Langsung ke konten utama

72. Pembohong Tertangkap // Pengantin Pria Dari Negri Dongeng

 

Tubuh Grace kaku. Hawa dingin merayap ke punggung hingga naik ke belakang lehernya. Ia hanya bisa menggantung wajahnya menatap lantai.

“Kau adalah pembohong.”

Kalimat Adro terasa seperti pisau yang menghujam jantung Grace. Namun, tubuhnya masih kaku dengan kepala yang terus menunduk.

“Sejak awal, aku tahu kau adalah pembohong. Kau selalu berkata bahwa kau baik-baik saja - padahal kau tidak, kau selalu menutupi bagaimana orang-orang memperlakukanmu tidak adil, dan yang lebih parah, kau juga menutupi perasaanmu dengan kebohongan.” Lanjut Adro.

Lalu, tawa kecil terlepas dari bibir pria itu. “Anehnya, aku masih begitu mencintaimu meski kau sudah berpuluh kali membohongiku,”

Menahan air matanya, Grace mengeluarkan suara dari mulutnya yang kering, “Maaf. Aku… sungguh minta maaf,”

“Aku tidak butuh permintaan maafmu.” Jawab Adro tegas. “Aku butuh kau jujur. Untuk apa kau meminta maaf atas kebohonganmu jika pada akhirnya kau kembali berbohong?”

Adro benar – Grace menyadarinya dengan jelas. Ia bukannya tidak bisa berpikir, ia bukannya bodoh. – Ia hanya seorang pecundang yang tidak mampu menghadapi ketakutannya. Ia hanya seorang pecundang yang tidak berani mengambil resiko. Bahkan, setelah tertangkap basah seperti ini, Grace masih tidak memiliki keberanian untuk menghadapi Adro.

Melihat Grace hanya menunduk, Adro tidak lagi berbicara. Ia tahu Grace merasa tertekan sekarang. Apa pun itu, Grace pasti memiliki alasan mengapa ia berbohong sejauh ini padanya. Mungkinkan itu adalah sebuah penyakit yang membuatnya hobi berbohong?

Namun, mata Adro tiba-tiba menangkap sesuatu yang terlihat janggal hingga membuatnya bangkit berdiri. Melangkah meninggalkan Grace, Adro menghampiri sebuah ruangan dengan pintu setengah terbuka. Ia tidak tahu apakah ia salah, namun ia merasa melihat wajahnya sendiri pada sebuah lukisan besar yang tergantung di dinding dalam ruangan itu.

Menarik napas dalam-dalam, Grace mengangkat wajahnya perlahan. Ia tidak boleh terus seperti ini. Sekarang, semua sudah berantakan. Bagaimana mungkin Adro bisa bertemu dengan Sean hingga berakhir mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada malam itu?

Namun, saat Grace hendak bicara, ia menyadari Adro sudah menghilang dari tempatnya. Grace langsung menoleh ke sekeliling hanya untuk mendapati bahwa Adro tengah melangkah menuju ruang kerjanya.

Mata membulat besar, Grace melompat dari duduknya. Bodoh! Bagaimana mungkin ia membiarkan Adro masuk ke dalam rumahnya sementara ia lupa bahwa pintu ruang kerjanya masih terbuka?

“Tidak!” Seru Grace seraya menyambar gagang pintu itu, lalu menariknya tertutup.

Adro termenung menatap daun pintu yang nyaris menghantam wajahnya. Perlahan, ia menoleh ke bawah untuk mendapati Grace yang sedang menahan gagang pintu itu dengan napas terengah.

“Ma-maaf. Tolong … jangan masuk ke dalam,” Ucap Grace dengan suara bergetar.

Menghela pelan, Adro mengambil satu langkah mundur. Ia nyaris membuat Grace menghembuskan napas lega, namun, tangannya bergerak untuk menggenggam tangan Grace yang masih membungkus gagang pintu.

Mata Grace membulat. Ia langsung menatap Adro yang juga menatapnya sendu, seakan mengatakan bahwa ia akan baik-baik saja, mengatakan bahwa ini bukan sesuatu yang salah sehingga ia tidak perlu takut.

