Langsung ke konten utama

83. Putra Mahkota Telah Kembali // Pengantin Pria Dari Negri Dongeng

 

Adro mengangkat kedua tangannya di samping tubuhnya, sedangkan Grace mengikuti dengan mengangkat miliknya ke udara.

“Tolong jangan menembak. Ini aku; Pangeran Adro, Putra Mahkota kalian.” Ucap Adro dengan suara agak lantang sembari melangkah mendekati kelompok prajurit kerajaannya yang sedang membidik panah padanya.

“Yang Mulia?” Komandan prajurit itu bergerak ke depan barisan. Matanya menyipit dan kepalanya bergerak miring sedikit. “Apa itu benar kau?”

Adro tersenyum lebar. “Ini aku, Maxim. Rambutku mungkin agak berubah, namun ini sungguhan aku.”

“Berdasarkan apa kami bisa percaya bahwa kau sungguhan Pangeran Adro? Penyihir-penyihir itu sudah melakukan banyak tipu muslihat dan kekacauan. Kau pikir kami akan percaya begitu saja?” Tanya Komandan yang bernama Maxim itu.

Sebuah tawa kecil mengalir sejenak dari bibir Adro yang terus tersenyum. Ia mengangguk-angguk membenarkan. “Aku mengerti. Itulah yang harus kalian lakukan. Kau adalah komandan yang kristis, Maxim - Itulah alasan kau dipilih untuk menjaga keamanan kawasan Timur kerajaan. Tapi percayalah; aku adalah Adro. Aku dijebak oleh penyihir di hari pernikahanku.”

“Jika benar, kenapa kau terlihat biasa saja sekarang? Satu-satunya reaksi seorang mempelai pria yang tidak sengaja meninggalkan pengantinnya di hari pernikahan mereka adalah khawatir. Namun sekarang, kau berbicara seakan itu bukanlah apa-apa.”

“Dan penampilanmu sangat aneh. Pakaian dan potongan rambutmu tidak biasa, termasuk gadis itu,” Wakil Komandan Maxim, Vernandez, menimpali.

Adro melirik Grace sejenak, lalu memberikan senyum hangat yang segera diartikan oleh Grace bahwa ia tidak perlu khawatir. Kemudian, Adro kembali pada Maxim dan Vernandez.

“Aku menghilang karena dijebak oleh penyihir itu ke dunia lain. Aku tidak bisa kembali ke sini sehingga terpaksa menjalani hidup di sana. Itu adalah dunia yang tidak dapat kalian bayangkan. Dan dari sanalah aku mendapatkan semua barang-barang yang menempel padaku sekarang.”

Penjelasan Adro membuat Maxim dan Vernandez saling menatap. Sementara itu, telapak tangan Vernandez masih terangkat sebagai simbol agar para prajurit tetap membidik kedua orang itu.

“Aku mengerti bahwa penyihir itu telah membuat kekacauan terlalu besar sehingga sukar bagi kalian untuk mempercayaiku meski kalian telah melihat wajahku. Tapi aku benar-benar harus bertemu raja sekarang untuk menghentikan semua kekacauan ini. Jika kalian ragu padaku, kalian bisa menawan kami hingga sampai di istana.” Tutur Adro.

Kembali saling menatap, Maxim mengangguk sekali pada Vernandez sebelum memerintahkan seorang prajurit membawa tali untuk mengikat tangan Adro dan Grace. Setelah tangan keduanya terikat ke belakang, Vernandez menurunkan telapak tangannya hingga semua prajurit menurunkan senjata mereka.

“Aku harap kau sungguh Pangeran Adro, dan aku meminta maaf harus melakukan ini. Banyak hal yang terjadi sehingga raja memerintahkan kami untuk tidak mempercayai siapapun di luar istana. Satu-satunya yang berhak menentukan apakah kau adalah Pangeran Adro yang asli atau bukan adalah raja sendiri.” Ucap Maxim.

“Aku megerti. Namun, aku minta agar kalian tidak bersikap kasar pada gadis ini.” Adro menoleh pada Grace. “Aku yang membawanya ke sini dan ia harus selalu berada di dekatku.”

Grace tersenyum tipis pada Adro, lalu memberikan gerakan mulut ‘Terima kasih’.

