Langsung ke konten utama

47. Apakah Mungkin? // Pengantin Pria Dari Negri Dongeng

 

“Jika kau tidak keberatan, kau bisa menandatangani kontraknya hari ini. Namun, aku akan memberimu waktu untuk membaca isi kontraknya terlebih dahulu dan waktu untuk berpikir,” Jelas Mr Tryvon.

“Aku mengingat kau pernah membahas itu. Jadi, nama mereka adalah Margaze? Aku akan membaca isi kontraknya sekarang. Itu adalah perjanjian kita di awal, jadi seharusnya aku bisa menandatanganinya hari ini,” Jawab Adro.

“Baiklah. Tidak perlu terburu-buru. Gunakanlah waktumu dengan cermat,” Mr Tryvon mengedipkan sebelah mata sebelum bangkit dari kursinya untuk mengambil surat kontrak dari laci meja kerjanya. “Ngomong-ngomong, bolehkah aku bertanya, mengapa kau tidak ikut yang lain ke bar untuk merayakan debut pertama kalian kemarin malam?”

“Aku memiliki hal yang lebih penting, jadi aku tidak ikut,” Jawab Adro.

“Hm,” Mr Tryvon mengangguk-angguk sebelum kembali duduk di sofa, dan meletakkan surat kontrak di atas meja. “Begini, Adro, aku mengerti bahwa kau sangat mementingkan keluarga. Aku juga mengerti bahwa kelihatannya kau tidak suka berbasa-basi. Tapi, aku harap kau bersedia sesekali berbaur dengan orang lain karena relasi cukup penting di dalam industri ini,”

Menggeser surat kontraknya mendekati Adro, Mr Tryvon melanjutkan, “Saat ini, kau masih berada dalam fase berusaha untuk Naik Daun. Jadi, semakin sering wajahmu muncul dalam postingan keseharian selebriti lain dan acara-acara publik, maka kau akan lebih cepat dikenal oleh orang-orang,”

Adro diam sembari menatap kertas kontrak yang sudah berada di depannya. Lalu, ia mengambil surat tersebut.

Melihat sikap dingin Adro, Mr Tryvon tertawa canggung karena menyadari bahwa Adro memiliki harga diri yang sangat tinggi. Terlepas dari posisi Mr Tryvon yang adalah atasan Adro, padahal, sebelumnya, Adro bekerja sebagai pegawai restoran cepat saji dan sekarang masih seorang model biasa yang baru debut. Namun yang aneh, aura yang dipancarkan oleh Adro membuatnya takut dan segan pada pria itu.

“Berbaur dan berteman dengan banyak orang bukan berarti kau mengandalkan orang lain untuk menjadi sukses, namun kau mungkin juga bisa bertemu teman-teman yang cocok denganmu dan bisa bertukar pikiran dalam menjalani profesi barumu ini,” Lanjut Mr Tryvon dengan nada ramah.

“Aku mengerti,” Adro mengangkat pandangannya pada Mr Tryvon sambil tersenyum. “Kau tidak perlu menjelaskan maksudmu padaku, Mr Tryvon. Aku sudah memahami industry apa yang sedang aku masuki. Sekarang, tolong biarkan aku membaca isi kontraknya,”

Tanpa pikir panjang, Adro langsung menandatangani kontrak dengan perusahaan mode yang ditawarkan oleh Mr Tryvon begitu melihat nominal bayarannya yang sangat besar dan seberapa terkenalnya merek mode yang akan menjadi kliennya itu.

Setelah melakukan penandatanganan kontrak dengan klien pertamanya, Adro kembali melakukan pengambilan foto profesional sebagai foto solo perdananya yang akan dipajang di semua media ST Agency. Selain itu, ia juga dibuatkan akun sosial media khusus dan akan difasilitasi dengan bahan postingan yang disediakan oleh tim kreatif perusahaan.

Karena klien Adro adalah klien VIP ST Agency, perusahaan itu juga menjanjikan fasilitas berupa apartment dan mobil pribadi secepatnya jika penampilan pertama Adro untuk produk mereka sukses. Namun untuk saat ini, Adro mendapatkan fasilitas berupa berbagai voucher untuk menunjang kebutuhan sehari-hari hidupnya dan penampilannya.

