Langsung ke konten utama

69. Kesempatan // Pengantin Pria Dari Negri Dongeng

 

Terasa seperti petir yang menyambarnya di siang bolong, Grace hanya bisa terus tertegun. Bagaimana mungkin ia langsung bertemu Adro pada hari ini? Sebelumnya, ia mendengar bahwa para artis pengisi suara langsung pergi setelah rapat mereka selesai. Lalu kenapa Adro masih ada di sini, bahkan ikut mengantri makanan di kantin?

“H-hai,” Jawab Grace setelah ia kembali disenggol oleh Maureen.

“Hei, kalian bisa lebih cepat?” Tegur orang yang berada di belakang mereka.

“Ah, ya. Maaf,” Sahut Grace, segera menyendok makanannya dengan asal.

“Kalian berdua saling mengenal?” Tanya Steve, menatap Grace dan Adro yang berdiri di sisi kiri dan kanannya secara bergantian.

Tidak menjawab, Adro hanya menatap Grace. Ia tidak ingin membuat pernyataan yang mungkin merugikan gadis itu sehingga lebih baik ia membiarkannya yang menjawab.

“Oh, i-itu… Kami adalah teman lama.” Jawab Grace, menahan gugup dengan mata yang terus berfokus pada jajaran makanan yang terus ia ambil dengan sedikit berpikir.

“Kau dan Adro? Kalian teman? Kenapa kau tidak pernah cerita?” Tanya Maureen.

“I-itu sudah sangat lama,” Sahut Grace, setengah bergumam.

“Ini sangat kebetulan karena kami akan makan siang bersama. Apakah kalian mau bergabung? Antonio sudah mengambilkan meja untuk kami – Kursinya masih cukup untuk dua orang lagi,” Ajak Steve.

“Maaf, tapi-“

“Itu pasti menyenangkan!” Maureen meniban jawaban Grace yang belum selesai.

Grace lansung menoleh horror pada Maureen, namun gadis itu malah menyengir lebar tanpa rasa bersalah. Seharusnya Grace tidak heran karena Maureen mengidolakan semua pria tampan dan selalu mengambil kesempatan untuk berfoto bersama selebriti.

Sebagai tambahan kekacauan rencananya, kini Grace harus duduk di satu meja bersama Adro. Meski mereka juga berbagi meja dengan yang lain, kecanggungan tetap menyelimutinya hingga membuatnya sulit bernapas, apalagi menelan makanannya.

‘Oh, Tuhan. Aku pikir aku bisa menghindarinya, namun aku malah harus makan berhadap-hadapan dengannya seperti ini,’ Tangis Grace dalam hati sambil sesekali mencuri pandang pada pria yang duduk di depannya.

Sementara itu, di samping Adro, Keneth berusaha menahan tawanya dengan terus fokus makan. Tidak biasanya ia sependiam ini, namun ia harus menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan sesuatu yang merugikan Adro. Siapa yang sangka, di hari pertama mereka, Adro langsung bertemu dengan Grace Menken, wanita yang ia cinta setengah mati hingga membuatnya menjadi seorang penguntit gila.

“Jadi, sejak kapan kalian saling mengenal?” Tanya Steve.

Maureen mengangguk antusias. “Kau bahkan tidak pernah menceritakan padaku bahwa kau mengenal selebriti seterkenal Adro, Grace,”

“Eum, itu… Kami saling mengenal karena sebuah insiden kecil. Itu sudah cukup lama dan hanya berlangsung sebentar.” Jelas Grace dengan suara sedikit pelan.

“Itu benar.” Sambung Adro, merasa Grace membutuhkan bantuan. “Saat itu, aku belum bekerja sebagai model. – Aku masih bekerja di restoran.”

“Kau pernah bekerja di restoran?” Maureen membulatkan matanya, lalu mendapat anggukan dari Adro.

“Oh, begitu ya. Lalu, kalian tidak pernah bertemu lagi?” Tanya Seteve sebelum melahap pastanya.

