“Jadi, pangeran yang menghilang telah kembali dengan informasi penting tentang musibah mengerikan ini,”
“Bagaimanapun, selamat atas keberhasilanmu kembali ke sini. Sejauh ini, tidak ada yang selamat setelah menghilang akibat ulah penyihir.”
“Itu karena korbannya adalah anak-anak.”
“Informasi itu …”
Kelima pria di ruangan itu menoleh pada seorang pria tua dengan mahkota berukir pohon Eek. Dari keenam pria di meja bundar besar itu, hanya dirinya yang tidak memakai senyuman di wajahnya.
“Apakah informasi itu sesuai dengan pelanggaran perjanjian yang kau lakukan, Pangeran Adro?” Lanjut Raja Pentapore.
“Hal itu akan segera kau ketahui, Yang Mulia. Dan aku yakin, semua orang di sini akan setuju setelah mendengarnya.” Jawab Adro, menatap sosok pemimpin terhebat kerjaan Pentapore.
Di sebrang Adro, Raja Groendez hanya memandanginya dalam diam. Benar, ia tidak bisa menyembunyikan sukacitanya karena putra sulungnya telah kembali, namun ia tidak pernah setuju pada keputusan Adro membatalkan perjanjian pernikahan yang berdampak fatal tersebut.
“Kami siap mendengarkan, Pangeran,” Ucap Raja Lamos yang kemudian mendapatkan anggukan dari Raja Volev dan Raja Narahen.
“Penyihir yang menjadi dalang kekacauan ini bernama Julius. Ia adalah penyihir biasa yang mendapatkan kekuatan dari sebuah batu ajaib. Dengan kekuatan itu, ia dapat mengendalikan para monster yang berasal dari dunia bawah tanah. Julius berencana mengendalikan negri ini dengan membunuh Raja Groendez. Ia memiliki kemampuan membuat portal pintu antar dunia, dan menjebakku ke dalamnya.” Jelas Adro.
“Apakah ia adalah orang yang juga bertanggung jawab atas kejadian menghilangnya anak-anak kecil saat itu?” Tanya Raja Volev.
Adro mengangguk. “Tujuan utamanya adalah membunuh Raja Groendez. Saat itu, ia berusaha membuat seorang anak yang sangat mirip denganku untuk kemudian menukarku dengan anak itu demi mengelabuhi raja. Aku yakin, anak-anak yang menghilang itu adalah korban percobaannya.”
“Lalu apa kelemahannya dan di mana ia berada sekarang?” Tanya Raja Groendez.
“Ia berada di sarangnya, tempat dengan monster terbanyak-“
“Area barat,” Timpal Raja Narahen. Lalu matanya membesar. “Bukankah Pangeran Damian dan yang lainnya sedang melakukan penyerangan ke sana?”
“Jika tempat itu adalah lokasi monster terbanyak, maka mereka mungkin berada dalam bahaya sekarang.” Jawab Adro, menghela dalam, lalu melanjutkan. “Sayangnya, aku belum mengetahui apa kelemahan Julius.”
“Ha… Kau memiliki semua informasi itu kecuali kelemahannya?” Tanya Raja Pentapore. Lalu ia menatap Adro tajam. “Jika tidak mengetahui kelemahannya, penyerangan hanya akan membuahkan kesia-siaan.”
“Setidaknya kini kita mengetahui siapa yang harus kita serang. Masalah cara mengalahkannya, kita bisa mencari tahu,” Balas Raja Groendez.
“Mencari tahu tentang itu akan menghabiskan banyak prajurit dan … sorcerer,”
Kalimat Raja Pentapore membuat semua orang saling melirik. Saat ini, pemilik sorcerer terhebat dan terbanyak adalah Kerajaan Pentapore, tidak disangka, raja yang biasanya berhati besar dan rendah hati akan besar kepala ketika memiliki sedikit saja kelebihan.
“Jika itu adalah pendapatmu, maka kita tidak perlu melakukan penyerangan dan mencari tahu tentang kelemahan musuh juga.” Balas Adro enteng.
“Apa? Kau sungguh mengatakan itu, Pangeran Adro?” Sahut Raja Lamos.
“Bukankah itu adalah arti dari ucapan Raja Pentapore? Melakukan penyelidikan dan penyerangan hanya akan menyianyiakan prajurit dan sorcerer.” Jawab Adro sambil tersenyum tipis. “Kita bisa terus bersembunyi di balik benteng, berlindung hingga para monster itu berlipat ganda dan benteng tidak lagi mampu menahan mereka. Kita bisa membiarkan mereka berkeliaran menghancurkan dunia luar selagi itu bukan benteng kita, benar?”
