Langsung ke konten utama

51. Balas Dendam // Pengantin Pria Dari Negri Dongeng

 

“Si-siapa yang ingin kau lihat?” Tanya Grace, kembali menatap ke sekeliling, dan menyadari bahwa para penggemar Adro kini telah nyaris mengerubungi mereka berdua.

Adro tersenyum pada para penggemarnya. “Maaf, semuanya. Sebenarnya, aku sejak tadi juga sedang menunggu seseorang. Karena orang yang aku tunggu sudah datang, maka aku rasa aku harus segera pergi,”

“A-Adro, ke-kenapa kau bisa bersama Grace Menken?” Tanya Lily dengan suara agak melengking.

“Itu benar! Kenapa kalian bisa saling mengenal? Apa hubungan kalian?”

“Grace Menken? Bagaimana bisa?”

“Bagaimana mungkin Menken bisa kenal dengan Adro?”

Pertanyaan dan bisikan-bisikan seakan saling menyahut setelah Lily dengan frontalnya mengajukan pertanyaan yang bersifat pribadi kepada Adro.

Namun, bukannya kesal, Adro malah tersenyum senang. Ia mengeratkan rangkulannya pada pundak Grace sembari mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi. “Wah, Grace. Aku tidak tahu kau ternyata cukup terkenal di kampus. Di rumah, kau selalu berkata bahwa kau tidak mengenal banyak orang,”

“Di rumah?”

“Sebenarnya apa hubungan mereka?”

“Grace, ba-bagaimana kau bisa mengenal Adro?” Tanya Rossa menggebu. Dari nada suara dan ekspresi wajahnya, terlihat jelas ia tidak bisa menerima pemandangan di depan matanya.

Di tengah-tengah banyaknya pertanyaan yang menghujaninya, rasa puas menyelimuti hati Adro saat ia melihat wajah tidak percaya yang penuh iri dengki dari ketiga gadis yang saat itu merundung Grace.

“Apakah kami boleh tahu apa hubungan kalian berdua?” Tanya seseorang dari banyaknya penggemar Adro. Ia menatap Grace penuh tuntutan.

Adro menoleh pada Grace, yang kebetulan juga tengah menatapnya penuh tanya. Mereka berdua hanya saling menatap dalam diam namun dengan ekspresi berbeda.

Tidak bisa membiarkan dirinya dan Adro berdiri di tengah paksaan pertanyaan, Grace segera mengembalikan pandangannya pada gadis yang tadi melemparkan pertanyaan padanya. “Ka-kami adalah-“

Kalimat Grace terhenti ketika Adro menekan pundaknya seraya memotong kalimatnya, “Kami memiliki sebuah hubungan khusus,”

“A-apa?!” Seru mereka serentak.

“Hubungan khusus apa?”

“Apa maksudmu, Adro?”

“Kau dan Grace Menken?”

Tertawa kecil, Adro menggeleng pelan. “Aku mohon jangan berspekulasi apa-apa, teman-teman. Sayangnya, aku tidak bisa memberikan penjelasan tentang ini lebih detil karena aku adalah figur publik. Namun intinya, aku bisa mengatakan bahwa aku adalah pelindung Grace, dan ia sangat penting bagiku,”

Jawaban Adro membuat orang-orang itu saling menatap tidak percaya pada satu sama lain sambil bergumam-gumam. Ya, kebanyakan dari mereka memang mengenal Grace Menken, tidak, mereka mengetahui Grace Menken yang adalah seorang pecundang yang dikucilkan.

Grace Menken memang adalah pecundang yang terkenal bahkan di jurusan-jurusan lain berkat kelompok Victor dan kelompok Bree. Merekalah yang mengumbar-umbar kebodohan Grace dan semua kekonyolannya secara berlebihan hingga membuat sosok Grace seakan begitu buruk, aneh, dan memalukan.

Namun, siapa yang menyangka bahwa seorang pecundang seperti Grace Menken ternyata adalah sosok penting bagi seorang model terkenal super tampan seperti Adro Groendez? Bagaimana mungkin gadis berstandar rendah sepertinya ternyata begitu beruntung?

“Tapi…” Adro berdehem, lalu menatap Grace. “Kelihatannya Grace-ku memiliki hari-hari yang menyenangkan di kampusnya, benar?”

