Langsung ke konten utama

59. Orang Baru // Pengantin Pria Dari Negri Dongeng

 

Hari ini, Grace bukan hanya mengobrol tentang cukup banyak hal dengan Sean. Sebenarnya, saat jam pulang, Sean sempat bertukar nomor telpon dengan Grace.

Meski sangat memalukan untuk berpikir seperti ini, Grace bisa membayangkan jika ia dekat dengan pria seperti Sean. Ia memang tidak tahu apakah Sean masih sendiri atau sudah memiliki pasangan, namun, jika pria itu masih sendiri, tidak ada salahnya Grace berharap, ‘kan?

Sejujurnya, perasaan Grace masih sangat besar kepada Adro. Ia bukan hanya menyukai pria itu, melainkan sangat peduli, dan bahkan mungkin mencintainya. Namun, tidak akan pernah ada hubungan di antara mereka. Karena hal itu, bukankah Grace harus mencari pasangan di luar sana? Jika ia memiliki pasangan, ia bisa melupakan Adro perlahan-lahan. Dan kemungkinan besar, Adro juga akan pergi dari rumah Grace atas kehendaknya sendiri.

Grace tidak tahu ia bisa menjadi perempuan sejahat ini. Ya, ia memang menyukai pria tampan – Sean memang adalah tipe pria yang sejak dulu ia idam-diamkan karena mirip dengan berbagai tokoh fiksi dalam film aksi atau fantasi, namun, satu-satunya pria yang menguasai hatinya saat ini adalah Adro. Dan ia harus mencari cara untuk memutus ketergantungannya pada Adro meski itu artinya ia terpaksa harus memanfaatkan Sean.

‘Hai, Grace. Apakah aku mengganggumu?’ –Sean.

‘Hai, Sean. Tidak. Apa ada yang bisa aku bantu?’ –Grace.

‘Itu melegakan. Aku hanya ingin bertanya padamu, apakah kau ingin kopi yang aku ceritakan tadi siang? Kau tahu, aku selalu membelinya setiap pagi, jadi aku bisa sekalian membelikan untukmu.’ –Sean.

‘Apakah itu tidak merepotkanmu?’ –Grace.

‘Tentu tidak. Malahan, aku sangat bersemangat melihatmu mencobanya. Haha!’ –Sean.

‘Kalau begitu, aku juga tidak sabar untuk mencobanya.’ –Grace.

‘Keren! Kau tahu, aku sangat mengharapkan reaksi itu darimu. Oh, mereka juga memiliki sandwich enak. Aku akan membelikannya untukmu jika aku tidak kehabisan.’ –Sean.

‘Aku sungguh takut merepotkanmu, Sean.’ –Grace.

‘Kau bercanda. Tidak sama sekali. Kau adalah orang yang paling memikirkan orang lain yang pernah aku temui. Aku berkata jujur. Haha!’ –Sean.

Kening Adro mengkerut sementara matanya terus menatap tajam pada Grace yang sibuk mengetik sesuatu di ponselnya sambil tersenyum-senyum sendiri.

“Oh, aku tidak menyangka ia akhirnya mati,” Ucap Adro.

Segera mengangkat pandangannya menuju Tv, Grace menyahut. “Oh, ya? Ah, kau benar. Aku juga tidak menyangka ia akan mati.”

“Pria itu sangat hebat sejak awal. Ia bahkan membuatku terus melupakan siapa pemeran utamanya,” Ucap Adro lagi.

“Hm? Ya, kau benar. Dia sangat keren,” Grace melepas tatapannya dari ponselnya lagi hanya untuk kembali menatap benda menyala itu sedetik kemudian.

“Siapa yang menurutmu akan selamat sampai akhir?” Tanya Adro.

Kembali melepas tatapannnya dari ponsel, Grace menatap Adro sekilas sebelum beralih pada layar Tv yang masih memutar film. “Eum, aku tidak yakin - Semuanya terlihat hebat,”

“Oh, Baiklah,” Sahut Adro hanya untuk melihat Grace kembali sibuk dengan ponselnya.

‘Aku yakin kau bahkan tidak mengetahui jalan cerita filmnya,’ Ucap Adro dalam hati.

