Adro menyipitkan matanya sedikit pada layar ponsel yang ditunjukkan padanya. Itu benar adalah foto dirinya sedang mengenakan setelan jas merah marun tanpa dalaman. Dan itu adalah pakaian yang ia gunakan dalam sesi foto siang ini untuk foto solo perdananya. Yang ia dengar, mereka akan mempublikasikan foto-foto itu malam ini.
‘Satu jamm, mungkin?’ Gumam Adro sembari melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul tujuh tiga puluh malam. ‘Dunia ini memang hebat,’
“Aku yakin kau benar adalah Adro Groendez,” Ucap gadis itu.
Adro mengangguk dan tersenyum tipis. “Itu benar adalah aku. Kelihatannya agencyku baru saja mengunggah foto itu, benar?”
Senyum cerah seketika merekah di wajah kedua gadis itu. Mereka mengangguk bersamaan. “ST Agency mengumumkan debutmu tadi sekitar jam enam. Mereka mengumumkannya di semua akun media sosial mereka. Ini juga diberitakan di beberapa akun berita selebriti,” jelas salah satu dari mereka.
“Benarkah? Aku tidak tahu mereka akan menyebarnya seluas itu,” Gumam Adro.
“Kami juga sudah mengikuti akun sosial mediamu karena kami adalah penggemarmu,” Lanjut gadis itu.
“Oh, terima kasih,” Jawab Adro, baru mengingat bahwa ia memiliki akun media sosial yang diurus oleh pegawai agencynya.
“Lalu, apa yang bisa aku lakukan untuk kalian?” Tanya Adro.
“Bolehkah kita berfoto bersama?” Tanya kedua gadis itu serempak.
“Tentu,” Jawab Adro sebelum melayani kedua gadis tersebut untuk berfoto bersama.
Sementara itu, Grace telah mengambil sedikit langkah mundur untuk memberi Adro ruang. Lagi-lagi, ia melihat Adro seperti bukan Adro yang ia kenal. Mungkin inilah yang dirasakan orang-orang biasa yang memiliki kenalan seorang selebriti terkenal. Tidak pernah terbesit sedikit pun di pikiran Grace bahwa ia akan menjadi salah satunya. Meski begitu, ia sangat senang dan bangga bahwa Adro cepat sukses.
“Terima kasih,” Ucap kedua penggemar Adro setelah mereka selesai mengambil beberapa foto.
Namun, salah satunya tidak sengaja melirik ke arah lain hingga mendapati seorang gadis tengah diam berdiri memperhatikan mereka di belakang kereta belanja yang tadi Adro dorong.
“Eum, maaf, apakah kau sedang bersama seseorang, Adro? Apa kami mengganggu kalian?” Tanya gadis itu, meski ia dengan jelas telah melihat Adro berjalan dengan perempuan tersebut sebelum ia menghampiri pria itu untuk mengajak berfoto.
“Oh, kau benar. Kami sedang berbelanja,” Jawab Adro. Lalu ia melangkah menghampiri Grace untuk merangkulnya. “Ia adalah-“
“Aku adalah adik sepupunya. Kami berkerabat,” Grace segera memotong kalimat Adro.
Hanya dapat diam sambil tersenyum tipis, Adro kemudian mengangguk. Sebenarnya, ia ingin menjawab mereka bahwa Grace adalah orang terdekatnya.
Ya, Adro memang tidak akan mengatakan bahwa Grace adalah kekasihnya, namun ia tidak berencana memperkenalkan Grace sebagai adik sepupunya. Namun, Grace malah terburu-buru menyebutkan bahwa hubungan mereka hanya sebatas saudara hingga membuat Adro merasa gadis itu sedang membangun pembatas di antara mereka.
Jawaban Grace berhasil membuat ekspresi lega pada wajah kedua penggemar perempuan Adro. Setelah itu, keduanya pergi dari mereka hingga membuat rasa sesak di dada Grace juga ikut menghilang.
