Langsung ke konten utama

58. Tertarik // Pengantin Pria Dari Negri Dongeng

 

“O-oh,” Grace segera bangkit berdiri, lalu menjulurkan tangannya. “Aku Grace Menken, sekertaris baru Ms. Park.”

Pria bernama Sean itu mengangguk-angguk dengan senyum ramah yang masih awet pada wajahnya, lalu membalas jabatan tangan gadis di depannya. “Senang bertemu denganmu, Ms. Menken.” Lalu, ia melepas jabat tangan mereka dengan sopan. “Aku sudah mendengar sedikit tentangmu dari Ms. Park. Aku harap kita bisa bekerjasama dengan baik,”

Keramahan Sean membuat kegugupan Grace berkurang drastis. Ia membalas senyum Sean dengan tidak kalah ramah. “Kau bisa memanggilku; Grace. Terima kasih banyak sudah menyambutku dengan baik. Aku akan berusaha keras agar tidak merepotkanmu,”

Sean menggeleng pelan. “Tidak perlu khawatir, Grace. Kita berdua adalah asisten Ms. Park, jadi, sudah sewajarnya aku mengajarimu tentang pekerjaan kita. Oh, dan juga, kau bisa menyebutku dengan nama depanku,” ia mengedipkan sebelah mata.

Grace tersenyum dan mengangguk. “Terima kasih, Sean,” ucapnya, sedikit menahan napas agar suaranya tidak bergetar.

Sungguh, mimpi apa Grace semalam hingga ia bisa memiliki rekan kerja sekeren ini? Sean, Sean Lee, pria berambut hitam legam dengan warna mata yang sama. Mata yang dipayungi oleh sepasang alis tebal dan panjang itu terlihat sangat menonjol karena kulit putihnya. Namun, hal yang paling menarik perhatian adalah bibir merahnya yang sangat manis saat tersenyum. Di luar semua itu, ia memiliki tubuh tinggi dengan struktur otot yang mempesona, bahkan ketika itu dibungkus oleh kemeja hitamnya.

‘Apakah aku pernah berkata bahwa aku menyukai pria tampan?’ Jerit Grace dalam hati.

“Sebelumnya, Ms. Park hanya memiliki diriku sebagai sekertarisnya. Namun, karena pekerjaan semakin menumpuk dan ia memiliki bisnis tambahan, ia membutuhkan sekertaris tambahan,” Jelas Sean sembari duduk di kursinya.

Grace tersadar dari lumanannya, lalu segera mengusap sisi bibirnya sekilas untuk memastikan ia tidak meneteskan liur atas pemandangan indah di depannya.

Apakah sering disakiti oleh pria membuat Tuhan mengasihani Grace? Ia tidak yakin. Namun setelah Adro, ia tidak menyangka harus berurusan dengan pria tampan lainnya. Ya, meski Sean dan Adro sama-sama tampan, mereka memiliki tampilan yang berbeda. Jika Adro nampak seperti malaikat yang jatuh dari surga, Sean nampak seperti raja kegelapan yang muncul dari bawah tanah.

Meski begitu, sejujurnya, Sean adalah tipe pria yang sangat menarik perhatian Grace karena ia terlihat misterius namun memiliki sikap yang hangat, setidaknya hingga sejauh ini.

“Jangan sungkan untuk bertanya apa pun padaku. Aku harap aku bisa banyak membantumu, Grace,” Tutur Sean lagi dengan senyum di bibir dan matanya.

Meneguk liurnya, Grace kembali mengangguk antusias. “Kau sangat baik. Maksudku, kau sangat pengertian,” ia berdehem. “Terima kasih, lagi,”

Melihat kegugupan Grace, Sean tertawa kecil. “Tidak perlu merasa gugup. Aku dengar ini adalah pekerjaan pertamamu, huh? Aku mengerti kau mungkin belum terbiasa dengan dunia kerja, namun, percayalah padaku, kantor ini memiliki lingkungan yang bersahabat.”

“Maaf telah menunjukkan sikap tidak professional, namun, penjelasanmu membuatku merasa lega,” Ucap Grace.