Sikap pria yang sangat mirip dengan putra mahkota kerajaan mereka membuat para prajurit itu saling menatap. Sebagai sesama pria, mereka tidak menganggap hal janggal itu sebagai pertanda bahwa Adro yang sedang mereka tawan bukanlah Pangeran Adro yang sebenarnya. Namun, mereka tahu ada sesuatu yang terjadi di dunia di mana Adro terjebak yang membuatnya menggandeng seorang gadis di saat ia memiliki seorang calon istri.

Maxim mengangguk. “Selama kalian tidak membuat masalah.”

***

Itu bukanlah perjalan mulus menuju istana.

Dari titik mereka berangkat hingga sampai di pintu gerbang benteng kerajaan Groendez a Lend, gerombolan pasukan yang membawa Adro dan Grace terus-terusan bertemu dengan monster hingga beberapa kali terpaksa menghentikan perjalanan mereka untuk bertarung. Meski begitu, seperti yang Adro katakan, kerajaannya memiliki prajurit-prajurit yang sangat hebat.

“Penyihir sialan itu benar-benar melepas semua monsternya. Bahkan perjalanan singkat menjadi sangat menyusahkan karena mereka.” Ucap Adro.

Maxim yang berkuda di samping kuda yang Adro tumpangi terkekeh meremehkan. “Monster-monster yang kau lihat itu masih bukan apa-apa. Kami kehilangan banyak prajurit saat berusaha menyerang mereka di sarangnya. Hanya sedikit yang kembali selamat.”

Rahang Adro mengeras. “Aku akan membereskan ini, sama seperti ketika aku membereskan kerajaan-kerajaan lain dalam peperangan yang selalu kita menangkan.”

“Aku harap kali ini pun kami bisa mengandalkanmu, Yang Mulia.” Maxim menghela.

Gerbang raksaksa benteng putih itu terbuka. Grace pernah mengunjungi sisa-sisa kerajaan tua yang berada di negaranya. Itu semua sangat megah dan indah, namun, tidak bisa dibandingkan dengan benteng milik kerjaan Adro. Ia tidak tahu ada gerbang sebesar itu yang menempel pada tembok semegah dan setebal itu.

Rombongan memasuki benteng, lalu gerbangnya segera ditutup dan dikunci rapat. Tidak seperti biasa, kondisi benteng istana jauh lebih padat, layaknya ketika terdapat acara besar yang membuat semua warga Groendez berkumpul di alun-alun kota yang terletak di dalam benteng istana. Namun, tidak ada tawa atau sekedar senyuman pada wajah penduduk itu. Ketakutan dan kesuraman seakan menyelimuti mereka.

Adro memasuki benteng istana melalui pintu Timur yang menghadap hutan dan merupakan pintu belakang sehingga ia tidak melihat rumah-rumah warga yang berada di luar benteng. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana nasib bangunan-bangunan di luar benteng jika rumah-rumah di dalam benteng saja nampak banyak yang hancur dan rusak.

Tiba di istana, Adro dan Grace dibawa ke singgasana raja dan ratu, di mana kedua pemimpin kerajaan besar itu sedang menunggu penuh harap setelah baru saja mendapatkan kabar bahwa prajurit patroli menemukan seorang pria yang sangat mirip dan juga mengaku sebagai sang Putra Mahkota.

Ketika seorang penjaga meneriakkan kedatangan Adro, pintu besar terbuka, menampakkan sebuah aula megah dengan lantai marmer berwarna keemasan, dinding berwarna senada namun didominasi oleh pahatan kelompok malaikat anak-anak dan dewasa, dan yang paling mengagumkan adalah langit-langit setinggi tiga lantai yang memiliki lukisan kondisi surga yang dipenuhi malaikat yang sedang menari bersama burung-burung merpati.

Jadi, ini adalah istana yang sesungguhnya? Istana yang masih berfungsi sebagaimana mestinya. Grace tidak pernah membayangkan dirinya bisa menginjakkan kaki di tempat seindah ini. Kekagumannya membuat ia melupakan mengapa ia berada di tempat ini dan apa yang akan segera ia hadapi. Begitu tersadar, ia telah berdiri di depan takhta raja dan ratu, atau lebih tepatnya, kedua orangtua Adro.

