Langsung ke konten utama

81. Menyebrang ke Negri Dongeng // Pengantin Pria Dari Negri Dongeng

 

Bulan penuh bersinar terang hingga cahayanya cukup untuk menerangi sebuah ruangan kerja yang diisi oleh tiga orang.

Adro telah menyiapkan semua perlengkapan yang Suzan minta, yaitu sekotak kapur, gerabah kecil, dan tentu saja, pintu, yang berjumlah dua buah.

Sebuah simbol segitiga dengan sisi tertajamnya menghadap ke pintu ruang kerja Adro menjadi goresan terakhir kapur yang Suzan toreh di atas lantai. Kini, lantai kayu ruang kerja itu memiliki sebuah simbol aneh berukuran cukup besar di tengah-tengahnya.

“Dari pintu ini, kalian akan menyebrang ke dimensi lain,” Suzan menunjuk pintu ruang kerja itu, lalu beralih menunjuk pintu toilet yang berada di sisi lain ruangan, “Dari pintu itu, kalian akan kembali ke sini.”

Selesai mendengar penjelasan Suzan, Adro dan Grace bangkit berdiri dari posisi duduk mereka di sofa. Adro menoleh pada Grace, sedikit menahan napas. “Kau yakin ingin ikut?”

Meski sedikit takut, Grace mengangguk yakin. “Ya.”

“Tidak satupun dari kita ada yang mengetahui apa yang sedang terjadi di duia itu. Kita juga tidak tahu apakah kalian bisa menemukan penyihir pintu yang akan menyambungkan pintu dari dunia itu ke dunia ini,” Jelas Suzan sambil menatap pasangan itu. “Poinnya adalah kalian bisa masuk ke sana, namun belum tentu bisa keluar.”

Menarik napas dalam-dalam, Grace menatap Suzan dengan tegas. “Aku sudah berkata, yang aku miliki sekarang hanyalah Adro. Aku tidak peduli apakah kami bisa kembali ke sini atau tidak. Selama kami terus bersama, aku tidak memiliki masalah.”

Suzan mendecak sambil menggeleng kecil. “Hm, aku mengerti. Jadi kau adalah tipe wanita yang seperti itu, yah – Mencintai seorang pria dengan segenap jiwamu,”

“Aku juga akan melakukan segalanya untuknya.” Adro membalas ucapan Suzan.

“Yah… Tidak bermaksud menyudutkan salah satu pihak, namun yang sering aku temui adalah pria yang mengkhianati kepercayaan wanitanya,” Suzan menggidik bahu seraya tertawa kecil. “Aku bercanda,”

“Aku sudah membayarmu mahal. Berhenti bicara omong kosong dan bukakan portalnya.” Ucap Adro, menekan kalimat akhirnya.

“Baiklah … Baiklah. Kau harus ingat bahwa ini belum tentu berhasil karena ini adalah pertama kalinya bagiku melakukan sihir ini. Aku tidak bertanggungjawab jika kalian terpental ke dunia lainnya.”

“Aku menerima semua resiko itu.” Ucap Adro datar seraya mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Grace dan pada gagang pedangnya.

“Baiklah. Sekarang, jangan buat suara sedikitpun. Aku membutuhkan konsentrasi penuh untuk melakukan ini.” Ucap Suzan.

Dalam kesunyian, Suzan duduk di tengah-tengah simbol sihir besar yang ia gambar. Ia membuka sebuah buku mantra buatannya sendiri yang berisi rangkuman-rangkuman mantra yang tercecer di dalam buku resep.

Sambil mengucap mantra itu, Suzan mengambil gerabah keramik yang telah ia isi dengan bubuk kapur dan campuran bubuk berbagai tumbuhan dan hewan pengerat yang telah dikeringkan. Setelah mengaduk semuanya, ia bangkit dari posisi duduk bersilanya menuju pintu ruang kerja yang berada di hadapannya dan membalurkan ramuan tersebut pada sekujur bingkai pintu itu.

Kembali duduk di posisinya semula, Suzan terus mengucapkan mantra lebih cepat dari sebelumnya. Nampak bola mata wanita itu bergerak-gerak secara liar di balik kelopak matanya yang tertutup. Keringat mulai membasahi pelipisnya hingga akhirnya mengalir turun bembasahi wajah dan lehernya.

