Langsung ke konten utama

71. Kebenarannya // Pengantin Pria Dari Negri Dongeng

 

“Kau… bajingan itu,” Sean berkedip sebelum tertawa sinis. “Keburukan apa yang sudah aku lakukan hingga harus bertemu denganmu di sini?”

“Biasanya aku datang ke sini bersama teman-temanku.” Jelas Adro, lalu ia menggeleng sekilas sebelum melirik wanita yang berada dalam rangkual Sean, dan kembali pada pria itu. “Kebetulan bertemu denganmu di sini, ada yang ingin aku bicarakan.”

Kembali tertawa sinis, Sean menjawab dengan nada meremehkan, “Kau pikir aku bersedia membuang waktuku untuk kotoran sepertimu?”

“Haruskah aku memohon?” Tanya Adro, tidak terpancing sedikitpun oleh hinaan Sean.

Melihat wajah serius Adro dan sikapnya yang terburu-buru seakan ada hal yang sangat penting, Sean mendecak sekilas sebelum menoleh pada kekasihnya. “Sayang, apa kau bisa kembali ke meja kita sendirian? Ada hal yang harus aku bicarakan dengannya.”

“Tentu. Jangan terlalu lama, oke?” Jawab gadis berambut hitam itu sebelum pergi meninggalkan mereka.

Tiba di luar pintu belakang klub, Adro segera menghadap Sean yang masih menatapnya malas. “Kenapa kau putus dengan Grace? Apa kau hanya mempermainkannya?”

Menurunkan kedua lengannya yang terlipat di depan dada, Sean menyipitkan matanya pada Adro. “Kau meminta waktuku hanya untuk mengejekku?”

“Apa maksudmu? Aku tidak sedang bercanda.” Sahut Adro, mengerutkan keningnya karena reaksi Sean menunjukkan seakan pria itu tidak pernah mempermainkan Grace. “Kenapa kalian putus? Aku pikir kau tulus mencintainya dan akan melindunginya, namun sekarang kau merangkul wanita lain?”

“Hei, sialan. Kau sedang berpura-pura bodoh atau apa hingga masih menanyakan kenapa kami bisa putus? Jelas-jelas kau adalah penyebabnya!” Desis Sean.

“Kau memutuskan Grace karena aku?”

Tertawa tidak percaya, Sean menatap Adro nyalang. “Kau sengaja ingin menginjak-injak harga diriku, bajingan?”

Adro menggeleng pelan, sedikit tertegun. “Aku tidak mengerti. Grace memutus hubungannya denganku setelah kejadian di hotel itu. Ia mengusirku demi bisa melanjutkan hubungannya denganmu. Grace sangat mencintaimu. Sepertinya kau salah paham padanya hingga mencampakkannya.”

“Tunggu. Tunggu.” Sean menghentikan Adro. “Apa kau tidak dengar ucapanku tadi? Apa kau sebodoh itu atau sedang mabuk? Sudah jelas bahwa Grace yang mencampakkanku demi dirimu.”

“Apa?” Mata Adro terbelalak.

Sean kembali menyipitkan matanya. “Kau sungguh tidak tahu? Hanya demi menyelamatkanmu, ia mengancam akan melaporkanku ke polisi dengan tuduhan palsu bahwa aku hendak melecehkannya.”

“A-aku tidak mengerti,” Kening Adro semakin mengkerut.

“Kau sungguh tidak tahu?”

Adro menggeleng. “Tepat setelah aku pergi dari hotel meninggalkan kalian, Grace langsung mengusirku dari rumahnya dan memutus total hubungan kami hingga sekarang.”

“A… ha… haha…” Sean tertawa, lalu mengusap keningnya sambil menggeleng pelan. “Aku tidak tahu hal konyol apa yang kalian berdua, orang aneh, mainkan. Seharusnya aku tidak memaksakan perasaanku – Sejak awal aku sudah merasa ada yang aneh dengan kalian berdua, namun, aku terus menyangkal karena sangat menyukai wanita itu.”

Adro menatap Sean yang terus tertawa kecil seperti orang gila. Dari hal itu, ia semakin yakin bahwa Sean tidak sedang mempermainkannya.

