*mature content
Mata Grace terbelalak saat mendapati Adro tengah pulas tertidur di sampingnya sambil memeluknya.
Fakta bahwa Adro tidak mengenakan pakaian atas membuat Grace bangkit duduk untuk memeriksa tubuhnya sendiri yang tertutup selimut tebal. Helaan panjang mengalir keluar dari mulutnya saat ia mendapati tubuhnya masih terbalut pakaian.
Dibantu oleh cahaya bulan yang menembus jendela besar di dekat mereka, Grace menyadari bahwa ia telah berada di atas ranjang luas. Sementara itu, hampir keseluruhan kamar terlihat gelap, termasuk area menonton yang tadi mereka gunakan.
‘Bagaimana aku bisa pindah ke sini? Aku sama sekali tidak ingat,’ Pikir Grace.
“Grace, ada apa?”
Grace terlonjak mendengar suara berat dan serak itu. Ia reflek menoleh dan mendapati Adro telah membuka matanya yang nampak sangat mengantuk. Meski begitu, iris biru kristalnya seakan menyala di kegelapan.
“Adro, kenapa aku bisa berada di sini?” Tanya Grace.
“Hm?” Kening Adro mengkerut. “Tadi kau ketiduran, jadi aku menggendongmu ke ranjang.”
“Kita … tidur berdua?” Tanya Grace ragu.
Bangkit duduk, Adro menjawab, “Ya, aku tidak melihat ada orang lain selain kita berdua di sini.”
Grace terdiam dan wajahnya sedikit tertunduk. Ia memiliki sebuah pertanyaan yang sulit dikatakan. Bagaimana caranya menanyakan hal itu tanpa membuatnya merasa malu dan membuat situasi menjadi canggung? Ia juga takut menyinggung perasaan Adro jika mengutarakannya.
“Apakah-“
“Maaf aku membawamu ke sini dan tidur di sampingmu tanpa ijin. Aku pikir kau sangat kelelahan karena menemaniku seharian sehingga aku tidak tega membangunkanmu. Aku tidak melakukan apa pun selain tidur di sampingmu.” Potong Adro, dapat membaca apa yang ada di pikiran Grace.
Mata Grace membesar. Ia segera menggeleng. “Tidak, Adro. Kau tidak perlu minta maaf. Aku hanya … aku hanya bingung karena biasanya aku tidak tidur sepulas itu hingga tidak terbangun saat seseorang memindahkan tubuhku.”
Adro tersenyum tipis. “Lega rasanya kau tidak keberatan.”
Tersenyum canggung, Grace meletakkan kepalanya kembali ke atas bantal. “Aku tidak pernah membayangkan mendapatimu tidur di sampingku saat aku terbangun, bahkan memelukku seperti tadi. – Itulah mengapa aku sangat terkejut.”
“Oh,” Adro ikut membaringkan tubuhnya dan kembali mendekap Grace. “Apa aku harus membuatmu terbiasa?”
Berada di dalam dekapan Adro, Grace dapat mendengar debaran keras jantung pria itu. Ia tertawa kecil, dan menjawab, “Kelihatannya bukan hanya aku yang harus membiasakan diri,”
Adro terkekeh geli. “Sejujurnya, ini adalah pertama kalinya aku tidur berdua bersama wanita. Ternyata teman-temanku benar; tidur bersama orang yang kau cintai terasa sangat nyaman. Aku ingin bisa memelukmu seperti ini setiap aku tidur.”
Mendekap kedua pipi Adro dengan tangannya, Grace berbisik, “Aku juga, Adro,”
Tatapan lembut Grace membuat hati Adro menghangat. Bisa sedekat ini dengan cinta pertamanya memberikan sensasi yang mengaduk-aduk isi perut dan dadanya. Jantungnya yang sejak awal telah berdebar keras, kini semakin bertalu-talu. Ia ingin memilikinya – gadis di hadapannya ini. Ia ingin merasakan kehangatannya lebih lagi.
Menyadari wajah Adro semakin dekat dengan miliknya, Grace memejamkan mata. Sedetik kemudian, ia merasakan sesuatu yang hangat dan lembut menyapa bibirnya.
Tidakkah Grace harus mulai mencurigai Adro sebagai penyihir? – Karena pria itu seakan memiliki sihir yang membuatnya kehilangan akal hanya dalam sekejap menggunakan ciuman dan aroma tubuhnya saja.
