“A-aku…”
Kening Jocelyn mengkerut. Diam-diam, ia meneliti gadis di hadapannya dari atas kepala hingga kaki. Dari pakaiannya, gadis itu terlihat seperti seorang bangsawan biasa, sama seperti gadis-gadis yang selama ini datang ke istana untuk menemui Damian.
“Oh, apakah aku membuatmu tidak nyaman?” Tanya Jocelyn perlahan karena gadis di depannya nampak gugup. “Apakah kau ingin duduk di taman dan menikmati secangkir teh?”
“A-aku tidak yakin…” Gumam Grace, berusaha mengatur degub jantungnya yang tidak karuan.
“Aku dapat melihat kau sangat tertarik pada taman ini. Biasanya, taman ini hanya bisa dimasuki oleh anggota keluarga kerajaan, namun taman ini adalah milik tunanganku, jadi aku bisa menemanimu masuk jika kau mau,” Jelas Jocelyn ramah, lalu mengulurkan tangannya. “Aku tahu ini sudah cukup larut, namun teh kami sangatlah ringan,”
Menatap tangan mungil, lentik, dan nampak sangat lembut yang tergantung di hadapannya, Grace tidak berkutik selain menjabat tangan tersebut. Ia tidak sampai hati membiarkan tangan manis itu terjulur sia-sia di sana.
Lembutnya genggaman tangan Jocelyn membuat Grace tidak sadar sudah melangkah memasuki taman itu hingga berakhir di sebuah gazebo bulat dengan lantai marmer yang dikelilingi empat pilar kecil yang masing-masing menopang patung malaikat anak-anak.
“Silahkan duduk,” Ucap Jocelyn anggun.
“Te-terima kasih,” Balas Grace, lalu mengatupkan bibirnya.
“Aku Putri Jocelyn Mariegold Pentapore, putri bungsu Raja Lucius Arvi Pentapore dan Ratu Levicia Pentapore. Aku adalah tunangan dari Pangeran Adro Alymer Groendez.” Jelas Jocelyn, membungkukkan punggungnya sedikit. Lalu ia melebarkan senyum tipisnya. “Kelihatannya kau adalah gadis yang pemalu. Apakah kau sedang mengungsi ke sini seperti tiga putri lainnya?”
“O-oh, eum, aku … itu …” Grace melarikan pandangannya ke bawah.
Jocelyn segera menimpali. “Tidak apa jika kau tidak nyaman menjelaskannya. Aku tahu, omongan orang-orang yang mengatakan kalian hanya putri yang memanfaatkan Pangeran Damian sangatlah tidak pantas. Namun percayalah, aku tidak pernah memiliki penilaian serupa, begitu pula dengan Raja dan Ratu Groendez. Kami mengenal Pangeran Damian dengan baik. Ia bukan pria seperti itu.”
Grace tersenyum. Kedengarannya Pangeran Damian memiliki reputasi sebagai pria dengan banyak wanita. Karena ia adalah adik Adro, ia mungkin memiliki ketampanan yang sama, sehingga itu tidak mengherankan.
Menghela panjang, Jocelyn mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Senyumnya dengan cepat berubah sendu. “Taman ini membuat hati menjadi tenang. Selama Pangeran Adro menghilang, aku selalu datang ke sini. Kenangan-kenangan yang kami bagi bersama sejak kecil di sini sangat membantuku di saat aku merindukannya.”
Memandangi Jocelyn, Grace hanya bisa menahan denyut perih di hatinya. Gadis polos itu begitu cantik, tidak, ia sungguh mengagumkan. Semakin lama, Grace menyadari keindahan Jocelyn bahkan tidak bisa dituangkan ke dalam lukisan. Semakin lama, ia merasa lukisannya di rumah masih penuh dengan cela. Bagaimana seorang pria dapat menolak keindahan itu?
Jadi, di taman ini, Adro dan Jocelyn membagi masa kecil mereka hingga dewasa bersama. Jadi, Adro menuangkan semua perhatiannya pada taman ini bukan karena ia menyayangi tamannya, namun untuk menyenangkan seorang wanita yang menyukai taman ini.
“Tapi ... orang yang selama ini aku tunggu dan doakan ternyata telah memandang wanita lain. Hal itu mempengaruhi perasaanku terhadap tempat ini,” Lanjut Jocelyn.
Mata Grace membulat besar. Kalimat itu terasa seperti tikaman pada jantungnya yang sudah membengkak. Ia hanya bisa membisu sambil menatap wajah sendu Jocelyn dan mata birunya yang berkaca-kaca.
“Maaf, aku tidak bermaksud membagi bebanku denganmu,” Jocelyn segera menghapus air matanya dan tersenyum kembali. Di saat yang sama, teh mereka datang.
“Sebentar lagi makan malam, jadi aku tidak meminta terlalu banyak cemilan pada pelayan. Silahkan dinikmati,” Ucap Jocelyn seraya meraih cangkir porselennya.
“Terima kasih,” Ucap Grace dengan suara pelan.
Tidak melepas pandangannya dari Jocelyn, Grace menyesap tehnya tanpa bisa merasakan betapa nikmatnya minuman itu. Meski terus tersenyum, kedua mata indah Jocelyn tidak bisa berbohong tentang kesedihan dan kekecewaan mendalam yang sedang ia rasakan.
“Ah… Teh hitam dan pemandangan indah adalah obat mujarab,” Desah Jocelyn, lalu ia tersenyum dan menatap gadis di sampingnya. “Jadi, apakah kau sudah merasa cukup nyaman untuk memperkenalkan dirimu? Aku harap begitu…”
“Eum… A-aku… Namaku…” Grace tergagap.
