Mata Grace membesar. Apa ia tidak salah dengar?
“Selama ini aku berpura-pura bodoh, seakan berpikir aku hanya bingung oleh keadaan, padahal, aku menyadari jelas bahwa aku mencintaimu. Namun, aku menutupi semuanya karena kau tidak memiliki perasaan yang sama untukku – Kau hanya menganggapku sahabat. Aku takut membuatmu merasa tidak nyaman padaku dan malah menjauhiku jika aku berterus terang.” Jelas Adro pelan, perlahan menundukkan wajahnya.
“Namun, ketika pria itu datang … aku tidak mampu menahannya. Aku tidak bisa melihatmu bersama pria lain. Aku tidak bisa hanya diam dan tersenyum melihat pria lain menggandengmu dan memelukmu di depan mataku. Aku tidak sanggup melihatmu memandang pria lain penuh cinta di saat pandangan itulah yang selalu aku dambakan darimu.” Lanjutnya.
Meneguk liurnya untuk mengumpulkan kewarasan, Grace terdiam beberapa detik. Sementara itu, Adro dengan sabar menunggu respon gadis itu.
“K-kau… Serius?” Tanya Grace.
“Aku tidak pernah seserius ini, Grace. Aku sungguh mencintaimu.” Jawab Adro sepenuh hati.
Menggigit bibir bawahnya, Grace melanjutkan, “Bagaimana dengan Joselyn? Bukankah kau mencintainya?”
“Tidak, Grace.” Adro menggeleng sekilas. “Aku tidak mencintai Joselyn – Aku tidak pernah. Ia hanya teman masa kecil yang dijodohkan denganku untuk melakukan pernikahan politik. Berbeda denganmu, aku mencintaimu atas kehendak hatiku sendiri. Ini adalah pertama kalinya aku mencintai seorang wanita, dan wanita itu adalah dirimu.”
Penjelasan Adro membuat jantung Grace seakan berhenti berdetak. Sempat menyangkalnya, ternyata selama ini kata hati Grace benar bahwa Adro menyukainya, bahkan, itu lebih besar – Adro mencintainya. Akan tetapi, ia tetap tidak bisa menerima cinta Adro. Ia merasa bersalah pada Joselyn jika melakukannya.
Seperti prinsip awalnya, Grace tidak mau menjadi wanita yang menyakiti hati wanita lain karena ia tahu seberapa sakitnya dicampakkan oleh pria yang ia cintai dan percayai. Di sisi lain, entah mengapa, ia memiliki firasat bahwa suatu saat Adro akan menemukan jalan pulangnya dan berakhir meninggalkannya. Ia terlalu takut. – Takut menjadi penjahat dan takut menerima resiko ditinggalkan.
“Adro, aku sungguh minta maaf. Perasaanku padamu hanya sebagai sahabat.” Ucap Grace pelan, menahan air matanya. “Se-sepertinya… kita harus mengakhiri ini, Adro. Kita harus pisah rumah. Tidak. Aku ingin kita menjalani hidup kita masing-masing saja. Kau harus melupakanku.”
“Tidak.” Jawab Adro cepat. Matanya membesar, ia menatap Grace tidak percaya. “Grace, inilah yang aku takutkan selama ini, – Alasanku menutupi perasaanku darimu. Tolong jangan seperti ini, hm?”
“Selama ini kau telah membohongiku. Kau membuatku tanpa ragu tinggal satu atap denganmu di saat kau memilki perasaan seperti itu padaku. Sekarang, aku merasa seperti orang bodoh.” Jelas Grace, tidak kuat menahan air matanya yang segera ia usap.
“Grace-“
“Aku sungguh minta maaf, Adro.” Grace tidak mengijinkan Adro melanjutkan sebelum ia kembali kalah. “Aku tidak ingin melihatmu lagi, setidaknya untuk sekarang … atau waktu yang bahkan tidak bisa aku tentukan sendiri. Aku tidak tahu kapan hatiku bisa mempercayaimu lagi.”
“Grace, aku sungguh minta maaf. Baiklah, aku akan pergi dari rumah ini, tapi ijinkan aku tetap menemuimu di luar, oke?” Mohon Adro.