Sebenarnya siapa yang membuat Grace tiba-tiba sibuk dengan ponselnya seperti itu? Adro kerap melihat Grace berkomunikasi dengan kedua sahabat wanitanya, Sarah dan Bella, namun, mereka lebih sering bertelponan. Jika mereka berkomunikasi lewat pesan pun, itu hanya sebentar. Yang pasti, Grace tidak pernah sibuk sendiri dengan ponselnya ketika ia sedang menghabiskan waktu bersama Adro.

Namun kini, Grace sudah lebih dari tiga puluh menit menempelkan tangan dan matanya pada ponsel tersebut. Bahkan ketika Adro berusaha mengajaknya bicara, gadis itu tetap kembali pada ponsel sialannya. Dan yang lebih menyakiti harga diri Adro adalah bagaimana Grace tetap berusaha meladeninya meski jawabannya kerap tidak nyambung hingga Adro memilih untuk mendiamkan gadis itu.

“Kelihatannya itu sangat menyenangkan,” Ucap Adro saat Grace akhirnya meletakkan ponselnya kembali ke atas meja.

“Ya?” Grace menoleh pada Adro.

“Kau tahu, kau tidak pernah sibuk dengan ponselmu saat kita sedang menonton, mengobrol, dan melakukan hal lain bersama,” Adro menggidik bahu. “Apakah Sarah memiliki kisah yang sangat menarik lagi?”

“Oh, eum, sebenarnya itu bukan Sarah,” Grace berdehem pelan.

“Bukan?” Adro berpura-pura terkejut. “Aku pikir itu Sarah karena dialah yang selalu bertukar pesan denganmu. Mungkinkah itu Bella? Ia sudah memiliki tanggal pernikahannya?”

Menekan bibirnya, Grace kemudian menjawab, “Itu adalah teman kantorku,”

Kedua alis Adro terangkat tinggi. Ia menatap Grace dengan wajah penasaran yang berlebihan. “Wow. Kau sudah mendapat teman yang cukup dekat di hari pertama? Orang itu pasti sangat menyenangkan sampai kau terus tersenyum sendiri saat bertukar pesan dengannya,”

Tersenyum kecut, Grace mengangguk tidak yakin. “Ya, kurang lebih seperti itu,”

“Senang mendengarnya. Bukankah itu artinya kemampuanmu untuk berbaur dengan orang lain juga telah meningkat pesat?” Adro tersenyum lebar. “Nanti, kau bisa mengenalkan orang itu padaku. Siapa tahu aku juga bisa berteman dengannya.”

Meski disampaikan dengan senyum ramah, kalimat Adro membuat nyali Grace menciut. Entah mengapa ia merasakan api meletup-letup keluar dari tubuh pria itu. “Na-nanti aku akan bertanya padanya jika ia memiliki waktu. Kau tahu, kami belum sangat dekat sehingga aku takut mengganggunya,”

“Oh, tentu,” Jawab Adro dengan senyum tipis, sebelum kembali menatap Tv.

‘Belum dekat, huh? Namun kalian bertukar pesan hingga semalam ini dan bahkan membuatmu tersenyum-senyum sendiri.’ Pikir Adro. Lalu, ia kembali melirik Grace yang sedang menonton Tv.

Meski Adro tahu bahwa Grace sudah mampu membawa dirinya untuk berbaur dengan lingkungan, ia yakin sifat tertutup seseorang tidak bisa berubah secepat itu. Bahkan dengan teman-teman Adro pun, Grace tidak bisa menjadi sedekat itu hingga berlama-lama mengobrol via pesan singkat. Orang itu pasti memiliki sesuatu hingga Grace bisa sedekat itu dengannya hanya dalam waktu setengah hari.

‘Aku harap orang itu adalah wanita,’ Pikir Adro, diam-diam mengepalkan tangannya.

Rasa penasaran dan kekhawatiran menyelimuti hati Adro. Ia ingin tahu apakah teman Grace pria atau wanita. Namun jika ia bertanya, ia akan terlihat terlalu protektif – Grace mungkin akan curiga bahwa ia memiliki perasaan tidak wajar padanya. Jika itu terjadi, perjuangan Adro untuk menutupi rasa cintanya pada Grace selama ini akan sia-sia. Gadis itu mungkin akan menjauh darinya atau bahkan mengusirnya keluar.

