Adro menatap langit cerah di atas kepalanya. Matanya seketika menyipit untuk melindungi kedua iris kristalnya dari cahaya matahari yang terlalu menusuk.
“Kita beruntung. Hari masih cukup pagi, sekitar jam sebelas siang jika di duniamu.” Ucap Adro, menurunkan pandangannya.
Kedua alis Grace terangkat tinggi. “Bagaimana kau mengetahuinya? Bahkan jam tanganku tidak berfungsi,” ia melirik jam tangannya yang sudah berhenti berdetik semenjak mereka tiba di dunia ini.
“Itu mudah. Aku hanya perlu melihat posisi matahari dan bulan.” Jelas Adro, tersenyum lebar. “Jika kau merasa kagum, percayalah, ini belum seberapa,”
“Mm, itu memang mengagumkan, namun aku harap aku tidak harus melihat hal mengagumkan lainnya jika itu artinya kau harus melakukan kekerasan.” Ucap Grace dengan suara semakin memelan.
Hal itu membuat Adro menatapnya lemah. “Maaf, aku tidak bisa menjanjikan itu. Di tempat ini, satu-satunya cara melindungi diri adalah dengan kekerasan. Kau harus membunuh jika tidak ingin dibunuh.”
“Itu terdengar mengerikan, namun aku mengerti. Lakukanlah apa yang menurutmu paling benar, Adro. Ini adalah duniamu.” Grace tersenyum lembut.
Adro mengangguk. Lalu ia meraih tangan Grace dan menggandengnya. “Kita harus bergerak sekarang. Seharusnya kita masih berada di wilayah kerajaan meski cukup jauh dari istana.”
Meski mereka tidak tahu apa yang akan mereka hadapi dan tidak tahu seberapa lama mereka bisa sampai di istana, keduanya tidak patah semangat dan terus berjalan menelusuri hutan.
“Aku tidak pernah masuk ke dalam hutan seumur hidupku. Udara di sini terasa sangat bersih dan menyegarkan,” Ucap Grace sambil menatap sekeliling, menyadari bahwa hutan yang ia masuki ternyata tidak terasa seram, malahan cukup cantik, mungkin karena ini adalah negri dongeng.
Tertawa kecil, Adro menjawab, “Kau membuatku mengingat saat pertama kali datang ke duniamu. Saat itu, aku merasa agak sesak napas. Aku pikir paru-paruku bermasalah, namun setelah beberapa lama, aku akhirnya menyadari bahwa itu dikarenakan oleh udara yang berpolusi.”
“Aku benci polusi, namun kita membutuhkan tenaga yang menghasilkan polusi untuk menjalankan berbagai hal yang kita butuhkan untuk hidup,” Grace menghela.
“Tidak di duniaku. Di sini, kami tidak menggunakan listrik, namun masih bisa hidup nyaman. Jika kau sepeduli itu, mungkin kau akan cocok tinggal di sini?” Goda Adro.
Grace menggerakkan bibirnya ke samping sambil mengerutkan dahi. “Ya, aku memang peduli pada lingkungan, namun aku tidak yakin soal pendapatmu.”
“Kalau aku, aku merasa di dunia modern lebih nyaman,” Ucap Adro sambil menatap langit cerah.
“Benarkah? Apakah karena ada aku?” Grace menyeringai, membuat Adro tertawa kecil.
“Tentu saja itu adalah alasan utamanya.” Adro mengangkat tangan Grace yang sedang ia genggam, lalu mengecup punggung tangan lembut tersebut. “Tapi di samping itu, aku juga merasa dunia modern lebih menarik dan menyenangkan.”
“Itu karena kau sangat tampan seperti dewa yang jatuh dari langit. Dunia modern sangat mementingkan penampilan, kau tahu,”
“Aku tahu.” Adro menggidik bahunya sekilas. “Hal itu semakin membulatkan pendapatku bahwa aku lebih cocok tinggal di sana.”
Menanggapi tawa Adro, Grace hanya bisa menggeleng lelah. Satu hal yang ia sadari dari diri Adro setelah mereka sudah benar-benar berpacaran, pria itu memiliki sedikit sifat narsistik.
