Langsung ke konten utama

79. Putri Julius // Pengantin Pria Dari Negri Dongeng

 

Kalimat Grace membuat Eve terdiam. Perlahan, air mata mulai menggenangi kedua rongga mata kendurnya.

“Mereka sangat mirip,” Ucap Eve dengan suara bergetar.

“Aku tahu.” Grace mengangguk, semakin mengeratkan genggamannya pada tangan Eve yang gemetar. “Namun ia bukan putramu, dan kau menyadari itu. Secara fisik, mereka juga memiliki warna mata yang agak berbeda – Kau pasti juga menyadarinya.”

Lalu Eve menaikkan pandangannya untuk menatap Grace lekat. “Kau pasti sadar bahwa ini sangat tidak wajar, benar? Temanmu yang bernama Adro itu mungkin berada dalam bahaya karena ia sangat mirip dengan Febianku.”

“Tentu aku menyadarinya. Itu sebabnya kami datang ke sini. Namun, kau tidak perlu khawatir karena Julius tidak bisa menyakiti Adro.”

Mata Eve membulat besar. “Dari mana kau tahu tentang Julius? Siapa kalian sebenarnya? Apakah kau dan temanmu adalah orang-orangnya?”

“Tolong tenanglah, Eve.” Pinta Grace pelan. Lalu, ia melanjutkan setelah wanita itu mulai tenang. “Aku akan menjelaskan hal yang mungkin akan membuatmu terkejut. Namun, kau harus berjanji untuk tidak membuka mulut pada siapapun tentang ini. Aku dan Adro sangat membutuhkan bantuanmu.”

Mengendalikan napasnya, Eve mengangguk singkat. “Baiklah. Aku berjanji.”

Setelah itu, Grace mengeluarkan ponselnya, dan menghubungi Adro. Selang beberapa detik, pintu kamar terbuka dengan sosok pria tinggi bermata biru kristal melangkah masuk perlahan.

“Selamat siang, Eve. Aku Adro Groendez.” Adro mengulurkan tangannya.

Namun, Eve tidak mampu menjabat tangan pria itu. Ia hanya mengangguk singkat, dan mengalihkan pandangannya dari pria yang sangat mirip dengan putra sematawayangnya itu. “Aku akan mendengarkan penjelasan kalian dahulu, lalu memikirkan apakah aku bisa membantu,”

Menarik sebuah kursi, Adro duduk di hadapan Eve dan Grace yang duduk di pinggir ranjang. “Aku bukan berasal dari dunia ini. Aku datang dari dunia yang terdapat sihir di dalamnya,”

Kemudian, Adro melanjutkan penjelasannya tersebut dengan hal lebih detil tentang siapa dirinya di dunianya dan bagaimana ia bisa terdampar di dunia modern yang sekarang mereka tempati.

“Aku yakin bahwa Julius adalah penyihir yang selama ini menjadi buronan di kerajaanku. Dan soal putramu, Julius kemungkinan hendak menggunakannya untuk menjatuhkan kerajaan kami, namun gagal.”

“Kemarin, kami mendapatkan ijin dari Merhit untuk memeriksa dokumen-dokumenmu di gedung brankas. Kami menemukan bahwa semua foto-foto Febian kecil memang sangat mirip dengan Adro ketika masih kecil. Ia juga memiliki boneka naga yang sama dengan milik Adro yang tiba-tiba menghilang. Pada boneka itu, terdapat logo kerajaan Groendez.” Jelas Grace.

Lalu, Grace mengeluarkan buku harian Eve dari dalam tasnya. “Maaf atas kelancanganku. Aku terpaksa mencuri buku ini dari kotak berkasmu untuk mencari tahu apa yang terjadi.”

Menerima buku yang Grace sodorkan padanya, Eve bergumam, “Jika kalian membacanya dan percaya pada isinya, kalian pasti percaya bahwa Julius adalah pembunuh Febian.”

“Kami percaya dan aku berjanji akan mengabdikan hidupku untuk membalaskan dendammu pada Julius, karena ia juga berniat membunuh ayahku.” Sahut Adro penuh keyakinan.