Grace hanya diam menatap Adro yang tengah tersenyum manis padanya. Lalu ia menoleh ke sekeliling untuk melihat orang-orang yang selama ini merundungnya hanya bisa melarikan pandangan mereka ke berbagai arah dengan mulut mereka yang mengatup.

“M’m,” Grace mengangguk kecil. “Kau benar. Hari-hariku baik berkat mereka,”

Tersenyum miring, Adro mengelus kepala Grace. Lalu, ia mengalihkan pandangannya pada para penggemarnya. “Seperti yang aku katakan tadi, aku harus segera pergi karena orang yang aku tunggu sudah datang. Terima kasih sudah datang untuk melihatku,”

“Ta-tapi, Adro, kami masih ingin bertanya…” Lily tetap bersikeras menahan pria itu.

“Maaf, teman-teman. Aku harap kalian bisa memberiku ruang. Kalian tahu, aku hanya manusia biasa yang memiliki hal pribadi yang ingin aku lakukan, sama seperti kalian,” Jelas Adro tanpa memudarkan senyum ramahnya. “Jadi, aku harap kalian mengerti,”

“O-oh… Baiklah,” Jawab salah satu dari para penggemar itu.

“Baiklah, Adro. Terima kasih sudah meluangkan waktumu untuk kami,”

“Bersenang-senanglah di kampus ini, Adro,”

“Adro, sampaikan salamku pada Carlos Kanye!”

Melihat yang lain akhirnya membiarkan Adro pergi, Lily berusaha menyakinkan mereka kembali agar menahan pria itu, “Hei! Kenapa kalian membiarkannya pergi? Kalian tidak lihat ia bersama Menken?”

“Sudahlah, Lily. Kenapa kau jadi seperti anak kecil begini?”

“Adro benar bahwa ia butuh privasi. Sebagai penggemar, aku tidak mau membuatnya kesal.”

“Kelihatannya kau sangat membenci Grace Menken, Lily. Sekarang aku bertanya-tanya apakah semua omonganmu tentangnya selama ini benar,”

Ucapan-ucapan yang menyerang Lily membuat gadis itu seketika terdiam. Ini adalah hari-hari terakhirnya berkuliah. Selama ini ia telah membangun citra dirinya sebagai gadis keren berkepala dingin. Tidak mungkin ia menghancurkan itu hanya dalam satu hari hingga membuat semua orang berakhir mengingat dirinya sebagi Lily si perundung munafik dan tidak tahu malu.

Sementara Lily dan ketiga kawannya hanya bisa terpaku di antara para penggemar yang memandangi punggung sosok Adro yang tengah melangkah menjauhi mereka, pria itu sendiri tersenyum lebar saraya mengeratkan rangkulannya pada pundak Grace.

“Ini adalah pertama kalinya aku merasa sebahagia ini setelah melakukan fashion show, padahal, aku dibayar sangat kecil untuk acara ini,” Ucap Adro sambil terkekeh.

Grace menyipitkan matanya seraya menatap pria yang tengah tertawa kecil itu. “Apakah kau berbohong padaku soal jadwal pemotretanmu yang padat hari ini?”

“Hm?” Adro menggulirkan matanya ke atas sembari menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. “Secara teknis aku tidak berbohong karena aku memang memiliki jadwal pemotretan hari ini. Namun, kebetulan ada salah satu jadwal yang mengalami perubahan sehingga aku memiliki waktu luang untuk mengambil pekerjaan ini.”

“Benarkah?”

“Kau pikir aku berbohong?” Adro mengangkat satu alisnya.

Grace menghela singkat seraya menggeleng kecil. “Entah kau berbohong atau berkata jujur, aku tetap berterimakasih padamu karena sudah datang mengunjungiku dan memberiku kejutan – aku sungguh terkejut,”

Melihat senyum tipis Grace, langkah kaki Adro terasa semakin ringan. “Kelihatannya rencanaku berhasil,”

“Renacana apa tepatnya?” Tanya Garce, kembali menyipitkan mata.

“Mengejutkanmu, tentunya, dan melihat seperti apa orang-orang yang membuat wajahmu suram saat pulang ke rumah. Ngomong-ngomong, mereka adalah gadis-gadis yang mengganggumu di mall saat itu, ‘kan?”

Membelalakkan matanya, Grace tanpa sadar meremas lengan Adro. “K-kau mengingat mereka?”

