Langsung ke konten utama

52. Melakukan Ini // Pengantin Pria Dari Negri Dongeng,

 

“Huh?” Gumam Grace.

Adro mengangguk, dan melanjutkan, “Sama seperti di rumahmu ketika aku baru saja datang, lukisan-lukisanmu memiliki suasana gelap dan dingin. Karakter di dalam lukisanmu tidak ada yang tersenyum. Namun, dalam tiga lukisan itu, kau mulai menambahkan warna-warna cerah dan elemen hangat.”

Dengan kening mengkerut, Grace turut memperhatikan lukisannya dari yang terlama hingga yang terbaru. Bagaimana mungkin ia tidak menyadarinya? Adro benar bahwa lukisan-lukisannya berangsur berubah.

“Apakah ini ada hubungannya dengan suasana hatimu saat melukis?” Tanya Adro sembari melihat tanggal pada ketiga lukisan terbaru Grace yang salah satunya adalah lukisan sosok Joselyn.

Grace terdiam. Jika dipikir, itu benar bahwa ternyata suasana hatinya telah mempengaruhi lukisannya. Dan lukisanya mengalami prubahan drastis semenjak Adro hadir dalam hidupnya. Itulah seberapa besar dampak yang Adro berikan pada hidup Grace. Pria itu adalah cahayanya. Namun, apakah Adro akan menyadari itu?

“Ke-kelihatannya begitu. Sebelumnya, aku tidak menyadarinya hingga kau mengatakan ini, namun, itu mungkin juga disebabkan oleh dosenku yang sempat berkata bahwa aku bisa mencoba warna-warna lain dalam lukisanku,” Jelas Grace sambil terkekeh canggung.

“Oh, begitukah? Itu bagus. Aku juga menyukai karyamu yang cerah seperti ini,” Adro mengangguk-angguk.

“Oh ya,” Grace berdehem, lalu menunjuk lukisan Joselyn. “Sejak dipajang, dari semua lukisanku, lukisan Putri Joselyn yang paling banyak dipandang oleh pengunjung. Orang-orang terpanah oleh kecantikan calon istrimu, Adro. Mereka pasti akan terkejut setengah mati jika mengetahui bahwa itu adalah orang sungguhan, bukan hanya imajinasiku semata.”

Adro hanya tersenyum tipis. “Begitukah? Ya, Joselyn memang cantik. Sejak bayi, ia mendapatkan banyak pujian dan memiliki banyak pengagum.”

“Kau beruntung ia ditakdirkan untukmu, Adro,” Ucap Grace, tersenyum lembut padanya.

Namun, Adro tidak merasa senang pada senyum lembut yang biasanya sangat suka ia lihat tersebut. Ia hanya membalas hal itu dengan senyum tipis memaksa. “Nyatanya, takdir membawaku ke sini. Aku tidak tahu apa yang takdir inginkan dariku, namun aku tidak berminat untuk menebak-nebak,”

“Be-begitu, kah…” Grace tersenyum kaku.

Kemudian, Adro segera menarik napas panjang seraya melebarkan matanya. Seketika, senyumnya juga merekah lebih lebar. “Sepertinya kita bisa pergi dari sini sekarang. Bagaimana jika kita merayakan kelulusanmu?”

“Tapi wisudaku besok,” Jawab Grace.

“Dan besok aku memiliki jadwal pemotretan. Aku takut tidak bisa merayakan kelulusanmu selama beberapa hari ke depan karena sibuk. Dengan begitu, aku harap kita bisa melakukannya hari ini,” Sahut Adro.

“Tapi-”

“Merayakan kelulusanmu adalah hal penting bagiku.” Adro segera memotong kalimat Grace, sudah menebak apa yang akan gadis itu katakan. Ia tidak tahu bagaimana lagi caranya membuktikan pada gadis itu bahwa ia benar-benar peduli padanya.

“Ta-tapi… aku bahkan tidak berencana merayakannya…” Gumam Grace pelan dengan kepala menunduk.

Adro menatap tingkah Grace dengan sinis. Lalu, ia mendecak seraya menyambar pergelangan tangan gadis itu. “Berhentilah menggumamkan omong kosong yang kau tahu aku tidak ingin dengar. Kita akan merayakannya hari ini.”

Sikap Adro yang mendadak menjadi lebih tegas membuat Grace tidak berkutik. Sejujurnya, ia tidak berniat menolak ajakan pria itu untuk merayakan kelulusannya lebih awal atau bahkan jika sangat terlambat sekalipun. Sejak awal, Grace pikir ia tidak akan pernah merayakan pesta kelulusannya setelah Sarah pergi. Namun, ia merasa sungkan pada Adro jika harus merepotkan pria itu dalam jadwal padatnya.