Eve menatap Adro dengan mata berkaca-kaca. “Jadi, kau adalah pangeran yang selalu dibicarakan oleh Julius? Pangeran yang nantinya akan digantikan oleh Febian,”

“Sepertinya begitu.” Adro mengangguk. “Namun aku tidak mengerti bagaimana anakmu bisa sangat mirip denganku.”

Menundukkan wajahnya, Eve mulai menjelaskan, “Dahulu, aku bekerja sebagai asisten rumah tangga di mansion Julius dan istrinya yang sakit-sakitan. Setengah tahun bekerja, aku dan Julius diam-diam menjadi dekat. 

Suatu hari, aku tidak sengaja menangkap Julius sedang melakukan ritual sihir di ruang bawah tanah – wajahnya berganti. Lalu ia menyadari bahwa aku melihatnya, dan menangkapku. Ia berkata terpaksa harus membunuhku jika aku melapor pada orang lain dan malah membujukku untuk menjadi ibu dari anaknya. Tadinya aku senang, berpikir kami akan memiliki hubungan serius, namun ternyata, anak itu datang dari ramuan yang Julius berikan untuk aku minum.”

“Puluhan tahun yang lalu, terdapat masalah di kerajaanku, di mana disebutkan ada penyihir yang suka menculik anak-anak. Setelah itu, sebagian anak-anak itu kembali, namun dengan sifat yang sangat berbeda, seakan mereka sudah berganti jiwa. Mungkinkah itu adalah hal yang sama dengan yang Julius lakukan padamu?” Tanya Adro.

“Aku tidak yakin,” Jawab Eve. “Namun yang pasti, Julius selalu memintaku membesarkan Febian sesuai dengan yang ia mau. Ia ingin cara bicara dan bahkan gerak-gerik Febian menyerupai seseorang yang tidak pernah aku temui. Bahkan, ia pernah menggoreskan luka di punggung Febian tanpa alasan,”

“Luka di punggung?” Ulang Adro. “Di usia sebelas tahun, aku pernah terjatuh dari kuda dan mendapat luka dalam di punggungku,”

Eve tersenyum sendu. “Dan sekarang aku tahu alasan mengapa ia melakukannya,”

Lalu Eve melanjutkan, “Namun di dunia modern ini, mustahil membentuk seorang anak menjadi seperti orang lain. Febian terpengaruh oleh lingkungan luar dan internet. Ia juga mulai memberontak saat remaja.

Saat Julius mengatakan rencananya gagal, ia berniat membunuh Febian, dan benar-benar melakukannya saat kami berada dalam perjalanan mobil menuju kota lain. Rem mobil kami blong hingga mobil kami terguling ke dalam jurang pendek.

Dalam kondisi setengah sadar, aku melihat seorang pria datang menyiramkan bensin ke tubuh Febian yang sedang pingsan dan membakarnya. Meski wajah pria itu berbeda dengan Julius, aku tahu bahwa ia adalah Julius. Mereka memiliki bekas luka yang sama di punggung tangan mereka.”

Terisak, Eve menundukkan wajahnya dalam-dalam. “Aku terlalu lemah saat itu. Tubuhku sudah terbakar setengah dan aku hanya mampu merangkak keluar menyelamatkan diriku sendiri dan membiarkan putraku terbakar habis di dalam mobil. Julius berengsek itu … aku harap ia segera membusuk di neraka,”

Tidak kuasa meneteskan air mata, Grace segera memeluk Eve dan mengusap punggung bergetar wanita tersebut. “Maaf kau harus mengalami hal seberat itu,”

Mengepalkan tangannya, Adro berucap, “Aku akan memastikan Julius dihukum seberat-beratnya. Ia telah melakukan dosa berat dan menjebakku hingga terdampar di dunia ini. Sekarang, ia mungkin sedang berusaha membunuh ayahku lagi.”