Tiba-tiba, muncul asap putih dari celah-celah kedua pintu yang sudah dibalurkan ramuan. Lalu dari pintu pertama, muncul cahaya merah dari daun pintunya selama beberapa detik sebelum mendadak padam bagai api lilin yang ditiup.

Membuka matanya, Suzan berusaha mengatur napas. Ini adalah pertama kalinya ia melakukan praktek sihir yang membuatnya merasa seperti habis berlari seratus kali putaran tanpa jeda.

“Suzan, kau baik-baik saja?” Tanya Grace, berhati-hati menghampiri penyihir itu.

Suzan mengangguk pelan. “Aku tidak pernah seyakin ni pada sihirku sendri, namun aku bisa berkata bahwa aku berhasil membuat portalnya, dan itu berada di dunia yang tepat.”

Wajah khawatir Grace dan Adro seketika berubah cerah. Mereka saling menatap dengan senyum lega.

“Terima kasih banyak.” Ucap Adro, lalu melanjutkan penuh harap, “Apakah pintu itu akan mengantar langsung ke dekat istanaku atau bahkan di dalamnya?”

Sayangnya, Suzan menggeleng pada pertanyaan itu. “Aku tidak tahu. Namun aku sudah mencari pintu sesuai yang paling dekat dengan istanamu. Aku tidak pernah menginjakkan kakiku di dunia itu dan aku bukan penyihir hebat hingga dapat menyihir pintu pilihanku di dunia lain.”

Adro mengangguk mengerti. “Baiklah. Itu sudah cukup. Kerja bagus.”

“Kau adalah penyihir yang hebat, Suzan,” Ucap Grace, lalu menerima ucapan terima kasih dari Suzan.

“Jika ini sudah selesai, kami akan pergi sekarang,” Ucap Adro.

Bangkit berdiri dari duduknya, Suzan mendekati Adro untuk menepuk ringan pundaknya. Ia menatap pria itu tajam. “Aku sangat serius saat mengatakan tentang kekacauan di dunia itu. Pedang dan pisau kalian sudah aku mantrai sehingga mereka akan sangat mematikan bagi monster. Meski begitu, kalian harus sangat berhati-hati agar jangan sampai mati, terutama kau,” Ia menunjuk Grace hingga membuat gadis itu meneguk liur, lalu melirik Adro kembali, “Kekasihmu bukan berasal dari dunia itu.”

“Kau tidak perlu memberitahuku.” Ucap Adro, terus menatap pintu di depan mereka. Lalu ia menoleh pada Grace dan tersenyum lembut. “Kau aman bersamaku. Percayalah,”

Grace tersenyum tipis dan mengangguk kecil. Lalu, matanya beralih pada tangan Adro yang meraih gagang pintu di depan mereka. Bersama jantungnya yang berdebar keras, pintu itu bergerak terbuka.

Cahaya membutakan membuat Adro dan Grace tidak kuasa nyaris memejamkan mata mereka. Adro segera meraih tubuh Grace ke dalam rangkulannya karena gandengan tangan saja mungkin tidak cukup untuk mejaga kekasihnya tetap berada di sampingnya.

“Pejamkan matamu. Kita melangkah ke depan dalam hitungan ke tiga.” Ucap Adro.

Grace mengangguk. “Aku mengerti.”

“Satu. Dua. Tiga-“ Hitung Adro sebelum membuat satu langkah ke depan.

Meski jantungnya berdebar keras, Grace tidak merasa setakut itu. Adro merangkulnya sangat erat dan suara pria itu membuatnya tenang. Tuntunan Adro membawanya tiga langkah ke depan hingga tiba-tiba cahaya membuatakan itu mendadak menghilang.

Mata mereka terbuka, mengijinkan keduanya mendapati diri mereka tengah berdiri di sebuah rumah kecil, sangat kecil, seperti gubuk.

Mata Grace membesar. Ia menoleh pada Adro yang juga melakukan hal yang sama. “Kita berhasil!”

“Kita berhasil,” Adro setengah bergumam. Lalu, ia menoleh ke belakang, pada pintu yang baru saja mereka lewati.

