah. Aku tidak tahu kampus adalah tempat seperti apa,” Jawab Adro.
“Kau benar-benar adalah pria desa, yah,” Elvis memiringkan kepalanya. “Kampus itu bukan Kantor Polisi. Jika kau baku hantam pun, tidak akan ada yang mempedulikanmu karena kau bukan anak SMA lagi. Lagipula, jika kau setakut itu, kau bisa menunggu pelakunya di luar kampus, lalu menghabisinya di pinggir jalan,”
Adro mengangkat kedua alisnya. “Itu bisa dilakukan?”
Dengan tawa kecil, Elvis menjawab, “Tapi setelah itu, karir modeling yang baru kau mulai ini mungkin akan jadi berantakan,”
Menatap Elvis datar, Adro bergumam, “Mulutmu penuh dengan omong kosong,”
Hanya tertawa geli, Elvis kembali berbaring untuk sibuk dengan ponselnya. Di sisi lain, Adro terus memperhatikan rekan kerjanya itu. Jika ia ingat-ingat, Elvis sangat sering sibuk dengan ponselnya, dan ia yakin itu bukanlah urusan pekerjaan karena pria tersebut kerap cekikikan sendiri di depan layar ponselnya. Hal serupa juga tidak sering Adro lihat dilakukan oleh banyak orang di dunia ini. Namun, Grace terlihat jarang melakukannya di depan Adro.
“Hei,” Panggilan Adro, membuat Elvis menoleh padanya. “Kenapa kau selalu sibuk melihat ponselmu?”
Elvis mengerutkan keningnya sejenak sebelum menjawab, “Karena aku memiliki banyak kegiatan di ponselku,”
“Apakah itu pekerjaan?” Tanya Adro.
“Bukan,”
“Lalu?”
“Yah, mengobrol dengan teman-temanku, bermain game bersama, sosial media, dan yang lainnya - Sama seperti orang kebanyakan,” Jelas Elvis tanpa menghilangkan tatapan bingungnya pada Adro. “Jika aku pikir, aku sangat jarang melihatmu bermain dengan ponselmu, seperti kakekku. Sepertinya kau memang lebih cocok bertani di desa,”
Adro hanya diam menahan panas hatinya. Jika tidak akan menimbulkan masalah, ia mungkin akan memberikan pukulan mentah pada Elvis, dan jika berada di dunianya, ia telah memotong lidah kurang ajar pria itu.
‘Jadi, memang benar bahwa orang-orang di dunia ini sangat suka bermain ponsel. Tapi dari penjelasan rakun kurang ajar itu, ponsel menjadi sangat mengasyikkan jika kau memiliki banyak teman. Itu artinya, Grace hampir tidak memiliki teman sama sekali karena ia sangat jarang berinteraksi menggunakan ponselnya ataupun keluar bersama temannya. Bahkan untuk berteleponan dengan Sarah pun, itu sudah terlihat semakin jarang. Grace pasti sangat kesepian sendirian di rumah selama aku pergi,’ Pikir Adro.
Sensasi nyeri seakan menusuk jantung Adro hingga ia reflek memegangi dadanya. Bayangan sosok Grace yang duduk termenung sendirian di sofa rumahnya membuat Adro ingin segera kembali untuk menghiburnya dan membuat ia tersenyum. Ia sungguh merindukan gadis itu.
‘Tunggu,’ Bayangan di kepala Adro seketika luntur. ‘Rindu? Aku merindukan Grace bahkan ketika kami belum sampai seharian berpisah?’
“Hei, Elvis,”
“Apa lagi?” Elvis menurunkan ponselnya, dan menatap Adro lelah.
“Apakah kau pernah merindukan seseorang?” Tanya Adro cepat.
“Tentu saja pernah,”
“Bisakah kau menjelaskan bagaimana rasanya Rindu pada seseorang?” Pinta Adro tergesa.
“Kau pria gila,” Gumam Elvis sembari tertawa kecil. “Bagaimana aku menjelaskannya? Mungkin bagi setiap orang agak berbeda. Namun untukku, aku terus memikirkan orang itu, ingin bertemu dengannya, dan merasa khawatir padanya. Intinya, karena orang itu, perasaanku menjadi tidak tenang,”
Lalu, Elvis menatap Adro sambil tersenyum miring. “Kenapa? Kau merindukan adik perempuan bohonganmu?” ia tertawa.
