“A-Adro?” Grace reflek meletakkan kedua tangannya di depan tubuhnya sendiri karena wajah pria itu menjadi terlalu dekat dengan miliknya.
“Jangan membuat wajah takut, kau harus nampak terbiasa,” Bisik Adro seraya menjulurkan tangannya untuk meraih kepala sabuk pengaman Grace dari rumahannya.
Kedua alis Grace terangkat tinggi. Dia sekarang mengerti apa yang sedang Adro lakukan. Lalu, dari balik punggung pria itu, ia menyaksikan ekspresi Victor yang belum pernah ia lihat. Pria itu nampak sangat murka hingga wajahnya agak memerah, bahkan cukup nampak dari kejauhan.
“Dia… sangat marah,” Gumam Grace.
“Hmm?” Adro menatap wajah Grace yang tidak terfokus padanya. Lalu, ia memasang sabuk pegaman gadis itu. “Kau terlihat khawatir. Apa aku perlu keluar dan menghampiri pria itu?”
Mata Grace seketika membesar. Ia beralih menatap kedua mata Adro yang masih berada di hadapannya. Ia berdehem seraya menekan kepala dan punggungnya ke belakang meski sia-sia karena sandaran kursinya sangat solid. “A-aku tidak khawatir. Aku hanya tidak pernah melihat wajahnya terlihat semarah itu. Menghampirinya tentu tidak diperlukan,”
“Oh,” Adro tersenyum miring. Lalu, ia kembali duduk di kursinya sebelum mengusap kepala Grace. “Aku harap kau puas melihat wajah mengiri mereka – karena aku sangat terhibur sekarang,”
Grace tertawa kecil sembari menggeleng kecil. “Kau itu sungguh sesuatu,”
Menurunkan tangannya dari kepala Grace, Adro kembali menatap ke depan. ‘Dan aku harap maksud Sesuatu itu berkaitan dengan perasaanmu,’ batinnya.
Melihat Victor dan yang lainnya mulai masuk ke dalam kendaraan mereka, Adro menggeber gas mobilnya beberapa kali. “Kelihatannya mereka sudah menyerah. Tidak ada lagi pertunjukan untuk kita dan mereka, sepertinya. Haruskah kita jalan sekarang?”
“Tentu,” Grace mengangguk.
Kemudian, mobil sport itu melaju keluar dari lahan parkir, menuju jalanan kota yang gelap karena malam sudah turun.
“Eum, Adro,”
“Ya?” Adro menoleh sekilas pada Grace.
“Terima kasih sudah datang menemuiku hari ini,” Ucap Grace pelan. “Seharian, aku hanya menjaga pos karyaku di galeri. Setelah galerinya sepi, aku tidak memiliki hal lain untuk dilakukan selain menemani Bella menunggu pacarnya di café. Kedatanganmu membuat segalanya menjadi berbeda dari yang seharusnya,”
Adro tersenyum lembut. “Senang mendengarnya, Grace. Tapi aku menjemputmu hari ini juga sebagai permintaan maaf karena aku terlalu sibuk akhir-akhir ini.”
“Adro, kenapa kau minta maaf? Aku sudah bilang bahwa aku bukan anak kecil. Kesibukanmu tidak berpengaruh apa pun padaku,” Sahut Grace cepat.
Tersenyum miris, Adro menghela panjang. “Apakah itu maksudnya aku tidak memiliki arti bagimu?”
“Bu-bukan begitu,” Grace nyaris berteriak hingga membuat Adro tertawa. Lalu ia mendengus sebal. “Kau tahu apa yang aku maksud, Adro. Berhentilah menggodaku!”
“Kau sangat imut saat marah. Salahkan dirimu sendiri,” Jawab Adro enteng, dan hanya mendapatkan gerutu protes dari Grace.
Setelah berkeliling cukup lama, Adro tidak kunjung menemukan restoran yang bisa mereka kunjungi untuk makan malam.
