Langsung ke konten utama

76. Wanita Tua Aneh // Pengantin Pria Dari Negri Dongeng

 

“Putra dari siapa?” Keneth mengerutkan keningnya. Lalu, ia menyentuh menu pengeras suara pada layar pintar di dashboard mobil.

Ikut mendengarkan percakapan Keneth yang masih singkat, Adro dan Grace terdiam sambil bertukar pandang.

“Ia berkata, Adro adalah putranya yang menghilang saat kecelakaan mobil enam tahun yang lalu. Ia terus memohon pada kami untuk bertemu dengan Adro setelah melihatnya di Tv.” Jelas suara wanita di telpon.

“Apa ia memiliki bukti? Siapa namanya lagi?” Tanya Keneth.

“Eve Marviez. Ia memiliki foto bersama Adro, dan aku percaya kalian harus melihatnya. Sekarang, Eve tidak memiliki keluarga inti dan agak sakit.”

“Itu tidak mungkin. Aku tidak memiliki keluarga di sini.” Ucap Adro pada Keneth.

“Ms, sepertinya kalian membuat kesalahan. Adro tidak memiliki keluarga di negara ini. Ia berasal dari luar negri dan keluarganya masih utuh.” Jelas Keneth.

“Maaf, tapi bisakah kau menjelaskan pada Adro bahwa Eve terus mengamuk meminta bertemu dengannya? Setidaknya datanglah menjenguk sebentar, sekalian memeriksa apakah apa yang Eve katakan benar atau tidak. Ia mungkin bisa menganggap ini sebagai kunjungan penggemar,” Mohon wanita itu.

Menatap Adro dari kaca spion atas, Keneth berbisik, “Bagaimana?”

Meski ketidakpercayaan nampak jelas pada wajahnya, Adro mengangguk sekali. “Baiklah.”

***

Itu adalah sebuah bangunan yang memiliki arsitektur tua. Cat pada dindingnya memang nampak sedikit terkelupas dan usang, namun bangunan itu masih sangat kokoh.

Mobil sedan hitam berhenti di depan gedung tersebut. Adro dan Grace turun dari kursi penumpang, dan menatap papan nama bertuliskan ‘Panti Jompo Green Life’ yang tergantung di atas pintu masuknya.

“Hubungi aku jika sudah selesai.” Ucap Keneth dari jendela mobil yang terbuka.

“Kami tidak akan lama,” Jawab Adro sebelum mobil Keneth melaju pergi.

“Kau baik-baik saja?” Grace mengusap lengan Adro.

Menoleh pada gadis itu, Adro tersenyum lembut. “Tentu saja.”

Di dalam lobby gedung yang dipenuhi oleh lansia tersebut, Adro dan Grace menghampiri meja resepsionis. Karena Adro adalah selebriti dan mengenakan pakaian terlalu tertutup, Grace yang maju berbicara dengan petugas di balik meja tersebut.

“Hallo. Kami ingin bertemu dengan Ms. Merhit Alexandra. Sebelumnya kami telah membuat janji atas nama Adro.” Jelas Grace.

“Oh, baik. Aku akan menghubunginya. Mohon tunggu sebentar.” Jawab wanita berbalut seragam krem itu.

Tidak lama menunggu, seorang wanita yang nampak berusia sekitar tiga puluh tahun dan berbalut seragam yang sama menghampiri Adro dan Grace.

“Mr. Groendez dan Ms. Menken?” Sapa wanita itu.

“Ms. Alexander?” Jawab keduanya.

“Senang bertemu kalian secara langsung.” Merhit menjabat tangan kedua tamunya. “Kalian bisa memanggilku Merhit.”

“Senang bertemu denganmu juga, Merhit.”

Setelah perkenalan singkat, Merhit membawa Adro dan Grace menuju sebuah bangsal yang terletak di lantai tiga, lokasi kamar Eve berada.

“Ini adalah tahun ke empat Eve berada di panti jompo ini. Sebelumnya, ia sempat dirawat di rumah sakit mental karena didiagnosis mengalami depresi berat sejak putranya meninggal dalam kondisi hangus terbakar saat kecelakaan mobil.” Jelas Merhit dalam langkah mereka.