***

“Mereka juga menanggung biaya taximu?” Kedua alis Grace terangkat tinggi.

Adro mengangguk. “Setiap aku menggunakan taxi untuk pergi dan pulang kerja atau ke tempat yang berhubungan dengan pekerjaan, mereka akan menanggung biayanya,”

“Wah, agency sebesar mereka memang berbeda,” Grace mengembalikan pandangannya ke jalan dengan mata berbinar.

“Lalu, apa lagi fasilitas yang akan kau dapat?” Tanya Grace.

“Jika hasilnya bagus, mereka akan meminjamkanku mobil yang bisa aku gunakan sesukaku,” Jawab Adro.

“Oh, itu bagus. Mungkin jika kau sudah lebih terkenal, mereka akan memfasilitasimu dengan rumah juga,” Ucap Grace.

Adro tersenyum tipis seraya mengeratkan genggamannya pada stir mobil. “Mungkin benar. Namun aku ragu mereka akan sebaik itu. Lagipula, aku tidak apa tinggal di rumahmu dan membayarkan sewanya,”

Sebagai pangeran, Adro pantang berbohong. Namun, semakin lama tinggal di dunia ini, Adro merasa prinsipnya sebagai pangeran terasa terlalu naif untuk membuat rencananya berjalan dengan mulus. Ia terpaksa berbohong pada Grace mengenai fasilitas apartment yang sebenarnya sudah ditawarkan oleh perusahaannya karena ia takut Grace akan memintanya pindah.

Mobil Grace sampai di gedung super market. Setelah memarkir mobil tersebut, kedua orang itu masuk ke dalam dengan membawa sebuah kereta belanja.

“Hmm… Aku suka bau supermarket,” Adro menarik napas dalam-dalam.

“Kau juga?” Grace tertawa.

Adro menoleh padanya, dan mengangguk. “Supermarket memiliki aroma yang khas. Aku tidak tahu kau ternyata menyukainya juga,”

“Aku pernah mengatakan bahwa aku menyukai aroma supermarket pada Sarah, namun ia berkata bahwa itu aneh. Sejak itu, aku tidak pernah mengatakannya pada siapapun,” Jelas Grace sambil tertawa kecil.

“Tidak seharusnya kau menahan dirimu hanya karena komentar dari segelintir orang. Bagiku, kau itu unik, dan keunikan itu adalah hal yang bagus,” Adro mengusap ubun-ubun Grace. Lalu ia menunjuk lorong rak di depan mereka. “Di sana rak pasta. Bagaimana jika kita membuat makaroni keju untuk besok malam?”

“Ah… Itu ide yang bagus. Sudah cukup lama kita tidak makan makaroni keju,”

“Kali ini, aku akan mencoba membuatnya dengan bahan tambahan. Sepertinya aku juga cukup berbakat menjadi koki. Bagaimana menurutmu?” Tanya Adro sembari memperlambat laju kereta belanja mereka yang hampir terisi setengah ketika mereka sampai di lorong pasta.

“Aku tidak bisa menyangkal bahwa masakanmu lumayan enak. Tapi sepertinya itu karena kau memang pandai dalam segala hal,” Grace tertawa, lalu, tangannya berusaha meraih sebuah kotak pasta yang terletak di rak atas.

Mengambil kotak pasta yang hendak diraih Grace dengan mudah, Adro menjawab, “Sayangnya, ada sedikit hal yang sedang berusaha aku lakukan namun terasa cukup sulit,”

“Benarkah? Apa itu?” Grace menarik tangannya turun karena Adro telah membantunya mengambil kotak pasta itu.

Meletakkan tiga buah kotak pasta ke dalam kereta belanja mereka, Adro tersenyum tipis sebelum mengedipkan sebelah matanya. “Itu rahasia,”

“Oh, jadi kau sudah bisa merahasiakan sesuatu sekarang, huh?” Grace bertolak pinggang.

