Seperti milik siswa seni lainnya, beberapa tugas terbaik karya seni Grace selama ia kuliah memiliki tempat di pameran seni kampus khusus untuk siswa kelulusan tahun ini. Meski pamerannya hanya berlangsung selama dua hari seperti pesta kelulusan dan wisuda, ia sangat bangga karyanya dapat dilihat oleh banyak orang.
Namun, pameran seni tentu saja masih kalah ramai dengan pertunjukan seni hiburan dan pameran busana yang diselenggarakan di salah satu auditorium kampus. Pertunjukan itu ditunjukkan untuk memamerkan hasil kerja akhir semua siswa jurusan seni pertunjukan, musik, vokal, model, dan desain busana. Pertunjukan itu juga menjadi ajang perlombaan bagi semua jurusan yang terlibat.
Dalam acara tersebut, jurusan desain busana dan model berkolaborasi dalam pertunjukan runaway, sekaligus untuk mengumumkan pemenang karya desain busana dalam ujian akhir yang juga menjadi sebuah ajang perlombaan. Namun yang membuat acara tersebut semakin meriah adalah lima busana terbaik akan dikenakan langsung oleh model terkenal dalam sesi runway.
Dalam acara ini, universitas bekerjasama dengan Sky Talent Agency dan merek pakaian ternama Civiee dan Febion. Berkat kerjasama tersebut, hampir seluruh perhatian semua mahasiswa tertarik pada acara utama ini.
“Sialan. Agnes beruntung sekali pakaiannya bisa dikenakan oleh Adro,” Ucap Rossa.
“Sejak awal kuliah, ia memang selalu unggul. Tapi kau benar, ia sangat beruntung. Aku yakin ia mendapat kesempatan mengobrol secara privat dengan Adro,” Lilly menghela panjang.
“Biarkan aku membuat kalian semakin buruk; Agnes berkata ia diundang masuk ke ruang rias Adro dan mengobrol selama setengah jam bersama pria itu,” Ucap Bree.
“Argh! Jika tahu bahwa Adro adalah salah satu model yang akan mengenakan pakaian pemenang, aku akan berusaha lebih keras lagi kemarin! Melihat karya mewahku malah dikenakan oleh murid modeling membuatku muak!” Rossa menjambak rambutnya sendiri.
Kemudian Lilly menepuk punggung Rossa sekilas. “Hei… Bahkan jika kita berusaha sekeras mungkin, aku tidak yakin kita dapat mengalahkan Agnes dan empat anak lainnya. Ini mengesalkan, namun mereka memang sangat berbakat,”
“Cih! Aku pun sama berbakatnya dengan mereka jika aku berusaha sejak awal. Tiga di antara mereka masuk dengan beasiswa, itulah alasan mereka berjuang setengah mati sejak awal,” Sahut Rossa.
“Sebaiknya kalian tidak banyak bicara agar kita bisa tiba di auditorium lebih cepat. Aku ingin menonton di kursi terdepan agar bisa melihat Adro lebih dekat,” Ucap Bree.
“Tenang, Bree. Aku pastikan kita akan berfoto bersama para model pria itu, terutama Adro!” Lilly melambungkan kepalan tangannya.
“Ya… aku akan melihat bagaimana kau berjuang. Model terkenal sepertinya tidak akan mungkin turun panggung untuk berfoto bersama orang-orang biasa,” Bree memutar matanya.
“Itu mungkin saja terjadi. Kau tahu, aku adalah penggemarnya, dan aku sangat mengenali bahwa ia adalah pria yang sangat ramah dan tidak sombong.” Sahut Lilly, mengangkat dagunya.
***
“Kau yakin tidak mau menonton acaranya?” Tanya Bella setelah menyesap coffe latte-nya. Lalu, ia memberikan coffe macchiato milik Grace yang baru saja ia ambil dari meja konter café kampus.