“Kau sudah sangat mandiri di dunia ini, begitu juga denganku. Kita tidak lagi saling bergantung, Adro. Aku ingin kau melupakanku. Karena itu, aku kita berpisah, berjalan di jalan kita masing-masing,”
“Kau tidak bisa melakukan ini padaku, Grace,” Adro meraih kedua tangan Grace, dan menggenggamnya. “Aku mohon,”
Namun, Grace menarik tangannya lepas perlahan. Terus menahan tangis, ia menjawab, “Lalu, apa yang kau lakukan padaku selama ini? Kau telah menipuku. Aku merasa aman dan nyaman bersamamu karena aku berpikir kau adalah sahabatku, begitu juga denganmu. Kau berkata kau menganggapku seperti adik perempuanmu namun ternyata kau memiliki perasaan khusus padaku hingga menyakiti pacarku. Sean itu adalah pacar pertamaku yang memperlakukanku dengan benar.”
“Aku bisa menjadi pacar yang jauh lebih baik dari pria itu, Grace. Kau hanya perlu memberiku kesempatan.” Balas Adro cepat. “Aku masih membutuhkanmu, Grace. Aku ingin menjagamu, melindungimu.”
Grace menggeleng pelan, lalu menundukkan wajahnya. “Tapi aku tidak mencintaimu dan aku kecewa padamu. Kau membuatku takut, Adro. Tolong mengertilah, ini adalah permintaanku padamu. Aku ingin kita putus hubungan. Aku sungguh minta maaf,”
Air mata yang kembali menetes dari kedua mata Grace hingga membasahi kedua punggung tangannya yang terkepal membuat Adro terdiam. Hatinya seperti teriris saat melihat pundak Grace bergetar. Tidak seharusnya ia mengecewakan gadis yang ia cintai – Tidak seharusnya ia menakuti gadis itu.
“Baiklah.” Adro mengangguk pelan. “Jika itu yang benar-benar kau inginkan, maka aku tidak bisa memaksamu lagi. Maaf aku sudah membohongimu, Grace. Namun, satu hal yang perlu kau tahu; cintaku tulus padamu.”
Tidak mampu mengangkat wajahnya, Grace berusaha menghentikan air mata yang terus menentes membasahi pahanya. Ia tidak mampu melihat wajah Adro. Ia tahu ia sudah mengecewakan pria itu, ia telah menyakitinya. Ketakutannya telah menyakiti dirinya sendiri dan banyak orang. Ia sungguh adalah seorang pecundang.
Setelah berhasil mengendalikan tangisnya, Grace bangkit berdiri hanya untuk mendapati Adro tengah mulai membereskan barang-barangnya ke dalam koper. Pria itu akan pergi.
“K-kau bisa menunggu hingga nanti pagi untuk pergi,” Tutur Grace pelan, berdiri di depan pintu kamarnya.
Adro tersenyum miris tanpa menatap Grace sembari memasukkan pakaian-pakaiannya ke dalam koper. “Aku tidak mau membuatmu tidak nyaman lebih lama lagi.”
“Ka-kalau begitu, aku akan …” Grace menunjuk pintu kamarnya dengan jempol sebelum masuk ke dalam.
Mengunci pintu kamarnya, Grace segera merayap ke atas kasur untuk mendekap wajahnya dengan bantal. Tanpa menunggu, air matanya kembali mengucur, jauh lebih deras dari yang sebelumnya. Ia harap bantalnya bisa menyembunyikan isakan tangisnya.
***
Grace tidak tahu sejak kapan ia tertidur, namun ia menyadari kamar tidurnya sudah terang karena cahaya matahari yang menembus jendela. Kepalanya terasa berdenyut karena menangis semalaman.
“Ugh… Mataku,” Gumamnya saat menghampiri cermin hanya untuk menjumpai wajahnya yang lengket dan kedua matanya yang sembab parah.
Melihat jam, Grace menyadari bahwa ia telah tertidur cukup lama karena sekarang waktu menunjukkan pukul sebelas siang. Satu-satunya hal yang datang di pikiran Grace adalah apakah Adro sudah pergi.
Membuka pintu kamarnya perlahan, Grace tetap tidak mendengar suara apa pun dari luar. Saat pintu terbuka semakin lebar, ia mendapati tidak ada siapa pun di rumahnya, begitu pula dengan koper-koper Adro, semuanya telah menghilang.
