Langsung ke konten utama

77. Jalan Pulang Semakin Dekat // Pengantin Pria Dari Negri Dongeng

 

“Bahkan anak kembar identik saja tidak terlihat semirip ini.” Tangis Eve, meraih tangan Adro dan terjatuh di atas lututnya. “Kau adalah Febian-ku. Apa kau lupa ingatan? Apa otakmu dicuci?”

Adro menggeleng, masih dengan mata terbelalak. “Ini tidak mungkin. Wajah kami hanya mirip,”

“Kau yakin?” Tanya Merhit, berusaha membantu Eve berdiri. Sebenarnya, sejak awal ia memiliki kecurigaan bahwa Adro mungkin saja putra Eve sungguhan karena wajah mereka yang mirip seratus persen.

“Ya. Aku sama sekali tidak mengenalnya.” Jawab Adro kebingungan.

“Kau adalah Febian-ku! Sadarlah, Febian!” Seru Eve sambil meronta karena kedua petugas berusaha membuatnya berdiri.

Namun, karena Adro terus menyangkal, Eve semakin histeris hingga ia tiba-tiba merasa sesak napas dan rasa sakit mendatangi dadanya.

“Eve, kau tidak apa-apa?” Tanya Merhit, menyadari Eve yang kesulitan bernapas. Lalu ia menoleh pada rekan prianya, “Kita harus membawanya ke ruang rawat,”

“Baik.” Pria itu mengangguk, lalu menggendong tubuh renta Eve keluar dari ruang kunjungan.

Setelah suara gaduh dari beberapa petugas yang datang membantu mengevakuasi Eve perlahan menghilang, Merhit masuk kembali ke dalam ruang kunjungan, menghampiri kedua tamunya yang nampak terkejut.

“Maaf membuat kalian tidak nyaman,” Ucap Merhit.

“Tidak masalah.” Jawab Adro dan Grace.

“Apa yang terjadi padanya? Apa ia akan baik-baik saja?” Tanya Grace langsung.

“Eve memiliki penyakit asma yang agak kronis karena pernah terjebak dalam kebakaran. Selain itu, ia juga memiliki penyakit jantung. Mungkin setelah ini, kondisinya akan menurun cukup banyak, namun kalian tidak perlu khawatir karena ia akan ditagani dengan intensif.” Jelas Merhit.

“Jika kalian membutuhkan bantuan apa pun tenang Eve, jangan sungkan untuk menghubungiku.” Ucap Adro.

“Aku mengerti. Namun hal ini bukan yang pertama kalinya terjadi, jadi kau tidak perlu merasa bertanggungjawab.” Jawab Merhit.

“Oh,” Adro sedikit menunduk.

Menatap Adro beberapa saat, Merhit melanjutkan, “Maaf, sebenarnya aku tidak boleh ikut campur kehidupan pribadi pasien, namun, aku sangat kasihan pada Eve. Selama ini, meski sikapnya agak aneh, ia adalah wanita yang sangat baik. Sejujurnya, bagiku, ini semua terasa janggal. Apa kau yakin tidak mengenal Eve?”

“Aku sudah berkata bahwa aku memiliki orangtua. Aku mengingat semua kenangan masa kecilku bersama keluargaku, dan tidak ada Eve di dalamnya.” Jawab Adro cepat.

“Adro, tenanglah,” Grace mengusap punggung pria itu.

Lalu, Grace beralih menatap Merhit. “Aku mengerti perasaanmu, mengingat hal ini memang aneh karena foto putra Eve sangat mirip dengan Adro. Namun itu mungkin hanya kebetulan. - Itu hanya sebuah foto.”

“Eve memiliki brankas yang menyimpan beberapa barang pribadinya dan dokumen-dokumennya. Panti kami memiliki kuasa untuk membuka brankas residen kami yang sudah tidak memiliki keluarga. Aku bisa membawa kalian ke sana.” Tawar Merhit.

***

Di sebuah gedung yang juga memiliki arsitektur agak tua di tengah kota, Adro, Grace, dan Merhit berdiri di depan meja petugas.

“Ini surat kuasa dari kepala panti,” Merhit memberikan selembar surat pada petugas pria di depannya.