“Aku menyukainya dengan tulus dan serius, namun saat bedebah itu mengkhianatiku tanpa berpikir dua kali demi kau, aku menyadari bahwa aku hanya menjadi pelariannya saja. Ternyata instingku benar bahwa ia cinta mati padamu dan hanya memanfaatkanku sejak awal.” Lanjut Sean.

“Aku tidak mengerti maksudmu. Grace selalu berkata ia hanya menganggapku sahabat. Cinta apanya?” Tanya Adro.

“Oh, jadi kalian bukan saudara sepupu, huh? Aku tahu itu pasti adalah kebohongan bodoh kalian – Bekerjasama untuk membohongiku? Hebat sekali.” Tawa Sean.

“Wanita itu bermasalah –Tidak- Kalian berdua bermasalah. Baiklah, karena kita sudah terlanjur sampai di sini, aku akan menjelaskan yang sesungguhnya terjadi padamu agar kau mengetahui betawa anehnya adik atau pacar gilamu itu,” Lanjutnya.

“Malam itu, aku berniat melaporkanmu ke polisi karena telah menyerangku, namun Grace melarangku. Tadinya aku berpikir, itu karena kau adalah saudaranya. Lagipula, aku juga hanya baru memikirkan itu, bukan benar-benar akan melaporkanmu. Namun yang aneh, Grace memberi reaksi berlebihan…”

Pada kejadian itu,

“Kau tidak boleh melaporkan Adro. Tidak. Kau juga tidak boleh mengatakan tentang hal ini pada siapapun.” Ucap Grace.

Kening Sean mengkerut. “Ia telah menyerangku. Lagipula, bukankah kau juga membenci sikapnya? Tidakkah sikapnya keterlaluan padamu?”

“Sean, jika kabar tentang ini tersebar, karir Adro akan hancur. Aku mohon, tetaplah diam tentang masalah ini,” Kemudian Grace menunjukkan layar ponselnya pada pria itu. “Lihatlah. Gosip tentang Adro yang memukuli seseorang di hotel telah tersebar di internet. Jika kau bicara, semua orang akan mengetahui bahwa itu benar, dan polisi akan menangkapnya.”

“Itu karena ia memang memukuliku.” Sahut Sean. Lalu ia mendesah kesal. “Grace, aku tahu kau peduli pada pria itu karena kalian adalah keluarga. Namun, hei, ia hanya saudara sepupumu sedangkan aku adalah kekasihmu. Lagipula, aku hanya berpikir untuk-“

“Aku akan melaporkanmu.” Ucap Grace, setengah bergumam.

“Apa?” Sean menatap tanya pada Grace.

“Aku akan melaporkan pada polisi bahwa kau telah melakukan pelecehan padaku dengan memanfaatkan kondisiku yang sedang mabuk. Jika kau melaporkan Adro, aku akan maju untuk mengatakan bahwa ia hanya datang untuk menyelamatkanku darimu.” Lanjut Grace.

“Tidak mungkin.” Gumam Adro, membelalakkan matanya.

Sean tertawa sinis. “Itu adalah urusanmu mau percaya atau tidak. Tidak ada gunanya aku mengarang cerita seperti ini. Aku tidak sudih berurusan dengan orang gila seperti kalian berdua lagi. Aku bahkan tidak pernah semenyesal ini pernah dekat dengan seorang perempuan,”

Melihat Adro hanya berdiri mematung, Sean menggeleng ringan. “Jangan muncul di hadapanku lagi. Lain kali, aku mungkin akan balas memukulimu.” Ucapnya sebelum membuka pintu untuk kembali masuk ke dalam.

Tiba-tiba, Adro mencengkram lengan Sean hingga pria itu berhenti dan menoleh padanya.

“Maafkan aku,” Ucap Adro.

“Pfftt…” Sean hanya terkekeh merendahkan sebelum melangkah memasuki gedung bising itu.

***

Sebagai pelukis, Grace memiliki ingatan yang agak buruk sehingga cukup sulit baginya melukis benda nyata tanpa melihat referensinya secara langsung atau menggunakan foto. Namun yang aneh, ia tidak perlu menggunakan foto Adro untuk mampu menciptakan setumpuk lukisannya dalam waktu satu setengah tahun.

“Bahkan setelah bisa melihat wajahnya secara langsung lagi, aku semakin cepat menyelesaikan lukisannya,” Gumam Grace seraya menambahkan detail pada lukisan sosok Adro yang tengah berdiri memunggungi sebuah komedi putar, sesuai dengan memori salah satu liburan mereka.