“Itu tidak masalah,” Sean menggeleng sekali. “Lalu, jika kau tidak memiliki teman atau tempat tujuan di jam makan siang, kau bisa ikut denganku. Aku biasa makan di kantin kantor – Mereka memiliki makanan enak setiap hari,”

Mengangguk cepat, Grace menjawab, “Jika tidak merepotkanmu,”

“Tentu tidak merepotkan,” Jawab Sean ramah.

***

Suara mesin yang meniupkan angin hangat berdengung di samping telinga Grace. Ia terus menatap cermin tanpa bisa memudarkan senyum tipis pada wajahnya yang terus terkibas-kibas oleh helaian rambutnya yang mulai mengering.

‘Dia sangat baik. Aku tidak menyangka, di balik wajah dinginnya, ia ternyata cukup banyak bicara. Dan yang lebih mengejutkan lagi, obrolan kami sangat nyambung,’ Pikir Grace.

Begitu rambutnya sudah kering, Grace keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil menggantung di pundaknya. Namun, ia cukup terkejut melihat Adro sedang membuka kulkas.

“Hai,” Adro menoleh ke belakang saat mendengar pintu kamar mandi terbuka.

“Kau… sudah kembali? Sejak kapan?” Tanya Grace.

“Sekitar lima menit yang lalu, mungkin,” Adro melirik jam dinding seraya membuka botol air dingin dan menutup pintu kulkas dengan kakinya. “Apa kau tidak mendengar aku masuk? Itu tumben sekali,”

“Eum, mungkin karena aku sedang mengeringkan rambut tadi,” Jawab Grace, setengah bergumam. 

Padahal, suara pengering rambutnya tidak sekeras itu, apalagi jika dibandingkan dengan suara decitan pintu rumahnya yang entah mengapa tidak kunjung bisa diperbaiki. Tidak perlu berpikir – Itu disebabkan oleh pikirannya yang sibuk mereka ulang aktifitasnya di kantor hari ini.

“Ini makanannya. Apa kau bisa memanaskannya sebentar sementara aku mandi?” Adro menunjuk kantung plastik putih besar di atas meja konter.

“Tentu.” Jawab Grace.

Karena sekarang Grace sudah bekerja, Adro berkata bahwa mereka lebih baik memesan makanan di luar karena biasanya Grace yang memasak. Pria itu berpikir bahwa Grace akan terlalu lelah setelah bekerja.

‘Mulai sekarang, aku yang akan menyediakan makan malam untuk kita. Dan jika aku tidak pulang, aku akan memesankan makanan untukmu sehingga kau tidak akan kelaparan,’ Itu yang Adro katakan di telpon tadi sore.

Meski Grace tidak merasa selelah itu untuk tidak memasak, ia akhirnya menyerah pada paksaan Adro. Seperti biasa, Adro selalu memaksakan kehendaknya karena berpikir bahwa semua tindakannya adalah yang terbaik. Padahal, Grace yakin membuat makanan sendiri jauh lebih sehat dan tentunya lebih menghemat uang dibandingkan membeli di luar.

“Terima kasih sudah memanaskan makanannya. Temanku berkata makanan restoran ini sangat enak, bahkan jika kau adalah orang Asia asli,” Ucap Adro sembari duduk di kursi meja konter.

“Aku bisa menebaknya. Bahkan dari aromanya saja sudah sangat enak,” Sahut Grace seraya meletakkan mug mereka dan seteko air di atas meja konter.

“Jadi, bagaimana dengan hari pertamamu? Kau terlihat bersemangat, kau tahu?” Adro tersenyum lebar sambil memperhatikan Grace yang baru saja duduk di sebelahnya.

“Be-benarkah?” Grace berdehem. “Ya, aku tidak menemukan kesulitan hari ini. Dan hal yang paling aku takuti tidak terjadi,”

“Jadi, orang-orang di sana cukup ramah sejauh ini?” Adro mengkonfirmasi, mengetahui jelas maksud ketakutan yang Grace maksud.

