Langsung ke konten utama

60. Pertemuan Tanpa Sengaja // Pengantin Pria Dari Negri Dongeng

 

Pertanyaan Sean membuat Grace terdiam. Dari semua pria yang pernah dekat dengannya, Sean adalah yang paling terburu-buru. Ya, Tuhan, mereka baru tiga hari saling mengenal!

Namun, hal yang memberatkan hati Grace bukanlah bagaimana sikap Sean yang terburu-buru seperti ini. – Ia terkadang menganggap ini adalah sikap yang berani dari seorang pria dan entah mengapa terlihat seksi! - Hal yang membuatnya merasa tidak nyaman sekarang adalah Adro.

Ya, entah mengapa hal pertama yang muncul di pikiran Grace setelah Sean mengajaknya keluar adalah Adro. Sebenarnya, apakah Adro sungguh memiliki perasaan romantis padanya? Apakah perasaan yang sempat Adro nyatakan itu masih ada? Jika itu benar, maka Adro akan kecewa jika Grace berkencan dengan pria lain. Namun, bukankah Grace memang harus membangun pembatas lebih tebal di antara mereka?

Selain tampan dan keren, Sean adalah pria yang baik – Ia juga sangat sopan pada wanita. Secara teknis, Sean adalah pria idaman Grace, yang bisa memperlakukannya dengan benar, tidak seperti pria lainnya kecuali Adro. Mungkin dengan mencoba keluar beberapa kali bersamanya, Grace bisa perlahan melupakan Adro dan benar-benar membangun hubungan percintaan serius dengan Sean, ‘kan?

Dengan Grace dan Sean yang sudah menjalin hubungan, Adro juga akan sadar diri hingga memutuskan untuk menjaga jarak darinya.

“Itu terdengar bagus,” Jawab Grace dengan senyum lembut.

“Kalau begitu aku akan menjemputmu Sabtu nanti.” Ucap Sean.

***

“Apakah kau yakin ingin pulang sekarang?” Tanya Sean sambil membuka pintu penumpang mobil sedannya. “Sebenarnya aku ingin membawamu ke jembatan kota dan melihat pemandangan di sana sambil menikmati bir dingin.”

Grace mengangguk dengan wajah bersalah. “Kita bisa melakukannya lain kali karena aku tidak bisa pulang terlalu larut – Aku sudah keluar sejak siang, kau tahu,”

“Well, baiklah,” Sean menutup pintu itu, lalu beranjak ke pintu kemudi.

Sambil memperhatikan Sean yang sedang melangkah menyebrangi moncong mobil hitamnya, Grace menghela panjang. Sean mungkin menganggapnya aneh sekarang. Ya, bagaimana tidak? Seorang wanita dewasa sepertinya masih mempedulikan jam malam seperti remaja.

‘Sean akan semakin menganggapku aneh jika ia tahu, penyebab aku mengatur jam malam untuk diriku sendiri adalah karena Adro. Tidak. Ia bahkan akan menjauhiku jika mengetahui ada Adro di hidupku.’ Pikir Grace.

Mengeluarkan ponselnya, Grace segera mengirimkan pesan pada Adro.

‘Adro, apa kau sudah pulang?’ –Grace.

“Kita sudah memasuki musim gugur, jadi udaranya agak dingin ketika malam.” Ucap Sean begitu duduk di kursi.

“Itu benar,” Grace menurunkan ponselnya. “Sebentar lagi kita akan melihat jalan dipenuhi daun kering. Itu pasti sangat indah,”

Sean tersenyum. “Meski besar di kota ini, aku tidak pernah bosan dengan kecantikannya di musim gugur. Aku harap bisa menikmatinya denganmu nanti,”

Kalimat Sean membuat pipi Grace menghangat hingga ia harus menundukkan wajahnya. Namun tiba-tiba, ponselnya berbunyi sekali.

‘Aku hampir sampai di rumah. Apa kau sudah pulang?’ -Adro.

‘Oh, aku pikir kau sudah di rumah. Aku juga masih di jalan.’ –Grace.

‘Jalan pulang, ‘kan?’ –Adro.

‘Yap.’ –Grace.

‘Bagus. Aku akan menunggumu dan tidak mengunci pintunya.’ –Adro.

