Langsung ke konten utama

67. Dua Jalan Berbeda // Pengantin Pria Dari Negri Dongeng

 

Sebuah mobil sedan hitam dengan kaca sangat gelap terparkir di dekat gedung pencakar langit. Siapa pun yang berjalan melewati mobol tersebut tidak menyadari bahwa pengendaranya yang mengenakan topi dan kacamata hitam adalah seorang model pria terkenal yang sedang digandrungi selama hampir dua tahun terakhir.

Sepasang mata biru kristal itu memaku tatapannya pada pintu gedung tersebut. Setelah setengah jam menunggu, matanya membesar saat seorang gadis berambut coklat yang dimodel bergelombang di bagian bawahnya akhirnya muncul. Ia segera menyalakan mesin mobilnya ketiga gadis tersebut mencapai mobilnya yang terparkir tepat di depan pintu kantornya.

Adro mungkin sudah gila. Ya, ia akui ia adalah pangeran psikopat – Sosok yang tidak pernah ia sadari ada di dalam dirinya hingga ia jatuh cinta untuk yang pertama kali. Sejak pergi dari rumah Grace, Adro tidak lagi pernah bertemu gadis itu atau bahkan mengontak satu sama lain melalui telpon atau pesan.

Ucapan Grace sudah sangat jelas saat itu; ia tidak ingin berhubungan lagi dengan Adro. Karena itu, Adro berusaha menghormati permintaan Grace dengan tidak lagi muncul di hadapannya. Namun, hal itu malah membuat Adro semakin menyadari seberapa dalam dirinya telah jatuh pada Grace karena ia hampir gila hanya dalam beberapa hari.

Bagai seorang psikopat, Adro mulai menguntit Grace hingga detik ini. Ia bahkan mengetahui ketika Grace pindah rumah dan pindah tempat kerja. Jika tidak memiliki jadwal pekerjaan, aktifitas Adro adalah menunggu Grace di depan gedung kantor atau apartmentnya hanya demi bisa melihat wajah gadis itu dan mengetahui bahwa ia nampak baik-baik saja.

Meski terasa menyedihkan, Adro sangat bersyukur karena ia menyadari Grace telah putus dengan Sean. Sejak kejadian di hotel itu, ia tidak lagi pernah melihat Sean di sekitar Grace. Ia tidak tahu apa penyebab pasti mereka putus, namun ia tidak sebodoh itu untuk tidak berpikir bahwa itu adalah dirinya.

“Aku suka model rambutmu hari ini, Grace. Ah, aku juga suka warna blusmu - Itu cocok dengan warna matamu,” Ucap Adro, memperhatikan Grace masuk ke dalam mobilnya.

Lalu, ketika mobil Grace melaju, Adro juga melajukan mobilnya untuk mengikuti mobil Grace hingga tiba di gedung apartment barunya. Kini, Grace telah tinggal di apartment yang lebih baik di pusat kota. Hanya dengan melihat Grace masuk ke dalam gedung tersebut sudah membuat Adro merasa tenang untuk tidur malam ini.

Adro tidak tahu di lantai berapa Grace tinggal. Namun, ia tidak pernah berhenti khawatir pada gadis itu karena hingga saat ini, gadis itu tidak pernah sadar telah dikuntit selama satu tahun olehnya. Khawatir dengan kemungkinan ada penguntit sungguhan yang akan menyakiti Grace, Adro berusaha mengawasinya dari jauh meski hanya sebatas mengantarnya sampai depan gedung.

Setelah selesai dengan kegiatan menguntitnya, Adro melajukan mobilnya menuju salah satu gedung apartment termewah di Kota Torbern. Masuk ke basement, ia memarkir mobil sedan hitamnya di samping tiga mobil sport mewah miliknya.

Setelah diusir dari rumah Grace, Adro terpaksa tinggal sendirian. – Ia menyewa sebuah penthouse yang kemudian ia beli setelah setengah tahun menempatinya.

“Selamat sore, Mr. Groendez,” Sapa petugas keamanan apartment itu seraya menempelkan kartu untuk membuka pintu kaca menuju ruang lift.