***

“Kelihatannya kau sangat suka dengan kopi?” Tanya Grace setelah berterima kasih pada Sean yang membawakan segelas Matcha Latte padanya.

“Aku ketergantungan,” Sean tertawa kecil. “Café kecil itulah yang menjadi tersangka utamanya. Aku mencintai kopi sejak mencoba kopi mereka saat SMP.”

Grace tertawa kecil. “Tapi kopi mereka memang enak. Tidak heran kau jadi ketagihan,”

“Yap. Dan resep mereka tidak pernah berubah. Aku dengar mereka mengimpor biji kopinya secara khusus dari Indonesia. Sayang sekali kau belum mencoba sandwich mereka. Aku harap besok aku tidak kehabisan,”

“Aku tidak sabar mencobanya,” Grace tersenyum. “Tapi, nanti, aku ingin membayarnya sendiri, oke?”

“Grace, itu hanya kopi dan sandwich.” Sean mengibas tangannya sekali sebelum membuka obrolan lain, “Jadi, kenapa kau memilih bekerja di sini jika kau sendiri adalah seorang seniman?”

“Eum… Meski aku adalah seorang seniman, karyaku masih belum banyak terjual dan namaku belum dikenal. Aku pun belum pernah mengadakan pameran milikku sendiri. Karena itu, aku harus bekerja untuk menyambung hidup.” Jelas Grace pelan.

Sean mengangguk-angguk mengerti. “Itu masuk akal. Kau bekerja untuk mendapat penghasilan tetap dan menjadikan hobimu sebagai penghasilan tambahan untuk sementara.”

“Tapi, sejak dulu aku memang tertarik untuk bekerja di galeri ini. Aku merasa sangat beruntung bisa bekerja di sini sekarang,” Ucap Grace sebelum menyuap saladnya. Lalu ia berdehem setelah menelan. “Jika boleh tahu, bagaimana denganmu?”

“Aku?” Sean tersenyum. “Kebetulan, kita memiliki kisah yang agak mirip,”

Mata Grace membesar. “Benarkah?”

Sean mengangguk. “Sama sepertimu, aku memiliki pekerjaan paruh waktu yang sesuai dengan hobiku. Aku adalah seorang komposer lagu. Aku bekerja di sini karena aku memiliki ketertarikan pada seni meski aku bukan seorang seniman. Selain demi memiliki penghasilan tetap, aku menemukan bahwa aku menikmati pekerjaanku yang terlibat dalam pameran dan galeri besar ini.”

“Wah! Kau sangat keren! Padahal, tidak mudah mengatur waktu, terlebih pekerjaan kita memiliki sangat banyak deadline,”

“Sejujurnya, aku malah menyukai pekerjaan yang memiliki waktu ketat seperti ini,” Sean tertawa kecil. “Ini membuatku sadar bahwa hidup tidak bisa selalu mengikuti perasaanku. Selama ini, aku membuat lagu dengan mengikuti perasaanku sehingga aku jadi terlalu memanjakan diriku sendiri.”

“Kau memiliki cara pandang yang menarik. Itu adalah tingkat kesadaran diri yang menakjubkan,” Ucap Grace, terkagum-kagum.

Sean tertawa kecil sambil menggeleng. “Apakah ada yang pernah mengatakan padamu bahwa kau sangat berlebihan saat memuji orang?”

Ikut tertawa, Grace mengangguk cepat. “Sebenarnya, ada.”

“Astaga, sepertinya itu sudah menjadi kebiasaanmu,” Sean terus terkekeh.

“Ngomong-ngomong…” Ucap Sean setelah menelan spagetinya. “… bolehkah aku tahu, apakah kau masih sendiri atau sudah memiliki pasangan?”

Pertanyaan itu seperti sebuah sengat yang membuat jantung Grace berhenti sesaat. Ia hampir tersedak oleh salad yang sedang ia kunyah. Namun, Grace segera mengatur napasnya diam-diam untuk menyelamatkan dirinya dari kegugupan.

“Belum. Aku masih sendiri,” Grace tersenyum kecil.

“Oh, eum, kebetulan, aku juga masih sendiri,” Sean berdehem. “Eum… Sebenarnya aku berpikir untuk mengajakmu makan malam di luar besok. Apakah kau tertarik?”




Komentar