Jocelyn tertawa kecil sembari meraih satu tangan Grace, dan menggenggamnya. “Tidak perlu gugup. Anggap saja aku saudarimu. Aku akan menjadi temanmu selama kau berada di sini. Karena itu, bersikap santailah padaku. Jadi, siapa namamu?”
Menatap kedua mata berbinar Jocelyn, Grace mulai menyesali keputusannya untuk datang ke taman ini. Namun, ia tidak bisa selamanya menghindar. Bahkan jika bukan sekarang, ia akan bertemu dengan Jocelyn tidak lama lagi.
“Namaku … Namaku Grace Menken.” Ucap Grace setelah menarik napas panjang.
Kening Jocelyn seketika mengkerut. Grace? Ini adalah sebuah kebetulan karena gadis yang tadi disebutkan Adro juga memiliki nama yang sama.
“Grace Menken? Hm… Aku tidak ingat pernah mendengar nama keluarga Menken sebelumnya,” Jocelyn melirikkan matanya ke atas sambil mengetuk-ngeketuk dagu bulatnya dengan jari. “Jadi, kau berasal dari kerajaan apa?”
“Eum… Aku ... tidak berasal dari kerajaan apa pun. Aku tidak berasal dari sini,” Jawab Grace.
“Rakyat biasa, yah? Tapi tentu saja kau merupakan rakyat dari sebuah kerajaan,” Jocelyn terkekeh kecil. “Jika bukan dari kerajaan ini, dari wilayah kerajaan mana kau berasal? Di mana keluargamu tinggal?”
Menggigit bibir bawahnya sejenak, Grace menjawab, “Aku tidak berasal dari kerajaan apa pun karena aku tidak berasal dari dunia ini. Aku … aku berasal dari dunia lain dan bukan teman Pangeran Damian – Aku bahkan tidak mengenalnya.”
Penjelasan Grace membuat Jocelyn mengerutkan keningnya. Perlahan, ia melepas genggamannya dari tangan gadis itu. “Apa yang kau maksud dengan dunia lain? Lalu, bersama siapa kau datang?”
“Itu adalah dunia yang jauh berbeda dengan dunia ini – Dunia yang hanya bisa disebrangi melalui pintu penyihir. Dan aku … aku datang bersama Adro … maksudku, Pangeran Adro,” Jelas Grace.
“T-tidak… kau tidak mungkin adalah…” Jocelyn menutup mulutnya sembari menatap Grace dengan horror.
Mengepalkan tangannya kuat sambil menahan air mata, Grace menundukkan kepala. “Maaf. Aku sungguh minta maaf, namun aku adalah kekasih Pangeran Adro. Kami bertemu di duniaku dan sudah cukup lama menjalin hubungan.”
Titik air mata menuruni pipi Jocelyn. Ia termenung, berusaha mencerna keadaannya dan penjelasan Grace. Ia tidak percaya ini. Di saat ia datang ke taman penuh kenangan ini untuk menenangkan dirinya karena pencampakan dari tunangannya, ia malah bertemu dengan kekasih tunangannya itu dan membawanya masuk ke dalam.
“Kau …” Jocelyn kembali berfokus pada Grace. “Kau tahu, ‘kan, Adro telah memiliki calon istri? Kau tahu bahwa aku adalah tunangannya, ‘kan?”
Meremas kedua tangannya sendiri, Grace mengangguk kecil. “Aku sungguh minta maaf. Aku sangat tidak tahu diri dan tidak tahu malu. Aku adalah wanita hina yang pantas dibenci-“
“Tidak.” Jocelyn memotong kalimat beruntun Grace. Air matanya mengalir semakin deras. “Aku tidak ingin mendengar itu, Nona Menken. Permintaan maafmu dan penghinaanmu terhadap dirimu sendiri tidak akan merubah apa pun. Ia tetap akan meninggalkanku, dan hidupku berakhir,”
Kalimat dan air mata Jocelyn seperti sebuah penyiksaan untuk mata dan telinga Grace. Ia tidak tahu harus berkata apa, hanya dapat mengatupkan kedua rahangnya sambil menahan tangis karena ia bukanlah orang yang pantas mengeluarkan air mata di sini.
“Nona Menken,” Panggil Jocelyn, berusaha mengusap air matanya dan mengendalikan isakannya. “Kau adalah wanita baik-baik – Aku dapat melihatnya dengan jelas. Mungkin … mungkin apa yang kalian lalui bersama di dunia itu membuatmu mencintai Adro. Mungkin juga saat itu kau berpikir Adro tidak bisa kembali ke dunia asalnya sehingga tidak apa menjalin hubungan dengannya meski ia adalah pria dengan calon istri. Namun sekarang kau dapat melihatnya dengan jelas; Ia telah kembali ke sini dan aku, calon istrinya, masih berada di sini tanpa satu malam pun lupa mendoakan kepulangannya.”
“Nona Menken, Adro bersikeras membatalkan pernikahan kami meski mengetahui dampaknya pada masa depanku. Sebelum ia menghilang, aku adalah prioritasnya. Sebelum ia menghilang, ia sangat menyayangiku dan peduli padaku. Namun sekarang … tatapannya dingin padaku, seakan ia bukan Adro yang dulu aku kenal.” Lanjut Jocelyn dengan pundak bergetar.
“P-putri,” Gumam Grace, diam-diam menghapus air mata yang menggenangi sudut matanya.
“Kau adalah alasan Adro membatalkan pernikahan kami. Karena itu … aku mohon … tolong tinggalkanlah Adro. Kembalikan calon suamiku padaku. Kembalikan Adro menjadi … menjadi dirinya yang dulu,”
.png)
Komentar
Posting Komentar