Adro tersenyum ramah. “Selamat sore,”

“Sir, Mr. Strongwood masih berada di penthouse-mu.” Jelas pria itu.

“Oke. Terima kasih,” Ucap Adro sebelum melangkah ke dalam ruang dengan lantai granit itu.

Masuk ke dalam lift, Adro menempelkan kunci berbentuk kartunya pada pemindai di bagian bawah kotak tombol lift, lalu memasukkan nomor lantainya. Setelah itu, lift tersebut bergerak naik menuju lantai 58.

Begitu pintu lift terbuka, Adro disambut oleh lukisan klasik raksasa yang dipajang di dinding yang menghadap empat pintu lift tersebut. Ia melangkah menuju ruang tamu, dan menemukan managernya sedang sibuk dengan laptopnya di salah satu sofa.

“Kau belum pulang?” Tanya Adro, mencopot topinya.

“Pulang? Untuk apa aku datang ke sini jika pulang tanpa bertemu denganmu dahulu?” Tanya Keneth.

Tidak menjawab, Adro mengarah ke dapur bersihnya untuk mengambil sebotol air dingin dari dalam lemari pendingin. Ia meneguk isinya hingga habis dalam sekejap bagai unta kehausan.

“Sampai kapan kau akan melakukan itu? Seluruh dunia akan gempar jika mengetahui kau adalah penguntit gila.”

“Selagi bukan Grace yang mengetahuinya, maka itu tidak apa,” Sahut Adro seraya membuang botol kemasan airnya. Lalu ia melangkah santai menuju sofa luas yang diduduki managernya. “Apakah jadwal pertemuan pertamanya besok?”

Keneth Mengangguk. “Setelah makan siang. Nanti, mereka akan memberimu skrip pertama untuk kau pelajari. Artis-artis yang lain juga akan hadir.”

“Oh,” Adro meraih remot kontrol untuk memunculkan Tv besar dari dalam dinding.

“Ini adalah kesempatan emas, kau tahu. Meski ini adalah pengisi suara, mereka adalah rumah produksi animasi terkenal. Dan kau mendapatkan peran yang cukup penting.”

“Hah… Aku penasaran apa yang sedang Grace lakukan sekarang,” Adro menatap dinding jendela di ujung ruangan yang menghadap langit kota.

“Hei! Kau tidak mendengarku?!”

***

Bip! Bip! Bip!

Pintu oven terbuka, lalu sebuah tangan berbalut sarung masak berwarna abu-abu meluncur ke dalamnya untuk menarik keluar sebuah nampan berbalut aluminium foil.

Tersenyum lebar, Grace membuka penutup kertas aluminium dari nampan kaca itu. Uap beserta aroma keju bercampur daging melayang ke udara.

“Wah… Ini terlihat enak! Sudah lama aku tidak makan makaroni keju,” Ucap Grace.

Namun, senyum manis itu perlahan meredup ketika sebuah wajah muncul di dalam pikirannya. Padahal, ia sudah berada di rumah yang berbeda, ia bahkan meninggalkan sebagian besar furniturnya di apartment lamanya demi bisa menghapuskan jejak-jejak kenangan Adro, akan tetapi, semuanya sia-sia.

Kenangan bersama Adro seakan terus melekat di benak Grace, tidak mau meninggalkannya ke manapun ia melangkah. Sejak hari perpisahan mereka, Grace tidak henti merindukan Adro. Rasa rindunya semakin hari semakin membesar hingga membuatnya sering menangis. Meski begitu, ia senang melihat Adro semakin sukses dan terlihat bahagia dengan kehidupan selebritinya.

Setelah makan, Grace memeriksa ponselnya untuk kembali melihat email dari atasannya yang sudah sempat ia lihat siang tadi.

Kepada Grace Menken,

Selamat! Kau menjadi salah satu kandidat untuk mendapatkan promosi selanjutnya. Saat ini, kami sedang melakukan evaluasi terhadap perkembangan pekerjaan semua kandidat. Terus tingkatkan kinerjamu dan bersemangatlah!

