Menarik napas panjang, dan menghembuskannya keras, Suzan melanjutkan, “Anggap saja aku percaya sihir. Sekarang, jawablah pertanyaanku; dari mana kau berasal?”
“Aku berasal dari dunia yang memiliki sihir, dunia dengan kerajaan-kerajaan dan makhluk yang kalian sebut mitologi. Aku adalah seorang pangeran.” Jelas Adro.
Suzan kembali terdiam beberapa saat sebelum membuka mulutnya, “Jadi, kau bisa menyebrang ke dunia ini berkat bantuan ayahku?”
“Bukan berkat bantuan ayahmu, melainkan karena ayahmu.” Koreksi Adro.
Kembali menghela lelah, Suzan bertanya, “Lalu kenapa kalian mencariku?”
“Aku harus bertemu dengan ayahmu agar bisa kembali ke duniaku.” Jawab Adro.
“Itu mustahil.” Sahut Suzan langsung.
“Kenapa?”
“Karena terakhir aku bertemu dengannya adalah sepuluh tahun yang lalu. Setelah itu, ia menghilang bagai ditelan bumi, menelantarkanku hingga sekarang.”
“Apa?” Adro mengerutkan keningnya. “Penyihir berengsek itu,”
“Maaf. Aku tidak memiliki hubungan dengannya lagi.” Ucap Suzan.
“Suzan, apakah aku tidak memilki informasi lain tentang Julius? Adro benar-benar harus kembali ke dunianya.” Tanya Grace.
Suzan kembali menghela panjang. “Meski kau bisa kembali, itu hanya akan menambah masalahmu. Kemungkinan, kerajaanmu sudah kacau sekarang.”
“Apa maksudmu?” Adro menaikkan pandangannya, menatap Suzan tajam.
Berusaha menahan air mata, Suzan mengandalikan napasnya sebelum menjelaskan, “Aku mengetahui rencana ayahku. Ia akan menghancurkan negri itu, mengisinya dengan monster-monster dan membunuh raja beserta keturunannya untuk balas dendam dan berkuasa.”
“Balas dendam, katamu? Untuk apa?” Tanya Adro bingung. Jika Julius ingin berkuasa, itu tidak mengherankan karena ia adalah penyihir jahat. Namun, balas dendam? Seharusnya ia tidak memiliki alasan untuk itu!
“Balas dendam untuk pengkhianatan raja sebelumnya. Pengkhianatan para manusia biasa terhadap penyihir.” Jawab Suzan.
“Suzan, bisakah kau menjelaskannya lebih jelas?” Tanya Grace, menyadari bahwa Adro tidak tahu apa-apa tentang hal itu.
“Dahulu kala, ayahku berteman dengan seorang pria bernama Absolen Groendez-“
“Itu nama kakek buyutku.” Adro memotong kalimat Suzan.
Wanita itu mengangguk sekali. “Ya. Dahulu mereka berteman. Saat itu, Absolen adalah pangeran dari kerajaan kecil, sedangkan ayahku, Julius adalah penyihir. Saat itu, negrimu penuh dengan monster yang membuat hidup manusia dan yang lainnya sengsara. Namun, beredar kabar tentang sebuah batu sakti yang bisa mengabulkan permohonan dan dikelilingi harta karun melimpah di sebuah gua kematian.
Menginginkan perubahan, Absolen dan Julius bekerjasama untuk mencari batu tersebut agar dunia terlepas dari monster dan agar mereka dapat mendirikan kerjaan hebat.
Singkat cerita, mereka berhasil menemukan batu dan harta karun itu berkat kemampuan sihir Julius. Karena Julius yang pertama menemukannya, ia juga yang pertama memegang batu itu untuk menyebutkan permintaannya.
Julius meminta agar dunia mereka aman dari monster dan meminta kekuasaan. Keinginannya terkabul, namun, batu tersebut ternyata memiliki inti yang jahat. Batu itu mengandung kutukan dan langsung mengutuk Julius. Rupa Julius menjadi sangat tua dan buruk. Lalu, ia menjadi kuat hingga dapat memimpin. Sayangnya, kekuatannya adalah untuk memimpin monster-monster yang dikurung oleh batu itu di dunia bawah tanah. Julius terseret masuk ke bawah tanah bersama semua monster-monster itu.