Melepas pelukannya, Eve menatap Adro. “Sejak awal, aku tahu Julius memiliki rencana besar. Namun maaf, aku tidak tahu jelas apa rencananya selain membuat Febian menggantikan posisimu sebagai pangeran.”

“Itu tidak apa, Eve. Kau sudah membantu kami sangat banyak.” Jawab Grace.

“Tadi kau berkata, Julius memiliki istri. Apakah ia juga seorang penyihir?” Tanya Adro. “Di bukumu, kau menulis bahwa ia sudah meninggal.”

Eve menggeleng. “Sejauh yang aku tahu, ia adalah wanita biasa yang temperamental.” Kemudian, matanya membesar. “Mereka memilik seorang putri. Ya! Mereka memilikinya!”

“Seorang putri?” Ulang Grace dan Adro serentak.

“Itu benar. Namun putrinya dirawat oleh orang lain dan tidak didaftarkan secara hukum sebagai anak mereka. Aku mengetahui itu karena Julius dan istrinya selalu mengunjungi anak itu setidaknya seminggu sekali.”

Grace termenung, “Jadi, rumor bahwa mansion yang ditinggali oleh pasangan tua tanpa anak itu tidak benar?”

“Aku tidak mengetahui alasan mereka menyembunyikan anak itu. Namun seharusnya, ia masih hidup sekarang,” Ucap Eve.

***

“Ini adalah rumahnya,” Ucap Grace, sekali lagi melirik kertas berisi alamat yang mereka dapatkan setelah tiga hari mencari tahu.

Itu adalah sebuah rumah sederhana yang terletak di pinggiran Kota Warbinon, sebuah kota kecil yang terletak tidak jauh dari Kota Torbern.

Turun dari mobil mereka, Adro dan Grace berdiri di depan pintu putih rumah yang nampak normal tersebut. Kemudian, Adro memencet tombol bel di samping pintu utamanya.

Tidak lama menunggu, pintu terbuka dengan seorang wanita berambut pirang yang nampak berada di akhir usia tiga puluhnya.

“Selamat pagi,” Ucap Adro dan Grace ramah.

“Selamat pagi. Ada yang bisa aku bantu?”

“Aku Adro Groendez dan ia Grace Menken. Kami mencari Suzan Whitehager.” Jelas Adro.

Kening wanita itu mengkerut. “Apa keperluan kalian?”

“Kami ingin berbicara tentang hal yang cukup penting dengan Suzan.” Jawab Grace.

Sambil meneliti wanita di hadapannya, Grace berusaha mengingat foto wajah Suzan yang sempat ia temukan di internet. Meski di foto itu wajah Suzan masih nampak muda, ia yakin bahwa mereka adalah orang yang sama.

“Apakah kau adalah Suzan?” Tanya Grace berhati-hati.

Namun, wanita itu malah memperhatikan Adro dengan mata memicing. Ia mengangguk pelan. “Ya, aku adalah Suzan. Apa yang ingin kalian bicarakan?”

“Ini agak panjang – bolehkah kita bicara di dalam?” Pinta Adro.

Di ruang tamu, Adro dan Grace duduk di kursi bergaya retro. Mereka memperhatikan sekeliling dan menemukan bahwa rumah Suzan terlihat seperti rumah modern biasa – tidak ada tanda-tanda penyihir sama sekali.

“Ayahku? Bagaimana kalian bisa tahu tentang ayahku?” Tanya Suzan.

“Karena ia telah melakukan hal buruk padaku dan seseorang yang aku kenal.” Jawab Adro.

Memicingkan matanya, Suzan kembali bertanya, “Hal buruk apa tepatnya?”

“Sebelumnya, bisakah kau menjawab pertanyaan gilaku; Apakah kau percaya sihir?” Tanya Adro.

Suzan terdiam, membelalakkan matanya.

“Suzan?” Panggil Grace.

“Sebenarnya siapa kalian? Dan kau …” Suzan menatap Adro tajam. “… pria dengan mata aneh, dari mana kau berasal?”

Tersenyum miring, Adro bergumam, “Kau tahu sesuatu,”

 



Komentar