Grace mengangguk. “Aku memiliki rekan-rekan yang baik dan pengertian, begitu juga dengan atasanku. Mereka mengajariku dengan sabar meski sangat banyak hal yang tidak aku mengerti,”

“Hah… Itu sangat melegakan,” Adro menghela panjang sembari mengambil Chow Mein-nya dengan sumpit. “Kau tahu, aku seharian mengkhawatirkanmu namun tidak berani menghubungimu karena takut mengganggu pekerjaanmu,”

“Oh, Adro… Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, tapi itu tidak perlu. Aku sudah berkata, aku adalah orang dewasa normal,” Grace membuat tanda kutip dengan jemari kedua tangannya.

“Tidak untukku,” Sahut Adro sembari mengunyah makanannya. “Aku bahkan harus menyiapkan makan malam untukmu,”

“Hei,” Kedua alis Grace terangkat tinggi. “Kau yang bersikeras membeli makan malam!”

“Tapi tujuanku sangat beralasan.” Sahut Adro, menahan tawa. “Meski aku berkata bahwa kau terlihat bersemangat, dari wajahmu terlihat jelas bahwa kau kelelahan.”

Grace mendengus seraya memutar matanya. “Kau hanya mencari pembenaran, dasar menyebalkan!” ocehnya sebelum menyuap nasi Hainam-nya yang masih mengebul.

Selesai makan, Grace segera membereskan piring-piring mereka. “Hari ini aku yang mencuci piring karena kau telah melakukannya kemarin,”

“Sepertinya aku harus membeli mesin pencuci piring. Bukankah mencuci piring cukup membosankan?” Adro mengusap dagunya.

Grace tertawa kecil sambil menggeleng heran. “Kita hanya tinggal berdua, jadi cuciannya tidak banyak. Kenapa hal sekecil ini harus membuatku bosan?”

“Justru karena itu adalah hal kecil, maka itu menjadi membosankan. Bukankah waktu lima hingga sepuluh menit lebih baik kita gunakan untuk menonton bagian pembuka film yang akan kita tonton malam ini?”

“Kau aneh, kau tahu?” Grace tertawa geli sembari mencuci piring.

“Tapi itu ada benarnya, ‘kan? Jujurlah kau sebenarnya setuju denganku,” Ucap Adro dengan meletakkan kepalanya tepat di samping wajah Grace.

“Hei, kau terlalu dekat,” Grace menggerakkan pundaknya agar Adro menyingkir dari punggungnya karena pria itu hanya membuat pipinya terasa panas. “Mesin pencuci piring membuat biaya listrik jadi membengkak. Untuk apa mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk menghemat waktu paling lama sepuluh menit? Ini sama sekali tidak melelahkan.”

Mendecak, Adro pindah untuk berdiri di samping tempat cuci piring, lalu melipan lengan di depan dada. “Kau selalu bicara tentang uang, padahal itu bisa didapat dari mana saja. Bukankah kita mencari uang untuk membeli waktu?”

“Tidak semua orang hanya membutuhkan waktu sepertimu, Adro,” Sahut Grace seraya menutup keran air, lalu mengeringkan tangannya.

“Ketika kau hanya menghidupi dirimu sendiri, bukankah hal yang paling kau butuhkan adalah waktu untuk bersenang-senang?” Tutur Adro seraya melangkah menuju sofa untuk menyalakan TV. “Kita bahkan membutuhkan dua hari untuk menamatkan satu film,”

Kekehan kecil mengalir dari mulut Grace, sementara ia melempar bokongnya untuk duduk di samping Adro. “Kelihatannya pola pikirmu sudah terpengaruh oleh dunia ini. Kini kau peduli pada bersenang-senang.”

“Sejak harus sering bekerja tanpa pulang, aku menyadari bahwa waktu sangat penting. Jika dihitung-hitung, kita hanya bisa menghabiskan waktu bersama paling lama empat jam dalam sehari - Itupun jika aku pulang ke rumah,”

Kalimat Adro membuat Grace terdiam. Hingga sekarang, ia sejujurnya masih bertanya-tanya mengapa Adro sangat peduli pada waktu yang mereka habiskan berdua. Namun, rasa khawatirnya pada jawaban Adro lebih besar dari rasa penasaran itu.

Ding!

Tiba-tiba, nada pesan masuk pada ponsel Grace berbunyi. Ia meraih benda tersebut dari atas meja, dan melihatnya.

‘Sean?’

 



Komentar