Langsung ke konten utama

55. Bersalah // Pengantin Pria Dari Negri Dongeng

 

Mata membesar, Grace hanya bisa mematung merasakan kehangatan menjamah bibirnya sambil menatap sepasang kelopak mata yang terpejam tepat di depan matanya sendiri.

Perlahan, Adro melepaskan bibirnya dari milik Grace. Ia menarik kepalanya mundur sedikit hanya untuk mendapati pipi Grace semakin memerah dan matanya yang semakin membesar menampakkan kedua iris coklat lembutnya.

“A-Adro…” Grace tergagap.

Namun, Adro tanpa basa-basi kembali menyambar bibir Grace dan melumatnya. Ia tidak peduli apa yang akan terjadi setelah ini, ia bahkan tidak percaya ia bisa tiba-tiba mencium Grace. Sejak jatuh cinta pada Grace, ia baru menyadari bahwa ia adalah seorang pangeran yang tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri.

Kalimat-kalimat yang Grace lontarkan membuat Adro tidak mempu menahan perasaannya. Ia begitu menginginkan gadis di hadapannya. Ia begitu ingin melindungi gadis yang bergantung padanya itu. Kini, mengetahui bahwa ia memiliki arti sebesar itu dalam hidup Grace membuatnya ingin mendekap Grace seeratnya tanpa pernah melepaskannya.

Jantung berdegub keras dan cepat, Grace tidak dapat melawan sosok Adro yang telah menyelimutinya. Dekapan pria itu, buaiannya, aromanya, napas panasnya yang melembabkan kulitnya dengan mudah menyihir jiwa Grace.

Tenggelam dalam dekapan Adro, Grace mulai menggerakkan bibirnya, membalas lumatan Adro yang memabukkannya bagai sebotol penuh anggur yang diteguk tanpa jeda. Dengan mata terpejam, Grace memeluk punggung besar Adro, dan membiarkan pria itu membawanya berbaring di atas karpet lembutnya.

Hidup penuh dengan perang dan petualangan membuat Adro selalu berpikir bahwa ia akan memberikan ciumannya pada istrinya, atau setidaknya calon istrinya, yaitu Joselyn. Namun, kini ia tahu bahwa ia seharusnya memberikan ciumannya pada gadis yang ia cintai, dan orang itu adalah Grace Menken.

Bisa mencium Grace adalah sebuah keberuntungan bagi Adro, namun mengetahui betapa hangat dan lembutnya gadis itu membuatnya menjadi pria paling beruntung di dunia. Dengan mata terpejam, ia terus mengulum dan menyesap bibir Grace, merasakannya bagai buah plum masak yang dicelupkan pada madu segar. Kegembiraan menguasai dirinya ketika ia merasakan Grace membalas ciumannya dengan rapih.

Adro bahkan tidak tahu ia bisa seberlebihan ini saat mencium seorang gadis. Ia harus melepaskan tautan mereka demi memberikan Grace jeda untuk bernapas. Namun, hal itu malah membuat matanya melihat pemandangan wajah memerah Grace dan kedua matanya yang menjadi sayu.

Gejolak lainnya seketika mendidih di dalam dada dan perut Adro, hingga membuatnya kembali menyasar bibir merah Grace. Ia lalu menyelipkan tangannya di belakang leher Grace yang tengah berbaring di bawah kukungannya, merasakan panas suhu tubuh gadis itu hingga membuatnya kembali melepaskan bibir gadis itu hanya untuk bergerak mengecupi pipi, rahang, dan lehernya yang lembut.

Dalam hubungannya dengan para pria yang berakhir mencampakkannya, Grace tidak pernah sampai pada tahap ciuman sedekat ini. Mungkin ia terlalu tidak menarik hingga para pria itu enggan memberinya kehangatan. Ia pikir ia tidak pantas merasakan cinta, bahkan jika itu hanyalah kepalsuan.

Ya, Grace selalu memberikan para pria itu segalanya yang ia punya dengan harapan mereka mau memeluknya lebih lama dan menciumnya lebih lama, bahkan jika mereka hanya berpura-pura. Ia sungguh semenyedihkan itu. Namun, kini seorang pria sesempurna Adro memperlakukannya bagai seorang gadis tercantik di kota.