Setelah mendapatkan ijin masuk, ketiga orang itu diantar oleh seorang petugas wanita masuk ke dalam ruangan besar yang berisi baris-baris loker besi yang nampak seperti perpustakaan.

“Baris AG-18. Brankas milik Ms. Marviez ada di baris ini. Ruangan ini tutup di jam tiga, jadi mohon sudah keluar sebelum jam tersebut.” Jelas penjaga itu.

“Terima kasih,” Ucap mereka.

Setelah menemukan loker milik Eve, Merhit membukanya menggunakan kunci khusus yang disimpan oleh pihak panti. Dari loker tersebut, Eve, dibantu oleh Adro dan Grace mengeluarkan dua buah kotak, dan membawanya ke meja terdekat.

Membuka salah satu kotak itu, Merhit mengeluarkan dua buah album foto. “Seharusnya terdapat foto-foto putra Eve di dalam sini.”

Dari kedua album foto itu, mereka menemukan sangat banyak foto yang berisikan laki-laki yang sangat mirip dengan Adro. Febian, laki-laki itu memiliki keseluruhan fisik yang persis seperti Adro, bahkan ketika ia masih bayi. Meski Adro tidak yakin bagaimana penampakan dirinya saat masih kecil, ia memiliki banyak lukisan dirinya sejak bayi hingga dewasa di istana.

Namun, hanya satu hal yang berbeda dari Adro dan Febian – Itu adalah warna mata mereka. Febian memiliki warna mata biru yang agak pudar, tidak secerah milik Adro. Selain itu, segalanya dari mereka nampak sama persis.

Sosok Febian terlihat seperti diri Adro yang hidup di dunia lain. Ini sangat gila!

Setelah melihat beberapa album foto, Adro pun menyadari bahwa Febian menyukai warna biru, sama seperti dirinya. Pria itu juga terlihat menyukai petualangan karena banyak foto yang menunjukkan ia tengah mendaki gunung dan berkeliling dunia. Selain itu, ia juga sering mengunjungi galeri seni.

‘Aneh sekali. Bahkan seleranya juga sama denganku.’ Pikir Adro.

“Oh, boneka apa ini?” Ucap Grace, meraih sebuah boneka naga dari dalam kotak yang sama. “Ini unik sekali jika diberikan untuk anak-“

Kalimat Grace terhenti ketika Adro tiba-tiba menyambar boneka tersebut dari tangannya. “A-Adro, ada apa?”

Tidak mampu menanggapi Grace, Adro masih menatap boneka naga itu dengan mata melotot. Lalu ia membalik boneka tersebut untuk melihat sisi sampingnya dan menemukan hal yang sudah ia duga berada di sana; simbol kerajaannya.

Boneka naga itu, Adro juga memiliki yang sama persis saat ia masih kecil - Itu adalah hadiah dari pamannya. Ia sangat mengingatnya karena boneka kesayangannya itu tiba-tiba menghilang saat ia kecil. Sebenarnya apa yang terjadi?

“Apakah aku boleh mengambil boneka ini?” Tanya Adro pada Merhit.

“Maaf, namun kita tidak diperbolehkan mengambil barang-barang Eve – Kita hanya bisa melihat-lihat saja.”

“Oh, aku mengerti,” Adro menundukkan wajahnya.

Memperhatikan Adro, Grace menyadari bahwa ada sesuatu dengan boneka naga tersebut. Kelihatannya, Eve dan putranya benar memiliki hal yang berkaitan dengan kehidupan Adro di dunia asalnya. Mereka mungkin akan menjadi petunjuk untuk Adro menemukan jalan pulang.

Tiba-tiba, mata Grace menangkap keberadaan sebuah buku bersampul kulit hijau yang menyembul di antara tumpukan barang di dalam kotak Eve. Entah mengapa, ia memiliki perasaan yang kuat bahwa buku itu memiliki sesuatu yang penting di dalamnya.

Grace segera berdehem, “Merhit, bolehkan aku melihat-lihat dokumen pribadi Eve dan Febian?”

“Oh, tentu. Dokumen apa yang ingin kau lihat?” Merhit bangkit dari duduknya untuk membuka kotak satunya lagi.

