Langsung ke konten utama

63. Tidak Terbiasa // Pengantin Pria Dari Negri Dongeng

 

Kekehan kecil mengalir sinis dari bibir Adro yang menyunggingkan senyum miring. Ternyata, yang mengenakan topeng di depan Grace bukanlah ia seorang – Pria berengsek itu lebih munafik darinya.

“Seingatku, aku telah menjelaskan alasannya tempo hari,” Jawab Adro.

“Tentu aku mengingatnya. Namun, aku hanya berpikir, bukankah tinggal bersama itu adalah sebuah pilihan, sedangkan kalian berkata bahwa kalian sedang belajar untuk hidup bebas dari pengaruh budaya mencekik dari nenek kalian yang bahkan sudah meninggal cukup lama.” Tutur Sean.

“Jadi, maksudmu, kau berharap kami tinggal terpisah? Apa kau khawatir pada situasi kami berdua yang tinggal bersama?” Adro mengangkat satu alisnya.

“Sebagai sesama pria, apakah kau bisa tenang jika pacarmu tingga berduaan bersama pria lain? Terlebih, pria itu bukan saudara kandungnya, namun hanya seorang kerabat.” Sean melipat lengan di depan dada sembari menggeleng frustasi. “Kalian bahkan tidak terikat darah sama sekali. Dengan semua fakta itu, apakah aku tidak pantas khawatir?”

“Kau baru menjadi pacarnya selama beberapa hari namun sudah banyak mengatur. Ya, kami memang tidak terikat darah, namun Grace selalu mendengarkan apa kataku. Bayangkan saja bagaimana reaksinya nanti jika aku memberitahunya bagaimana wajah aslimu.”

Ancaman Adro membuat Sean tersenyum miring. “Aku jadi penasaran, apakah ia akan percaya jika aku mengatakan padanya bahwa kau juga mengenakan topeng di depannya.”

“Haha…” Adro terkekeh meremehkan. “Harus aku katakan berapa kali padamu? Kalian baru berpacaran beberapa hari dan bahkan baru saja mengenal – Naif sekali kau, berpikir ia akan sepercaya itu padamu?”

“Jika ia tidak percaya padaku, ia tidak akan menerima perasaanku – Kami tidak akan berpacaran sekarang. Sama sepertiku, aku yakin kau juga tahu bahwa Grace bukan wanita gampangan.” Sahut Sean tegas.

“Bagaimanapun, bukankah kalian lebih baik tinggal terpisah secepatnya? Aku berencana mengajak Grace tinggal bersamaku untuk ke depannya.” Lanjut pria beriris hitam legam itu.

Kedua mata Adro membesar dan alisnya menukik tajam. “Kau pikir aku akan-“

Klak!

Adro menghentikan bicaranya saat pintu kamar mandi terbuka, diikuti oleh Grace yang keluar dengan wajah agak memerah.

“Maaf. Aku tersedak makanan yang agak pedas sehingga tidak bisa berhenti terbatuk,” Ucap Grace, terkekeh canggung.

Bangkit dari kursinya, Sean melangkah menuju dapur. “Aku akan mengambilkanmu segelas air hangat.”

“Oh, kau tidak perlu repot-repot,” Sahut Grace.

Sean menggeleng sembari mengisi air ke dalam gelas. “Tidak masalah. Ini adalah cara tradisional meringankan gatal pada tenggorokanmu.”

“Ngomong-ngomong, apa yang kalian obrolkan saat aku di kamar mandi? - Aku tidak mendengar suara kalian dari dalam. Jangan bilang, kalian jadi canggung pada satu sama lain karena aku tidak ada di sini?” Grace tertawa kecil.

Meletakkan gelas berisi air hangat ke meja Grace, Sean tertawa kecil, “Kami sempat membicarakan sedikit hal ringan, namun saling diam setelahnya. Bagaimana kau bisa tahu?”

“Astaga…” Ucap Grace setelah mengucapkan terima kasih. “Maaf jika aku terlalu lama di dalam sana,”

“Tidak masalah,” Jawab Sean sembari duduk di kursinya kembali, merasa lega karena pertengkarannya dengan Adro yang sedikit berbisik sungguh tidak didengar oleh Grace. “Minumlah perlahan,”

“Ngomong-ngomong, aku menyadari bahwa di rumah ini hanya ada satu kamar tidur, apakah aku benar?” Tanya Sean setelah Grace selesai minum.

