“Selamat, Grace,” Adro tersenyum seraya menyerahkan sebuah buket bunga besar dan cantik.
Meneguk liurnya, Grace menatap Adro dari kaki hingga kepala. Pria itu mengenakan setelan jas putih gading yang membuatnya terlihat seperti sesosok malaikat yang jatuh dari surga. Penampilan pria itu bahkan menarik perhatian banyak orang di sekeliling mereka.
“Bu-bukankah kau memiliki pemotretan?” Tanya Grace seraya menerima bunganya, lalu berterima kasih.
Adro mengangguk sekilas. “Aku maminta ijin untuk keluar lebih dulu agar bisa menemanimu. Bukankah ini adalah momen sekali sumur hidup?” ia tersenyum.
“Itu benar…” Gumam Grace, tidak mampu menatap kedua mata kristal Adro.
Grace pikir, setelah kejadian semalam, ia bisa menghindari Adro selama beberapa hari, mengingat pria itu akan pergi ke luar kota nanti malam. Ia bahkan rela mengurung dirinya di kamar hingga Adro berangkat kerja tadi pagi yang menyebabkannya terlambat menghadiri upacara wisuda. Namun, Adro sama sekali tidak terlihat canggung sekarang. Pria itu bersikap seakan tidak terjadi apa pun di antara mereka tadi malam.
“Hei, Adro, kau datang?” Bella menyapa pria itu.
“Hai, Bella. Selamat atas kelulusanmu,” Ucap Adro.
“Terima kasih. Ah… aku senang kau datang untuk menemani Grace,” Tutur Bella. “Ohya, aku dengar kau kemarin menjadi bintang tamu di acara fashion show kami. Kau keren sekali, sekarang kau sudah sangat terkenal, kau tahu,”
“Aku baru saja memulai karirku,” Jawab Adro ramah sebelum menoleh pada Grace. “Jika kau sudah selesai, bagaimana jika kita pergi makan keluar?”
“Woah… Kau terburu-buru sekali,” Bella berdehem sembari menutupi mulutnya dengan keempat jari. “Ayolah, semua, kelihatannya kita harus meninggalkan mereka sendiri,”
“Bella…” Grace menatap sahabatnya tidak suka, namun malah membuat Bella tertawa.
“Kami juga akan pergi makan bersama keluarga Raymond. Kau tahu, kami berencana menikah setelah lulus,” Bella setengah berbisik di kalimat terakhir sembari mengedipkan sebelah mata. Lalu ia menepuk ringan punggung Grace. “Bersenang-senanglah. Tidak ada yang aneh dengan hubungan kalian,”
“Hei!” Grace menegur dengan setengah berbisik, namun Bella tidak menanggapinya, dan malah kembali pada Adro untuk berpamitan.
Grace hanya bisa memperhatikan sahabatnya yang kurang ajar itu dan sosok Adro yang menebarkan senyumannya kepada lebih banyak kenalan Grace. Semakin lama, keadaan kelihatannya menjadi semakin tidak terkendali. Lubuk hatinya berkata bahwa Adro sedang merencanakan sesuatu, namun ia tidak yakin apa dan tidak memiliki bukti.
Sejak Adro menjadi model dan memiliki penghasilan besar, Bella dan Sarah juga seakan mewajarkan keberadaan pria itu di dalam kehidupan Grace. Ya, itu karena sejak awal, yang Bella dan Sarah takutkan adalah Adro memanfaatkan Grace untuk menumpang hidup dan memerasnya. Namun dengan status dan kondisi Adro sekarang, sudah cukup jelas bahwa pria itu tidak memiliki tujuan negatif seperti yang mereka pikirkan.
Sayangnya, hanya Grace yang mengetahui fakta detil tentang calon istri Adro yang menunggunya di negri dongeng. Hanya Grace yang mengkhawatirkan bagaimana nasib gadis malang itu jika Adro tidak kunjung kembali, atau bahkan malah menjalin hubungan percintaan dengan perempuan lain. Karena itu, hanya Grace yang bisa menilai dengan jelas bahwa itu adalah hal yang salah jika ia menjalin hubungan percintaan dengan Adro.