“Oh, Tuhan. Itu sangat mengerikan,” Grace menutup mulut dengan kedua tangan.

“Aku turut berduka untuknya,” Tambah Adro sendu.

Merhit mengangguk sekali. “Namun, Eve selalu berkata bahwa putranya meninggal bukan karena kecelakan mobil itu, melainkan dibunuh. Ia terkadang juga mengatakan bahwa anaknya mungkin masih hidup dan kabur ke suatu tempat.”

Adro mengerutkan keningnya. “Apakah itu adalah kecelakaan mobil tunggal?”

“Itu kecelakaan mobil tunggal, namun Eve berada bersama putranya juga dalam kecelakaan itu. Kesaksian Eve tidak ada yang masuk akal. Bahkan, saat polisi mencoba mencari bukti atas pernyataannya, mereka tidak menemukan apa pun.” Jawab Merhit.

Lalu, wanita itu menarik napas panjang dan menghelanya gusar. “Yang lebih aneh, Eve berkata bahwa pembunuhnya hanya satu orang, namun memiliki banyak nama. Namun, dari semua nama yang ia sebutkan, tidak ada satu pun yang dapat diidentifikasi oleh polisi.”

Grace dan Adro seketika saling bertukar pandang. Meski tidak mengatakan apa pun, mereka seakan bisa membaca pikiran satu sama lain.

“Itu terdengar mustahil,” Ucap Adro, menanggapi Merhit meski tidak ada yang mustahil baginya.

“Itu benar. Dan, karena kasusnya akhirnya ditutup sebagai kecelakaan tunggal biasa, Eve jadi terus ribut untuk mengungkap pembunuhan anaknya hingga ia berakhir dirawat di rumah sakit mental selama tiga tahun. Namun setelah dinyatakan sembuh, ia sudah terlalu tua. Karena ia juga agak cacat, pemerintah menempatkannya di panti jompo ini.”

“Di mana suaminya? Apa ia sudah meninggal?” Tanya Adro.

Merhit menggeleng. “Eve tidak memiliki suami – Ia tidak pernah menikah. Bahkan, ia hamil tanpa memberi tahu siapa pun tentang identitas ayah anaknya.”

“Oh, itu sangat menyedihkan,” Gumam Grace.

“Eve mengandung saat usianya sudah cukup tua. Jika masih hidup, seharusnya putranya berusia 26 atau 27 tahun sekarang.” Tutur Merhit.

Lagi-lagi, Adro dan Grace saling bertukar pandang. Dengan hanya menggerakkan mulutnya, Adro mengatakan, “Usianya sama denganku.”

“Siapa nama putra Eve?” Tanya Grace pada Merhit.

“Namanya adalah Febian. Aku mengingat itu karena Eve selalu membicarakannya.” Jawab Merhit, tersenyum sendu.

Obrolan serius itu membuat mereka tanpa sadar telah berjalan cukup jauh hingga tiba di sebuah bangsal kamar yang lumayan sepi karena kamar-kamarnya ditempati oleh para lansia yang membutuhkan perhatian khusus.

“Ini adalah kamar Eve,” Merhit berhenti di depan sebuah pintu kamar coklat tua yang memiliki jendela di bagian tengahnya. “Aku akan melihat keadaannya sebentar,”

Lalu, Merhit menggeser jendela itu perlahan untuk mengintip. Ia tersenyum tipis, dan melangkah mundur. “Ia tidak sedang tidur – Itu artinya, kalian bisa bertemu langsung dengannya. Aku akan mengatur itu di ruang jenguk.”

“Maaf. Apa boleh aku mengintip sebentar? Aku ingin melihat apakah ia adalah orang yang aku kenal,” Pinta Adro.

Setelah berpikir singkat, Merhit mengangguk. “Tentu.”

Kemudian, Adro dan Grace mendekati jendela tersebut, dan mengintip ke dalam. Mereka mendapati seorang wanita tua sedang duduk di kursi menghadap jendela. Wanita itu adalah Eve, dan wajahnya tidak terlihat karena ia memunggungi mereka.

Adro dan Grace saling melirik sekilas, hendak menarik pandangan mereka keluar. Namun tiba-tiba, Eve menoleh ke belakang hingga mengejutkan mereka – Bukan karena mereka ketahuan mengintip, namun karena melihat separuh wajah Eve yang memiliki bekas luka bakar cukup parah.