Mengailkan jemarinya ke dalam rambut lembut Grace, Adro semakin tekun melumat bibir manis itu. Hanya dalam waktu sekejap, tubuhnya seakan overdosis oleh rasa manis hingga membuatnya nyaris gila.
Aroma tubuh dan napas panas Grace menggiring kewarasan Adro keluar dari raganya hingga ia menjadi lebih berani dan berpikiran pendek. Dengan tuntutan menggebunya, Adro menerobos ke antara bibir Grace yang terbuka dan menjelajah di dalam.
Segalanya terasa memabukkan. Setiap detakkan jantung yang menyambar ke nadi-nadi mereka terasa seperti aliran listrik yang menyengat satu sama lain. Erangan keduanya saling sahut menyahut, membawa mereka lebih jauh dan jauh dari permukaan kesadaran.
Tubuh Grace menggeliat. Napasnya pendek dan cepat karena oksigen di sekelilingnya seakan telah dihirup habis oleh pria besar yang tengah mengukungnya sangat sempit. Sengatan-sengatan yang sarafnya rasakan membuatnya tidak mampu menyerukan protes pada pria yang seakan berusaha menghancurkan bibirnya, namun dengan cara yang paling menyenangkan.
Ketika Adro akhirnya melepaskan tautan bibir mereka, Grace menarik napas panjang untuk mengisi paru-parunya yang telah menciut. Ia terengah seraya meloloskan jemari kedua tangannya dari tebalnya rambut Adro.
Ketika udara dingin menyapa tubuh mendidihnya dengan cepat, Grace perlahan membuka mata sayunya hanya untuk melihat sosok Adro telah bertengger di atas tubuhnya dengan tatapan kelaparan. Mengerutkan keningnya, Grace menoleh ke bawah karena merasa janggal pada sensasi dingin yang menabrak kulitnya. Namun, matanya membuat besar saat ia menyadari bahwa pakaiannya telah terbuka.
“A-“
Grace bahkan tidak dapat menyelesaikan satu kata karena Adro kembali menyerangnya setelah memberinya istirahat selama beberapa detik. Lumatan panas kembali menyerbu bibirnya, disusul dengan sensasi sengatan pada tubuhnya yang berasal dari kedua tangan hangat pria itu.
Nyaris kehilangan kewarasannya lagi, Grace melirik satu-satunya sumber cahaya mereka, yaitu jendela besar yang tertutup gorden setengah. Matanya semakin membesar ketika ia menyaksikan bulan purnama yang bersinar di luar terlihat seperti sebuah bola mata indah yang sedang memperhatikan mereka. Seketika, air mata membuat pandangan Grace memburam.
“Mmh!” Dengan sisa kewarasannya, Grace menggunakan kedua tangannya untuk mendorong Adro meski itu tidak membuat pria itu bergerak seincipun.
Di tengah pesta panasnya, Adro menyadari dorongan-dorongan kecil pada dadanya hingga ia memutuskan melepaskan bibir Grace untuk memeriksa kemungkinan gadis itu kehabisan napas. Seakan petir menyambarnya, Adro terkesiap melihat Grace yang berusaha meronta dengan air mata menggenangi kedua matanya.
Langsung menyingkir dari tubuh Grace, Adro perlahan menarik tangan gadis itu untuk membantunya duduk. “Grace, apa yang terjadi? Apa aku menyakitimu?”
Mendukkan wajahnya, Grace tidak bisa menahan air matanya untuk menetes. Ia menggeleng pelan seraya memperbaiki piyamanya yang nyaris tanggal. “Ma-maaf, Adro. Aku tidak bisa melakukan ini sekarang,”
“Grace,” Mata Adro terbelalak. Ia meraih kedua tangan mungil itu. “Aku sungguh minta maaf. Dari kata-katamu tadi, aku pikir kau tidak masalah melakukan ini sebelum menikah. Aku tidak tahu kau belum siap,”
“Bukan.” Sahut Grace. Lalu ia mengangkat wajahnya untuk menatap Adro dengan air mata menggenang. “Aku merasa bersalah jika melakukan ini selama kau masih berstatus sebagai tunangan wanita lain.”
“Oh … aku mengerti,” Ucap Adro pelan sebelum menghela lega. Ia pikir ia telah melecehkan pacarnya sendiri.
Lalu, Adro tersenyum lembut seraya memeluk Grace sejenak. “Tidak apa-apa, Grace,”
Grace kembali menundukkan wajahnya. “Aku sungguh minta maaf.”