Ketika Julius menghilang, Absolen malah mengambil semua harta karun sebagai miliknya. Ia pun berkata pada semua orang bahwa ia yang membuat monster-monster menghilang, sedangkan Julius mati terperosok ke jurang. Ia mengakui semua hasil dari pengorbanan Julius.
Sementara Absolen mendirikan kerajaan impiannya, Julius berusaha keluar dari dunia bawah tanah. Julius pikir, Absolen sedang berusaha menyelamatkannya dan menunggungnya, namun, saat ia berhasil kembali ke dunia atas, ia menemukan hal mengecewakan. Ia melihat kerajaan Absolen sudah berdiri megah dan sahabatnya itu telah menjadi raja. Ketika Julius datang pada Absolen, pria itu pura-pura tidak mengenalinya dan malah mengusirnya.
Sejak itu, Julius bertekad untuk membalas Absolen dan merebut kerajaan yang seharusnya adalah miliknya. Namun, kekuatannya terbatas di dunia atas, sehingga ia mengumpulkan semua penyihir untuk menyerang kerajaan. Hal itu membuat raja memerintahkan untuk membantai semua penyihir sehingga para penyihir yang tersisa harus bersembunyi.”
“Itu tidak mungkin. Semua itu tidak tertulis di dalam sejarah. Yang mengalahkan monster-monster adalah para sorcerer dan kesatria dalam perang monster.” Ucap Adro.
“Sejarah dituliskan oleh pemenang.” Sahut Suzan. Lalu ia melanjutkan, “Selama ini, Julius terus melakukan berbagai cara untuk menghancurkan kerajaan Groendez a Lend, termasuk menggantikanmu dengan replikamu, meski itu berakhir gagal. Namun, sepuluh tahun yang lalu, aku sempat mendengar ia mulai menemukan celah untuk melepaskan monster-monster ke dunia atas.”
“Apa kau berkata jujur tentang sejarah itu?” Tanya Adro, menatap Suzan tajam.
Tertawa kecil, Suzan menjawab, “Seharusnya pertanyaan itu kau tunjukan pada leluhurmu.”
“Kau adalah anak penyihir itu. Apa aneh jika aku ragu padamu?” Tanya Adro.
“Berbohong padamu sekarang tidak ada gunanya untukku. Aku lahir dan besar di dunia ini. Aku memiliki karir dan keluarga di sini dan sejak awal tidak pernah diharapkan ada oleh ayahku.” Jawab Suzan, tersenyum miris. Lalu ia menarik napas panjang dan melanjutkan, “Lagipula, saat ini kau terjebak di dunia ini, sesuai rencana ayahku.”
“Kenapa ia malah menjebakku di sini? Bukankah ia ingin membunuhku dan ayahku?” Tanya Adro.
“Mungkin kau tidak menyadarinya, namun ayahku telah berusaha membunuh kalian berulang kali namun gagal. Itu karena keturunan Absolen memiliki kekuatan tersembunyi yang merupakan imbas dari cahaya batu sakti itu sehingga kalian kebal terhadap sihir – Itulah penyebab kalian memiliki warna mata tidak biasa. Kalian juga memiliki kekuatan yang lebih besar dari pria biasa, bukan? Selain itu, kau adalah putra mahkota dan pemimpin perang terhebat dalam sejarah negrimu.”
“Jadi dalam arti lain, hanya aku yang dapat menghentikan Julius?” Simpul Adro.
“Soal itu, aku tidak yakin. Namun ayahku memang menganggapmu sebagai penghalang terbesar rencananya, bahkan saat kau baru saja lahir. Sebenarnya, melepaskan monster-monster adalah rencana cadangannya. Namun karena ia gagal menggantikanmu dengan anak yang ia tanamkan pada wanita di dunia ini, ia terpaksa menggunakan cara penghancuran.” Jawab Suzan.
“Apakah kau tahu bahwa anak yang ia tanamkan itu sudah mati?” Tanya Grace.