Adro tertawa kecil. “Tentu saja. Dan aku sangat senang mengetahui bahwa mereka adalah bagian dari penggemarku. Aku harap mereka puas melihat gadis yang mereka rundung memiliki tempat khusus di hidup idola mereka,”

Kalimat Adro yang melantun begitu saja dari mulut pria itu membuat Grace menggigit bibir bawahnya seraya menundukkan wajahnya sedikit. Tempat khusus di hidupnya? Apakah Adro bahkan mengetahui bagaimana Grace menerima kalimat itu di hatinya?

“Apakah ini tempatnya?”

Grace mengangkat wajahnya sebelum menatap jari Adro yang tengah menunjuk sebuah pintu besar yang terbuka. Ia segera berdehem, dan mengangguk dengan senyuman. “Benar. Itu adalah pameran seninya. Ayo masuk ke dalam,”

Begitu keduanya masuk ke ruangan luas berbentuk memanjang itu, Adro tidak berhenti mendecak kagum. Senyumnya terus merekah sementara pandangannya terus berputar ke berbagai arah.

“Ingatkah kau, kau berkata bahwa kau akan mengajakku ke pameran seni saat kakimu sembuh?” Tanya Adro pada Grace tanpa menatap gadis itu.

“Oh!” Mata Grace membesar dan ia menutup mulutnya dengan kedua tangan. “Adro, aku sungguh minta maaf. Aku benar-benar lupa,”

“Tidak apa. Aku mengerti kau baru saja terbebas dari waktumu yang mencekik,” Adro tertawa kecil sembari menepuk-nepuk kepala atas Grace. “Tapi pada akhirnya, kau menepati janjimu dengan membawaku ke sini. Semua karya seni di tempat ini luar biasa,”

Grace turut tersenyum. “Sungguh melegakan melihatmu merasa senang. Aku tidak memiliki apa-apa untuk membalas kejutanmu selain membawamu ke sini karena kau menyukai karya seni.”

“Tapi…” Adro menatap Grace sembari bertolak pinggang. “Aku belum sesenang itu karena aku belum melihat pos milikmu. Bukankah itu yang tadi kau janjikan padaku?”

“Tentu saja,” Grace membentangkan satu tangannya ke depan. “Di sebelah sini, pak,” ucapnya sopan.

“Terima kasih,” Sahut Adro, setengah terkekeh.

Melangkah beberapa meter, Grace membawa Adro pada salah satu sisi ruangan, di mana posnya berada. Dari beberapa lukisan yang terpajang di sana, Adro langsung dapat menebak bahwa itu adalah milik Grace karena karakteristik lukisannya yang cukup khas.

“Wah… Kau telah menghasilkan banyak lukisan,” Puji Adro, berhenti melangkah.

“Bagaimana kau tahu ini posku? Aku bahkan belum mengatakan apa pun.” Mata Grace membesar.

“Aku dapat merasakan dirimu di dalam lukisan-lukisan ini,” Jawab Adro tanpa melapaskan pandangannya pada deretan lukisan yang berada di balik tali merah di hadapannya.

Grace mendengus. “Kelihatannya kau jadi semakin mahir merayu,”

“Mungkin. Teman-temanku yang mengajarkan itu padaku,” Gumam Adro sebelum menatap Grace dan tertawa karena melihat bibir manyun gadis itu.

“Kenapa wajahmu begitu? Apakah kau kesal karena aku merayumu?” Tanya pria itu.

Grace memutar matanya. “Sejujurnya, rasanya agak mengesalkan menjadi bahan percobaanmu,”

“Kalau begitu, aku akan terus mencobanya hingga itu tidak lagi mengesalkan bagimu,” Sahut Adro pelan seraya mengusap kepala Grace.

“Tcih…” Grace mendengus, namun tetap dengan tawa kecil di sudut bibirnya.

Adro yang sekarang semakin sering bercanda. Pria itu lucu, namun di dalam hatinya, Grace harap Adro tidak bicara berlebihan hingga membuat perasaannya bercampur aduk seperti ini. Namun, ia tidak mungkin mengatakannya pada pria itu, ‘kan?

“Semua lukisanmu…” Adro menunjuk ke ujung kanan, lalu menggerakkan tangannya hingga ke ujung kiri, pada lukisan terakhir. “… mereka berangsur berubah. Awalnya, lukisan-lukisanmu bertema suram. Namun tiga lukisan terakhir nampak semakin cerah. Apakah kau sengaja melakukan itu?”




Komentar