Langsung ke konten utama

45. Lebih Baik // Pengantin Pria Dari Negri Dongeng

 

Grace memperbesar foto postingan yang berisi tiga model pria dan dua model wanita itu. Kelima model tersebut berpose di sebuah tangga granit hitam megah dan mewah dengan lampu sorot keemasan. Dan seperti yang Bella katakan, salah satu di antara mereka adalah Adro.

Tanpa sadar, senyum merekah di bibir Grace. Ia sudah pernah membayangkannya, namun kenyataannya lebih menyilaukan. Adro terlihat seperti bukan manusia di foto itu – Ia terlihat seperti malaikat. Ya, kenyataannya, Adro memang tidak berasal dari dunia ini. Namun, siapa yang sangka, Adro yang biasa memasak untuknya, kini terlihat bersinar terang, bahkan di antara bintang-bintang yang berkelip.

“Dia sangat mengagumkan,” Gumam Grace, masih terus menatap foto Adro.

Hanya dengan melihat foto sosok Adro yang sudah berhari-hari ini ia rindukan, perasaan sedih Grace seketika menguap pergi. Entah mengapa, ada rasa bangga di dalam hatinya ketika ia membenarkan pertanyaan Bella tetang Adro. Bagaimana tidak? Orang-orang memenuhi kolom komentar postingan tersebut tentang betapa mengagumkannya Adro.

“Kau tahu bahwa kau mengerikan, ‘kan?”

Grace tersentak, lalu mengalihkan pandangannya pada sumber suara itu. Tanpa ia sadari sebelumnya, tiga gadis telah berdiri di dalam toilet yang sebelumnya hanya berisikan dirinya seorang.

“Orang yang selalu sendirian sepertimu semakin terlihat aneh ketika tertawa karena kau seakan memiliki teman bayangan,” Ucap Bree sambil tertawa kecil.

Bree, Lily, dan Rossa. Bagaimana mereka bisa ada di sini? Padahal, Grace sengaja pergi ke toilet yang cukup terpencil di kampus agar tidak bertemu dengan mereka. Ia rela berjalan jauh hanya untuk buang air kecil dan memperbaiki riasannya dengan tenang!

Dengan lutut gemetar, Grace tidak kuasa menundukkan kepalanya. Ia segera melangkah menuju pintu untuk keluar dari toilet tersebut. Namun, Bree menggeser tubuhnya saat Grace hendak lewat sehingga pundak mereka saling bertabrakan.

Prak!!

“Bodoh!”

“Hh?” Grace menoleh ke belakang, pada ponselnya yang tergeletak di atas lantai setelah terlepas dari genggamannya akibat tabrakan barusan.

“Gunakanlah matamu saat berjalan!” Bree menepuk-nepuk pundaknya sendiri seraya membuat ekspresi jijik seakan pundaknya sedang dihinggapi lalat.

Tidak menanggapi hinaan tersebut, Grace segera bergerak untuk mengambil ponselnya. Sayangnya, ia kalah cepat dengan tangan Lily yang kebetulan berdiri sangat dekat dengan titik ponsel tersebut terjatuh.

“Ah, layar ponselmu jadi sedikit retak,” Ucap Lily dengan nada menyesal. Kemudian, ia menyodorkan ponsel tersebut pada Grace. “Lain kali, peganglah ponselmu dengan kuat,”

“Te-terima ka-“ Ucapan Grace terhenti saat ia hendak mengambil ponsel tersebut, namun Lily malah menarik ponsel itu kembali.

“Tunggu dulu…” Lily menatap layar ponsel Grace yang masih menyala. “Apa ini? Jadi, kau sedang memperhatikan model-model pria?”

Rossa segera merebut ponsel tersebut dari tangan Lily. Ia langsung tertawa pada apa yang tertera di sana. “Astaga, Grace. Apakah ini adalah fetishmu, menikmati foto-foto pria di tempat sepi?”

