Mata Grace sempat membulat, namun petugas yang mengucapkan ‘Selamat beristirahat’ kepada mereka mengalihkan perhatiannya sejenak.
Begitu pintu lift tertutup, Grace menoleh pada Adro yang masih tersenyum tipis. “Apakah aku benar-benar terlihat sangat norak?”
Adro menggidik bahunya. “Itu tidak masalah. Hanya saja, aku bisa merasakan tubuhmu agak tegang, sementara aku ingin kau merasa nyaman datang ke sini,”
Terkekeh malu, Grace menjawab, “Maaf. Aku tidak pernah masuk ke gedung semewah ini. Tapi, kau sungguh tinggal di sini?”
Adro mengangguk. “Tapi, tetap saja rasanya tidak senyaman tinggal di rumahmu,”
“Omong kosong,” Grace mendecih. “Mana mungkin merasa tidak nyaman tinggal di rumah semewah ini? Tidak sembarangan orang bisa tinggal di penthouse.”
“Sejak kecil, aku tinggal di istana yang jauh lebih mewah dan megah namun tidak pernah merasa senyaman tidur di bawah pohon rindang yang tumbuh di tengah padang rumput hijau.” Jelas Adro.
Lalu, ia mengeratkan rangkulannya dan melanjutkan, “Grace, kau adalah padang rumputku. Di manapun aku berada, selagi itu bersamamu, maka aku merasa nyaman,”
“Kau… berlebihan,” Gumam Grace, menahan rona pada pipinya.
Tiba-tiba, pintu lift terbuka, menyelamatkan Grace dari rasa gerah yang ditimbulkan oleh perasaannya sendiri.
“Selamat datang,” Ucap Adro seraya menyentuh pinggang belakang Grace untuk menuntunnya turun dari lift.
Setelah melangkahkan kakinya keluar dari lift, Grace harus menutup mulutnya dengan kedua tangan sambil menatap sekeliling. “Ini gila! Rumahmu bagus sekali!”
Adro tersenyum sembari mengusap kepala Grace sekilas. “Senang kau menyukainya. Maaf baru bisa mengajakmu ke rumahku setelah kita sudah satu bulan pacaran,”
“Itu karena aku terlalu sibuk,” Sahut Grace.
“Ya, kau kan sudah mulai menjadi seniman terkenal,” Adro memeluk kekasihnya dari belakang. “Asal kau tahu, aku cemburu pada lukisan-lukisanmu yang terus-terusan mendapatkan perhatianmu.
Grace terkekeh kecil. “Maaf. Aku akan lebih memperhatikanmu setelah ini,”
“M’m,” Adro mengangguk ringan tanpa menyingkirkan wajahnya dari samping kepala Grace. “Bagaimana jika kau pindah ke sini? Kita bisa tinggal bersama dan aku tidak perlu bersaing dengan lukisan-lukisanmu untuk menghabiskan waktu bersamamu. Kita tinggal bersama lagi seperti dulu,”
“A-aku sebenarnya … kurang yakin,” Jawab Grace pelan.
“Apa yang membuatmu tidak yakin?”
Terdiam sejenak, Grace kembali merasakan panas pada pipinya. “Bukan apa-apa,” jawabnya singkat sebelum melepaskan pelukan Adro dan bergegas ke dapur.
Terkekeh, Adro mengikuti langkah terburu-buru Grace dengan langkah santai namun lebarnya. “Apa yang sedang kau pikirkan?”
“Apakah kita akan masak di sini?” Grace membentangkan kedua tangannya pada meja granit dapur bersih itu.
“Kau bisa memasak di mana pun yang kau mau. Tapi, apakah kau akan memasak malam ini? Apa kau tidak lelah setelah menemaniku keluar seharian?”
“Tidak sama sekali. Menghabiskan waktu bersamamu sangat menyenangkan hingga aku tidak bisa merasa lelah.” Grace terkekeh kecil, lalu melanjutkan, “Jika belanjaan kita tadi langsung diantar, aku berpikir untuk langsung masak malam ini. Kau berkata sudah lama tidak memasak, ‘kan? Bagaimana jika kita memasak bersama?”