“Terima kasih,” Ucap Grace sebelum mengangguk singkat. “Aku tidak pernah tertarik dengan acara itu. Lagipula, auditorium akan dipenuhi dengan anak-anak keren yang kebanyakan tidak aku sukai,”
“Hah… Kau benar. Aku tidak mengerti kenapa mereka bersikap seperti itu padamu, seakan mengucilkanmu adalah syarat menjadi mahasiswa terkenal kampus. Itu pasti adalah Bree dan kawan-kawannya,” Bella menggertakkan giginya. “Aku harap mereka segera membusuk di neraka!”
Grace tertawa kecil, lalu menggeleng. “Kau tidak perlu membuang amarahmu untuk mereka, Bella. Aku pun sudah cukup lama tidak peduli lagi pada mereka. Lagipula, kita sebentar lagi akan lulus secara resmi, dan semua ini hanya akan menjadi kenangan,”
Wajah Bella berubah sendu. Ia menatap Grace dengan mata berkaca-kaca. “Aku minta maaf terlalu sibuk selama ini sehingga tidak bisa membuat banyak kenangan bersamamu,”
“Hei… Apa yang kau katakan? Kau bebas menjalani hidupmu seperti apa yang kau mau,” Grace mengibas-ngibaskan tangan di depan hidungnya.
“Ngomong-ngomong, bukankah ST Agency yang mendukung acara pertunjukan nanti adalah agency yang menaungi Adro? Apakah ia tidak datang?” Tanya Bella, dengan cepat mengubah mimiknya menjadi ceria kembali.
Grace mengangguk. “Itu benar. Tapi Adro tidak mungkin datang karena ia sedang sibuk dengan pemotretan selama beberapa hari ini. Lagipula, aku yakin ia terlalu terkenal dan bayarannya terlalu mahal hingga agencynya kemungkinan tidak mau mengirimnya untuk mengisi acara kelulusan semacam ini,”
“Hmm… Kau ada benarnya,” Bella mengangguk-angguk sembari bersandar ke belakang. “Dibandingkan acara kelulusan universitas, pemotretan dengan merek mode ternama tentu memiliki bayaran yang jauh lebih besar dan juga memiliki gensi lebih tinggi. Bahkan jika Adro mau datang pun, agencynya mungkin tidak akan mengijinkannya karena itu hanya akan membuat nilai Adro berkurang sebagai model papan atas,”
Tiba-tiba, ponsel Grace bergetar. Ia mengeluarkan benda itu dari tas selempangnya untuk mendapati bahwa Adro baru saja mengirimkan pesan padanya.
“Huh?” Gumam Grace.
***
Sudah beberapa bulan lamanya Adro mulai menjajaki dunia runway. Meski ia belum tampil di pertunjukan internasional bergengsi, ia sudah menjadi model untuk beberapa merek busana ternama hingga namanya dikenal luas. Hanya dalam beberapa bulan, Adro berhasil naik daun karena kemampuan dan rupa menawannya.
Sebelumnya, Adro mendengar berita tentang agencynya yang ikut berpartisipasi dalam acara kelulusan Universitas Archman yang Adro ketahui sebagai tempat Grace berkuliah. Karena itu, ia memaksa Mr. Tryvon untuk memilihnya menjadi model yang tampil di sana. Adro bahkan berkata bahwa ia tidak perlu dibayar, asalkan ia bisa tampil meski ia terlalu terkenal untuk itu. Semua ia lakukan agar ia bisa memberi kejutan pada Grace.
Namun, bahkan hingga ia akan segera tampil, Adro tidak dapat menemukan wajah Grace di kursi penonton yang terhampar di sekeliling panggung.
“Di mana gadis itu?” Gumam Adro seraya melangkah menuju managernya. “Keneth,”
“Ya?” Pria dengan kacamata berbingkai hitam tebal itu mengangkat pandangannya dari ponsel yang sedang ia tatap. “Ada apa? Kenapa kau terlihat gelisah begitu?”