“Kau ingin makan apa? Kita akan pergi ke restoran bagus,” Adro tersenyum pada Grace dalam langkahnya menyurusuri lorong kampus.

Namun, senyum Adro meredup ketika ia menyadari bahwa Grace tengah sibuk menatap sekeliling, bahkan hingga tidak mendengar pertanyaannya.

“Grace,” Adro menarik pelan tangan yang sedang ia genggam.

“Ah, ya?”

“Tidak perlu memikirkan orang-orang itu. Diterpa gossip adalah hal biasa bagi selebriti. Kau tidak perlu khawatir,” Ucap Adro, turut melirik orang-orang kampus yang memperhatikan mereka berdua, bahkan beberapa terlihat diam-diam mengambil gambar mereka.

“A-apa kau yakin? Aku benar-benar takut kau akan mendapat masalah. Aku pikir, sebaiknya kau tidak perlu menggandeng tanganku seperti ini. Kita bisa berjalan seperti biasa,” Tutur Grace pelan.

“Biasanya aku sering menggandengmu ketika kita berjalan bersama. Aku sudah bilang, kau tidak perlu khawatir. Gosip ringan seperti ini tidak akan menghancurkan karirku. Lagipula, aku hanyalah seorang model.”

“Jika kau melepas gandengan tanganmu, aku berjanji akan berjalan dengan cepat, menyamai langkahmu. Jadi, tolong lepaskan gandenganmu, Adro. Aku merasa kurang nyaman diperhatikan seperti itu oleh mereka,”

“Grace,” Adro tersenyum tipis. “Aku menggandengmu bukan karena kau berjalan seperti siput saja, melainkan karena aku takut kau terjatuh karena berusaha mengejar langkahku. Menggandeng tangamu adalah hal paling tepat yang bisa aku lakukan ketika kita berjalan bersama.”

“Aku bukan anak kecil, Adro,” Desis Grace.

Namun, desisan itu bukannya terlihat menyeramkan, malah terlihat lucu bagi Adro hingga membuat pria itu terkekeh kecil. “Selagi kau masih membutuhkan perlindunganku, maka bagiku, kau sama saja seperti anak kecil.”

Tidak dapat melawan, Grace hanya menghela napasnya panjang. Sejujurnya, di samping kekhawatirannya terhadap gossip yang akan menerjang Adro, ia lebih mengkhawatirkan perasaannya yang tumbuh semakin besar karena hubungan mereka yang terlalu dekat seperti sekarang. Sedangkan, alasan bahwa ia merasa tidak nyaman terhadap tatapan orang-orang hanyalah kebohongan belaka.

Sebenarnya, apa yang ada di dalam pikiran Adro? Kenapa ia bersikap sangat hangat dan tidak segan-segan melakukan interaksi fisik sejauh ini pada Grace? Jika ia benar menyukai Grace, seharusnya ia mengatakannya, ‘kan? Dari sifatnya, seharusnya Adro bukanlah tipe pria yang akan menyembunyikan perasaannya.

‘Tolong berhentilah melakukan ini jika kau menganggapku sebagai sahabat belaka. Tidak. Tolong berhenti melakukan ini, bagaimana pun perasaanmu terhadapku.’ Itulah apa yang Grace ucapkan di dalam hatinya, namun tidak pernah berani ia keluarkan dari mulutnya.

Meski Grace sudah mampu mengalahkan rasa takutnya pada orang-orang yang merundungnya selama ini, ia ternyata masih harus melangkah cukup jauh untuk terlepas dari sikap pecundangnya.

Terlalu larut di dalam pikirannya sendiri membuat Grace tidak menyadari bahwa Adro telah membawanya ke lahan parkiran mobil. Hari ini, sama seperti kebanyakan hari lainnya, Grace menggunakan bus untuk pergi dan pulang kampus.

“Oh, kau menyetir ke sini?” Tanya Grace.

Adro mengangguk sebelum merogoh kantung jaket jeansnya, lalu mengeluarkan sebuah benda hitam berbentuk persegi mengkilap. Ketika ia menekan benda hitam tersebut dengan jari jempolnya, terdengar suara alarm singkat yang terasa asing di telinga Grace.

“Ayo, tuan putri,” Adro menuntun Grace menuju sebuah mobil sport yang lampu depannya baru saja berkedip dua kali.