Perlahan, Adro menekan tangannya ke bawah hingga tangan Grace bergerak bersama gagang pintu itu. Sambil terus menatap mata Grace dalam-dalam, ia mendorong pintu di depannya terbuka hingga aroma cat dan vernis tercium tipis oleh hidungnya.

Grace tidak lagi mampu berpikir. Tatapan Adro seakan menyihirnya untuk tidak bereaksi, untuk membiarkan pria itu melakukan apa pun yang ia mau. Namun, Grace juga menyadari bahwa ketidakberdayaannya ini bukan hanya disebabkan oleh intimidasi Adro yang terasa lunak, melainkan juga karena dirinya yang sudah lelah berlari kabur.

Di depan matanya, Adro mendapati sebuah ruang kerja luas – Bukan karena ruangannya besar, melainkan itu nampak seperti galeri dengan minim furnitur namun banyak lukisan terpaku memenuhi dindingnya.

Melangkah masuk ke dalam, Adro tertegun menatap sekeliling. Ia tidak percaya pada apa yang ia lihat. Bahkan, ia tidak memiliki lukisan dirinya sebanyak ini di istananya. Ini terasa aneh karena ia seakan sedang ditatap oleh puluhan dirinya sendiri.

Kemudian, matanya tertuju pada sebuah papan lukisan yang berdiri di tengah-tengah ruangan. Ia melangkah menghampiri papan tersebut, dan lagi-lagi mendapati lukisan dirinya – Yang satu ini nampak masih belum rampung.

Grace tidak tahu apa yang harus ia katakan. Menyaksikan Adro menangkapnya basah telah melukis dirinya selama ini hingga menghasilnya banyak lukisan adalah hal memalukan yang bahkan tidak pernah hinggap di dalam mimpi buruknya. Dan ia hanya bisa menahan napas dan kembali menunduk saat Adro berbalik menghampirinya.

“Benar yang Sean bilang; Kau mencintaiku. Dan kini aku percaya pada semua penjelasannya tentang kejadian di hotel malam itu.” Ucap Adro begitu ia berdiri tepat di hadapan Grace.

Kemudian, tangannya bergerak untuk mengangkat dagu Grace dengan lembut agar gadis itu tidak lagi menunduk. Sensasi menusuk di dalam dadanya membuat Adro mengerutkan kening ketika ia menyaksikan air mata mengalir keluar dari sepasang mata indah di hadapannya.

“Aku tidak tahu apa yang menyebabkanmu mati-matian menghindariku. Namun kau harus tahu, Grace – Masalah tidak akan selesai dengan cara ditutupi. Kau tidak akan bisa lepas dari masalah dengan melarikan diri.” Tutur Adro perlahan.

Kemudian, ia melepaskan dagu Grace untuk beralih memegang kedua pundak gadis itu. “Sekarang, aku akan bertanya untuk yang terakhir kalinya padamu; Bagaimana perasaanmu padaku?”

Grace hanya menatap Adro dengan tubuh bergetar dan bibir terekat kuat. Kedua mata biru kristal itu tetap terlihat indah seperti biasa, namun kini keindahan itu membuatnya ketakutan.

“Grace, dengar aku baik-baik, jadikan ini sebagai yang terakhir kalinya. Jika kau benar-benar ingin memutus total hubungan kita seperti hampir dua tahun terakhir ini, maka lanjutkanlah kebohonganmu. Usir aku lagi tanpa memberitahuku apa pun.” Lanjut Adro dengan penekanan pada tiap kalimatnya.

Melihat bibir Grace terus mengatup dan air matanya terus mengalir, Adro merasa perlahan mati di dalam. Sejujurnya, ia merasa takut dengan pertanyaannya sendiri. Ini adalah sebuah pertaruhan yang besar, di mana ia harus kembali berpisah dengan Grace –bahkan untuk selamanya- jika gadis itu memilih untuk tetap berbohong padanya. Namun, hatinya percaya bahwa cinta yang mereka berdua memiliki lebih besar dari masalah yang membuat Grace bersikap seperti ini.

