Langsung ke konten utama

78. Buku Harian Eve // Pengantin Pria Dari Negri Dongeng

 

“A-apa maksudmu?” Adro mengerutkan keningnya.

“Kita sudah berjanji untuk terus bersama - Tidak peduli apa yang akan terjadi nanti, kita harus terus bersama. Kali ini, biarkan aku yang berusaha untukmu.” Tutur Grace.

“Grace, apa kau yakin?” Adro memegang kedua pundak gadis itu.

“Satu-satunya hal berharga yang aku miliki sekarang hanyalah dirimu, Adro – Bukan karir, uang, atau yang lainnya. Aku sangat mencintaimu dan aku rela kehilangan semuanya demi bisa terus bersamamu.”

Bibir Adro bergetar. Ia mengatupkan rahangnya kuat dan menunduk. “Aku harap aku mampu mencegahmu untuk melakukan ini. Aku sungguh minta maaf,”

Tersenyum lembut, Grace segera mendekap Adro. “Kau tidak perlu minta maaf. Sejak awal, kau memang harus pulang karena kau memiliki tanggungjawab. Dahulu, aku tidak memiliki apa pun untuk diperjuangkan selain bisa tetap hidup hingga tua nanti. Namun sekarang, aku memiliki dirimu. Dan ingatlah, Adro; membantumu kembali adalah janjiku sejak awal.”

“Kita akan terus bersama. Apa pun yang terjadi, aku akan memastikan kebahagiaanmu.” Ucap Adro tanpa menyingkirkan wajahnya dari dalam dekapan Grace.

“Aku harap itu adalah sebuah janji.” Grace tertawa kecil.

Menarik kepalanya dari dekapan Grace, Adro menatap wajah gadis itu tajam. “Itu adalah sebuah sumpah.”

“Kalau begitu, haruskah kita melihat isi bukunya sekarang? Kebetulan aku cukup penasaran,” Grace terkekeh kecil.

“Oh, tentu.” Adro melepaskan pelukannya, membiarkan Grace kembali duduk.

“Baiklah…” Ucap Grace seraya membuka buku curiannya itu.

Hanya dengan membaca sekilas satu halaman, mata Grace seketika berbinar-binar. “Ini adalah buku harian!”

“Lihat tanggalnya. Ia mulai menulis di buku ini sejak 27 tahun yang lalu.” Adro menunjuk tulisan tanggal di sisi kanan atas halaman pertama buku tersebut.

“Julius berjanji, anak ini akan menjadi pangeran saat ia besar nanti. Ia akan menjadi raja dan aku akan menghabiskan sisa hidupku bergelimang harta. Anak ini akan menjadi kunci kebahagiaanku.”

“Hari ini Julius datang dengan wajah berbeda. Aku penasaran apa yang membuatnya merubah wajahnya lagi. Tapi, sakit karena efek kehamilan istimewa ini hampir membunuhku. Aku rasa Julius mengubah wajahnya untuk mencari obat untukku. Ia telah berjuang keras. Berkat obat aneh itu, aku sembuh.”

“Lagi-lagi, aku hampir mati, tapi aku tidak boleh mengeluh. Julius berkata, ia juga hampir mati saat mencari liur naga untuk bahan obatnya. Syukurlah ia berhasil, aku jadi bisa minum obat.”

“Putraku seakan menggerogoti tubuhku, namun Julius berkata bahwa anak ini hanya manusia biasa. Mungkinkah kehamilannya seperti ini karena ia diciptakan dengan cara yang tidak seharusnya? Tapi itu tidak apa. Putraku akan membawaku ke tempat yang sangat indah, di mana ia akan menjadi raja di sana.”

“Aku telah memilih nama untuk putraku. Febian Elon Marviez. Ia adalah pangeranku…”

“Sudah satu hari berlalu sejak aku berhasil melahirkan putraku. Febian sangat tampan! Aku tidak pernah melihat bayi setampan ini! Ini adalah hari paling membahagiakan dalam hidupku! Aku harap kami bisa tinggal bersama di mansion Julius. Aku harap istrinya segera mati.”

“Julius tidak datang hari ini.”

“Julius lagi-lagi datang membawa mainan unik untuk Febian. Semua terlihat mahal dan bahkan ada yang terbuat dari perak. Kelihatannya ia membawanya dari tempat indah yang sering ia ceritakan.”