“Tentu. Seharusnya belanjaan kita akan tiba di sini sekitar tiga puluh menit lagi. Setelah itu, kita akan menonton film.” Jawab Adro, tersenyum cerah. “Aku sudah mempersiapkan semuanya,”
Pesta bagi Grace dan Adro memiliki arti yang agak berbeda. Bagi mereka, menghabiskan waktu berdua di tempat paling nyaman, seperti rumah, adalah pesta yang sesungguhnya.
Sejak berpisah dengan Grace, Adro tidak pernah lagi memasak sendiri – Ia selalu memesan makanan atau makan di luar. Memasak hanya membuatnya semakin merindukan Grace. Kini, ia tidak bisa membendung kebahagiaannya karena ia bisa memasak bersama Grace lagi, dan menikmati masakan mereka yang tidak terlalu sempurna namun memiliki rasa yang juga bisa hatinya rasakan.
Memandang kelap-kelip kota dari ketinggian, Grace seakan melihat langit berbintang di bawah kakinya. Ketika berada di ketinggian seperti ini, segalanya nampak sangat kecil dan samar. Pemandangan dari sebuah penthouse memang berbeda. Ia tidak pernah membayangkan bisa menginap di sebuah penthouse.
“Ini akan menjadi pemandangan yang kau lihat setiap hari jika kau tinggal di sini,” Tiba-tiba, Adro telah berdiri di samping Grace sambil melipat lengan.
“Tapi rumahmu agak jauh dari kantorku,” Jawab Grace.
“Aku akan mengantar dan menjemputmu kerja. Jika aku sedang tidak sempat, aku akan meminta supir melakukannya, jadi kau tidak akan lelah di jalan.”
Terdiam sejenak, Grace menaikkan kedua alisnya. “Oh! Sepertinya popcorn kita sudah jadi!” ia segera kabur ke dapur.
“Adro! Popcornnya sudah jadi! Kita bisa menonton sekarang!” Seru Grace dari dapur sementara Adro hanya memandanginya dalam diam.
Setelah memberi jeda pada perut mereka atas makan malam besar barusan, Grace dan Adro membawa semangkuk besar popcorn kesukaan mereka dan beberapa kaleng bir menuju sebuah ruangan besar dan agak gelap.
Lagi-lagi, mata Grace membulat. Ia menyisir sekujur ruangan luas itu sambil mendecak kagum. “Kamarmu besar sekali, Adro,”
“Ini adalah karya seorang arsitek - aku hanya menempatinya saja. Tapi kamar ini terasa cukup nyaman,” Jawab Adro ringan seraya mengambil sebuah remot hitam kecil dengan layar sentuh.
Perlahan, seluruh gorden raksasa yang menutup kaca jendela bergerak menutup. Di saat yang hampir sama, sebuah layar proyektor besar turun dari langit-langit, disusul oleh cahaya berisi gambar-gambar yang terpantul pada layar tersebut.
Kemudian, Adro menghampiri sofa kasur besar berbentuk setengah lingkaran, dan menurunkan dua buah sandarannya menjadi meja kecil.
“Baiklah. Kau bisa duduk sekarang,” Ucap Adro pada Grace setelah memindahkan makanan dan minuman mereka ke atas meja sofa. Ia menepuk-nepuk salah satu dudukan sofa itu. “Kemarilah, ini sangat nyaman,”
“Terima kasih,” Ucap Grace, naik ke atas sofa itu.
Lalu, Adro membuka sebuah selimut tipis untuk menyelimuti kaki Grace. “Sudah sangat lama kita tidak nonton berdua. Aku benar-benar merindukan kegiatan ini.”
“Selama ini kau menonton sendirian di sofa sebesar ini?” Tanya Grace, memperhatikan Adro yang bergerak untuk duduk di sampingnya.
“Tidak.” Jawab Adro seraya mengutak-atik remot kontrolnya untuk mematikan semua lampu dan membuka menu film. “Aku tidak pernah nonton di sini – Hanya di ruang depan bersama Keneth. Tapi, aku sengaja menyiapkan semua ini di kamarku untuk kita gunakan bersama karena aku percaya aku bisa membawamu ke sini.” Ia tertawa.
“Mengingat kau sampai menguntitku selama ini, aku tidak heran,” Ucap Grace, tersenyum kecut.
Kemudian, film akhirnya mulai berputar, membuat Grace tersenyum semangat karena ini adalah film yang baru saja tayang di bioskop – Adro membayar mahal hingga mereka bisa menikmati film ini secara privat lebih awal.