“Ada beberapa hal yang membuat kami sudah tidak bertemu lagi.” Jawab Grace.

“Oh… benarkah…” Gumam Steve, menatap kedua orang itu dengan tebakan bahwa mereka memiliki hubungan yang kurang baik.

“Dan tentu saja hubungan kami baik-baik saja,” Tambah Adro sambil tertawa kecil. “Orang datang dan pergi, ‘kan? Kami memiliki kesibukan masing-masing.”

“Hmm, aku dapat melihatnya,” Maureen mengangguk-angguk.

“Itu bagus.” Raut Seteve berubah lega, lalu ia melanjutkan sambil menatap Adro, “Apalagi, nantinya Grace akan bekerja sama dengan kau dan timku dalam proyek ini karena tim illustrasi dan animasi proyek ini akan berkolaborasi pada desain karekter untuk disamakan dengan para Voice Over. Nantinya, para illustrator juga akan membuat beberapa poster dengan acuan pose dari artis Voice Over sehingga Grace akan ikut dalam sebagian besar sesi pemotretan untuk menjadi salah satu pengarah.”

“M’mm. Aku mengerti,” Jawab Adro, berusaha tenang sementara jiwanya melompat-lompat kegirangan.

Namun, berbeda dengan Adro, Grace hampir menumpahkan makanan dari mulutnya yang ternganga lebar. “A-apa maksudmu, Steve? Bukankah semua tugas itu adalah milik ketua tim ilustrasi?”

“Ups! Sepertinya aku keceplosan.” Steve menutup mulutnya dengan keempat jari, lalu menyondongkan tubuhnya ke depan untuk membisiki Grace, “Aku dengar, kau akan dipromosikan menjadi ketua tim ilustrasi dalam proyek ini. Mungkin tawarannya akan kau terima dalam minggu ini,”

***

“Ketua tim ilustrasi untuk Proyek Rising Star adalah … Grace Menken!”

Suara tepuk tangan dan ucapan selamat dari semua orang di ruangan itu terdengar samar di telinga Grace. Apa yang Steve katakan dua hari yang lalu adalah benar – ia dipromosikan menjadi ketua tim ilustrasi dalam proyek ini.

Seharusnya, Grace lebih bahagia dari siapapun sekarang karena ia menemukan batu loncatan secepat ini dalam karirnya di perusahaan sebesar dan seterkenal ini. Namun, ia diliputi rasa khawatir karena itu artinya ia harus bekerjasama secara langsung dengan Adro setelah kejadian buruk terakhir yang membuat mereka berpisah.

***

Sepasang mata biru itu terus memandang sosok gadis berambut coklat terkuncir kuda yang tengah melakukan presentasi di depan ruang meeting. Ini adalah pertama kalinya Adro melihat Grace mengenakan kacamata, berbicara sangat panjang, dan nampak tegas.

Akhirnya, Adro bisa bekerja bersama Grace Menken. Meski ia sangat gembira dan bersemangat, Adro tetap menahan diri agar tetap professional dan tidak menyebabkan masalah untuk Grace. Yang bisa ia lakukan untuk menghibur hatinya sendiri adalah mencuri pandang setiap berada di satu ruangan bersama gadis itu.

Kelihatannya, selama mereka berpisah, Grace telah berkembang sangat pesat hingga menjadi sehebat sekarang. Adro sangat mengagumi bagaimana Grace begitu percaya diri dan diandalkan oleh banyak orang di tempat kerjanya. Ia bangga gadisnya telah hidup dengan baik selama ini.

“Kalau begitu, aku pamit sekarang. Terima kasih untuk kerja kerasnya.” Ucap seorang wanita berbibir tebal, yang adalah seorang artis papan atas.

“Aku juga. Terima kasih dan sampai bertemu di pertemuan selanjutnya.” Seorang pria bertubuh sedikit gemuk turut berdiri dari kursinya.

“Baik. Terima kasih untuk hari ini. Semoga perjalanan kalian lancar,” Ucap Grace.

“Terima kasih. Sampai bertemu lagi.”