“Adro?” Ucap Raja, bangkit dari kursi takhtanya.

“Ayah. Aku Adro, putra sulungmu. Aku sudah kembali.” Tutur Adro.

“Putraku…” Ratu bangkit dari duduknya dengan mata berkaca-kaca. Lalu ia menatap para prajurit dan berseru, “Kenapa kalian mengikat Putra Mahkota?”

Maxim dan Vernandez yang sedang berlutut hormat dengan kepala menunduk, mengangkat wajah mereka.

“Maafkan aku, Yang Mulia. Mengikat Pangeran adalah keputusanku berdasarkan perintah raja untuk tidak mempercayai siapapun di luar istana ini. Aku tidak tahu dan tidak cukup berani untuk menentukan apakah ia adalah Pangeran yang asli atau bukan, mengingat semakin banyak tipu muslihat penyihir akhir-akhir ini.” Jelas Maxim dengan suara lantang.

Tiba-tiba, seorang pria berjanggut putih dan berjubah panjang dengan simbol besar kerjaan memasuki aula tersebut. Ia berjalan dengan tenang, namun tiap langkahnya sangatlah tegas. “Ia adalah pangeran kita.”

“Martheus,” Adro menoleh pada pria yang baru saja sampai di sisi singgasana raja.

“Mohon ijinkan aku memberi pandangan berdasarkan kemampuanku sihirku, Yang Mulia.” Martehus menundukkan kepalanya sejenak sebelum melanjutkkan, “Tidak ada jejak sihir apapun di tubuh pangeran dan kawannya selain sedikit percikan sihir pembuka portal penyebrangan.”

“Tentu saja ia adalah Adro. Aku bukanlah ibunya jika aku tidak mengenali putraku sendiri,” Ucap ratu sebelum berhambur untuk memeluk Adro sambil meneteskan air mata, membuat semua orang menunduk.

“Kemana saja kau, putraku? Aku pikir aku telah kehilangan dirimu…” Tangis ratu.

Membalas pelukan ibunya dengan erat, Adro menjelaskan, “Aku dijebak oleh penyihir itu hingga terpental ke dunia lain. Aku tidak bisa menemukan jalan kembali dan terjebak di sana. Maaf telah membuatmu khawatir, ibu,”

Di samping Adro, Grace mengambil satu langkah menjauh untuk memberi ibu dan anak itu ruang. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Namun, ia terselamatkan dari kecanggungan ketika Maxim datang menghampirinya.

“Maafkan kelancangan kami telah mengikat tanganmu, nona. Mohon biarkan aku melepaskannya,” Ucap Maxim.

“O-oh, itu tidak apa. Terima kasih,” Jawab Grace, mengarahkan tangannya yang terletak di belakang punggungnya pada Maxim.

“Putraku,” Raja menghampiri Adro.

Melepaskan pelukannya dari sang ibu, Adro mendapati ayahnya telah berdiri di hadapannya. Ia tersenyum ketika sang ayah meletakkan tangannya di atas pundaknya.

“Kau telah pergi sangat lama, kau tahu itu?” Tanya raja.

Adro mengangguk. “Maaf soal itu. Aku tahu terjadi kekacauan besar di sini. Seharusnya aku ada bersama kalian.”

“Tidak.” Raja menggeleng. “Aku yang harus meminta maaf karena kepulanganmu tidak akan menjadi sesuatu yang terasa istimewa. Tidak akan ada pesta, bahkan syukuran. Rakyat sedang menderita.”

“Ayah, apakah perpisahan kita selama tiga tahun ini membuatmu melupakan sifat putramu? Kau tahu aku tidak pernah membutuhkan pesta dan selalu mengedepankan kepentingan rakyat.” Jawab Adro.

Raja tersenyum sendu. “Kau benar adalah putra sulungku.”

“Eum, lalu… apakah gadis manis ini adalah kawanmu, Adro?” Tanya Ratu, menatap gadis beriris coklat yang menatap mereka canggung.

“Oh,” Adro segera melangkah menghampiri Grace dan menggandeng tangannya. “Namanya Grace Menken. Ia adalah kekasihku.”




Komentar