Langsung ke konten utama

68. Takdir // Pengantin Pria Dari Negri Dongeng

 

“A-apa? Maksudmu karakter Harry proyek Rising Star?” Ulang Grace.

“M’mm.” Tobby mengangguk. “Jika aku ingat-ingat, ia melakukan casting saat kau sedang cuti selama tiga hari minggu kemarin. Tapi, siapa artis-artis yang akan memerankan tokoh Rising Star memang belum resmi diumumkan kepada semua tim. Karena itu, aku pikir tim talent memberitahunya terlebih dahulu padamu secara khusus.”

Sempat tertegun, Grace segera menggeleng sekilas. “Aku belum mendengar apa-apa. Artikel ini hanya kebetulan muncul di iklan browserku,”

Tobby mengangguk-angguk. “Sama seperti beberapa wanita yang aku kenal, kelihatannya kau juga penggemar model penuh gosip itu.” Jelasnya, lalu menambahkan, “Ngomong-ngomong, Marry berkata para artis sudah ditetapkan, dan kabarnya mereka akan mulai meeting besok.”

“Di sini?” Mata Grace membesar.

Tertawa, Tobby menjawab, “Kenapa kau bersikap seperti orang baru? Tentu saja semua meeting diadakan di gedung ini.”

“Minumlah kopi jika kau sedang membutuhkannya, Grace. Wajahmu tiba-tiba agak pucat,” Lanjut pria itu sebelum melangkah pergi karena dipanggil oleh rekannya.

Rising Star adalah sebuah film animasi layar lebar yang menjadi proyek terbaru perusahaan Wideyes Animation dan akan segera dimulai pengerjaannya. Setelah mengundurkan diri dari perusahaan lamanya, Grace mendapatkan pekerjaan di perusahaan besar ini.

Namun, Grace tidak percaya Adro yang akan menjadi pengisi suara salah satu tokoh dalam projek yang menjadi bagian dari pekerjaannya. Dari sekian banyak artis, kenapa harus Adro? Lagipula, Adro adalah model – Bagaimana mungkin ia tiba-tiba dipilih menjadi pengisi suara?

“Ah… Itu benar. Harry adalah model,” Gumam Grace, memegangi kepalanya dengan kedua tangan.

Seharusnya Grace tidak boleh heran, meski hal ini tidak pernah terbesit sekalipun di pikirannya. Selama ini, ia selalu memantau perkembangan karir dan kehidupan Adro melalui berbagai media. Akhir-akhir ini, Adro memang sempat membintangi beberapa film meski hanya sebagai pemeran tambahan.

Tidak pernah berpikir karirnya yang sekarang akan membawa Adro menjadi pengisi suara film animasi, Grace malah selalu tertawan perhatiannya pada gossip yang kerap menyelimuti kehidupan Adro. Ya, seperti yang Tobby katakan, Adro selalu dikelilingi oleh gossip panas.

Dengan wajah dan popularitasnya, Adro kerap digosipkan dekat dengan barbagai wanita dari kalangan selebriti, model, penyayi, sosialita, bahkan putri pejabat. Namun, setiap berita berakhir dengan bantahan dari kedua pihak. Lama kelamaan, publik mulai mempertanyakan orientasi seksual Adro. Banyak yang mengatakan bahwa ia menyukai sesama jenis, namun tidak memiliki bukti.

Ini adalah berita yang paling mengejutkan Grace selama satu setengah tahun ini. Ia tidak menyangka, selama ia mengunjungi Sarah selama tiga hari, hal besar telah menunggunya di kantor. Dan besok, Adro akan berada di gedung yang sama dengannya.

Grace tidak tahu apa arti debaran dan adrenalin yang meletup-letup di dalam dadanya. Apakah ini adalah rasa semangat atau rasa takut? – Ia tidak tahu. Namun, ia jelas merasa khawatir jika nantinya harus bertemu dengan Adro. Apakah ia bisa menahan dirinya lagi jika itu terjadi?

***

“Aku merindukanmu.”

“Aku juga, Grace. Aku sangat merindukanmu,”

“Adro,”

“Hm?”

“Adro,”

“Ya, Grace?”

“Bangun, bodoh!”

Kedua mata itu terbuka, menampakkan sepasang iris biru yang ditembus cahaya matahari.