“Seharusnya aku melakukan reserfasi dahulu. Aku tidak menyangka semua restoran akan penuh seperti ini,” Ucap Adro seraya mengusap keningnya.
“Ini adalah jumat malam. Tidak mengherankan semua restoran menjadi ramai. Biasanya, fine dining memang membutuhkan reserfasi. Lagipula, ini juga sudah cukup malam.” Jelas Grace.
“Sialan. Rencanaku jadi berantakan,” Adro menghempaskan punggungnya ke belakang. Lalu ia menoleh pada Grace dengan wajah memelas. “Maaf aku tidak bisa menepati janjiku. Ini sungguh memalukan,”
Grace segera menggeleng. “Kau bicara apa? Tentu saja itu tidak masalah,” jawabnya cepat. Lalu, ia terdiam sejenak untuk berpikir sebelum mencetuskan ide, “Bagaimana jika kita makan malam di rumah? Kita bisa memasak sendiri atau memesan makanan enak sambil nonton film.”
Namun, Adro menatap wajah cerah Grace dengan keraguan, tidak mampu menjiplak senyum indah itu karena suasana hatinya yang terperosok. “Itu bukan pesta, Grace. Itu sama saja dengan apa yang sering kita lakukan di waktu senggang kita,”
“Tidak,” Grace menggeleng percaya diri, lalu menjelaskan, “Aku adalah orang yang menyukai ketenangan. Bagiku, makan di rumah bersama orang-orang yang aku sayangi lebih terasa nyaman dibandingkan makan di restoran yang ramai. Meski tidak mengenakan pakaian bagus atau dikelilingi suasana cantik, aku tetap lebih menyukai kebebasan di dalam rumahku sendiri. Katakanlah ini sebagai privat dining,”
Adro terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. “Kau ada benarnya.” Ia bergumam. “Baiklah. Jika kau tidak keberatan, kita akan pulang ke rumah sekarang. Kebetulan, tadi siang, aku membawa beberapa minuman yang diberikan oleh temanku yang baru saja kembali dari luar negri,”
Grace tersenyum, dan mengangguk. “Bahan makanan di kulkas juga masih sangat banyak. Kita akan makan sampai perut kita meledak.”
“Itu terdengar bagus,” Adro tertawa.
***
Setibanya di rumah, Grace dan Adro mempersiapkan pesta kecil mereka. Tidak hanya memesan makanan dari luar, mereka juga memutuskan untuk membuat beberapa cemilan sendiri. Dapur kecil itu dipenuhi oleh tawa keduanya yang memang selalu heboh saat memasak bersama.
Tangan Grace menggeser mangkuk besar berisi setumpuk kentang goreng tebal yang ia letakkan di pinggiran meja yang hampir penuh oleh berbagai makanan asin dan manis.
“Adro, apa kau sudah selesai? Aku akan memilih filmnya,” Tanya Grace seraya bangkit berdiri, menghadap Tv di depannya.
Adro mengangguk seraya mengambil dua buah botol berwarna merah gelap dari dalam lemari. “Aku datang,”
“Kemarin kau berkata ingin menonton film ini, ‘kan? Apa kau sudah sempat menontonnya di tempat lain?” Tanya Grace.
“Aku belum menontonnya - Aku sudah berjanji akan melakukannya bersamamu,” Jawab Adro seraya meletakkan semua barang bawaannya di atas meja.
“Baiklah, kita akan menonton yang ini,” Ucap Grace sebelum memutar film tersebut.
Membalik punggungnya, Grace mendapati Adro sudah duduk manis di belakang meja tamu yang menjadi meja makan mereka malam ini. Namun, matanya segera tertuju pada dua buah botol kaca gelap yang berada di dekat Adro duduk. “Apakah itu anggur?”
Adro mengangguk sebelum menepuk lantai berlapis karpet di sampingnya. “Biasanya, aku selalu ditemani oleh anggur saat makan malam di istanaku. Jika dipikir, sudah sangat lama sejak terakhir aku menikmatinya.”