***
Seakan belajar dari kesalahan, Adro sudah melakukan reserfasi di restoran sebelum ia mengajak Grace makan siang terlambat. Itu bukan restoran yang sangat mewah, namun memiliki suasana tenang, sesuai kesukaan Grace.
Masih berbalut baju toga wisudanya, Grace duduk berhadapan dengan Adro yang sedang sibuk membaca buku menu. Hingga detik ini, ia masih tidak menyangka Adro bisa bersikap biasa saja sementara ia sama sekali tidak bisa fokus membaca buku menu miliknya.
“Grace, apa kau sudah menemukan apa yang ingin kau pesan?” Tanya Adro setelah menyebutkan pesananya pada pramusaji.
“O-oh… Aku memesan yang sama dengannya,” Ucap Grace pada pramusaji tersebut.
“Baik. Bagaimana dengan minumannya?” Tanya pramusaji itu.
Grace tersenyum canggung. “Itu juga bisa disamakan,”
“Kami memiliki selera makan dan minum yang sama,” Ucap Adro pada pramusaji itu, setengah tertawa.
Setelah pramusaji itu pergi, Adro mengembalikan fokusnya pada Grace. “Aku yakin kau bahkan tidak tahu apa yang aku pesan,” ia tersenyum.
Grace hanya mengatupkan kedua bibirnya rapat, menghindari tatapan Adro dengan menundukkan wajahnya sedikit. “Maaf aku bersikap seperti ini,”
“Tidak. Jangan minta maaf. Aku mengerti kau merasa tidak nyaman karena kejadian semalam. Kau bahkan mengurung dirimu di kamar untuk menghindariku. Seharusnya aku yang merasa malu,” Sahut Adro.
Grace menaikkan pandangannya dengan mata membesar. “Kau…”
“Tentu saja aku menyadarinya, Grace. Aku yakin aku sudah cukup mengenalmu,” Adro tertawa kecil. Lalu ia menarik napas dalam, dan menghembusnya pelan. “Grace, aku ingin membicarakan sebuah hal padamu,”
Jantung Grace berdebar semakin keras hanya karena kalimat terakhir Adro. Ini adalah hal yang ia takutkan – Apa yang ingin Adro bicarakan dengannya? Apakah itu adalah hal yang akan membuat hubungan mereka menjadi canggung?
Sayangnya, ketakutan Grace benar. Semalam, Adro telah membulatkan tekadnya untuk menyatakan perasaanya pada Grace. Hari ini, ia meminta ijin dalam pekerjaannya bukan sekedar untuk menemani Grace merayakan wisudanya, melainkan untuk mengatakan pada gadis itu bahwa ia mencintainya.
“Grace, aku menyukaimu-“
“Adro,” Grace segera memotong ucapan pria itu. Ia mengepalkan tangannya yang tersembunyi di kolong meja. “Mengenai kejadian semalam, itu hanya kecelakaan karena kita sedang mabuk. Mari kita lupakan hal itu – Aku tidak ingin kejadian itu membuat persahabatan kita menjadi canggung,”
Adro terdiam beberapa saat. Lalu, bibirnya menyunggingkan senyuman yang segera menjadi kekehan kecil. “Persahabatan, huh? Jadi, persahabatan itu sangat penting bagimu, Grace?”
Menarik napas dalam-dalam, Grace mengangguk tegas. “Iya.”
“Sebenarnya, yang bagimu penting itu, persahabatan kita atau diriku?” Tanya Adro, menghapus senyumnya.
“Keduanya penting bagiku. Aku telah menganggapmu sebagai sahabat terpentingku, dan aku ingin kita menjadi sahabat selamanya,” Jawab Grace setegas mungkin meski ia harus menahan nyeri di dalam dadanya. Ini adalah yang terbaik.