“Itu benar,” Jawab Adro yang telah berhasil membuat senyum palsu lagi setelah berusaha mengendalikan amarahnya sejak tadi.

“Wow. Jangan bilang, kalian juga tidur di satu kamar?” Sean tertawa kecil, berusaha menutupi emosinya.

“Tentu saja tidak.” Jawab Grace secepat kilat. “Adro tidur di sofa itu,” Ia menunjuk sofa lipat di ruang tamu. “Sofanya bisa dijadikan tempat tidur.”

“Oh,” Sean mengangguk-angguk. “Itu melegakan,” ia terkekeh ringan.

“Sebenarnya, aku kasihan pada Adro yang harus tidur di ruang tamu. Aku tahu sofanya tidak nyaman,” Tutur Grace, menatap Adro memelas.

“Kau tahu aku baik-baik saja, Grace,” Ucap Adro dengan wajah datar.

Berdehem, Sean menyelip masuk, “Sangat wajar jika kau khawatir, Grace. Maaf, tapi jika boleh memberi masukan, aku pikir kalian bisa tinggal terpisah daripada tinggal berhimpitan di sini. Lagipula, bukankah kalian sudah dewasa dan membutuhkan privasi?”

Adro tersenyum penuh arti pada Sean. “Terima kasih untuk saranmu. Namun, aku masih terlalu khawatir pada Grace. Kau tahu, tidak semua orang di dunia ini memiliki hati baik – Ada yang selalu tersenyum dan berbicara manis namun memiliki hati sekotor sampah. Aku tidak bisa menerima resiko Grace disakiti oleh siapa pun.”

Kening Sean mengkerut namun bibirnya tetap menyunggingkan senyum tipis. “Aku tidak yakin aku mengerti apa yang kau bicarakan. Apa hubungannya tinggal terpisah dengan hati sampah seseorang?”

“Ma-maksud Adro adalah ia takut kemungkinan ada penguntit atau tetangga yang berniat buruk padaku.” Jelas Grace terburu-buru.

Melirik Grace, Adro menahan geram dan menyembunyikan kepalan tangannya di kolong meja. Bagaimana Grace terus berusaha mati-matian menjaga perasaan Sean membuatnya muak. Ia ingin mengakhiri ini semua. Ia ingin mendekap Grace sekarang juga dan memintanya untuk berpisah dengan Sean – Ia akan memohon bila perlu. Namun, semua itu hanya akan membuat Grace membencinya.

Sebuah tawa geli mengalir dari bibir merah Sean. Ia menggeleng-geleng pelan seraya menutup mulutnya dengan punggung tangan. “Aku mengerti. Aku mengerti. Kalian ini lucu sekali,”

Reaksi Sean membuat Grace menghela lega seakan seluruh beban seumur hidupnya telah diangkat dari pundaknya. Ia tersenyum tipis. “Terima kasih sudah mau mengerti, Sean. Biasanya, orang-orang mungkin akan memiliki pikiran lain jika mendengar ucapan Adro.”

Sean menggeleng. “Aku adalah pacarmu, Grace, bukan orang-orang. Aku mengerti apa maksud kalian dan aku tidak memiliki pikiran lainnya.”

“Baiklah, kalau begitu. Aku akan mengeluarkan pudding yang aku ceritakan tadi siang padamu,” Grace bangkit dari duduknya dengan bersemangat, dan beranjak ke kulkas.

Ditinggal berdua di meja makan, Adro dan Sean saling menatap dengan tatapan membunuh. Entah mengapa, keduanya seakan bisa saling membaca pikiran satu sama lain.

Menatap Adro penuh tuduhan, Sean akhirnya mengerti bahwa Adro memiliki perasaan khusus pada Grace. Kelihatannya, ia tidak salah menerima undangan makan malam ini. Kini, ia tidak harus segan-segan membuat rencana untuk menjauhkan Grace dari pria berengsek yang mengaku sebagai kakak laki-lakinya.