“Namun, apapun itu … tempat yang paling tepat untukku adalah tempat di mana kau berada,” Lanjut Adro, membuat Grace tersipu.
“Apakah saat tinggal di sini kau juga semahir itu merayu-“
“AWAS!”
Secepat kilat, Adro menarik tubuh Grace ke belakang sebelum melompat ke depannya. Dalam dua detik yang sama, ia menarik keluar pedangnya dan mengayunkannya ke udara.
KAKKK!
Suara teriakan burung itu lenyap sekejap, tergantikan dengan suara cipratan cairan dan suara sesuatu yang besar terjatuh ke atas tanah berumput.
Terengah, Grace mematung dalam posisi terduduk di atas tanah. Adro yang menariknya dengan cepat tadi membuatnya terjatuh. Namun, hal yang lebih mengejutkannya adalah makhluk besar aneh yang melesat ke arah mereka dalam kecepatan penuh. Beruntung, ia memiliki Adro yang mampu bergerak tak kalah cepat hingga berhasil membelah tubuh burung raksasa tersebut hanya dalam sekali tebasan. Kini, burung putih dengan cakar raksasa dan mata merah menyala itu sudah tergeletak di dekat mereka.
“Kau tidak apa-apa? Maaf aku mendorongmu,” Adro segera membantu Grace berdiri.
Grace menggeleng. “Aku baik-baik saja. Tapi … apakah itu monster?” ia menatap burung yang sudah terbelah dua itu. “Da-darahnya … berwarna biru terang. Itu sungguhan darah, ‘kan?”
“Kau benar, itu adalah darahnya. Ia memiliki darah seperti itu karena ia adalah monster atau hewan biasa yang telah menerima banyak sihir hingga berbentuk seperti itu. Aku tidak pernah melihat burung seperti itu di dalam hidupku. Ini pasti adalah pekerjaan penyihir sialan itu.”
“Apakah darah biru mermaid seperti itu wajar terlihat di duniamu?”
Adro menggeleng. “Bahkan naga tidak memiliki darah seperti itu.” Lalu, ia menyimpan pedangnya kembali sebelum menggandeng tangan Grace. “Kita harus cepat ke istana. Keadaan di luar sini sangat berbahaya.”
Kemudian, keduanya kembali berjalan dengan langkah lebih cepat hingga sampai pada bagian hutan yang lebih lebat hingga membuat cahaya matahari mulai kesulitan mencapai tanah.
“Tunggu sebentar,” Adro menghentikan langkah mereka, dan memperhatikan sekeliling. Ia menghampiri salah satu batang pohon di dekatnya.
“Seperti bekas sayatan.” Gumam Grace, meraba goresan pada batang pohon yang Adro perhatikan. “Apakah ini bekas pedang atau pisau?”
Adro menggeleng. “Ini bukan senjata, melainkan cakaran hewan – Hewan aneh. Bekas cakaran ini tersebar di banyak pohon sejak lima puluh meter yang lalu.”
Mata Grace membesar. Ia segera memperhatikan beberapa pohon di sekelilingnya dan baru menyadari bahwa sangat banyak bekas sayatan yang sama. Kemudian, Grace kembali pada Adro untuk mendapati wajah khawatir pria itu. “A-apakah seburuk itu? Mungkinkah kita selamat?”
Mendengar pertanyaan Grace, Adro segera merubah raut wajahnya, dan tersenyum lembut. Ia mengusap kepala Grace dan menjawab, “Ini memang bukan sesuatu yang bagus, namun kau tidak perlu khawatir karena aku akan selalu melindungimu. Percayalah bahwa aku adalah petarung yang hebat di medan perang. Tapi, aku ingin kau berjanji untuk tidak pernah melonggarkan kewaspadaanmu dan kau harus mengatakan padaku jika kau mulai merasa lelah, sehingga kita bisa beristirahat sebentar.”
Grace tersenyum lega. Raut khawatir pada wajahnya dengan cepat sirna. Ia mengangguk. “Aku berjanji, dan aku belum merasa lelah.”
“Itu bagus. Aku mengetahui area ini. Kita berada sekitar tiga kilometer dari kawasan istana. Bertahanlah,” Ucap Adro.