Sebuah senyum sendu terukir di wajah Grace. “Maaf selalu bersikap dingin pada senyum hangatmu. Tapi, Adro… aku harus belajar berhenti melakukan hal aneh ini, ‘kan? Sampai kapan aku harus berbicara dengan lukisanmu?”

Menghela panjang, Grace bangkit dari kursinya untuk membiarkan beberapa bagian dari lukisannya mengering secara alami. Ia tidak ingin terburu-buru.

Kakinya melangkah menuju meja kerja yang berdiri di balik jendela besar. Grace duduk di kursi kerjanya, lalu meraih kotak perhiasan kecil. Dari dalamnya, ia mengeluarkan secarik kertas yang sedikit kotor.

“Dan kenapa aku masih belum sanggup membuangmu?” Tanya Grace sembari membaca ulang tulisannya pada secarik kertas itu.

Hingga saat ini, Grace tidak mampu membuang Catatan Bunuh Dirinya yang kala itu ia temukan di kolong kulkas saat ia sedang pindah rumah. Grace telah mencoba melenyapkannya beberapa kali, namun selalu gagal.

Catatan itu memang memiliki isi negatif. Itu adalah bukti bahwa Grace pernah berniat membunuh dirinya sendiri dan adalah bukti seberapa menderitanya ia di masa lalu. Namun, catatan itu juga merupakan pengingat awal mula semua kejadian ini, bagaimana ia bisa sampai di sini, dan yang terpenting; bagaimana ia bisa bertemu dengan Adro.

Tiba-tiba bel rumah Grace berbunyi. Ia segera meletakkan catatan itu dan bangkit dari kursinya.

“Siapa itu?” Gumam Grace dalam langkah cepatnya.

Namun, saat melihat ke luar melalui lubang intip, Grace tertegun. ‘Adro?’

Tok! Tok! Tok!

Grace terpenjat saat pintu diketuk. Kemudian, bel rumahnya kembali ditekan.

‘Kenapa Adro sangat terburu-buru seperti ini? Apakah ada hal serius yang terjadi?’ Pikir Grace, bergerak membuka pintunya.

“Grace! Akhirnya…” Ucap Adro.

“Ada apa, Adro? Apa ada sesuatu yang terjadi?” Tanya Grace langsung seraya mengintip ke kanan dan kiri lorong di luar.

“Grace, ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu.” Jelas Adro.

“Di jam segini? Apakah tidak bisa besok di kantor atau di rumah Keneth?”

Adro menggeleng. “Aku mohon beri aku waktu sebentar saja. Ada yang ingin aku tanyakan padamu, setelah itu aku akan pergi – Ini hanya sebentar, aku berjanji.”

Grace terdiam sejenak, namun ia terkejut saat seorang tetangga keluar dari rumahnya untuk memeriksa kondisi lorong. Kelihatannya mereka membuat keributan. Adro juga tidak mengenakan topi dan kacamata – Orang mungkin akan mengenalinya.

“Baiklah. Silahkan masuk.” Grace menggeser tubuhnya.

“Kau ingin minum apa-“

“Tidak perlu.” Adro memotong kalimat Grace seraya melangkah menuju sofa terdekat. “Aku mohon duduklah, Grace.”

Meski ragu dan jantungnya mulai berdebar keras, Grace menurut untuk duduk di samping Adro yang nampak frustasi. “Apa yang terjadi padamu, Adro? Apa kau baik-baik saja?”

“Tadi aku bertemu dengan Sean.” Tutur Adro begitu Grace sudah duduk di sampingnya.

Mata Grace seketika membulat besar. Ia meneguk liurnya yang terasa seperti sebongkah kerikil. “La-lalu?”

“Ia memberitahuku sesuatu yang terdengar aneh. – Alasan kalian putus.” Jelas Adro sambil menatap Grace lekat-lekat.

Melihat Grace hanya diam seribu bahasa dengan ekspresi membatu, Adro semakin yakin bahwa apa yang Sean katakan tadi adalah benar. Lalu, ia melanjutkan,

“Ia berkata, kau yang memutus hubungan kalian di malam itu. Kau bahkan mengancamnya agar tidak melaporkanku ke polisi. Apakah itu benar?”




Komentar