“Aku … cinta.” Grace bergumam. Lalu ia meneguk liur sebelum menatap Adro dalam-dalam dengan air mata tanpa henti mengalir. “Aku cinta padamu, Adro. Aku mencintaimu sejak dulu, bahkan jauh sebelum kau mengatakan kau mencintaiku. Aku jatuh padamu, jauh sebelum kau memiliki perasaan untukku.”

Tanpa sadar, Adro mengeratkan genggamannya pada kedua pundak Grace. “Lalu kenapa kau menutupinya?”

Namun, Grace kembali menundukkan wajahnya sembari menggeleng pelan. Ia tidak sanggup menjelaskannya.

“Grace,” Adro memegang kedua rahang gadis itu agar mereka kembali bertatapan. “Jika kau tidak mengatakan penyebabnya, kita tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah itu. Aku mohon, katakanlah,”

Tersedu, Grace menjawab dengan suara bergetar, “Karena … aku tidak mau menyakiti Joselyn,”

“Aku sudah bilang; aku tidak mencintainya. Yang aku cintai adalah dirimu,” Ucap Adro frustasi.

“Tapi ia menunggumu, Adro. Ia sangat berharap padamu karena yang ia tahu, kau adalah tunangannya dan kau mencintainya.” Sahut Grace dengan suara lebih nyaring. “Selama ini … Selama ini aku selalu diselingkuhi dan ditinggalkan oleh pria yang aku cintai. Rasanya sakit sekali. Aku tidak mau menjadi penyebab rasa sakit yang sama kepada Joselyn,”

“Kau… diselingkuhi?” Kening Adro mengkerut.

Grace mengangguk. “Selama ini, aku hanya mengatakan padamu bahwa aku dimanfaatkan oleh semua mantan pacarku, namun, rasanya sangat berat untuk mengatakan bahwa mereka semua menjalin hubungan dengan wanita lain di belakangku. Dari semua hal jahat yang mereka lakukan, yang paling menyakitiku adalah pengkhianatan mereka.”

“Adro, saat kau pertama kali datang ke dunia ini, kau menggebu untuk kembali ke rumahmu karena kau khawatir pada calon istrimu yang sedang menunggumu. Setiap kau membicarakan Joselyn, mendeskirpsikan sosoknya untuk aku lukis, aku bisa melihat jelas betapa kau sangat menyayanginya.” Lanjut Grace. Lalu, air matanya semakin deras berderai. “Aku tidak mau menjadi wanita yang merebut semua itu dari wanita lain, wanita yang sempurna sepertinya. Ia … Ia tidak memiliki kesalahan apa pun…”

“Grace…” Gumam Adro lirih, tanpa sadar menjatuhkan tangannya.

Kemudian, Grace beranjak cepat menuju meja kerjanya. Tangannya menyambar secarik kertas untuk kemudian ia tunjukkan pada Adro.

“Lihat ini,” Ucap Grace, membentangkan kertas itu di depan wajah Adro sambil terus terisak. “Ini adalah bukti betapa hancurnya diriku karena terus dikhianati dan ditinggalkan.”

Adro mengambil kertas tersebut. Matanya terbelalak saat ia membaca isinya. “Kau…”

“Benar.” Ucap Grace cepat. “Bahkan saat pertama kali bertemu, aku telah berbohong padamu - Aku telah berbohong pada semua orang. Aku masuk ke dalam mansion terbengkalai itu bukan untuk melihat-lihat, melainkan untuk bunuh diri. Jika bukan karena tangga itu runtuh dan tiba-tiba kau muncul, aku sedang terbaring di dalam kuburanku sekarang.”

“Aku bahkan ketakutan setengah mati saat catatan itu menghilang. Aku takut ada yang mengetahui bahwa aku hendak bunuh diri karena dicampakkan oleh pria-“

“Maaf,” Dekapan Adro menghentikan kalimat Grace. Sambil menenggelamkan wajahnya di rambut gadis itu, Adro melanjutkan, “Aku tidak berpikir hingga sejauh itu. Aku tidak tahu kau memiliki pengalaman seperti itu, Grace. Aku minta maaf – Pasti sangat berat harus menahan perasaanmu sementara aku terus membahas tentang Joselyn,”



Komentar