Namun, Grace terkejut ketika merasakan lengan Adro tiba-tiba menyusup melingkari tubuhnya. Ia lantas menoleh hanya untuk membuat pipinya hampir membentur sisi wajah Adro.
“Sejak dulu, aku selalu ingin melakukan ini; menonton film sambil memelukmu. Ternyata rasanya sama persis seperti yang aku bayangkan; hangat dan nyaman.” Adro tersenyum lembut.
Berdehem, Grace menjawab seraya memegangi dadanya sendiri, “Kau mengejutkanku,”
“Benarkah?” Kedua alis Adro terangkat.
Menghela panjang, Grace bersandar pada dada bidang Adro. “Berbeda denganmu, aku tidak pernah membayangkan bisa bersandar di dalam pelukanmu. Bukan karena aku tidak mau, tapi karena aku tidak berani membayangkannya,”
“Sekarang tidak ada lagi yang perlu kau khawatirkan. Aku adalah milikmu dan kau adalah milikku. Kau bisa mengatakan apa saja yang ingin kau lakukan bersamaku – Aku akan mengabulkan semuanya,” Tutur Adro, mengecup kepala Grace.
“56 hari lagi,” Ucap Grace pelan.
Adro terdiam sejenak, lalu mengunci kedua tangannya, seakan memenjarakan tubuh Grace di dalamnya. “Aku sudah menyiapkan tiga lokasi upacara pernikahan. Minggu depan, kita akan melihat-lihat ke sana, jadi kau bisa memilih yang paling kau suka,”
Membulatkan matanya, Grace menoleh pada Adro untuk memastikan bahwa pria itu serius, meski ia tidak pernah mendengar lelucon dari kalimat pria itu.
“Kenapa kau terkejut? Pernikahan kita tinggal 56 hari lagi. Tentu banyak hal yang harus dipersiapkan, dan kau juga harus terlibat. Atau … kau mau aku saja yang memutuskan segalanya?” Adro menaikkan alis.
“Bu-bukan begitu. Aku hanya…” Grace tidak melanjutkan kalimatnya.
Menghela lelah, Adro mengusap pipi Grace dan berkata, “Aku sudah bilang, ‘kan? Ketika aku tidak lagi terikat dengan Joselyn dan kau tidak lagi memiliki beban untuk menerimaku seratus persen, itulah saatnya kita menikah, bukan merencanakan pernikahannya.”
Sambil tertawa kecil dan mencubit pipi Grace, Adro melanjutkan, “Aku akan menganggap tiga bulan menunggu ini sebagai waktu persiapan pernikahan kita.”
Menyipitkan matanya, Grace mendesis, “Ternyata kau licik juga, ya,”
“Ya, aku tidak mau kehilangan dirimu lagi,” Adro menggidik bahu. “Lagipula, sebagai pangeran, aku juga telah berada di usia yang matang untuk menikah. Jangan bilang, kau belum siap menikah?”
“Sepertinya, meski aku belum siap pun, kau akan tetap memaksakan pernikahan ini,” Jawab Grace dengan nada menyindir.
Tertawa kecil, Adro mengangguk. “Aku akan menganggap itu sebagai jawaban bahwa kau sudah siap,”
Ikut tertawa, Grace memetik sebutir popcorn dari mangkuk untuk disumpalkan ke dalam mulut Adro. “Kau terlalu banyak bicara – Kita melewatkan banyak bagian penting filmnya,”
“Tidak masalah – Kita bisa mengulangnya lagi. Besok adalah hari minggu, jadi kita bisa menonton sampai pagi,” Jawab Adro ringan sambil mengunyah.
***
Rasa berat yang tidak biasa di perut Grace membuatnya terbangun. Namun, hal yang pertama ia lihat adalah langit-langit yang samar karena kondisi ruangan yang gelap.
Grace mengertukan keningnya, berusaha mengingat hal terakhir yang ia lakukan sebelum kehilangan kesadaran. Ah… Tadi, ia sedang menonton film. Kelihatannya ia tertidur di pertengahan film.
Tapi, benda berat apa yang meniban tubuhnya?
Ketika ia menoleh ke bawah, ia mendapati bahwa benda itu adalah sebuah tangan besar. Lalu, ia menyusuri dari mana tangan itu berasal. Ternyata, itu adalah tubuh seorang pria yang tidak terbalut pakaian.
.png)
Komentar
Posting Komentar