“Jadi, minuman yang kau sebutkan di mobil tadi adalah anggur?” Tanya Grace seraya duduk di bagian yang Adro tepuk-tepuk tadi.
“Ya.” Jawab Adro sembelum mencuri sepotong pizza. Lalu, ia tersadar akan sesuatu, dan segera menoleh pada Grace dengan mata bulat. “Apa kau tidak minum?”
“Aku minum,” Jawab Grace langsung.
“Lalu kenapa kau terlihat ragu sekarang?” Adro mengerutkan keningnya tipis.
“Aku hanya berpikir kita mungkin akan mabuk jika meminum alkohol, dan kesulitan bangun besok pagi. Bukankah masing-masing dari kita memiliki acara besok?”
“Oh…” Adro tertawa meremehkan seraya menyuap potongan pizzanya. “Tentu saja kita tidak perlu minum banyak-banyak hingga mabuk. Lagipula, bukankah acara kita besok tidak terlalu pagi? Kau berangkat di jam sepuluh, sedangkan aku di jam sembilan,” ucapnya seraya mengingat-ingat.
Kemudian, Adro meraih dua gelas tipis dan botol anggur yang penutupnya telah ia buka, lalu mengisi sepasang gelas itu sedikit. “Kita ini bukan bayi, Grace. Berpikirlah seperti orang dewasa yang hidup bebas. Teman-temanku sangat sering mabuk-mabukan namun tetap bisa melakukan pemotretan dengan lancar esok paginya,”
Penjelasan penuh percaya diri Adro mebuat Grace tanpa sadar mengangguk-angguk tipis. Pria itu benar – Mereka adalah orang dewasa yang hidup bebas. Bukan hanya teman-teman Adro, namun teman-teman Grace juga kerap mabuk-mabukan ketika memiliki kelas di keesokan paginya. Sebenarnya, itu hanya Grace saja yang terlalu lugu.
“Sekarang, kita lihat apakah anggur ini seenak anggur buatan kerajaanku,” Adro menyodorkan gelas milik Grace.
“Terima kasih,” Ucap Grace seraya menerima gelas tersebut, lalu bersulang dengan Adro.
Setelah menyesap anggurnya, Adro berkomentar, “Ternyata anggur ini tidak mampu menandingi anggur yang dihasilkan oleh kebun anggur kerajaanku. Tapi ini lumayan juga,”
Di depan film yang terus berputar, Grace dan Adro menikmati makan malam besar mereka sambil terus menyesap anggur yang terasa menyegarkan dan menambah cita rasa pada makanan mereka yang bercampur-campur.
“Apa kau tidak apa-apa makan sebanyak ini? Perutmu mungkin akan membulat besok,” Tanya Grace ketika melihat tangan Adro kembali meraih potongan sayap ayam setelah membuat segunung tulang ayam. Ia tidak berpikir pria itu akan makan sebanyak ini sebelumnya.
Adro menggeleng ringan. “Sebelum pemotretan, aku akan berolahraga. Tenang saja, dokter berkata metabolisme tubuhku sangat cepat,”
“Lalu, setelah pemotretanmu besok, kau akan kemana?”
“Aku akan melakukan pemotretan di luar kota keesokan harinya. Jadi, aku harus sudah berangkat di malam hari dan tidak pulang sekitar dua atau tiga hari.” Jelas Adro, menghela panjang.
“O-oh, jadi kau akan tidur di luar lagi,” Gumam Grace, lalu ia tersenyum tipis. “Aku harap perjalananmu menyenangkan di luar kota,”
“Maaf aku harus meninggalkanmu lagi,” Ucap Adro. Namun, bibir manyunnya yang agak berminyak segera tersenyum. “Tapi, setelah itu, aku akan mendapatkan libur sekitar satu bulan! Aku memintanya pada Mr. Tryvon karena aku sudah bekerja setengah mati selama berbulan-bulan sejak debutku. Jadi, kita bisa berlibur dan bersenang-senang!”
.png)
Komentar
Posting Komentar