“Dokumen kelahiran mereka dan sertifikat akademik jika ada.” Jawab Grace, segera menyambar buku incarannya dari dalam kotak saat Merhit mengalihkan pandangannya.

Secepat kilat, Grace memasukkan buku tersebut ke dalam tasnya. Jantungnya berdebar keras karena ia tidak pernah mencuri seumur hidup. Namun, ia berhasil melancarkan aksinya tanpa ketahuan, kecuali oleh Adro yang menatapnya dengan kedua alis terangkat tinggi.

Grace menatap Adro balik sambil berusaha mengatur napas. Pria itu tertawa kecil dan diam-diam mengangkat jari jempolnya sebagai pujian.

“Ini dokumennya.” Merhit meletakkan beberapa tumpuk map di atas meja.

Pertama, Grace membuka dokumen akte kelahiran Febian. Ia memeriksa tahun kelahiran pira itu, dan menemukan bahwa Febian benar memiliki usia yang sama dengan Adro. Selain itu, Febian lahir di salah satu rumah sakit ibu dan anak di Kota Torbern. Lalu, di map lainnya, mereka menemukan sertifikat-sertifikat kelulusan sekolah pria itu.

Sudah menemukan informasi yang cukup lengkap tentang Febian, mereka beralih memeriksa dokumen milik Eve. Pada akte kelahirannya, tertera nama kedua orangtua wanita itu. Dari tumpukan kertas itu, mereka bisa menyimpulkan bahwa Eve lahir dan tumbuh besar di Kota Torbern.

Terakhir, Grace menemukan beberapa sertifikat Pelatihan Pemeliharaan Rumah Dan Bangunan dan Pelatihan Pengasuhan Anak yang dikeluarkan oleh beberapa perusahaan penyedia tenaga asisten rumah tangga, penjaga anak, dan yang lainnya.

Karena tidak ada lagi yang bisa dilihat, Grace memotret beberapa dokumen yang ia anggap penting, lalu mereka pergi dari sana.

***

Adro menyodorkan teh mint pada Grace sembari duduk di samping gadis itu. “Hari ini pasti sangat melelahkan untukmu. Terima kasih telah menemaniku.”

Berterimakasih, Grace menyeruput tehnya. Ia tersenyum sembari berdesah puas atas rasa segar yang mengalir di tenggorokannya dan lega pada rongga hidungnya. “Ini sama sekali bukan masalah. Sejak awal, aku berjanji untuk membantumu mencari jalan kembali.”

Lalu, Grace meletakkan gelasnya di atas meja nakas sebelum meraih tasnya dari tempat yang sama. “Sekarang, ada hal penting yang harus kita periksa.”

Meski wajahnya nampak mengantuk, semangat membara tetap terpancar pada wajah gadis itu. Ia mengeluarkan sebuah buku catatan kuning yang tadi ia curi dari kotak Eve. Ia tersenyum lebar sambil menunjukkan buku itu pada Adro. “Aku harap isinya benar-benar akan menuntunmu menuju rumahmu.”

Namun tiba-tiba, Adro meraih pergelangan tangan Grace, dan menurunkannya perlahan bersama dengan buku itu. “Grace,”

Mengerutkan keningnya, Grace menyentuh sisi wajah Adro yang sedikit tertunduk. “Adro, ada apa?”

“Bagaimana kau bisa mengatakannya dengan sangat mudah? Kenapa kau sangat bersemangat di saat aku mungkin semakin dekat dengan jalan pulangku?” Adro menaikkan pandangan sendunya untuk menatap Grace lekat-lekat.

Grace terdiam beberapa saat. Lalu, ia mengusap pipi pria itu. “Adro, apa pun yang terjadi nanti, aku percaya padamu. Jika boleh egois, aku ingin selalu bersamamu dan tidak membagimu dengan siapapun. Namun, kau tidak bisa menghilang selamanya dari hadapan keluargamu – Setidaknya, kau harus kembali untuk memberitahukan pada mereka bahwa kau baik-baik saja.”

“Tapi bagaimana jika aku tidak bisa kembali lagi ke sini?” Tanya Adro.

Grace tersenyum lembut. “Jika kau tidak bisa kembali ke dunia ini, begitu pula denganku.”




Komentar