Dibandingkan terus mendapat penolakan saat menyatakan perasaan, bagi Adro, lebih berat ketika ia harus menahan perasaannya.
Sulit dipercaya, ternyata selama ini perasaan Adro tidak bertepuk sebelah tangan. Di saat ia tidak mampu menahan diri untuk membuat Grace menjadi miliknya, Grace ternyata sedang mati-matian menahan perasaannya untuk menjaga hati wanita yang bahkan tidak ia kenal.
“Astaga, Grace … Aku bahkan tidak bisa membedakan kebaikan dengan kenaifan karenamu,” Gumam Adro sembari terus membelai rambut gadis itu. “Selama ini kau menahan perasaanmu meski mengetahui aku mencintaimu. Bagaimana mungkin kau sanggup melakukan itu?”
Meski pelukan Adro terasa seperti surga, Grace menggeleng pelan seraya menarik tubuhnya keluar dari sana. Ia menghapus air matanya sendiri, lalu berbicara, “Sekarang aku telah menjelaskannya padamu. Tidak ada lagi kebohongan dan tidak ada lagi yang aku tutupi darimu, jadi, aku harap kau mengerti mengapa kita tidak bisa bersama,”
“Tidak.” Jawab Adro langsung, tetap menjaga agar kedua lengan Grace tetap berada di dalam genggamannya. “Justru karena aku sudah tahu, maka aku semakin yakin bahwa kita harus bersama.”
“Adro, aku sudah bilang, aku tidak mau menjadi orang yang menyakiti Joselyn. Meski pada akhirnya kau bertemu dengan wanita lain di luar sana dan tetap berakhir mencampakkan calon istrimu, selama itu bukan aku, aku tidak masalah.” Ucap Grace cepat.
Lalu, Grace mendesah keras sembari mengepalkan tangannya. Menatap wajah kebingungan Adro, ia melanjutkan dengan tegas, “Aku adalah manusia yang sangat egois – Aku menyadarinya dan mengakuinya. Aku rela menyakitimu hanya demi menyelamatkan diriku dari rasa bersalah. Lebih baik kau merasa jijik dan benci padaku karena ini.”
“Ya, kau benar sangat egois, Grace,” Adro mengangguk seraya menatap mata Grace dalam-dalam. “Namun aku tidak berkata bahwa aku tidak egois. Saat kau memiliki pacar, aku berusaha menghancurkan hubungan kalian dan selama kita berpisah, aku selalu menguntitmu untuk memastikan kau tidak dekat dengan pria lain.”
Kedua alis Grace terangkat tinggi dan matanya membulat besar. “Kau menguntitku?”
“Grace, kau tahu aku sangat mencintaimu, bahkan hingga rela menipumu agar kita tetap tinggal bersama. Semenjijikannya dirimu, aku lebih menjijikan, terlebih karena aku adalah seorang pangeran yang dibesarkan dengan moral tinggi.”
Penjelasan Adro membuat Grace terdiam. Jika ia pikirkan, apa yang Adro lakukan selama ini memang keterlaluan. Jika ia tidak memiliki perasaan untuk pria itu, ia pasti merasa sangat terganggu dan ketakutan. Meski ia mencintai Adro dan menikmati semua perhatiannya, ia akui bahwa tindakan Adro salah dan bahkan merupakan tindakan kriminal.
“Grace, dengarlah,” Adro menyadarkan Grace dari lamunan hingga membuatnya kembali fokus pada percakapan mereka.
“Ada satu hal yang tidak kau tahu tentang duniaku – kerajaanku. Di sana, ada sebuah kepercayaan turun temurun yang mengatakan bahwa seorang perempuan harus sudah menikah di usia 21 tahun. Jika tidak, ia dan keluarganya akan dikelilingi oleh kesialan. Sejak menginjak usia 21 tahun, seorang gadis tidak lagi mendapat kesempatan untuk menikah karena para pria dan keluarga mereka takut tertular kesialan itu.” Jelas Adro.
Kening Grace mengkerut. “Lalu?”