Kembali menghela panjang diam-diam, Grace mengunci ponselnya. Setidaknya Adro sudah dekat dengan rumah jadi pria itu akan sampai duluan. Saat ini, Grace masih berada cukup jauh sehingga mereka tidak akan berpapasan di luar rumah.

Untuk saat ini, mempertemukan Adro dan Sean adalah ide yang sangat buruk. Grace harus memastikan bahwa ia sudah cukup dekat dengan Sean atau bahkan berpacaran dengannya sebelum membiarkannya bertemu dengan Adro. Jika tidak, Sean mungkin malah akan menjauhinya karena Adro.

“Kau tinggal di lantai berapa? Aku akan mengantarmu sampai rumah.” Tanya Sean sembari menarik rem tangan mobilnya.

“Oh, itu tidak perlu, Sean. Aku akan masuk sendiri.” Jawab Grace canggung.

“Tidak.” Sean mematikan mesin mobilnya. “Aku akan mengantarmu. Apa mungkin kau takut menunjukkan rumahmu padaku?” ia tertawa sembari melepas sabuk pengamannya.

“Bukan seperti itu. Aku hanya…” Grace terhenti dengan keringat mulai membasahi punuknya. “Eum, bagaimana jika kau mengantarku sampai lift saja?”

Sean tersenyum tipis. Kelihatannya itu benar bahwa Grace masih tidak mempercayainya, namun, itu tidak apa. Ia suka pada perempuan yang pintar menjaga diri.

“Tidak masalah. Aku akan mengantarmu hingga kau masuk ke dalam lift. Ini sudah malam, tolong biarkan aku merasa lebih tenang dalam perjalanan pulangku,”

Grace tertawa kecil. “Kau tahu, tingkat kejahatan sangat tipis di kota ini.”

“Aku tahu. Itu hanya alasan agar aku bisa bersamamu lebih lama,” Tawa Sean.

“Kau…” Grace nyaris tersedak oleh udara yang dihirupnya.

Sampai di depan lift, mereka menadapati lorong itu kosong seperti biasa. Grace tidak heran karena orang-orang di apartmentnya memang sangat jarang keluar di malam hari.

“Grace, apakah kau tahu,”

Grace menoleh pada Sean yang berdiri di sampingnya dengan kedua tangan terselip ke dalam kantung celana panjangnya.

“Kau adalah gadis yang sangat menarik. Bagiku, kau itu unik, sehingga mengobrol bersamamu sangat menyenangkan hingga waktu terasa sangat singkat.” Lanjut Sean.

“O-oh,” Grace mengeratkan bibirnya sejenak sebelum menjawab dengan suara agak pelan dan wajah terpaku ke depan, “Kau juga sangat menarik. Aku pun menikmati waktu yang aku habiskan bersamamu.”

Sikap malu-malu Grace membuat Sean tersenyum geli. Ia menatap Grace dengan rasa hangat di dalam dadanya. “Jika boleh, aku harap aku bisa mengantarmu pulang setiap hari karena kebetulan jalan rumah kita searah dari kantor,”

“Itu boleh saja jika tidak merepotkanmu,” Jawab Grace.

“Apa kau tinggal sendirian di sini?” Tanya Sean.

“Eum, itu … Aku tinggal bersama saudara sepupuku”

“Oh,” Sean menaikkan satu alisnya dan tersenyum tipis. “Aku pikir kau tinggal sendirian hingga tidak berani memberitahuku pintu rumahmu?”

“A-aku tidak bermaksud seperti itu,” Ucap Grace cepat.

Namun, Sean malah terkekeh geli. Ia mengusap punggung Grace singkat sembari menyahut, “Itu tidak apa, sungguh. Aku malah kagum pada wanita yang pintar menjaga diri dan pemilih terhadap orang mana yang pantas ia percayai. Itu artinya, sekali aku mendapat kepercayaanmu, aku sangat beruntung.”

Ding!

Tanpa mereka sadari, lift yang ditunggu akhirnya sampai ke bawah dan pintunya terbuka.

“Liftnya sudah sampai. Kalau begitu, selamat-“

“Grace?”

Kalimat Sean terpotong karena seorang pria dari dalam lift segera melangkah keluar menghampiri mereka, atau lebih tepatnya, menghampiri Grace.

‘Demi bintang di langit! Kenapa Adro bisa tiba-tiba turun ke bawah? Apakah alam sekejam ini mempermainkan hidupku?!’ Seru Grace di dalam hati.