“A-Adro,” Panggil Grace dengan bodohnya. Dan tentu saja, ia tidak mendapat jawaban.
Adro telah pergi, seperti yang Grace pinta. Kini, ia sendirian, sesuai dengan yang ia inginkan.
Grace tidak tahu ternyata mengusir orang yang ia cintai terasa lebih menyakitkan dari ditinggalkan oleh orang yang ia cintai. Air matanya kembali mengalir. Lututnya yang lemas membuatnya terduduk di atas lantai.
“Maaf… Maafkan aku, Adro. Aku sungguh minta maaf,” Ucap Grace sambil terisak. “Aku … Aku adalah pecundang. Maafkan aku,”
Tidak seharusnya Grace menyesali ini. Namun, ia pun akan menyesal jika tidak melakukannya. Pada akhirnya, semua pilihan yang ia ambil hanya akan merugikan dirinya dan Adro, jadi, kenapa tidak dilakukan secepatnya sebelum luka yang akan tercipta menjadi semakin besar?
Grace tahu, jika tidak bersama dirinya pun, Adro bisa mendapatkan gadis lain di luar sana. Dengan menolak Adro, bukan berarti Joselyn tidak akan tersakiti. Namun, Grace bukannya ingin menyelamatkan Joselyn. - Ia hanya tidak ingin menyakiti gadis indah itu dengan kedua tangannya sendiri.
Pada dasarnya, Grace’lah yang egois – Ia menyadarinya dengan jelas. Ia ingin menyelamatkan dirinya sendiri. Demi menghindar dari dosa dan rasa bersalah, ia rela menyakiti Adro. Ia adalah pecundang sejati.
Dan, untuk memperburuk sisi pecundang di dalam dirinya, Grace melakukan apa yang harus ia lakukan, yaitu melarikan diri.
Membuka laptopnya, Grace mencari jasa pindah rumah dan membuat surat pengunduran diri.
***
“Apa kau akan lembur lagi?”
Grace tersadar dari lamunannya. Ia segera menoleh pada gadis berambut keriting yang tengah bersandar pinggul di samping mejanya.
“Tidak. Aku akan pulang tepat waktu hari ini. Aku tidak ingin menghancurkan tubuhku.” Grace tertawa kecil.
“Itu gadisku! Aku sudah bilang, ‘kan? Pekerjaan akan terus bertambah meski kau mengerjakannya siang dan malam.” Gadis itu menunjuk Grace dengan kedua tangannya. “Berikan tubuhmu istirahat, oke? Menghabiskan waktumu untuk dirmu sendiri tidak membuatmu merugi,”
Grace tersenyum tipis. “Terima kasih, Louie. Lalu, apa kau akan pulang bersamaku?”
“Tidak.” Gadis bernama Louie itu menggeleng. “Pacarku akan menjemputku nanti.”
“Oh, baiklah.”
“Dan kau, carilah pacar! Lebih lama lagi, maka aku akan menyeretmu ke kencan buta, kau mengerti?”
Tertawa, Grace bangkit dari duduknya sambil mengenakan tasnya. “Aku tidak berminat,”
“Masih? Aku rasa ada yang salah denganmu, Grace,” Louie menggeleng-geleng seraya melipat lengan di depan dada.
“Ayo pulang. Kau yang menyuruhku pulang lebih cepat, namun kau yang menahan waktu kita di sini.” Ucap Grace, melangkah melewati gadis itu.
Berjalan menuju parkiran, Grace tidak dapat fokus pada Louie yang terus mengoceh di sampingnya. Terhitung, sudah nyaris satu setengah tahun sejak Grace pindah ke kantornya yang baru ini. Begitu pula, ia sudah pindah dari apartmentnya yang penuh dengan kenangan.
Kini, hidup Grace sudah stabil secara finansial. Ia juga memiliki lingkungan menyenangkan di kantor dan bisa berbaur dengan baik. Dari luar, ia mungkin terlihat seperti wanita mandiri yang sedang bersemangat membangun karirnya. Namun, di balik senyum yang selalu ia tampilkan, tiada hari terlewat tanpa tangis di dalam hatinya.
.png)
Komentar
Posting Komentar