Merasakan bibir Adro menyapu kulitnya dari pipi bergerak hingga ke leher dan tangan besar dan hangat pria itu memijat lehernya membuat Grace tanpa sadar mengerang. Tangan kecilnya bertengger di leher belakang pria itu, merasakan ekor rambut coklatnya menggelitik punggung tangannya.

Apakah Grace bermimpi? Apakah ini yang dirasakan para perempuan yang dicintai oleh seorang pria? Ya, kelembutan dan kehangatan semacam ini hanya diberikan bersadarkan cinta atau uang. Karena Grace tidak memiliki uang, itu seharusnya karena cinta. Namun, ini adalah Adro. Bolehkah Adro mencintainya? Tidak… bolehkah Grace menerima cinta Adro?

Mata terbelalak lebar, Grace segera mengerahkan kedua tangannya untuk mendorong dada bidang di atasnya. “A-Adro… he-hentikan!”

Merasakan rontaan Grace, Adro menghentikan apa yang sedang ia lakukan, lalu menyingkir dari tubuh gadis itu. Ia mendecak di dalam hatinya saat melihat ekspresi wajah Grace yang telah berbeda dari yang sebelumnya ia lihat. Sensasi pedih seketika menyelimuti hatinya.

Segera bangkit duduk, Grace menggeser duduknya mundur sedikit seraya menutupi mulutnya dengan punggung tangan. Tubuhnya masih terasa panas hingga ia harus memeriksa apakah kancing bajunya ada yang terbuka, dan untung saja, semua masih aman.

“Ki-kita tidak boleh,” Ucap Grace setelah meneguk liurnya.

Adro menatap Grace dalam diam sambil mengepalkan tangannya yang menempel di atas lantai. “Aku minta maaf karena berlebihan padamu. Namun, aku tidak akan minta maaf sudah menciummu. Dan kau… menerimaku,”

Kalimat Adro bagai sebuah pisau menikam jantung Grace. Ia segera bangkit berdiri, lalu menggeleng. “A-aku tidak tahu apa yang aku pikirkan tadi. Aku kehilangan kendali. Tidak seharusnya aku-“

“Grace,” Adro memotong kalimat terburu-buru gadis itu. “Aku suka-“

“Kita sedang mabuk.” Grace balas memotong kalimat Adro. “Ya, itu benar. Aku sudah bilang, ‘kan? Itu pasti karena anggurnya. Kita minum terlalu banyak hingga kita mabuk. Kita berciuman tanpa sadar karena terbawa suasana.”

“Apa?” Adro mengerutkan keningnya.

Grace mengangguk cepat, mencari pembenaran. “Itu benar, ‘kan? Apakah kau tidak sadar bahwa kau sedang mabuk? Kita bersalah pada Joselyn, calon istrimu. Aku harap ia mengerti bahwa kita sedang berada di bawah pengaruh alkohol. Hal ini tidak boleh terjadi lagi. Kita tidak boleh mengkonsumsi alkohol berduaan lagi.”

“Kau tidak bersalah,” Ucap Adro pelan dengan wajah berangsur menunduk. Ia tersenyum miris. “Aku yang menciummu duluan,”

“Adro, itu karena kita dipengaruhi alkohol, tidak ada hal lainnya,” Sahut Grace dengan nada memohon.

Adro terdiam beberapa saat, lalu mengangkat wajahnya untuk menatap Grace dengan senyum miris. “Kau… benar. Aku dan kau mabuk - Ayo berpikir seperti itu,”

Mengatupkan bibirnya kuat, Grace merasa jantungnya seakan diremas hingga remuk. “Aku akan membereskan mejanya besok. Maaf,” ucapnya cepat sebelum membalik tubuh untuk pergi ke kamar.

Namun, Adro segera menyambar pergelangan tangan Grace hingga gadis itu menoleh horror padanya. Ia bangkit dari duduknya perlahan agar tidak menakuti gadis itu lebih banyak lagi. “Ayo kita bicara besok, saat kita tidak lagi dipengaruhi alkohol.”

Meneguk liurnya, Grace menjawab, “Jika kita memiliki waktu. Selamat tidur,”

Begitu Adro melepaskan tangannya, Grace mengebut ke dalam kamar, dan menutup pintu - Di saat itulah tangisnya seketika pecah.

Duduk di pinggir ranjang, Grace terus mengusap air mata yang mengalir deras menuruni pipinya dengan punggung tangan. Ia adalah orang bodoh jika tidak menyadari perasaan Adro padanya setelah kejadian barusan.