***

Lebih dari dua minggu sudah Grace dan Sean menjalin hubungan. Selama itu, Adro terus menahan diri sembari berusaha menghalangi kencan-kencan Grace bersama Sean sehalus mungkin agar gadis itu tidak menyadari niatnya. Sayang, karena cara yang terlalu halus itu, Adro terus gagal mencegah Grace keluar bersama Sean. Rasanya semakin menyesakkan dengan fakta bahwa Grace dan Sean selalu bertemu, bahkan membagi ruangan yang sama di tempat kerja.

Semakin hari, amarah yang Adro pendam semakin besar. Ia khawatir, ia takut akan kehilangan Grace untuk selamanya. Bagaimana jika ia tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk membuat Grace mencintainya?

Di malam minggu yang cerah, Grace kembali keluar berkencan bersama Sean seperti biasa, meninggalkan Adro sendirian di rumah.

Ini adalah pertama kalinya Adro merasa kesepian di dunia ini. Biasanya, ia sangat menyukai hari libur karena ia bisa menghabiskan waktu bersama Grace. Ia bahkan tidak masalah jika hanya memperhatikan Grace melukis – Baginya, itu adalah hiburan yang sangat menyenangkan.

Sayangnya, di hari libur akhir pekan yang sangat jarang ia dapatkan ini, Grace malah meninggalkannya untuk bersenang-senang bersama pria lain. Untuk mengusir kesuntukan di hatinya, Adro memutuskan untuk pergi nongkrong bersama teman-teman kerjanya.

Suara dentuman musik yang memekakkan telinga tidak lagi mengganggu Adro. Ia sudah terbiasa dengan kehidupan malam dunia modern ini, ia terbiasa dikelilingi banyak orang, maupun duduk sendirian di tempat ramai. - Yang tidak ia biasa rasakan adalah mengkhawatirkan seorang wanita yang sangat ia cintai.

“Kau minum banyak hari ini,” Ucap Lilford, salah satu teman model Adro. “Apakah ini adalah waktunya aku merekomendasikan semua minuman kesukaanku di bar ini?”

“Semua minuman di bar ini adalah kesukaanmu, Ford.” Sahut Edna, tewan wanita mereka yang juga adalah seorang super model. “Sebaiknya kau tidak mengajaknya bicara – Ia tidak berada dalam kondisi hati yang baik.”

Adro melirik Edna sekilas, lalu kembali menggoyangkan gelas alkoholnya sebelum meneguknya hingga habis.

“Hai! Apa aku sangat terlambat?” Seorang pria dengan senyum lebar yang menggandeng kekasihnya di pinggang datang menghampiri mereka.

“Tidak perlu bertanya, Elvis – Itu adalah kebiasaanmu.” Edna memutar matanya.

Tidak menanggapi si sinis Edna, Elvis mengalihkan perhatiannya pada Adro dengan mata membesar. Ia menepuk pelan pundak keras kawannya itu. “Wah. Wah. Selain ikut nongkrong di malam minggu, kau juga banyak minum malam ini, tumben sekali.”

“Satu lagi idiot yang akan memancing pertengkaran di sini.” Edna menghela panjang sebelum bangkit berdiri. “Aku akan pindah ke meja gadis-gadis.”

“Ya, silahkan saja.” Lilford mengangkat satu alisnya. “Gadis itu selalu berpikir ia yang paling mengerti Adro.” Gumamnya.

“Sebenarnya apa masalahmu, kawan? Sekitar dua minggu ini wajahmu nampak suntuk,” Tanya Elvis pada Adro sembari ikut duduk.

“Bukan urusanmu.” Sahut Adro singkat seraya menuangkan minumannya lagi.

“Tadinya aku pikir suasana hatimu ini dikarenakan haters yang tiba-tiba menyerangmu di internet,” Ucap Lilford.

“Untuk apa aku peduli pada orang-orang gila seperti mereka? Aku bahkan tidak mengetahui seperti apa wajah mereka.” Sahut Adro, diselingi decakan.

“Tapi kelihatannya Mr. Tryvon sangat peduli. Terlebih, di mata publik, kau adalah malaikat lajang. Gosip tentang dirimu yang berpacaran dengan gadis kuliahan biasa hingga kau rela mengisi acara murahan kampusnya tentu membuat sejagat internet heboh.” Tutur Elvis.




Komentar