“Hei!” Sekali lagi, Keneth memukul lutut Adro yang duduk di kursi belakang.

“Oh, ya. Maaf, aku ketiduran.” Ucap Adro, mengusap matanya pelan.

“Geez! Kau bedebah sialan. Apa kau bergadang lagi semalam? Bukankah aku sudah bilang pertemuan ini penting?” Omel Keneth seraya melepas sabuk pengamannya.

Mengusap lehernya yang tegang, Adro menjawab, “Aku tahu. Tapi aku mengantuk bukan karena bergadang semalam, tapi karena Mr. Tryvon memintaku datang pagi-pagi ke kantor.”

“Pria norak itu semakin lama semakin manja padamu, seakan hanya kau satu-satunya model yang ia miliki. Seharusnya kau meminta bayaran tambahan.”

“Pftt… Biarlah. Ia sedang tertekan karena masa kontrak beberapa merek hampir habis. Lagipula, aku berhutang banyak padanya, jadi tidak ada salahnya membantu.” Jawab Adro seraya membuka pintu mobil.

“Ayo cepat sebelum ada yang mengenalimu.” Keneth segera mengarahkan Adro untuk masuk ke dalam pintu besar gedung di depan mereka.

Namun, di dalam langkah terburu-burunya, Adro malah melepaskan kacamata hitam yang ia kenakan. Matanya membulat memperhatikan sekeliling, termasuk pintu yang akan ia masuki.

“Kau gila?! Kenapa kau melepas kacamatamu?!” Bisik Keneth, mempercepat langkahnya seraya menarik lengan Adro agar turut berjalan lebih cepat.

“Tunggu. Tempat ini…” Adro masih menoleh ke kanan dan kiri orang linglung.

“Ini adalah gedung kantor Wideyes Animation. Kenapa kau norak sekali seperti tidak pernah masuk gedung besar?” Akhirnya Keneth melepaskan pegangannya dari Adro karena mereka sudah memasuki pintu pertama gedung itu.

“Wideyes Animation adalah … perusahaan tempat Grace bekerja?” Gumam Adro.

Sementara Adro masih termenung di tengah jalan seperti orang bodoh, Keneth menghampiri petugas untuk menunjukkan kartu namanya. Setelah itu, ia kembali pada Adro sambil menahan emosi. “Berhentilah bertingkah seperti anak hilang. Ayo masuk,”

Diantar oleh petugas, Adro dan managernya tiba di ruang pertemuan. Di sana, mereka berkumpul dengan produser, kepala crew, dan beberapa artis pengisi suara lainnya untuk membicarakan beberapa hal dan membagikan skrip.

“Grace bekerja di sini?” Mata Keneth membesar.

Adro mengangguk keras. “Aku selalu menunggunya di depan gedung ini. Ini adalah takdir, Keneth! Kami memang ditakdirkan untuk bersama!”

“Astaga… Aku tidak menyangka gedung ini adalah tempat kau biasa menguntit gadis malang itu,” Gumam Keneth, tertegun.

“Selama ini, aku menahan diriku untuk tidak muncul di hadapan Grace, namun sekarang, aku malah harus sering datang ke gedung ini. Jika ternyata kami harus bekerjasama dalam proyek ini, aku harus menjadikannya sebagai kesempatan untuk mendekatinya lagi.” Tutur Adro sendiri dengan membara-bara.

“Hei, jangan terlalu bersemangat. Kau tahu, kau sering nyaris terkena masalah karena berusaha memaksakan perasaanmu pada gadis itu. Ia juga tidak terlihat nyaman dengan sikapmu.” Tegur Keneth pelan.

Menghela panjang, api semangat Adro seakan diguyur seember air. “Aku tahu. Aku akan sangat berhati-hati kali ini. Aku tidak akan membuat masalah, terlebih ini berhubungan dengan pekerjaan sehingga aku harus professional. Itu jawaban yang kau inginkan, bukan?”

Keneth tersenyum memaksa. “Aku harap kau menepati kata-katamu itu.”

“Kapan aku tidak menepati ucapanku?” Adro tertawa kecil. “Lagipula, aku tidak mau membuat Grace merasa tidak nyaman dan mendapat masalah. Aku bahkan tidak berani menanyakan tentang keberadaannya pada orang-orang perusahaan ini.”