“Haha… Dia sunggung menyedihkan,” Bree ikut mengintip ponsel Grace. “Kau sangat membutuhkan kehangatan pria, huh? Sayangnya, tidak ada pria yang tertarik padamu, apalagi ketika kau tidak lagi bisa dimanfaatkan. Ya, kau bisa gunakan semua fantasimu itu,”

Mengeratkan rahangnya, Grace menjulurkan telapak tangannya ke depan. “Kembalikan,”

Ketiga gadis itu saling menatap sejenak, lalu tersenyum saat kembali menatap Grace.

“Oh. Tentu saja,” Ucap Rossa sebelum melempar ponsel tersebut ke dalam sebuah ember berisi air pel di sampingnya.

Mata Grace terbelalak. Sementara itu, ketiga gadis tersebut bergerak memencar di dalam toilet untuk melakukan urusan mereka, seakan Grace hanyalah sebuah serangga yang baru saja mereka injak.

“Ternyata toilet ini lebih bersih daripada toilet yang biasa kita datangi karena sangat jarang ada yang ke sini,” Ucap Bree seraya membuka keran wastafel.

“Toilet ini terlalu jauh dari berbagai tempat ramai, itulah alasannya,” Sahut Lily seraya mengunci pintu bilik toiletnya.

“Haha… Kelihatannya penghuni toilet ini memang hanya Grace seorang,” Tambah Rossa sambil mengeluarkan kotak rokok dari dalam tasnya. “Apakah kita perlu sering-sering datang ke sini untuk merokok? Tempat ini sangat tenang,”

“Pfftt, Rosaa, kau akan membuat Grace harus mencari toilet lain untuk menghindari kita lagi. Ia mungkin harus buang air di bawah pohon karena kehabisan tempat untuk menyendiri,” Sahut Lily dari dalam bilik toilet hingga mendapatkan tawa dari kedua temannya.

Rasa panas membuat kedua mata Grace semakin berair. Di samping hinaan yang terus berkumandang di sekelilingnya, ia terpaksa menyelupkan tangannya ke dalam ember berisi air kotor untuk mengambil ponselnya.

Kenapa mereka melakukan ini padanya? Ia tidak merasa pernah melakukan kesalahan pada mereka. Apakah itu karena ia sangat lemah hingga mereka memiliki naluri untuk terus menginjaknya? Apakah itu karena ia sangat kecil dan tidak berdaya?

‘Kau lebih besar dari yang kau kira,’

Seakan mendengar suara itu tepat di depan telinganya, Grace mengerjap. Ia menarik ponselnya keluar dari air dengan tatapan kosong. Entah mengapa, kalimat Adro saat itu muncul di pikirannya hingga membuat sebuah cahaya keberanian hinggap di pundaknya.

‘Itu benar. Aku tidak kecil. Aku lebih besar dari yang aku pikirkan,’

Bangkit berdiri dengan ponsel yang masih meneteskan air di genggaman tangannya, Grace berucap, “Jangan kalian pikir kalian bisa terus melakukan hal ini padaku,”

“Huh?” Rossa dan Bree yang tengah berdiri di depan wastafel, menoleh pada gadis itu.

Grace berbalik, lalu menatap kedua gadis tersebut dengan tajam. “Kalian sudah keterlaluan, dan aku tidak akan diam saja. Kalian bukan anak-anak dan tidak sedang menghadapi anak-anak, tapi sikap kalian sangat kekanakan. Selama ini, aku diam karena kalian hanya mengatakan omong kosong. Namun jika kalian bersikap sejauh ini, aku tidak akan menahan diri untuk melawan,”

Pintu salah satu bilik toilet terbuka dengan Lily keluar dari baliknya. Ia memiliki kekehan kecil di mulutnya, hingga membuat kedua temannya melakukan hal yang sama. “Dia pasti sudah gila,”

“Idiot, kau berani melawan kami? Memangnya apa yang bisa orang sepertimu lakukan, hah?” Rossa memelototi Grace, masih dengan senyum lebar pada wajahnya.