“Hari ini Julius tidak datang lagi.”

“Hari ini Lina meninggal! Seharusnya aku senang, namun ternyata Julius tetap tidak mengijinkan kami tinggal bersamanya di mansion. Ia malah berkata, mansion itu sudah lama ia kosongkan. Sejak kapan?”

“Hari ini, Febian lulus sekolah dasar, namun ia kesal karena potongan rambutnya saja harus sesuai dengan yang Julius inginkan. Aku khawatir ia akan mulai memberontak saat remaja.”

“Julius mengatakan hal yang aneh tentang masa depan Febian. Ia berkata Febian harus bersiap menjadi pangeran lebih cepat, namun nantinya, ia harus mengenakan identitas lain di sana. Apa maksudnya?”

“Aku sangat takut! Febian dan Julius bertengkar hebat siang ini karena Febian menolak rencana Julius. Mereka saling berteriak dan Julius memukul wajah putraku!”

“Julius berkhianat. Ini telah menipuku selama ini. Di dunia itu, Febian harus berpura-pura menjadi orang lain, bukan anakku!”

“Aku sudah bicara dengan Keren. Ia berkata bahwa aku mungkin telah diperdaya oleh Julius selama ini. Mungkin Febian adalah anak Julius? Apakah ia menghamiliku di luar kesadaranku saat aku masih bekerja di mansionnya? Namun bagaimana mungkin wajah Julius bisa berubah-ubah? Apa benar aku berhalusinasi?”

“Aku sudah gila! Ya, Tuhan! Kenapa ini harus terjadi padaku?!! Sebenarnya aku benar sudah gila atau Julius bukanlah manusia?”

“Julius marah besar! Ia berkata Febian dan aku telah menghancurkan rencana yang telah ia kerjakan selama bertahun-tahun. Febian telah kehilangan kesempatan menjadi raja, katanya. Ia telah gagal membunuh raja, katanya.”

“Julius sudah gila! Ia berkata akan membunuh Febian-ku! Aku harap ia tidak serius dengan kata-katanya karena ia sedang emosi. Oh, Tuhan… Aku tidak bisa lapor polisi, mereka hanya akan mengatakan aku gila!”

“Febian pulang ketakutan. Ia berkata, saat perjalan pulang tadi, ada mobil yang berusaha menabraknya. Itu pasti Julius! Apa ia sudah kehilangan kewarasannya?!! Apa yang harus aku lakukan? Aku sangat takut!”

“Hari ini, semua barang sudah diangkut ke rumah baru kami di provinsi Kenson. Besok, kami akan berangkat bersama sisa barang-barang kami. Selamat tinggal, Kota Torbern. Kami akan memulai hidup baru. Aku harap Julius tidak akan menemukan kami.”

Grace membalik halaman selanjutnya, namun hanya menemukan lembar kosong. Ia mencoba melihat hingga halaman terakhir, dan menemukan hal yang sama. “Catatannya berakhir di sini. Sepertinya kecelakaan itu terjadi saat mereka berada dalam perjalanan menuju rumah baru mereka.”

“Pria bernama Julius itu …” Adro mengatupkan rahangnya erat. “… ia adalah penyihir. Ingin membunuh raja? Maksudnya ayahku?”

“Tunggu sebentar. Ada hal yang harus aku periksa,” Ucap Grace sembari melompat turun dari ranjang untuk mengambil laptopnya. “Jangan bilang, mansion yang sering Eve bahas adalah mansion tempat kita bertemu?”

Membuka internet, Grace segera mencari data tentang mansion terbengkalai itu. Namun, ia menemukan bahwa pemilik rumah itu merahasiakan nama mereka dari publik. Tidak menyerah, Grace mencari data tentang Eve Marviez, dan menemukan sedikit data diri wanita itu, hingga riwayat pekerjaannya. Seperti yang Grace duga, lokasi pekerjaan terakhir Eve memiliki alamat yang sama dengan mansion terbengkalai itu.

“Pekerjaan terakhirnya yang terdaftar adalah asisten rumah tangga di mansion itu.” Ucap Grace tanpa memindahkan fokusnya dari layar laptop.