“A-Adro … Hai,” Sapa Grace, berusaha mengendalikan degub jantungnya sembari merasakan udara dingin menggerayangi leher dan punggungnya.

“Kau … sudah pulang, huh?” Tanya Adro sebelum mengalihkan pandangannya pada pria asing yang berdiri di samping Grace.  Ia menatap pria berambut hitam itu dari kaki hingga kepala.

“I-iya, aku baru saja sampai, dan sedang menunggu lift.” Jelas Grace terburu-buru. Lalu ia berdehem. “Ngomong-ngomong, kenapa kau turun ke sini?”

“Ada barangku yang tertinggal di mobil.” Jawab Adro tanpa mencopot tatapannya dari pria yang bersama Grace. “Siapa kau?”

“Aku Sean, rekan kerja Grace.” Sean menjulurkan tangannya. “Apakah kau adalah saudara sepupu Grace?”

Mengabaikan uluran tangan Sean, Adro menoleh pada Grace yang matanya agak membesar. Saudara sepupu?

Lalu, Grace menoleh pada Sean sambil tertawa canggung. “Tebakanmu benar. Ia adalah saudara sepupu yang baru saja aku ceritakan padamu – Namanya adalah Adro.”

Kemudian Grace menatap Adro lagi dengan senyum canggung yang sama. “Adro, kenalkan, ia adalah Sean Lee, teman kantorku.”

“Jadi ia adalah teman kantor yang hari ini keluar bersamamu? Kalian pergi berdua?” Adro menatap kedua orang itu secara bergantian dengan tangan melipat di depan dada.

“Itu benar. Apa ada masalah?” Jawab Sean, telah menarik jabat tangannya yang sudah mendingin. Ia menyipitkan matanya sedikit untuk menelisik wajah dan rambut Adro yang sama sekali tidak memiliki kemiripan dengan Grace. Sikap pria bermata biru kristal itu juga terlalu berlebihan.

Melangkah ke depan Sean, Grace menggerakkan tangannya di depan dada sambil terkekeh. “Masalah? Tentu saja tidak ada masalah. Kami di rumah memang terbiasa saling mengabari karena kami adalah keluarga.”

Mengepalkan tangannya, Adro menatap sikap Grace yang berlebihan seakan gadis itu sangat takut pria berengsek bernama Sean itu menjadi salah paham pada mereka berdua.

“Itu benar.” Tambah Adro dengan senyum tipis yang dipaksakan. “Aku dan Grace, kami berdua, sudah terbiasa saling mengabari setiap keluar karena kami sangat peduli pada satu sama lain. Jadi, kau tidak boleh heran jika kami terlihat seperti sepaket. Aku mengetahui jelas kehidupan pribadi Grace, begitu pula Grace mengetahui jelas kehidupan pribadiku.”

Meneguk liurnya yang terasa seperti sebongkah batu, Grace kembali menyelinap ke tengah dua pria itu. “Haha… Begitulah didikan nenek kami yang cukup ketat – Karena kami adalah keluarga. Tapi, saat ini kami sedang belajar untuk menjadi bebas dan tidak saling mengganggu privasi satu sama lain. Yah… meski kebiasaan tidak mudah diubah, benar?” ia menyikut-nyikut Adro.

Memperhatikan sikap Grace dan Adro senejak, Sean akhirnya tersenyum dan mengangguk. “Aku mengerti. Prinsip kekeluargaan kalian sungguh mengagumkan,”

“Te-terima kasih,” Jawab Grace, tersenyum lebar.

“Kalau begitu, aku pamit sekarang. Terima kasih untuk hari menyenangkan ini, Grace. Selamat malam,” Ucap Sean dengan hangat pada Grace.

“Terima kasih juga, Sean. Berhati-hatilah di jalan!” Grace melambaikan tangannya dengan semangat hingga membuat Adro meliriknya sinis.

“Selamat malam. Senang bertemu denganmu … Adro,” Ucap Sean pada Adro.

Tersenyum miring, Adro mengangguk tipis. “Selamat malam.” Ucapnya sebelum menghapuskan senyumannya dalam sekejap.

Itu bukanlah perasaan Adro semata. Pria bernama Sean itu telah memberikan tatapan tidak menyenangkan padanya sekilas sebelum melangkah pergi. Sebagai sesama pria, Adro tahu jelas apa arti tatapan itu.



Komentar