Meletakkan ponselnya kembali ke atas meja, Grace menghela panjang. Ia tidak menyangkal; salah satu alasan ia bisa sampai di titik adalah berkat Adro yang telah membantunya menjadi lebih berani dan percaya diri.

Selain itu, pengalamannya dan usianya yang semakin dewasa juga membuatnya mampu membentuk diri menjadi karyawan kompeten di kantor barunya sebagai seorang ilustaror dan desainer karakter. Karena mahir berpresentasi dan berkomunikasi, ia dengan cepat bersinar di dalam tim.

“Mendapat sponsor, yah? Apakah jika aku mendapatkannya, rasa kosong di hatiku akhirnya bisa menghilang …. atau malah memburuk?” Ucap Grace, menatap jendela apartmentnya yang menghadap keramaian malam Torbern. “Apa yang sedang kau lakukan sekarang, Adro? Apa kau makan dengan benar?”

Mengepalkan tangannya, Grace tanpa sadar menundukkan wajah untuk mencegah air matanya keluar. Lagi-lagi, ia tidak dapat menahannya. Rasa rindu itu bagai tumor yang kian membesar menggerogoti jiwanya.

Grace kembali kehilangan kendali, sama seperti setiap kali ia pulang ke rumah tepat waktu. Kakinya melangkah lemah menuju pintu ruang kerjanya yang terbuka. Tanpa sadar, ia telah berada di tengah-tengah ruangan penuh dengan lukisan berbagai ukuran.

“Kenapa waktu lambat sekali berjalan? Aku ingin cepat mengantuk dan tertidur agar tidak perlu terus memikirkanmu,” Ucap Grace, duduk di sebuah kursi kayu bulat yang berhadapan dengan papan lukisnya.

Menyelupkan kuasnya ke dalam air, Grace mencolek sedikit cat biru muda sebelum menggoreskan ujung kuas itu pada papan lukisnya untuk mengisi sebuah bagian kosong dan kecil. Senyum tipis merekah di bibir Grace saat ia menarik tangannya turun. Namun, senyum itu diikuti oleh air mata yang perlahan mengalir menuruni pipinya.

Wajah seorang pria tampan bermata biru kristal dan berambut coklat karamel mengisi papan kanvas itu. Senyum lembutnya mampu menghangatkan hati Grace meski itu hanya lukisan yang ia ciptakan sendiri. Seperti sejak awal merindukan Adro, Grace terus mengobati rasa itu dengan melukis sosoknya hingga sebagian besar lukisan di ruang kerjanya dipenuhi oleh Adro.

Grace sudah gila. Ia bahkan menilai dirinya sendiri seperti orang aneh. Mungkin, ia adalah penggemar fanatik Adro yang paling mengerikan di dunia ini. Namun, inilah cara yang Grace sadari ampuh mengatasi keresahan di hatinya saat merindukan Adro, yaitu dengan melepaskan bayangan wajah pria itu dari pikirannya ke dalam lukisan.

***

‘Adro Groendez mendapatkan pujian di acara Meet Reala. Intip penampilan memukaunya. SEPERTI DEWA!’

Jari telunjuk itu menekan tombol mouse pada judul artikel tersebut. Mata coklat terang yang berhadapan dengan layar komputer bergerak mengikuti baris-baris isi artikel entertainment tersebut. Kemudian, fokusnya terhenti pada sebuah foto sosok Adro yang tengah berpose di atas karpet merah dengan berbalut kostum bak Dewa Yunani dengan beberapa ornament kristal dan emas.

“Oh, kau sudah diberi tahu oleh tim talent tentang Adro?”

Grace terlonjak, lalu menoleh hanya untuk mendapati managernya, Tobby, sudah berdiri di sampingnya sambil turut memperhatikan layar komputernya.

“Y-ya? Tentang Adro? Apa maksudmu?” Tanya Grace.

“Huh? Kenapa kau terlihat bingung begitu? Bukankah kau sedang melihat-lihat artikel tentang Adro karena ia akan menjadi pengisi suara tokoh Harry?”




Komentar