Mengeratkan rahangnya, Adro menjawab, “Aku terus memikirkan keadaannya sekarang. Tapi, aku tidak yakin apakah itu artinya aku merindukannya atau karena hal lain yang tidak aku ketahui. Jika aku ingat-ingat, sepertinya aku tidak pernah merindukan orang lain selama ini,”
“Sepertinya kau hanyalah pria aneh. Itulah tepatnya,” Sambung Elvis. “Ngomong-ngomong, masa bodoh. Tapi, daripada lebih lama menyiksa dirimu sendiri, kenapa kau tidak mengencani gadis itu? Jika ia sudah memiliki pasangan, kau bisa merebutnya, ‘kan? Bukankah dunia laki-laki adalah tentang kompetisi? Tunjukkan padanya bahwa kau lebih baik dari pacarnya,”
“Dia tidak memiliki pacar,” Sahut Adro.
Elvis kembali tertawa kecil. “Itu bahkan lebih bagus! Lalu apa lagi yang kau tunggu? Maka kau bisa menyatakan perasaanmu padanya setelah ini, dan menidurinya. Tidak ada perempuan yang mampu menolak wajah seperti milik kita,”
Kalimat Elvis membuat darah Adro mendidih seketika. Ia langsung berdiri dari duduknya, dan melangkah menghampiri Elvis yang masih berbaring. “Perhatikan lidahmu. Grace bukan perempuan seperti itu dan aku tidak akan merusaknya.”
Menatap kedua mata Adro yang seakan berkeinginan untuk membunuhnya, Elvis reflek meletakkan tangannya yang terkepal di depan wajahnya sebagai perlindungan. “Kau… apa kau ingin memukulku?”
“Jika kau merendahkan Grace lagi, aku tidak segan melakukan itu, apa pun konsekuensinya.” Jawab Adro dengan kedua tangan mengepal.
“Ha. Ha. Haha…” Elvis tertawa sinis, masih menatap tidak percaya pada Adro. “Dasar gila. Pergilah ke tempatmu, dan jangan ajukan pertanyaan lagi padaku, kau bajingan tengik!” geramnya.
Tersadar dari kemarahan, Adro menghela berat sebelum kembali ke ranjangnya, lalu berbaring di sana. Apa benar ia menyukai Grace?
Ya, ia memang sudah cukup lama menyadari bahwa ia menyukai Grace. Namun, ia pikir itu hanyalah perasaan suka sebagai teman. Ia suka berteman dan menghabiskan waktu bersama gadis itu, seperti ketika ia bersama teman-teman prianya dan juga Damian.
Tapi, apakah rasa suka yang ia miliki sekarang lebih besar dari itu? Apa pun itu, yang jelas, ia tidak pernah memiliki perasaan seperti ini, bahkan kepada Joselyn.
***
Air terus mengalir membasahi sepasang tangan lembut yang masih berada di bawah keran wastafel meski sudah bersih dari busa sabun.
Grace terus memikirkan pertanyaan Adro dua hari yang lalu. Sejujurnya, ia merasa tidak nyaman ketika Adro menanyakan apakah ia masih dirundung atau tidak di kampus. Bukan karena ia merasa Adro terlalu mencampuri urusannya, namun, ia malu karena telah menganggap perundungan adalah hal biasa dalam kehidupan perkuliahannya.
Meski hanya cibiran dan ejekan, itu masih termasuk perundungan, ‘kan? Grace masih kerap dipermalukan secara verbal oleh orang-orang itu. Ia sudah merasa terbiasa untuk menerimanya, menghindar, dan merasa takut. Ia sungguh menyedihkan. Dan ia rasa… Adro tahu tentang itu.
Tiba-tiba, nada pesan ponsel Grace berbunyi hingga ia menyadari bahwa ia telah mencuci tangan terlalu lama. Setelah mengeringkan tangan, ia mengambil ponselnya dari dalam tas. Itu adalah pesan dari Bella dalam grup chat mereka.
‘Grace! Aku mungkin sudah gila. Tapi pria di foto postingan ini benar-benar mirip dengan Adro!’ –Bella
“Hmm?” Grace membuka tautan postingan sosial media Sky Talent Agency yang dibagikan oleh Bella.
‘Wajah-wajah keluarga baru ST Agency! Nantikan debut mereka, segera!’
.png)
Komentar
Posting Komentar