“Aku tidak tahu apa yang bisa aku lakukan. Aku juga tidak tahu apakah aku memiliki keberanian.” Jawab Grace, menatap ketiga gadis itu satu per satu. “Namun bahkan hewan terlemah pun memiliki naluri untuk menyerang predatornya, bukan karena ia merasa kuat dan berani, namun karena ia ingin bertahan hidup,”

Jawaban Grace membuat ketiga gadis itu kembali saling menatap heran. Sementara itu, Grace segera melangkah pergi keluar dari toilet tersebut meninggalkan mereka.

“Dia sungguh sudah gila,” Ucap Rossa.

“Apakah ia diam-diam adalah psikopat? Kenapa ia tiba-tiba berubah menjadi sok menyeramkan seperti itu?” Lily bergidik.

***

“Kenapa kau menghubungiku menggunakan nomor lain, Grace? Aku hampir saja tidak mengangkat panggilanmu,” Tanya Adro.

“Maaf, Adro. Aku meminjam ponsel Bella agar bisa menghubungimu. Ponselku rusak karena tercebur ke dalam air, jadi, aku harus membawanya ke toko servis,” Jelas Grace agak terburu-buru.

“Tercebur ke air? Bagaimana itu bisa terjadi?” Adro mengerutkan kening.

“Tanganku licin saat aku berada di kamar mandi. Itu hanya kecelakaan biasa. Mereka berkata bahwa proses perbaikannya mungkin akan memakan waktu tiga hari. Karena itu, kita tidak bisa berkomunikasi hingga aku mendapatkan ponselku kembali,” Jelas Grace.

Adro terdiam sejenak. Lalu ia menarik napas dalam, dan menghembuskannya perlahan. “Grace, apa kau baik-baik saja? Suaramu terdengar aneh, kau tahu?” tanyanya pelan.

“Tentu aku baik-baik saja. Mungkin aku terdengar aneh karena aku bicara terburu-buru. Ini adalah ponsel Bella dan aku harus segera mengembalikannya,” Jawab Grace meski harus setengah berbohong. Setiap Adro bertanya padanya ‘apakah ia baik-baik saja’, telinganya seakan menerima hal itu sebagai sesuatu yang mengijinkannya untuk menangis.

“Oh, ya. Aku sudah melihat postingan sosial media ST Agency – Ada fotomu di sana dan kau sungguh mengagumkan! Aku sangat bangga padamu, Adro. Bersemangatlah, oke?” Sambung Grace.

Adro tersenyum tipis. “Oh, kau sudah melihatnya? Lalu-“

“Ah, aku minta maaf, Adro. Ayo kita bicarakan hal ini saat kau sudah kembali nanti. Aku harus mengembalikan ponsel Bella sekarang karena pacaranya menelepon. Bye…”

“Bye,” Jawab Adro tepat sebelum panggilan mereka dimatikan oleh Grace.

Menurunkan ponselnya, Adro termenung dengan kening yang masih mengkerut. Meski Grace sudah memberikan penjelasan yang masuk akal atas kondisinya sekarang, ia tidak bisa mengenyahkan instingnya yang merasa ada yang janggal tentang gadis itu.

Di dalam rasa khawatir, Adro harus menunggu selama tiga hari lagi tanpa bisa menghubungi Grace sama sekali. Sungguh, saat ini ia ingin sekali pulang ke rumah Grace. Namun, ia harus bertahan di tempat ini agar ia bisa mencapai tujuannya menjadi seorang model dan menghasilkan banyak uang.

“Jangan khawatir, Grace. Aku adalah Adro, seorang pangeran kuat di dunia manapun yang aku pijak. Aku akan melindungimu dan membawa kehidupan yang lebih baik untukmu,” Gumam Adro.



Komentar