Lilford menggeleng, lalu menimpali, “Sebenarnya, yang menjadi masalah adalah Adro yang mengaku bahwa gadis itu bukan pacarnya hingga para haters itu mengatakan ia munafik dan sengaja membodoh-bodohi penggemarnya.”
“Itu karena Grace adalah adikku. Lagipula, masalahnya sudah hampir selesai sekarang. Tim anti isu kita sangat mahir.” Sahut Adro.
“Berbicara tentang adik perempuanmu, aku merasa melihat gadis yang mirip dengannya bersama seorang pria di depan Hotel Golden Time.” Ucap Elvis sambil mengingat-ingat.
Langsung menatap Elvis dengan mata membesar, Adro bertanya, “Kau yakin? Hotel Golden Time yang mana?”
“Yang berada di samping Apartment Spring Hill, rumah pacarku. Gadis itu mengenakan mantel coklat dan pria yang bersamanya berambut hitam. Kalau tidak salah, wajahnya terlihat seperti orang ASIA.” Jelas Elvis.
Adro mengembalikan pandangannya ke depan dengan kening mengkerut. “Sepertinya itu benar adalah mereka. Tapi tadi Grace berkata mereka akan nonton di daerah Varcici.”
“Oh? Jangan bilang, pria itu adalah pacar adikmu?” Tebak Elvis, menyadari bahwa itu adalah penyebab kemurungan Adro selama dua minggu ini.
Hanya mengeratkan rahangnya, Adro menyambar gelasnya lagi untuk meneguk minumannya. Ia tidak yakin apakah Grace telah berbohong padanya. Varcici dan Apartment Spring Hill berjarak cukup jauh.
“Ngomong-ngomong, kawan,” Elvis berdehem seraya merangkul Adro. “Ada yang ingin aku katakan padamu, namun tolong tenangkanlah dirimu dahulu,”
Melirik Elvis yang tersenyum canggung di samping wajahnya, Adro mendesis, “Apa yang hendak kau katakan? Apakah itu tentang Grace?”
Menekan senyumnya, Elvin mengangguk kecil sekali. “Jika gadis itu benar adalah Grace, aku rasa aku melihatnya sedang agak mabuk. Sepertinya pria itu hendak membawanya masuk ke dalam hot-“
Brak! Krak!
Elvis, kekasihnya, dan Lilford langsung terlonjak saat Adro meletakkan gelas alkoholnya dengan keras ke atas meja hingga bagian bawah gelas tersebut retak. Tanpa basa-basi, Adro segera bangkit berdiri, dan pergi meninggalkan bar.
***
“Ini kunci kamarnya. Selamat beristirahat,”
“Terima kasih,” Sean menerima kunci kamar hotel dari resepsionis.
“Ayo, Grace,” Ucapnya pada gadis yang sedang ia rangkul dengan kuat untuk mencegahnya terjatuh.
Setelah perjalanan singkat menuju lantai lima, mereka tiba di depan pintu kamar mereka. Pintu terbuka, dan keduanya masuk ke dalam.
“Ma-maafkan aku … Sean. Aku sangat malu. Aku akan mencuci bajumu,” Ucap Grace, sedikit cadel.
Tertawa kecil, Sean membantu Grace duduk di pinggir ranjang. “Tidak apa, sayang. Ini semua adalah salahku. Aku yang membawamu ke klub dan meninggalkanmu bersama teman-teman perempuanku. Aku benar-benar lupa kalau mereka adalah maniak minum.”
“Kau hanya … meninggalkanku sebentar ke toilet. Salahku yang tidak bisa menolak tawaran mereka,” Jawab Grace pelan, menundukkan wajahnya.
Sean mengangkat dagu Grace lembut, lalu mengusap pipinya yang memerah seperti tomat. Ia terkekeh kecil. “Percayalah, ini bukan salahmu. Aku pun pernah mabuk dan muntah lebih parah darimu.”
Lalu, Sean membuka mantelnya yang kotor oleh muntahan Grace, namun ternyata, muntahan gadis itu turut mengenai kemejanya.
Grace menatap Sean bersalah. “Aku sungguh minta maaf,”
“Aku sungguh tidak apa.” Jawab Sean. “Oh, teman-temanku berkata mereka akan bertanggungjawab dengan mencarikan baju ganti untuk kita. Namun, sepertinya kita harus menunggu agak lama karena kau lihat sendiri, mereka sudah setengah mabuk tadi.”