“Pintunya tertutup. Apa kau yang melakukannya?” Tanya Grace.

Adro menggeleng. “Aku bersumpah, aku sama sekali tidak menyentuh pintu itu saat kita masuk. Kelihatannya ia menutup sendiri.”

“Aku akan mencoba membuka pintunya,” Ucap Grace, membuat Adro melepaskan rangkulan ketatnya.

“Berdirilah di belakang pintunya. Aku akan berjaga jika ada sesuatu berada di baliknya,” Ucap Adro, menyiagakan tangannya pada gagang pedang yang tersemat di samping pinggangnya.

“Aku harap yang berada di baliknya adalah Suzan, di ruang kerjamu. Kita bisa mengucapkan selamat tinggal padanya.” Ucap Grace penuh harap sebelum meneguk liur dan menggenggam gagang pintu itu.

“Kita akan mengetahuinya ketika pintunya terbuka,” Sahut Adro.

Grace mengangguk, lalu perlahan melangkah mundur sambil terus menarik pintu itu hingga terbuka setengah agar Adro bisa mengintip keluar.

Hanya dalam dua detik, Grace langsung mendorong pintu itu hingga tertutup kembali. “Apa yang ada di dalam sana?” tanyanya langsung.

Mengerjap, Adro melepas postur siaganya. Ia menghela panjang. “Itu bukan di dalam, melainkan di luar. Tidak ada apa-apa di luar sana – Hanya pepohonan.”

Mengerutkan keningnya, Grace mengulang, “Pepohonan?”

“Portalnya sudah tertutup. Di balik pintu itu adalah apa yang ada di luar rumah ini, yaitu hutan.”

“O-oh, begitu, yah,” Gumam Grace seraya melepaskan tangannya dari gagang pintu berkarat itu.

Adro melangkah mendekati Grace sambil mengulum senyum hangat dan membelai kepala gadis itu. “Aku akan segera menyelesaikan masalah di sini, setelah itu kita kembali. Aku berjanji,”

“Aku baik-baik saja, Adro. Aku hanya terkejut karena ini semua terasa sangat gila.” Grace tertawa kecil.

“Aku tahu, terlebih untuk seseorang yang berasal dari dunia modern.” Sahut Adro. Lalu ia menarik napas dalam sebelum melanjutkan, “Namun, ini buka saatnya merasa janggal. Kita mungkin berada dalam bahaya sekarang, sehingga kita tidak boleh ribut dan harus tetap waspada. Mengerti?”

Mengatupkan kedua bibirnya, Grace mengangguk sambil menatap Adro serius. Lalu, ia mengeluarkan sebuah belati perak yang tersemat di ikat pinggang kulitnya. Sebelum melakukan ritual penyebrangan bersama Suzan, Adro membeli sebuah pedang dan belati di toko seni senjata tradisional untuk kemudian dimanterai oleh Suzan.

Adro tersenyum pada Grace sebelum mengusap kepalanya lagi. “Gadis pintar. Tetap berada di dekatku.”

Lalu Adro menatap sekeliling. “Sepertinya rumah ini sudah cukup lama ditinggalkan. Pot masak itu sudah agak berkarat dan banyak debu tebal di sini,”

Grace menoleh pada benda-benda yang Adro perhatikan. “Tempat ini bahkan tidak terlihat seperti rumah bagiku, jika boleh jujur. Ya, setidaknya ini lebih besar dari apartment studio termurah di tengah kota,”

“Tidak ada apa-apa di sini. Suzan benar, ia hanya mendapatkan pintu asal.” Gumam Adro setelah memeriksa satu-satunya meja di rumah itu. “Kita harus segera keluar menuju istana sebelum gelap.”

Menuju pintu yang membawa mereka masuk ke dalam dunia dongeng, kini Adro yang membuka pintu tersebut dengan Grace berlindung di belakang punggungnya. Beruntung, kondisi di luar masih sama seperti yang sebelumnya Adro dapati; Tenang dan cerah.

Membuka pintunya lebih lebar, Adro tetap menyiagakan tangannya di gagang pedang. Beberapa langkah dari pintu adalah sebuah jalan setapak yang mengarah ke dalam hutan rimbun.




Komentar