“Sampai bertemu lagi.”

Setelah kedua artis pengisi suara itu keluar, hanya tersisa empat orang di dalam ruang meeting itu.

“Ini adalah pembaharuan skripnya. Kau mungkin bisa melihatnya sekilas,” Rachel, sutradara pengisi suara menyerahkan sebuah dokumen pada Adro.

“Kelihatannya ini lebih banyak dari yang sebelumnya, benar?” Tanya Adro sembari mempelajari isi naskah di tangannya.

Andrea, pemimpin tim animasi mengangguk, dan menjelaskan, “Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, meski bukan pemeran utama, karakter Harry memiliki peran yang cukup penting di dalam alur cerita Rising Star. Penulis memutuskan untuk mendambahkan sedikit adegan Harry sehingga ada tambahan dialog.”

Adro mengangguk pelan. “Aku mengerti,”

“Besok, kau akan mulai take voice over selama seharian sehingga kita akan membahas beberapa hal dalam rapat ini.” Ucap Rachel.

“Penambahan peran Harry akan merubah sedikit detail karakternya – Aku harus memutuskannya hari ini agar tim dapat langsung mengerjakannya besok.” Ucap Grace.

“Kau benar. Penulis berkata, ia ingin Harry nampak lebih unik lagi.” Sahut Andrea.

“Tapi itu kemungkinan akan sedikit mencuri spot pemeran utama.” Jawab Grace.

Andrea menggeleng singkat. “Itu tidak masalah. Salah satu alasan kita memilih Adro sebagai pengisi suara Harry adalah kepopulerannya. Harry memang direncanakan mencuri sedikit spot pemeran utama seperti Maggie.”

“Aku mengerti. Untuk naskahnya tidak ada masalah. Aku akan memeriksanya lagi di rumah,” Ucap Adro pada Rachel.

“Baiklah. Karena tugasku sudah selesai di sini, aku akan pamit.” Sang sutradara bangkit dari kursinya. “Terima kasih untuk kerja kerasnya hari ini.”

“Baiklah. Sekarang, sisa kita bertiga. Aku harap ini bisa selesai sebelum jam lima,” Andrea tertawa kecil setelah Rachel keluar dari ruangan.

“Kalau begitu kita harus lebih fokus sekarang.” Ucap Grace bersemangat.

Tiba-tiba, nada dering melantun dari ponsel Andrea.

“Ergh… Kenapa ia harus menelpon sekarang?” Geram Andrea sembari menatap layar ponselnya. Lalu ia menatap Grace dan Adro. “Maaf, tapi aku benar-benar harus mengangkat ini. Beri aku lima menit.”

“Tentu. Tidak masalah,” Jawab Grace.

“Gunakanlah waktumu,” Tambah Adro.

Lalu, Adrea segera melangkah keluar ruang rapat itu sembari mengangkat panggilan itu. Namun, ia tidak tahu bahwa kepergiannya selama lima menit membuat suasana canggung membanjiri ruangan tersebut.

Terus menatap dokumen di tangannya, Grace berharap hal itu bisa menghindarinya dari Adro, atau lebih tepatnya mencegah perasaannya semakin membengkak karena melihat wajah pria itu.

Namun, Adro berbeda - Ia menggunakan kesempatan ini untuk memuaskan matanya memandangi Grace meski gadis itu terus menunduk.

Adro berdehem pelan tanpa tahu bahwa ia membuat jantung Grace nyaris meledak. “Sejak kita bertemu lagi, aku belum menanyakan kabarmu dengan benar. Bagaimana kabarmu, Grace?”

Diam-diam, Grace menarik napas dalam-dalam agar kegugupannya tidak nampak dari luar. ‘Tenanglah, Grace. Kau harus memperlihatkan padanya bahwa kau tidak lagi memiliki perasaan apa pun padanya – Baik perhatian atau pun canggung.’

Mengangkat wajahnya, Grace tersenyum tipis. “Aku baik. Bagaimana denganmu?”

 



Komentar