“Seharusnya aku membeli baju di toko online dan meminta mereka mengirimnya langsung ke sini.” Ucap Grace.
“Itu tidak perlu. Menunggu jasa antar sampai ke sini sama-sama memakan waktu yang lama.” Jawab Sean ringan. “Kau bisa menggunakan kamar mandinya duluan agar tidak terkena flu.”
Masuk ke dalam kamar mandi kamar hotel yang agak sempit itu, Grace membuka mantelnya dengan tubuh agak sempoyongan. “Tsk! Apakah aku adalah manusia muntah? Ini sungguh banyak. Memalukan!”
Karena muntahannya ternyata juga mengenai bajunya sendiri, Grace melepas semua itu hingga ia hanya mengenakan kaus dalaman tanpa lengannya - satu-satunya pakaian atasnya yang selamat dari muntahan.
Melangkah keluar dari kamar mandi, Grace mendapati Sean sedang duduk di kursi kecil di samping ranjang sambil sibuk dengan ponselnya. “A-aku sudah selesai.”
Mengangkat wajahnya, Sean hampir tersedak melihat Grace mengenakan atasan terbuka. Ia nyaris menampar wajahnya sendiri karena memikirkan hal kotor. Mungkin karena ia sangat menyukai Grace, tubuhnya jadi bekerja hanya karena melihat pakaiannya yang agak minim, padahal sangat banyak wanita menggunakan pakaian jauh lebih minim di musim panas.
“Ma-maaf penampilanku seperti ini – Ternyata semua pakaianku terkena muntahan.” Tambah Grace.
Bangkit berdiri, Sean tersenyum tipis. “Tidak masalah. Sekarang, berbaringlah dan selimuti dirimu agar kau tidak terserang flu. Hotel ini murah, jadi penghangat ruangannya kurang bagus.” Ucapnya seraya menuntun Grace ke ranjang.
“Terima kasih, Sean,” Ucap Grace setelah Sean menyelimutinya.
“Beristirahatlah.” Sean mengangguk sebelum melangkah menuju kamar mandi.
Mengerjap, Grace terus menatap pintu kamar mandi yang tertutup. Ia bisa mendengar suara air wastafel yang terus mengalir. Tidak cukup memuntahi habis pakaiannya sendiri, Grace muntah di pakaian Sean jauh lebih banyak.
‘Ke mana saja kau selama ini, Sean? Aku harap, aku bertemu denganmu sejak dulu.’ Pikir Grace.
Ia tidak mengerti apa yang direncanakan takdir padanya. Di saat ia akhirnya menemukan pria yang mau memperlakukannya dengan benar, hatinya telah tertambat terlalu dalam pada pria yang tidak boleh ia miliki.
“Aku harap aku bisa segera mencintaimu,” Gumam Grace dengan air mata mulai menggenang.
Tidak lama, pintu kamar mandi terbuka. Grace yang hampir tertidur, seketika membulatkan matanya karena melihat Sean dengan tubuh atas polos tanpa sehelaipun benang.
Tertawa canggung, Sean mengusap lehernya. “Maaf. Kau lihat, ternyata penampilanku jauh lebih parah darimu.”
“Ti-tidak apa. Aku yang seharusnya minta maaf karena kelihatannya … muntahanku tembus hingga ke dalam bajumu,” Grace tergagap.
‘Ini gila! Sean, tubuhnya keren sekali!’ Pekik Grace di dalam hati.
Ya, tubuh Sean memang sangat bagus meski otot-ototnya sedikit lebih kecil dari milik Adro. Namun, itu sangat cocok dengan postur tubuhnya dan bentuk wajahnya yang agak kecil. Meski begitu, terlalu sering melihat pemandangan indah di rumahnya membuat Grace sudah cukup kebal terhadap pemandangan semacam ini.
Namun, tiba-tiba…
“Hik! Hik!”
Grace menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya membesar seakan itu akan melompat keluar dari rongga matanya.
“Hahaha... Kau cekugan?” Sean terpingkal. Lalu, ia mengambil sebotol air dari atas meja tulis.
Menerima botol yang telah dibukakan tutupnya oleh Sean, Grace hanya bisa menahan malunya sembari meneguk air tersebut agar cegukannya segera berhenti.
“Minumlah perlahan.” Ucap Sean di tengah sisa tawanya. Pacarnya sungguh menggemaskan.