“Kelihatannya Julius ingin melakukan sesuatu padaku dan ayahku. Ia akan menggunakan Febian untuk rencananya, namun gagal.” Simpul Adro. Lalu ia mendesah panjang, “Akhirnya aku menemukan alasan mengapa aku bisa sampai di dunia ini.”

“Kita sudah sangat dekat dengan jalan pulangmu, Adro. Sekarang, satu-satunya cara untuk menemukan langkah selanjutnya adalah berbicara dengan Eve. Kita harus mencari tahu lebih banyak tentang Julius.” Ucap Grace.

Adro mengangguk sekali. “Pria itu mungkin masih memiliki pintu yang bisa digunakan atau ia mungkin masih sering menyebarang ke dunia ini.”

“Sayang sekali kondisi Eve masih buruk saat ini,” Lanjut Adro, lalu ia menatap Grace. “Meski begitu, kita tidak memiliki banyak waktu. Semua masalah ini harus selesai sebelum tanggal pernikahan kita.”

Tersenyum kecut, Grace bergumam, “Kau masih memikirkan soal pernikahan itu?”

“Tentu saja.” Jawab Adro langsung. “Dari semua hal, itu adalah yang terpenting. Kita sudah menyiapkan semuanya, jadi, kita sudah harus kembali ke sini sebelum pernikahannya dimulai!”

***

“Bagaimana jika aku yang bicara dengannya?” Tanya Grace.

Adro menghela gusar. “Kau yakin?”

Grace mengangguk. “Meski Merhit berkata kondisi Eve sudah cukup stabil, aku takut kondisinya buruk kembali karena berbicara denganmu.”

“Baiklah. Aku akan mengawasimu dari luar,” Jawab Adro pasrah. Lalu, ia tersenyum lembut dan mengusap pipi Grace. “Terima kasih. Kau sangat membantuku,”

“Aku senang bisa melakukannya,” Grace membalas senyum Adro.

Kemudian, Grace berbalik untuk menghampiri pintu kamar rawat di samping mereka. Setelah mengetuk dua kali, ia membukanya, dan masuk ke dalam. Sementara itu, Adro hanya memperhatikan sambil menahan napas.

Begitu melangkahkan kakinya ke dalam kamar dengan satu ranjang dan satu meja lampu itu, Grace disambut oleh sepasang mata coklat gelap yang menatapnya lekat.

“Aku rasa aku mengingat wajahmu. Bukankah kau yang datang bersama Febianku saat itu? Di mana putraku?” Tanya Eve.

“Namaku adalah Grace Menken. Kau benar bahwa kita sempat bertemu di ruang jenguk tempo hari.” Jawab Grace sembari melangkah perlahan menghampiri Eve.

“Kau mengenal putraku? Di mana dia?”

“Maaf, namun sebelum itu, bisakah kita bicara sebentar? Setelahnya, aku akan mempertemukanmu dengannya.” Tanya Grace.

Terdiam sejenak, akhirnya Eve mengangguk kecil. “Pria itu adalah putraku. Namanya Febian, bukan Adro.”

Grace tersenyum lembut, lalu duduk di pinggir ranjang, tepat di samping Eve. Ia meraih tangan renta wanita tua itu dan menggenggamnya lembut. “Di dunia ini, tidak semua hal bisa sesuai dengan keinginan kita. Terkadang, meski sulit, kita harus menerima kenyataan getir. Adro memiliki keluarga di tempat asalnya dan orangtuanya masih hidup. Ia bahkan masih mengingat banyak memori masa kecilnya bersama mereka.”

“Otaknya pasti sudah dicuci. Pria yang mau membunuh Febian bukan manusia biasa. Ia mampu menggunakan sihir.” Sahut Eve cepat. Lalu, pandangannya merendah. “Sama seperti yang lain, kau pasti tidak percaya. Kau mungkin akan memasukkanku ke rumah sakit jiwa,”

Namun, Grace menggeleng. “Tidak semua hal dapat dijelaskan dengan logika. Aku mengerti, pasti sangat berat dan membingungkan ketika kau kehilangan seorang anak dan bertemu dengan orang yang sangat mirip dengan mendiang anakmu. Namun, aku percaya, di dalam hatimu, kau bisa membedakan mana anakmu yang asli dan mana yang bukan.”




Komentar