“Tu-tunggu. Ini…?” Grace menahan langkahnya sebelum Adro benar-benar membuka kursi penumpang mobil sport tersebut.

“Ini adalah mobil yang dipinjamkan padaku sebagai fasilitas dari agency,” Jelas Adro.

“Fasilitas mobil semewah ini? Kau baru mendapatkannya dan langsung membawanya ke sini? Kenapa kau tidak menggunakan mobilku saja seperti biasa?” Tanya Grace menggebu.

Adro menggidik bahu. “Sebenarnya mobil ini sudah aku gunakan selama setengah bulan ini. Namun, aku selalu memarkirnya di parkiran kantor dan hanya menggunakannya jika ada keperluan pekerjaan. Tadi aku terlalu terburu-buru sehingga tidak sempat pulang untuk mengambil mobilmu.”

“O-oh,” Grace kembali menatap mobil di depan mereka. “Agencymu keren sekali bisa memberi fasilitas semewah ini,”

“Memiliki gaya hidup mewah adalah sebuah syarat tidak langsung untuk seorang model – Itu yang Mr. Tryvon katakan. Aku hanya menerima saja selagi semuanya gratis,” Adro tertawa kecil sembari membuka pintu mobilnya.

Namun, ekor mata Adro menangkap segerombolan orang yang baru saja datang, dan berkumpul di barisan parkiran sebrang. Ketika menyadari siapa orang-orang di dalam gerombolan itu, Adro menahan pintu mobil yang hendak ia tutup dari luar.

Grace menatap Adro dengan kening mengkerut. “Adro, apa yang kau-“

Kalimat Grace terhenti saat ia menyadari apa yang sedang Adro perhatikan. Ini adalah sebuah kebetulan yang biasanya Grace sangat benci, yaitu bertemu dengan kelompok Victor dan Bree yang sedang bergabung.

Bagi Grace, mereka terlihat seperti sekelompok monster buas yang sangat besar hingga dapat menghancurkannya dalam sedetik. Namun, tidak ia sangka, saat ini, ia tidak memiliki sedikit pun rasa takut karena Adro berada di sampingnya.

Sebuah senyum tipis tertarik di sisi bibir Adro. Ia lalu melirik Grace yang sedang duduk di kursi penumpang. “Jangan kenakan sabuk pengamannya dulu,”

“A-apa?” Tanya Grace.

“Aku akan segera masuk. Jangan lakukan apa pun,” Ucap Adro sebelum menutup pintu kursi Grace.

Meski bingung, Grace menurut untuk tetap diam. Ia tidak tahu apa lagi yang sedang Adro rencanakan. Namun, apa pun itu, ia dapat melihat jelas bahwa Adro sangat menikmatinya.

Memperhatikan Adro yang melangkah santai memutari moncong mobil, Grace secara sekaligus turut melihat gerombolan para perundungnya yang kebetulan memarkir kendaraan mereka hampir berhadapan dengan mobil Adro. Orang-orang itu nampak secara reflek memperhatikan Adro dalam diam.

Pintu kemudi terbuka, disusul dengan sosok Adro yang masuk untuk duduk di kursinya. Pria itu tersenyum pada Grace setelah menutup pintu mobil. “Pria itu, yang berambut coklat. Ia menatapku seakan hendak membunuhku. Kau tahu siapa dia?”

Menoleh ke depan sekilas, Grace mengangguk tipis. “Ia adalah Victor, mantan pacarku.”

“Oh,” Adro menoleh ke depan hanya untuk mendapati Victor masih menatapnya penuh kebencian hingga rahangnya nampak jelas mengeras. “Jadi dia adalah mantan pacar yang hanya memanfaatkanmu itu, yah? Bukankah aneh bahwa ia nampak kesal melihat kita bersama?” ia terkekeh kecil.

“Aku tidak mengerti kenapa Victor seperti itu. Mungkin ia tidak terima aku berjalan bersama pria keren dan kaya sepertimu,” Grace tersenyum tipis dengan alis agak mengkerut.

Kekehan Adro berubah menjadi tawa. “Senang kau menyadarinya. Dan, aku akan membuat darahnya semakin mendidih hingga kepalanya mungkin akan meledak,”

“Apa yang akan kau lakukan?” Tanya Grace.

“Melakukan ini,” Adro menjorok pada Grace hingga tubuh panjangnya melintang bagai jembatan di atara kursi kemudi dan kursi penumpang.




Komentar