Setelah berjalan sekitar tiga puluh menit, perjalanan mereka kembali terhenti karena telinga tajam Adro samar-samar mendengar suara ribut dari kejauhan. Merasa familiar, Adro yakin itu adalah suara sekelompok prajurit yang sedang bertarung. Karena itu, ia memutuskan untuk mencari sumber suara tersebut.
Semakin lama, suara ribut itu semakin keras terdengar hingga menuntun Adro dan Grace menuju sebuah jurang tengah hutan yang tidak terlalu tinggi. Dengan mengendap-endap, Adro mendekati pinggir jurang tersebut untuk mengintip apa yang sedang terjadi di bawah, dan menemukan sekelompok pasukan prajurit manusia sedang bertarung melawan kumpulan Ogre dan Goblin.
Mengikuti Adro mengintip ke bawah, Grace menutup mulutnya dengan tangan. Matanya terbelalak lebar melihat makhluk-makluk berwarna hijau kecoklatan yang memiliki ukuran raksasa itu. Monster-monster itu sangat mirip dengan monster-monster yang sering muncul di flm fantasi. Bagaimana mungkin manusia di kehidupan sesungguhnya dapat mengalahkan raksasa sebesar itu?
Menoleh pada Grace yang berada di sampingnya, Adro menyadari raut ketakutan pada wajah gadis itu. Ia segera meletakkan tangannya di atas kepala Grace hingga gadis itu menoleh tanya padanya. “Ayo kita bersembunyi. Kau tidak harus melihat itu.”
Grace mengangguk cepat, lalu mereka merangkak mundur untuk bersembunyi di balik sebuah pohon besar yang memiliki banyak akar tumbuh melintang-lintang keluar dari tanah.
“Manusia-manusia itu … mereka orang baik, ‘kan? Apakah mereka akan baik-baik saja melawan raksasa-raksasa itu?” Bisik Grace begitu mereka mencapai sebuah cekungan di bagian bawah batang pohon besar tersebut. Suara ribut dari pedang yang saling beradu, teriakan pria-pria, dan geraman monster masih dapat jelas ia dengar.
“Mereka adalah prajurit kerajaanku.” Adro tersenyum.
Kedua alis Grace terangkat. “Benarkah?”
Adro mengangguk sekali. “Dan mereka sangat hebat. Meski terdengar berisik, mereka bisa mengalahkan monster-monster itu dengan mudah. Kita hanya perlu menunggu sebentar, lalu kita bisa menghampiri mereka agar mereka mengantar kita ke istana.”
Senyum merekah di bibir Grace. “Jadi itu artinya kita selamat?”
Adro turut tersenyum, lalu mengusap kepala Grace. “Aku sudah bilang, kau tidak perlu khawatir.”
Setelah menunggu dalam diam, akhirnya suara pertarungan berhenti, disusul oleh sorakan singkat para pria yang menandakan para prajurit itu telah memenangkan pertarungan. Itu adalah sebuah alarm bagi Adro dan Grace untuk keluar dari persembunyian mereka.
“Ayo,” Adro menggandeng Grace menuju pinggir jurang tadi.
Seperti kedengarannya, para prajurit kerajaan Groendez a Lend benar telah membunuh semua monster. Dengan semangat membara, Adro membentuk simbol bulat dengan jari jempol dan telunjuknya, lalu meletakkan ujungnya di antara kedua bibirnya.
Suara siulan keras dari arah atas membuat sekelompok prajurit itu menoleh. Mereka mendapati seorang pria dan wanita tengah berdiri di pinggir jurang, sementara si pria terlihat melambai singkat pada mereka.
“Bukankah itu?” Gumam salah satu prajurit yang mengenakan helm dengan ukiran kuda di kedua sisinya.
“Siapa mereka, komandan?” Seorang prajurit menghampirinya dengan tangan kiri terangkat ke samping kepalanya sebagai pertanda agar seluruh prajurit menahan tembakan panah mereka dari kedua orang asing yang sedang bergerak menuruni jurang untuk menghampiri mereka.
“Pria itu … Wajahnya sangat mirip dengan Pangeran Adro.” Jawab sang komandan.
.png)
Komentar
Posting Komentar