“Tiga bulan lagi,” Adro berpikir sejenak hingga ia tersenyum tipis. “Ya, tiga bulan lagi Joselyn akan berulang tahun yang ke-21. Jika aku tidak kunjung kembali, orangtuanya pasti akan terpaksa menikahkannya dengan pria lain. Itu artinya, hubungan kami akan berakhir. Bahkan jika suatu saat aku bisa kembali, aku adalah putra mahkota yang tidak boleh menikah dengan janda.”
Grace membungkam dengan kening mengkerut. Jadi, jika Joselyn akhirnya menikah dengan pria lain, itu artinya ia dan Adro bisa bersama!
“Apa pun yang kau pikirkan sekarang adalah benar, Grace.” Ucap Adro sambil menatap Grace yang nampak berpikir keras. “Kau tidak perlu takut menyakiti Joselyn karena pada akhirnya, ialah yang akan meninggalkanku.”
Mengangkat wajahnya kembali, Grace menatap Adro lekat-lekat. “Ini benar, ‘kan? Kau tidak berbohong, ‘kan?”
Tertawa kecil, Adro menjawab sembari mengusap pipi basah Grace dengan jari jempolnya. “Mungkin aku adalah pangeran penguntit, namun aku bukan pangeran pembohong.”
“Lagipula, bahkan jika aku benar mengarang cerita demi bisa bersamamu, tidakkah seharusnya hatimu luluh atas kegigihan cintaku ini?” Lanjut pria itu.
Senyum lebar tidak kuasa mengembang pada bibir merah dan lembab Grace. “Kalau begitu, aku percaya.” Ucapnya sebelum memeluk Adro erat-erat. “Terima kasih sudah berjuang untukku, Adro. Aku sangat mencintaimu.”
“Aku ingin menikah denganmu.”
“A-apa?” Grace segera melepas pelukannya, lalu menatap wajah Adro penuh tanya. Apakah ia salah dengar?
“Sekarang sudah jelas bahwa kita saling mencintai dan tidak ada penghalang lagi di antara kita. Itu artinya, kita harus segera menikah.” Tutur Adro ringan, tersenyum cerah.
“Tu-tunggu dulu. Kenapa buru-buru sekali?” Tanya Grace.
“Kenapa harus menunda-nunda jika bisa dilakukan secepatnya? Apa kau takut? Kau tidak ingin menikah?”
Terdiam sejenak, Grace menjawab tidak yakin. “Bukan begitu. Hanya saja… pernikahan itu bukan sesuatu yang mudah dan sederhana. Ada banyak hal yang harus dipikirkan,”
“Oh, aku mengerti. Teman-teman perempuanku juga sering membicarakan tentang hal itu.” Adro mengangguk paham, lalu melanjutkan penuh percaya diri, “Tidak perlu khawatir. Aku sudah mapan dan memiliki banyak tabungan dan asset sehingga kita tidak akan kesulitan biaya untuk membentuk keluarga. Kesetiaanku juga tidak perlu diragukan karena itu sudah terbukti dari betapa setianya aku menunggumu selama ini. Aku adalah seorang pangeran setia yang tidak lapar akan banyak wanita.”
“Bu-bukan hanya itu…” Grace menggigit bibir bawahnya. “Kau … berkata ulangtahun Joselyn masih tiga bulan lagi, ‘kan?”
Senyum Adro perlahan lenyap dan ia terdiam beberapa saat. Ia tahu apa yang Grace maksud. Lalu, ia mengangguk sekali, dan menangkup kedua pipi lengket gadis itu. “Kalau begitu, kita menikah tiga bulan lagi. Bagaimana?”
Meneguk liurnya, Grace terdiam menatap Adro yang memaku tatapan dari iris birunya yang berkilau kepadanya. Seakan tersihir, Grace mengangguk tanpa dapat berpikir lebih panjang.
Senyum lembut terulas di bibir Adro. Lalu, tanpa mengucapkan sepatah katapun, ia mendaratkan ciuman hangatnya di bibir lembab Grace. Mulai sekarang, ia bebas mencurahkan semua cinta yang telah ia bendung selama ini kepada gadis itu.
***
“Eum, Adro,” Grace berdehem.
“Ya?” Tanya Adro bagai anak anjing yang mendengar suara majikannya pulang.