“Jangan.” Ucap Adro, lalu mengancingi kemeja piayama gadis itu. “Aku mengerti apa maksdumu. Akulah yang tidak berpikir panjang tentang perasaan orang lain. Yang ada di pikiranku hanyalah kesenanganku sendiri saja. Kau tidak perlu minta maaf, oke?”
Adro mengangkat dagu Grace dan tersenyum padanya. Ketika Grace mengangguk pelan, senyumnya mengambang semakin lebar. “Gadis pintar,”
“Untuk saat ini, aku hanya bisa menemanimu tidur. Aku harap, kau bisa bersabar hingga waktunya tiba,” Tutur Grace, sedikit bergumam sambil menghindari pandangan Adro.
Tertawa atas sikap Grace, Adro kengusap pipi gadis itu dengan jari jempolnya. “Aku bukan pria semacam itu, Grace. Aku melakukannya karena mencintaimu, bukan semata-mata menginginkan kesenangan dari tubuhmu. Tentu saja aku tidak masalah menunggu selama apa pun, asalkan aku bisa terus berada di sampingmu.”
Grace mengangkat wajahnya, lalu tersenyum sendu. “Aku akan terus berada di sampingmu dan mencintaimu. Aku berjanji.”
“Itu adalah jaminan yang memuaskan.” Sahut Adro sebelum kembali mendekap Grace, dan membawanya berbaring.
“Aku tidak sabar segera menikah denganmu,” Ucap Grace seraya mengusap pipi Adro dengan jemarinya.
“Kau pasti sangat menawan saat mengenakan gaun pengantin.” Ucap Adro, lalu menarik napas dalam-dalam. “Padahal pernikahannya masih lama, namun baru membayangkannya saja aku sudah tegang,”
Grace terkekeh. “Seorang model dan pangeran sepertimu?”
“Upacara pernikahan hanya dilakukan satu kali seumur hidup. Selain itu, aku juga akan berhadapan dengan bidadari tercantik di dunia.” Jawab Adro seraya mengusapkan wajahnya di pundak Grace hingga membuat gadis itu tertawa geli.
“Trimakasih sudah muncul di dalam hidupku, Adro. Ini masih terasa tidak nyata,”
“Tidak nyata?” Adro menaikkan alisnya tinggi-tinggi. “Kalau begitu-“
Mata Grace membesar saat Adro mendaratkan kecupan singkat pada bibirnya.
“… aku akan terus melakukan ini hingga keberadaanku terasa nyata bagimu.” Adro mengedipkan sebelah mata. “Aku mencintaimu, Grace.”
Grace tersenyum haru. “Aku juga. Sangat ... teramat.”
***
“Apa kau menunggu lama?” Tanya Grace begitu mendaratkan bokongnya di atas kursi mobil.
Adro menggeleng. “Bagaimana harimu?”
“Ternyata proses pengisian suara pemeran utama jauh lebih berbelit dibanding pemeran sampingan.” Jelas Grace.
“Kau telah berjuang keras. Kau hebat,” Ucap Adro, mengusap kepala Grace.
“Kita akan jalan, oke?” Tanya Keneth yang duduk di kursi kemudi, lalu mendapat persetujuan dari Adro yang duduk di belakangnya.
“Sebenarnya kita tidak perlu memindahkan barang-barangku sekarang karena aku tetap akan pulang ke apartmenku ketika kau harus menginap di lokasi pemotretan, Adro.” Ucap Grace.
“Tapi kau akan pindah ke rumahku tidak lama lagi. Lagipula, seharusnya kau tinggal di rumahku saja meski aku sedang pergi – Kau telah memegang kuncinya.”
“Tapi rumahmu terlalu besar – Rasanya agak aneh jika aku berada di sana sendirian,”
“Kalau begitu, bagaimana jika kita pindah ke rumah yang lebih kecil setelah menikah?” Tawar Adro.
“Ti-tidak perlu. Aku tidak bermaksud mengomentari rumahmu,” Grace menggeleng.
Tiba-tiba, ponsel Keneth berbunyi. Ia segera mengangkatnya setelah pasangan di kursi belakang memelankan suara mereka.
“Hallo? Ya, benar, aku adalah managernya. Dengan siapa ini? Apa? Adro? Putranya?”
.png)
Komentar
Posting Komentar