Kedua alis Suzan terangkat tinggi. “Benarkah?”
Grace mengangguk. “Julius yang membunuhnya.”
“Ah… Anak yang malang. Sepertinya ayahku melakukan itu karena ia akan menjebak pangeran yang sesungguhnya ke dalam dunia ini.” Pikir Suzan.
“Apakah kau berpihak?”
Suzan menoleh pada Adro. “Aku? Aku hanya ingin hidup damai, dan kalian sedang menggangguku sekarang. Tapi rasanya aku pernah melihat wajahmu di televisi,”
“Adro bekerja sebagai model sekarang,” Ucap Grace.
“Oh,” Suzan tertawa kecil. “Itu bagus. Kelihatannya kau sudah terbiasa dan menikmati hidupmu dunia ini.”
“Tidak ada yang lucu di sini. Kerajaan dan keluargaku sedang berada dalam bahaya. Aku harus kembali bagaimana pun caranya.” Ucap Adro, mengepalkan kedua tangannya.
Grace menatap Adro sendu, lalu mengusap punggung pria itu. “Tenanglah. Semua akan baik-baik saja. Kita pasti menemukan jalan pulangmu,”
Suzan menatap kedua tamunya sambil melipat lengan di depan dada. Ia menggerak-gerakkan bibirnya sebentar sebelum berdehem dan bicara, “Sebenarnya… aku mungkin bisa membantu kalian lebih lagi,”
“Bagaimana caranya?” Adro langsung mengangkat pandangannya.
“Aku adalah anak dari Julius sehingga aku memiliki darah penyihir. Tidak. Sejujurnya, aku beberapa kali mempraktekkannya diam-diam.” Ucap Suzan.
“Julius adalah penyihir seribu pintu. Apa kau bisa membuat portal juga?” Tanya Adro langsung.
“Itulah yang aku maksud. Sebenarnya, aku tidak pernah mencobanya, namun, dengan darah yang mengalir di tubuhku ini, seharusnya aku bisa melakukannya-“
“Kalau begitu, tolong lakukanlah! Aku akan membayarmu berapapun!” Potong Adro.
“Tunggu sebentar, anak muda.” Suzan mengangkat satu telapak tangannya. “Sayangnya, aku tidak memiliki mantera dan panduan yang dibutuhkan untuk melakukan sihir itu. Yang mengetahuinya adalah ayahku dan ia menuliskannya di buku-buku manteranya yang entah ada di mana. Aku pernah melihat buku-buku itu saat aku kecil,”
“Buku mantera?” Ulang Grace, mengerutkan keningnya. “Apakah mungkin … buku itu terlihat seperti buku resep atau sejenisnya?”
“Hm… Ayahku memang menyembunyikan formula manteranya di dalam catatan resep masakan, belanja, dan lainnya.” Suzan mengingat-ingat.
“ITU DIA!” Seru Grace, membuat Adro dan Suzan terkejut. Lalu ia menoleh pada Adro dan mengguncang lengan pria itu. “Apakah kau tidak ingat? Saat kita mengunjungi mansion itu lagi, aku menemukan buku resep!”
Mata Adro membesar. “Apa kau masih menyimpannya?”
Grace mengangguk keras. “Ada di apartmentku.”
***
Takdir. Semakin banyak kebetulan yang Adro alami, semakin ia mempercayai kata itu.
Siapa yang menyangka, ketika mereka berpikir usaha mereka menggeledah mansion terbengkalai saat itu hanyalah sebuah kesia-siaan, mereka sebenarnya telah menemukan sebuah kunci emas. Sejatinya, jalan pulang Adro sudah sangat dekat sejak awal.
“Hm…” Suzan mengangguk-angguk sembari membaca buku di tangannya. Sementara itu, Adro dan Grace duduk penuh harap di hadapannya.
“Ini adalah sebuah kebetulan ajaib,” Ucap Suzan, menutup buku tersebut. Lalu ia menatap sepasang anak anjing di hadapannya. “Sekarang, yang kita butuhkan adalah sebuah pintu.”
.png)
Komentar
Posting Komentar