“Kami akan menunggu di ruang kunjungan.” Ucap Adro cepat setelah menutup jendela pintu itu.

***

Di ruang besuk, Adro dan Grace duduk bersampingan dengan meja kecil di hadapan mereka. Kelihatannya Eve membutuhkan perhatian sekhusus itu hingga harus menggunakan ruang besuk terpisah dari penghuni lain.

“Aku tidak tahu ada ruangan seperti ini di panti jompo,” Gumam Grace, memperhatikan sekeliling.

“Ini sangat tidak mungkin, namun entah mengapa aku memiliki firasat aneh tentang wanita itu.” Tutur Adro sambil termenung.

Grace menatap Adro, lalu menggenggam tangannya. “Tenanglah. Saat kita bertemu dan berbincang dengan Eve, kita akan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Apa pun itu, yang terpenting, kita sudah memastikannya sehingga kita tidak penasaran pada pernyataan Merhit.”

Tiba-tiba, pintu ruangan itu terbuka. Merhit melangkah masuk ke dalam, diikuti oleh seorang petugas panti pria yang mendampingi Eve.

“Febian!” Teriakan Eve mengejutkan semua orang yang ada di ruangan.

Wanita tua itu langsung berhambur ke arah Adro sambil menangis histeris.

“Eve!” Merhit dan rekan prianya segera menghampiri Eve yang sedang memeluk Adro erat.

Namun, Adro hanya diam. Bahkan, ia memberikan isyarat pada Merhit untuk tidak melepaskan Eve dahulu. Tangisan dan pelukan Eve membuat Adro mengerti betapa wanita itu sangat merindukan putranya hingga membuat Adro teringat pada keluarganya yang ia tinggalkan. Mungkin saat ini, ibunya merasakan kesedihan yang sama.

“Febian! Aku sangat merindukanmu! Aku tahu kau masih hidup selama ini – Aku yakin kau tidak mungkin mati semudah itu! Kau telah berjanji tidak akan meninggalkanku. Hanya kau yang aku miliki di dunia ini, putraku!” Tangis Eve.

Meski iba, Adro tidak bisa membiarkan Eve terus salah sangka dengan menggap ia adalah putranya. Perlahan, Adro menepuk-nepuk punggung renta wanita itu dan berbicara di samping telinganya, “Maaf, Eve. Namun aku bukan putramu. Namaku adalah Adro dan ibuku masih hidup di kampung halamanku.”

Membulatkan matanya, Eve segera melepaskan pelukannya. Lalu, ia menatap wajah Adro lekat-lekat untuk mempelajarinya, bahkan memegangi kedua pipi pria itu. “Tidak. Kau adalah Febian. Kenapa kau mengatakan itu? Kau adalah putraku! Aku yang melahirkan dan membesarkanmu.”

“Aku bukan.” Jawab Adro pelan, menurunkan kedua tangan kurus Eve. “Mungkin aku hanya mirip dengan putramu, namun aku bukan dirinya. Namaku Adro Groendez dan aku sama sekali tidak mengenalimu. Aku memiliki kedua orangtua yang mengurusku sejak kecil.”

Penjelasan Adro membuat Eve terdiam beberapa saat dengan mata yang masih membesar dan rahang mengatup keras. Ia mulai meraba wajah Adro dan helaian rambutnya. “Tidak mungkin. Wajah, kulit, rambut, bahkan suaramu persis dengan Febian.”

“Maaf, tapi-“

“Jangan bohong!” Seru Eve, memotong kalimat Adro. “Tolong, Febian – Jangan lakukan ini padaku! Apa kesalahanku padamu hingga kau tidak mau mengakuiku?”

Kemudian, Eve teringat sesuatu dan segera merogoh kantung dasternya. Dari sana, ia mengeluarkan selembar foto untuk ditunjukkan pada Adro. “Lihatlah! Ini adalah kita berdua di acara kelulusanmu. Apa kau tidak ingat?”

Mengambil foto itu, mata Adro seketika terbelalak saat mendapati bahwa pria muda yang berdiri di samping Eve sungguh terlihat sama persis seperti dirinya.




Komentar