Jawaban Grace memberikan sensasi menusuk pada jantung Adro. Ia mengepalkan kedua tangannya kuat hingga baku-baku jarinya memutih. Namun, ia tetap mempertahankan ekspresi wajahnya setenang mungkin.
“Aku mengerti,” Ucap Adro pelan sembari mengangguk kecil. Kemudian, ia menatap Grace dengan senyum tipis di bibirnya. “Namun, bolehkah aku bertanya satu hal padamu, Grace; menurutmu, sampai mana batasan perasaan untuk persahabatan?”
Kening Grace mengkerut dan jantungnya seakan berhenti berdetak. Ia meneguk liurnya yang terasa seperti segenggam kerikil. “Ba-bagaimana maksudnya?”
“Aku pernah berkata bahwa aku sayang padamu. Aku sangat peduli padamu hingga kini, rasanya sangat sulit untuk tidak memperhatikanmu.” Jelas Adro perlahan. Lalu, tatapannya pada Grace berubah datar. “Namun, sekarang aku mulai berpikir, apakah perasaanku terhadapmu ini masih pantas disebut sebagai perasaan untuk sahabat atau sudah melewati batas,”
Seketika, mulut Grace menjadi kering hingga menggerakkan lidahnya saja rasanya sulit. Ia tahu Adro adalah bom waktu – Pria itu akan meledak kapan saja, dan Grace harus siap menghadapinya. Sayangnya, seberapa kerasnya Grace mempersiapkan diri, ia tidak bisa menahan rasa takutnya. Kini, rasa penyesalan bahwa ia tidak sejak awal mengusir Adro dari rumahnya kian terngiang-ngiang di dalam benaknya.
“A-aku tidak tahu,” Gumam Grace, menundukkan wajahnya.
“Bukankah kau ingin belajar mandiri, Grace? Jika kau ingin kabur dari hal ini, itu artinya kau membiarkan diriku yang membereskannya,” Ucap Adro datar.
Mata membesar, Grace langsung mengangkat wajahnya untuk menatap Adro. Meski begitu, Adro telah mengubah ekspresinya lagi menjadi lembut, mungkin agar Grace tidak merasa tertekan.
Grace mengeratkan bibirnya sejenak sebelum membukanya ragu. Perlahan, suara kecil mengalir dari bibir yang sedikit bergetar itu, “A-aku pikir… Menurutku, perasaan itu tidak bisa dipaksakan, namun, kita bisa mengendalikan efek dari perasaan tersebut.” Jelasnya, lalu menarik napas panjang untuk mengumpulkan keberanian sebelum melanjutkan dengan suara lebih keras dan tegas, “Adro, aku harap, baik persaanmu atau perasaanku, keduanya tidak akan pernah merusak persahabatan kita dan tidak akan menyakiti siapapun,”
Adro menyipitkan matanya dan mengerutkan kening. “Menyakiti siapapun? Siapa yang kau maksud dengan ‘siapapun’? Apakah kau bicara tentang Joselyn?”
“Joselyn adalah calon istrimu – Ia tunanganmu. Tentu saja ia akan sangat sedih dan kecewa jika kau memiliki hubungan dengan perempuan lain,” Jelas Grace perlahan.
Adro terdiam sesaat. Ia tidak bisa membantah kalimat Grace karena itu memang benar. Jika ia harus memikirkan Joselyn sekarang, ia tentu merasa kasihan pada gadis yang ia sayangi sejak kecil itu. Namun tetap saja, ia tidak bisa menerimanya karena ia sudah menyadari bahwa perasaannya terhadap Joselyn dan Grace sangat berbeda.
“Lalu bagaimana denganmu?” Adro kembali menatap Grace lekat. “Bagaimana perasaanmu terhadapku? Aku ingin kau jujur kali ini – Aku tahu kau suka berbohong dan menutupi perasaanmu selama ini. Namun aku mohon padamu sekali saja, Grace, jujurlah padaku,”
.png)
Komentar
Posting Komentar