“Terima kasih,” Grace menyerahkan botol yang isinya hampri habis pada Sean yang berdiri menunggu di samping ranjang. Namun saat melihat tangan pria itu, Grace menyadari bahwa kulit pucatnya nampak merinding.
“K-kau … kedinginan?” Tanya Grace.
“Ah…” Sean melirik lengannya sendiri sebelum meletakkan botol Grace ke atas meja. “Lumayan, hehe. Aku memang berencana meminta selimut tambahan. Kau tidurlah. Kepalamu pasti sangat sakit, ‘kan?”
“Aku akan tidur, tapi, selagi menunggu selimutnya, kau boleh menyelimuti dirimu di sini dahulu.” Tawar Grace.
“Hm? Jika kau tidak keberatan, aku akan sangat senang. Kebetulan, aku tidak terlalu suka suhu rendah,”
“Tentu tidak masalah. Kasur ini cukup besar, begitu juga dengan selimutnya.” Grace menyibak sisi selimut yang tidak ia gunakan.
“Terima kasih,” Ucap Sean seraya menyelinap ke dalam selimut yang sama dengan Grace. “Ah… Ini sungguh nyaman,”
Kemudian, Sean menghubungi layanan kamar untuk meminta selimut dan air minum tambahan. Setelahnya, ia kembali menoleh pada Grace yang nampak nyaris tertidur.
Setengah merebahkan tubuhnya, Sean terus menatap Grace yang kedua pipinya merona sangat merah seperti tomat – Gadis itu pasti sedang menahan mabuknya. Namun, satu hal yang membuat Sean merasa tidak nyaman; Ia menyadari bahwa Grace sedang menjaga jarak dengannya.
“Apa kau tidak takut?” Tanya Sean pelan.
Menoleh tipis pada pria itu, Grace terkekeh pelan. “Aku percaya kau pria baik-baik.” Jawabnya, hampir menutup mata.
“Bagaimanapun, aku tetap seorang pria dan aku bukan pria suci.”
“… Tapi kau adalah pria baik, Sean. Aku percaya kau tidak akan melakukan hal buruk padaku.” Sahut Grace dengan setengah bergumam dan mata telah tertutup rapat.
“Kau tidak semabuk itu, Grace,” Bisik Sean.
Grace menggeleng pelan. “Memang tidak. Aku hanya sangat mengantuk dan kepalaku sedikit berdenyut. Maaf jika bicaraku agak ngelantur,”
“Aku sayang padamu.” Sean menggeser tubuhnya untuk mendekati Grace. Lalu ia mengistirahatkan sepanjang lengannya di atas bantal gadis itu. Aroma parfum dan alkohol yang terpancar dari tubuh Grace menyapa indra penciumannya.
“Grace, bagaimana perasaanmu terhadapku sekarang?” Tanya Sean, setengah berbisik.
Masih terpejam seakan kesadarannya kian menipis, Grace menjawab dengan ngumaman, “Aku … suka padamu - Kau baik.”
“Hanya itu?” Sean membelai rambut tergerai Grace. “Apa ada pria lain di hatimu?”
Pertanyaan itu membuat Grace membuka matanya hingga ia menyadari posisi wajah Sean yang sangat dekat dengan miliknya. Ia reflek menggeser kepalanya menjauh.
Sean tersenyum tipis. “Kau adalah satu-satunya pacarku yang membuatku bersikap seperti pria suci. Setelah dua minggu berpacaran, apakah pria malang ini setidaknya bisa menciummu sekarang?”
Terdiam, Grace merasakan jantungnya berdegub keras. Ia tidak bisa berpikir terlalu jernih karena sedang mabuk dan ngantuk parah, namun akal sehatnya masih bisa bekerja untuk menyadari bahwa tidak seharusnya ia memperlakukan Sean seperti ini.
Karena menjadikan Sean pelarian hatinya, Grace selama ini selalu menghindar setiap Sean hendak mendekatinya secara fisik. Namun, sampai kapan ia harus seperti ini? Sampai kapan Sean harus menderita?
Tok! Tok! Tok!
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari luar. Sean segera turun dari ranjang. “Selimutnya datang terlalu cepat,” ia tertawa kecil.
Membuka pintu tersebut, Sean mendapati bukan petugas hotel yang ada di baliknya, melainkan seorang pria beriris biru terang yang memberikan tatapan pembunuh.
“Kau,”
.png)
Komentar
Posting Komentar