Seharusnya Grace merasa bahagia ada seorang pria yang memiliki perasaan untuknya dengan tulus, bahkan ketika ia mengetahui semua kekurangan Grace. Namun, kenapa Grace malah harus menahan perasaannya ketika akhirnya ia menemukan pria yang bisa memperlakukannya dengan baik dan bisa membalas perasaannya?

Dari semua pria yang ada di dunia ini, kenapa itu harus Adro, pria yang sudah memiliki calon istri? Pria itu bahkan tidak berasal dari dunia yang sama dengan Grace. Bagaimana mungkin ia bisa percaya bahwa Adro tidak akan meninggalkannya ketika ia tahu jelas bahwa Adro memiliki tanggungjawab besar di tempat asalnya?

Namun, di atas semua alasan yang membuat Grace tidak bisa menerima Adro adalah ia tidak mungkin menyakiti gadis tidak bersalah demi menyelamatkan perasaannya sendiri. Ia tahu bagaimana sakitnya diselingkuhi dan ditinggalkan. Ia tidak mau menjadi alasan seorang gadis sesempurna Joselyn merasakan penderitaan serupa.

***

“Grace, aku tidak percaya kau, manusia yang tidak pernah terlambat, malah datang terlambat di acara wisudamu,” Tanya Bella yang baru saja menghampiri Grace.

“Aku tahu…” Jawab Grace lemah. “Aku terlambat berakat. Untungnya, ini tidak menjadi masalah.”

“Apa terjadi sesuatu padamu? Wajahmu terlihat lelah. Kau semalam menangis?” Bella meneliti wajah Grace.

Menyentuh kedua matanya, Grace bertanya, “Apakah mataku sangat bengkak?”

“Hanya sedikit. Namun jika diteliti, itu memang terlihat.” Jawab Bella. “Kau baik-baik saja? Apa terjadi sesuatu?”

Grace mengangguk pelan. “Aku baik-baik saja.”

“Kau yakin? Aku bisa mendengarkan jika kau ingin menceritakan sesuatu, kau tahu,” Bella memasang wajah memelas hingga membuat Grace terkekeh kecil.

“Aku benar baik-baik saja, Bella. Ini adalah hal kecil. Kau tahu aku sangat berlebihan, ‘kan? Ngomong-ngomong, terima kasih sudah mengkhawatirkanku,”

“M’m, baiklah jika kau berkata begitu.” Bella menggidik bahu. “Ohya, sepertinya kita sudah bisa meghubungi Sarah sekarang. Ia pasti sedang menunggu kita,”

“Ah, kau benar. Kita bisa gunakan ponselku saja,” Grace segera mengeluarkan ponselnya seraya melirik keluarga Bella yang nampak sedang menunggu untuk berfoto di luar.

Seperti biasa, Bella selalu dikelilingi oleh keluarga lengkapnya dalam wisuda. Itu adalah pemandangan yang sudah terbiasa Grace lihat, namun tidak pernah berhenti membuatnya mengiri, terlebih, kini ia benar-benar tidak memiliki siapa-siapa untuk menemaninya karena neneknya sudah meninggal.

Setelah melakukan panggilan video bersama Sarah selama sepuluh menit, Grace dan Bella keluar dari lobby kampus menuju halaman luas yang dipenuhi oleh para wisudawan dan kerabat mereka.

“Bella! Selamat!” Seperti biasa, ibu Bella yang bertingkah paling heboh. Ia memeluk putrinya sembari memberikan buket bunga besar.

Di samping Bella, Grace hanya berdiri canggung sambil tersenyum. Sebenarnya, ia ingin sekali pergi agar tidak menjadi figuran seperti ini, namun ia merasa tidak enak karena orangtua Bella selalu memaksakan diri mereka untuk turut memperhatikan Grace dalam acara seperti ini.

“Grace, selamat! Kau telah berjuang dengan baik,” Ibu Bella memberikan buket bunga pada Grace.

“Terima kasih, Mrs. Gibson,” Balas Grace.

Namun, pandangan Mrs. Gibson teralih ke belakang punggung Grace. “Sayang, apakah kau mengenal pria itu?”

“Pria apa?” Gumam Grace seraya menoleh ke belakang. Lalu, matanya langsung membesar saat mendapati sosok pria yang berdiri beberapa langkah di belakangnya. “Adro?”




Komentar