Sayangnya, rasa sesak dengan alasan berbeda tidak menghilang dari dada Adro, bahkan hingga mereka telah selesai berbelanja, dan dalam perjalanan pulang.
“Grace,”
“Ya?” Grace menoleh pada Adro.
“Bolehkah aku bertanya, kau menganggapku sebagai apa sekarang?” Tanya Adro dengan suara tanpa tenaga.
Kening mengkerut, Grace tersenyum canggung. “A-aku… tentu saja aku menganggapmu sebagai sahabat baikku,”
Menghela panjang sembari mengangguk-angguk kecil, Adro kembali mengajukan pertanyaan, “Jika hal serupa seperti bersama penggemarku tadi terjadi lagi, aku harus menjawab apa pada orang-orang tentang hubungan kita?”
Tertawa kecil, Grace menjawab, “Bukankah kau yang berkata bahwa kau menganggapku sebagai adik perempuanmu? Aku pikir itu boleh juga dijadikan sebagai Status Kita jika orang lain bertanya. Lagipula, itu adalah jawaban yang tepat untuk menghindari gossip tentangmu, mengingat kita tinggal bersama. Jika kita berkata bahwa kita adalah sahabat, orang-orang akan memikirkan hal aneh jika dua orang sahabat berlawanan jenis tinggal bersama,”
“Karena pasti akan timbul perasaan khusus di antara kedua sahabat itu, benar?” Adro tersenyum tipis.
Pertanyaan Adro membuat jantung Grace berdentum keras. Ia segera mengalihkan keterkejutannya dengan tawa kecil. Kemudian, ia berdehem sebelum menjawab, “Biasanya memang seperti itu. Namun, tentu saja itu tidak akan terjadi dengan kita, apalagi kau sudah memiliki calon istri. Jadi, kau tidak perlu khawatir,”
“Kekhawatirkanku berbeda,” Gumam Adro.
“Ya? Maaf, aku tidak mendengar yang tadi,” Tanya Grace.
Adro menggeleng kecil. “Tidak. Itu tidak penting,”
“O-oh, baiklah,” Grace tersenyum tipis sebelum kembali menatap ke depan.
Di dalam hatinya, Grace merasa ada yang tidak beres dengan Adro. Ia tidak tahu apakah itu karena Adro mengalami tekanan di tempat kerja barunya atau apa, namun ia akan sangat bersyukur jika itu benar. Meski begitu, ia tidak bodoh untuk bisa menyimpulkan alasan lebih masuk akal lain yang sangat ia takutkan.
Bagaimana jika Adro benar memiliki perasaan untuknya? Bukankah ini harus segera dicegah sebelum mereka benar-benar terjebak?
Grace berdehem untuk memecah atmosfir mencekik di sekeliling mereka. “Aku sangat senang kau sudah seterkenal ini. Tidak lama lagi, kau pasti akan menjadi model sukses dan menghasilkan banyak uang! Saat itu terjadi, kita bisa mencari jalan pulangmu lagi dengan cara yang lebih efektif, misalnya menyewa detektif untuk menyelidiki peninggalan berbagai kerajaan, bahkan yang berada di luar negri sekali pun,”
“Aku tidak lagi berminat mencari jalan pulang,” Sahut Adro datar.
“A-apa?” Grace menatap pria itu dengan mata terbelalak. “Ta-tapi kenapa?”
“Aku memiliki adik laki-laki yang bisa menjadi penggantiku sebagai putra mahkota jika raja wafat. Saat itu terjadi, istana terpaksa akan menganggapku sudah mati dan mengubah statusku sebagai mantan putra mahkota,”
“Tapi, Adro, aku rasa itu tidak seharusnya menjadi alasanmu untuk berhenti mencari jalan kembali ke rumahmu, ‘kan?” Tanya Grace.
“Dibanding alasan untuk kembali, aku kini memiliki alasan untuk tinggal,” Jawab Adro, lalu tersenyum tipis tanpa mencabut tatapannya pada jalanan di depan. “Di sini, aku menemukan hal yang sama berharganya dengan apa yang aku miliki di dunia asalku,”
“A-Adro…” Gumam Grace.