“Aku melihatmu semakin bijaksana. Itu bagus - Pertahankanlah. Jika kau tidak bisa memikirkanku dan perusahaan kita, setidaknya pikirkan dampaknya pada gadis itu.” Sahut Keneth.

“Oh, Adro, kau akan makan siang?” Panggil seorang pria yang Adro kenali wajahnya dari meeting tadi.

“Steve. Aku masih memikirkannya.” Jawab Adro, menghentikan langkah pelannya. “Ngomong-ngomong, apa kalian akan makan siang?”

“Ya, kami akan makan di kantin.”

“Aku dengar gedung kantor ini terkenal dengan kantinnya yang menyenangkan dan dipenuhi makanan-makanan enak. Apa aku diijinkan makan di sana?”

“Makan di kantin?” Ulang Steve dengan sedikit bergumam. Lalu, ia saling bertukar pandang pada dua rekannya sebelum kembali pada Adro. “Tentu. Kau sudah memegang kartu masuk. Kau bisa ikut kami jika mau,”

“Bisa? Wah, ini hebat.” Ucap Adro, tersenyum lebar.

“Ini sedikit mengejutkan, kau tahu – Kau adalah selebriti terkenal. Para wanita berkata kehidupanmu sangat mewah, namun kau ingin makan di kantin gratisan,” Ucap salah satu pria itu.

“Itu hanya yang terlihat di internet saja. Namun yang sebenarnya, aku suka makan bersama-sama dan aku suka barang gratisan.” Adro tertawa.

“Wah. Jarang sekali selebriti sepertimu,” Orang-orang itu ikut tertawa.

Kepribadian Adro yang rendah hati memang banyak disebutkan oleh orang-orang yang pernah bertemu dengannya hingga sempat dibahas di beberapa artikel. Kali ini, keputusannya untuk makan bersama crew di kantin kantor animasi membuat citranya semakin dikagumi. Namun, mereka tidak tahu bahwa Adro memiliki niat tersendiri untuk makan di kantin tersebut. – Ia ingin mencari gadisnya.

***

“Menu hari ini adalah makanan India dan Italy.” Ucap Grace sambil menatap layar ponselnya.

“Aku hanya makan salad hari ini. Aku sedang diet.” Sahut Maureen, rekan satu tim Grace.

Sampai di salah satu pintu kantin, kedua alis Grace terangkat. “Kelihatannya hari ini sedikit lebih ramai dari biasanya,”

“Yup. Kita sedang di penghujung minggu hingga jadwal gajian ke-dua. Seperti kita, semua orang memilih makan gratis di sini.”

Grace tertawa kecil. “Maaf, tapi sepertinya itu hanya kau, Maureen. Aku selalu makan di kantin.”

“Ah, kau benar. Aku lupa bahwa kau sepelit itu,” Desis Maureen, mendapatkan tawa lebih panjang dari Grace.

Kemudian, mereka bergerak menuju stall makanan, dan menjadi bagian dari antrian yang cukup panjang demi makanan gratis.

“Aku akan mengambil kopi setelah ini. Apa kau mau?” Tanya Maureen serya mengambil sekotak salad dari box pendingin.

“Boleh. Terima kasih. Aku akan mencarikan meja untuk kita setelah- Oh!“ Kalimat Grace terhenti ketika seseorang menyenggol lengannya hingga nampan yang ia pegang nyaris terjatuh.

“Oh! Maafkan aku,” Ucap seorang pria. “Apa kau baik-baik saja?”

“Aku tidak apa,” Jawab Grace. Kemudian, matanya sedikit membesar saat ia menyadari siapa pria bertubuh agak gemuk yang menyenggolnya itu. “Oh, Steve,”

“Grace Menken.” Sapa pria itu. Lalu ia melirik gadis berambut hitam di samping Grace. “Maureen. Tumben kau makan di kantin?”

“Ya, aku sedang mengirit uang,” Sahut Maureen.

“Hei, Grace. Apa kau sudah selesai? Kau membuat macet antrian,” Maureen menyenggol lengan Grace pelan.

Namun, fokus Grace masih terpaku pada sosok pria yang berdiri tepat di samping Steve. Sementra, pria bermata biru kristal itu juga menatapnya sambil tersenyum lembut.

“Hai, Grace,”




Komentar