“Tidak hanya kau yang bisa bermain rahasia, putri,” Adro mencubit kecil ujung hidung Grace, lalu tertawa geli.

“Kau semakin menyebalkan, kau tahu?” Grace berusaha menepis tangan Adro.

“Kau sangat lucu saat merajuk seperti ini. Jika tidak ingin aku menjadi menyebalkan, berhentilah terlihat imut,” Sahut Adro sebelum mengambil bahan makanan lainnya.

“Imut apanya…” Gumam Grace pelan sembari mengusap ujung hidungnya. Ia tahu sekarang pipinya pasti memerah sehingga ia sedikit melangkah mundur menjauhi Adro.

Namun, ketika perhatian Grace yang sejak awal hanya berfokus pada Adro kini menjadi meluas sehingga ia tanpa sengaja bisa memandang sekeliling mereka, ia menyadari bahwa ada banyak pasang mata sedang memperhatikan Adro.

Kebanyakan dari mereka adalah para perempuan. Beberapa yang berkelompok nampak berbisik-bisik seraya diam-diam menunjuk sosok Adro yang sedang sibuk memilih produk makanan di rak.

“Grace, apakah kita perlu membeli yang ini?” Adro menunjukkan setoples kecil minyak basil. Lalu, ia mengerutkan keningnya. “Kenapa kau berdiri sendirian di sana? Apa kau sedang mencari hal lain?”

Mendapatkan fokusnya kembali pada Adro, Grace segera mendekati pria itu kembali. “Adro, kelihatannya banyak orang yang mengenalimu di sini,”

“Benarkah?” Adro menoleh ke sekeliling.

“Mereka terus memandangimu dan menunjuk-nunjuk ke arahmu. Aku rasa tidak lama lagi akan ada yang datang untuk meminta foto dan tanda tanganmu,” Grace tertawa kecil.

“Apa kau merasa tidak nyaman?” Tanya Adro langsung seraya memunggungi keramaian.

“A-apa?” Grace menaikkan kedua alisnya karena wajah Adro seketika berubah khawatir. “Tidak. Tentu saja tidak. Aku hanya sekedar bicara. Aku senang jika kau terkenal – itu artinya kau sukses sebagai model,”

Namun, penjelasan Grace tidak menghapuskan ekspresi khawatir pada wajah Adro. Pria itu menatap Grace dalam-dalam hingga membuatnya agak tegang.

“Grace, jujurlah padaku. Jika kau tidak suka dengan keadaan seperti ini, maka aku tidak masalah berhenti dari pekerjaanku sebagai model. Lagipula, gajiku sebagai pegawai restoran sudah cukup untuk kita bertahan hidup. Bagiku, untuk menjadi bahagia, tidak harus dengan menjadi kaya. Hal yang terpenting adalah orang yang penting bagiku merasa nyaman dan bahagia,” Tutur Adro.

Tertegun, Grace tidak mampu menjawab kalimat Adro. Lebih tepatnya, ia tidak tahu bagaimana harus merespon. Sebenarnya apa maksud dari semua kalimat Adro? Apakah Orang Penting yang Adro maksud benar adalah dirinya, atau ia yang terlalu percaya diri?

Namun, jika Grace pikirkan kembali, sikap Adro akhir-akhir ini memang cukup aneh. Adro menjadi lebih sering menyentuhnya dan melontarkan kalimat-kalimat yang membuatnya tersipu.

Apa jangan-jangan, Adro benar menyukainya? Tapi, apakah mungkin seorang pangeran sempurna seperti Adro, yang sudah memiliki calon istri bangsawan yang juga sempurna, menyukai seorang gadis biasa penuh kekurangan seperti Grace?

“Pe-permisi…”

“Huh?” Bersamaan, Adro dan Grace menoleh pada dua gadis yang entah sejak kapan telah berada di samping mereka.

“Ma-maaf, apakah kau adalah Adro Groendez, model rookie musim panas ST Agency?” Tanya salah satu gadis itu sambil menunjukkan layar ponselnya yang memiliki foto terbaru Adro.




Komentar