“Aku rasa kau harus lebih berhati-hati di kantor. Karenamu sikapmu belakangan ini, semua orang mulai curiga kita berpacaran.” Jelas Grace pelan.
“Tapi kita memang berpacaran, ‘kan? Untuk apa menutupinya? Keneth berkata, seharusnya tidak masalah jika kita berpacaran karena aku bukan karyawan di perusahaanmu.”
“Bukan itu masalahnya,” Grace bergumam.
“Lalu apa?” Adro menoleh sekilas padanya sebelum kembali fokus menatap jalan di depan.
“Aku … malu,” Jawab Grace, mengusap lengannya.
“Malu?” Kening Adro mengkerut. “Apa yang memalukan dariku? Aku akan memperbaikinya,”
“Bukan kau, Adro. Aku malu karena berpacaran dengan pria sempurna sepertimu. Kau tahu, aku adalah wanita biasa sedangkan kau adalah model terkenal yang diidolakan banyak orang,”
“Aku pikir pola pikirmu yang seperti itu sudah menghilang. Rasanya aneh mendengar kalimat itu keluar dari wanita yang memimpin rapat penuh percaya diri hari ini,”
Ucapan Adro membuat pipi Grace menghangat. Ia lantas berdehem dan menjawab, “Tidak mudah mengubah pola pikir yang sudah terbentuk sejak aku kecil. Di luar pekerjaan, rasa tidak percaya diri masih mengikat leherku.”
“Oh, kalau begitu, aku yang akan memotong ikatan itu.” Jawab Adro enteng. Lalu ia tersenyum tipis sembari menatap Grace sekilas. “Apa perlu aku menggemukkan tubuhku agar aku tidak terlalu tampan?”
Grace menyipitkan matanya dan mendesis, “Jangan mengejekku.”
Tertawa kecil, Adro melanjutkan, “Aku akan memberi pelajaran pada siapapun yang mengejekmu, Grace - jadi jangan khawatir. Aku bahkan bisa berteriak pada seluruh dunia bahwa aku mencintaimu bukan karena fisik dan siapa dirimu, namun karena hatimu. Mereka harus diam karena mereka tidak tahu apa-apa tentangmu,”
Tidak dapat menjawab lagi, Grace hanya terus menatap Adro yang tengah menyetir. Meski sudah cukup lama bersama pria itu, Grace tidak pernah terbiasa dengan sikap dan semua kalimat hangatnya. Adro selalu berhasil mendatangkan kupu-kupu di dalam perut Grace. Ia adalah satu-satunya pria yang membuat Grace mengerti bagaimana rasanya dicintai.
***
Mobi sport merah itu masuk ke dalam gedung parkir sebuah bangunan apartment mewah, lalu memarkirkan diri di antara dua buah mobil mewah lainnya. Dari dalam pintu kemudi, seorang pria tinggi berambut coklat keluar untuk menghampiri pintu penumpang.
“Kau juga memarkir mobilmu yang hitam di sini?” Tanya Grace sembari melangkah keluar dari pintu mobil yang dibukakan kekasihnya.
Adro mengangguk. “Aku memarkir semua mobilku di sini. Aku berkata akan mengajakmu ke pegunungan di liburan tahun ini, ‘kan? Kita akan menggunakan mobil itu,” ia menunjuk sebuah mobil hitam beroda besar.
“Itu mobilmu juga?” Alis Grace terangkat.
“Iya. Empat mobil di barisan ini adalah milikku, namun aku lebih sering menggunakan yang merah ini dan yang hitam.” Jelas Adro seraya menggandeng tangan Grace, lalu melangkah menuju pintu masuk.
“Selamat malam, Mr. Groendez.” Ucap salah satu petugas yang berjaga di lobby lantai basement. “Ke kediamanmu, sir?”
“Selamat malam, Ryan. Ya, tolong,” Jawab Adro.
Sementara petugas menempelkan kartu di pintu lift, lalu memencetkan tombolnya, Adro melirik Grace yang terus diam sambil menatap sekeliling.
Kemudian, Adro melepaskan gandengan tangannya untuk beralih merangkul pundak gadis itu sebelum membisikinya, “Jangan tegang. Ini adalah rumah pacarmu sendiri,”
.png)
Komentar
Posting Komentar