“Apakah pemandangan di bawah sana adalah semua kursi penontonnya?” Tanya Adro.
“Ya. Panggung ini hampir sama seperti teater. Kenapa, apa kau sedang mencari seseorang?” Tanya pria bernama Keneth itu.
Adro segera mengangguk. “Sejak tadi, aku memperhatikan semua penonton namun tidak menemukan orang yang aku cari. Aku pikir ada bagian kursi penonton yang tidak terlihat dari sini,”
“Ruangan kita berada dua meter lebih tinggi dari panggung di depan. Ini sudah cukup untuk membuatmu bisa melihat keseluruhan kursi penonton dari jendela besar itu. Jika kau tidak bisa menemukan orang yang kau cari, artinya matamu kurang jeli atau ia memang tidak ada di sana,”
“Tsk!” Adro membalik punggungnya. “Kelihatannya itu benar bahwa Grace terlalu tidak tertarik dengan acara semacam ini. Ia pasti berada di tempat lain yang lebih tenang,”
Lalu, Adro membuka ponselnya sambil bergumam, “Aku tidak memiliki pilihan lain selain menyuruhnya datang ke sini,”
‘Grace, apa kau bisa datang ke acara pertunjukan di auditorium kampusmu?’ –Adro
Setelah menunggu beberapa detik di kursinya sembari membiarkan perias membenahi tataan rambutnya, Adro mendapatkan balasan dari Grace.
‘Sebenarnya aku bisa, tapi, kenapa kau menyuruhku ke sana? Apakah ada sesuatu? Aku dengar agencymu mengirim beberapa model untuk mengisi acaranya. Apa temanmu ada di sana?’ –Grace.
‘Kau benar. Karena itu, tolong datang dan lihat peragaannya, oke?’ –Adro.
‘Eum… Baiklah. Apakah aku juga harus menyapa mereka nanti? Atau kau memiliki sesuatu yang dititipkan pada mereka dan ingin aku mengambilnya?’ –Grace.
‘Kau akan tahu nanti. Yang terpenting, kau harus datang dahulu. Mengerti?’ –Adro
‘Baiklah. Aku akan segera ke sana. Sepertinya sesi runway-nya masih berlangsung.’ –Grace.
‘Bagus. Terima kasih,’ –Adro.
“Adro, apa kau sudah siap? Kau akan keluar lima menit lagi,” Tanya Keneth yang baru saja dihampiri oleh panitia acara.
“Ya, aku sudah siap,” Jawab Adro, tersenyum lebar.
Seperti acara pada umumnya, hal yang paling menarik akan ditampilkan di waktu paling akhir agar menjaga semua orang tetap berada di tempat mereka hingga acara selesai.
Sebagai bintang utama yang menjadi alasan auditorium menjadi penuh, Adro ditugaskan untuk tampil dengan mengenakan rancangan pakaian yang mendapatkan penilaian tertinggi dalam ujian akhir jurusan desain busana.
“Peringkat ke dua, Maureece Brown, diperagakan oleh Levan Trizansca!” Seru pembawa acara yang berdiri di sisi panggung, sementara para model terus berjalan mengitari panggung luas tersebut.
“Dan yang terakhir, juara pertama kita, penerima nilai tertinggi dari para juri… Agnes Whell, diperagakan oleh Adro Groendez!” Lanjut pembawa acara tersebut setelah model sebelumnya hampir mencapai belakang panggung.
Suara tepuk tangan dan sorakan meriuhkan auditorium tersebut. Lalu, sosok Adro yang mengenakan mantel besar berwana hitam dengan lukisan berwarna emas dan beberapa aksen ungu metallic keluar ke atas panggung.
Dengan langkah mantap dan ekspresi tegas, ia mengitari panggung luas tersebut bersama iringan musik yang membuat performanya terlihat semakin dramatis.
.png)
Komentar
Posting Komentar