Kelihatannya, Adro sangat menyukai pekerjaan yang sedang ia jalani saat ini. Ya, Grace sudah melihat betapa bersemangatnya Adro setiap ia pulang bekerja, meski raut lelah tetap nampak pada wajahnya. Pria itu jelas suka berkarir sebagai model. Namun, apakah alasan itu cukup untuk membuat Adro menyerah dengan apa yang ia miliki di tempat asalnya?
“Eum, Adro. Aku memang tidak berhak untuk mencampuri keputusan hidupmu. Namun, bukankah kau mencintai kerajaanmu? Keluarga dan calon istrimu juga ada di sana,” Tanya Grace pelan.
“Aku memang mencintai keluarga dan kerajaanku. Namun, di sana, aku tidak bisa membedakan cinta dan tanggungjawab. Di sini, sesuatu yang penting bagiku itu benar-benar berasal dari hatiku. Itu adalah sesuatu yang bukan diletakkan di dalam mulutku sejak aku lahir, sesuatu yang bukan sebuah tanggungjawab, melainkan apa yang aku pilih sendiri untuk aku jaga – Tidak – Lebih tepatnya, itu adalah sebuah tanggung jawab yang aku pilih sendiri,” Jelas Adro.
***
Hari terus berganti. Karir Adro melejit bagai roket, mengirimnya untuk menjadi salah satu model papan atas di negaranya dan menjadi model yang cukup terkenal di kelas internasional. Wajah Adro menghiasi berbagai majalah-majalah mode dan entertainment. Beberapa toko pakaian bermerk ternama juga memiliki fotonya di dinding terluar mereka.
Sementara Adro berfokus pada karir modelnya dan semakin terbiasa dengan kehidupan kelas atas, Grace terus melakukan yang terbaik dalam pendidikannya hingga waktu kelulusan tiba.
Berbeda dengan kehidupan Adro yang mengalami perubahan-perubahan besar, kehidupan perkuliahan Grace tidak terlalu banyak berubah. Ia masih tidak memiliki teman selain Bella dan masih sering dipojokkan oleh para perundungnya dengan kata-kata jahat mereka.
Meski begitu, Grace memiliki Adro yang selalu mendukungnya dan memberikan sudut pandang baru padanya dengan selalu mengingatkan bahwa ia itu besar dan berharga. Kehidupan perkuliahan Grace memang tidak banyak berubah, namun pola pikirnya sudah berbeda.
“Kau tidak boleh memandang rendah dirimu sendiri, apalagi karena omongan orang lain. Tujuan orang-orang itu adalah membuatmu merasa kecil dan gagal. Jangan berikan apa yang mereka inginkan! Kau tidak membutuhkan mereka dalam hidupmu, ‘kan? Jadi, untuk apa kau peduli pada pendapat mereka? Tidak apa jika kau tidak memiliki teman di kampus – Ada aku yang selalu menunggumu pulang dan menghiburmu,” Itulah yang Adro katakan.
Senyum merekah di bibir Grace semantara matanya terus memandang hasil karya terakhirnya dalam perjalanan pendidikannya di universitas ini.
Bunga teratai yang tengah mekar sempurna di tengah-tengah lumpur pekat, menghadap cerahnya sinar matahari yang menerangi dunia luar yang indah. Lukisan itu tentunya memiliki arti. Itu adalah lukisan yang menggambarkan kondisi Grace sendiri.
Adro adalah matahari dan dunia atas yang indah adalah apa yang pria itu ciptakan. Sementara, Grace adalah bunga teratai yang sebelumnya berusaha tumbuh dari bawah lumpur yang gelap dan suram. Adro’lah yang memberinya harapan dan membantunya mekar untuk berdiri di atas lumpur yang selama ini menjebaknya.
.png)
Komentar
Posting Komentar