Ucapan Adro membuat semua orang diam, termasuk Raja Pentapore. Pangeran Adro memang terkenal atas kespontanitasannya dalam berbicara, namun mereka tidak menyangka ia akan menjadi sefrontal ini setelah kembali dari dunia yang katanya tidak dapat mereka bayangkan. Kesopanannya terhadap para orangtua merosot jauh.
“Pangeran Adro benar.” Raja Lamos bersuara. “Pada akhirnya, kita harus menyerang para monster itu. Bahkan jika kita terus berlindung, peperangan akan pecah suatu saat jika kita semakin tersudutkan. Pertumpahan darah tidak akan terhindarkan.”
“Raja Pentapore, sahabatku,” Raja Groendez menatap pria bermata biru itu. “Aku tahu kau kecewa pada keputusan Pangeran Adro yang membatalkan pernikahannya dengan putri kesayanganmu. Kau bisa melampiaskan kemarahanmu secara pribadi kepada kami, namun aku harap kau masih bisa berpikir luas untuk tidak mengorbankan negri ini dan semua rakyat di dalamnya.”
Raja Narahen berdehem. “Kerajaan kita sudah bersahabat selama berabad-abad. Bahkan jika kita tidak memiliki sorcerer, kita tetap akan mengerahkan prajurit-prajurit terbaik kita untuk melindungi tanah kita, bukan?”
“Itu benar. Masing-masing dari kita memberikan yang terbaik yang kita miliki karena ada keluarga yang harus dilindungi. Kita memiliki musuh yang sama, untuk apa harus berpencar?” Tambah Raja Volev.
Mengeratkan rahangnya, Raja Pentapore menanggapi, “Baiklah. Kalian benar, kita memiliki musuh yang sama sehingga lebih baik menyatukan kekuatan dengan mengerahkan kekuatan terbesar yang kita miliki. Namun bagaimana jika kita membiarkan Pangeran Adro yang mencari jalan keluar untuk masalah ini dengan menggunakan segala pengetahuan yang ia dapatkan dari dunia lain itu?”
Tersenyum miring, Adro menatap Raja Pentapore. “Aku dapat melihat kau sedang mencoba menghukumku,”
“Menghukum atau meminta pertanggung jawaban adalah hal yang bisa dikatakan sama. Tunjukkan pertanggung jawabanmu atas keputusanmu yang membuat masa depan putriku berantakan. Jika kau gagal, bersumpahlah untuk menerima ganjarannya.”
“Aku bersumpah … bukan hanya menerima ganjaran apa pun, namun menghentikan semua kekacauan ini.” Jawab Adro tegas.
***
“Mereka menakjubkan,” Gumam Grace, memandangi para prajurit yang sedang berlatih pedang di lantai bawah.
“Berkediplah atau matamu akan segera kering,”
Grace terlonjak, dan menoleh pada sumber suara. “Adro?”
Pria bermata biru kristal itu tersenyum hangat. “Maaf aku meninggalkanmu cukup lama dan tidak menemanimu makan malam. Ada beberapa hal penting yang harus aku bereskan.”
Diam-diam mengepalkan tangannya, Grace bertanya pelan. “Apa … apa ada masalah?”
Adro menggeleng ringan, ikut berdiri di samping Grace dan bersandar pada pagar pembatas yang mengarah pada lapangan berlatih di bawah. “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Semua baik-baik saja,”
Namun Grace tidak merasa begitu. Ia dapat melihat raut lelah pada wajah Adro - Raut yang sama seperti ketika pertama kali mereka bertemu. Ada sesuatu yang pria itu khawatirkan.
“Apakah para pelayan memperlakukanmu dengan baik? Aku harap mereka menjelaskan padamu bahwa aku sedang rapat bersama beberapa raja.” Tanya Adro.
Grace mengangguk. “Mereka membantuku dengan sangat baik dan, ya, mereka menjelaskan itu sehingga aku tidak khawatir.”
“Lega mendengarnya,” Adro tersenyum. Lalu, ia berdehem, “Kau … terlihat sangat cantik dengan gaun dan riasan itu,”
“O-oh,” Grace menoleh ke bawah pada gaun yang ia kenakan. “Ini berkat ibumu. Pelayan berkata, ia yang memerintahkan mereka memilihkan gaun cantik untukku.”
Adro hanya tersenyum tipis. Dengan kondisi mereka saat ini, seharusnya tidak mungkin ibunya repot-repot meminta pelayan memilihkan gaun cantik untuk Grace. Meski ia adalah pria, ia dapat melihat bahwa itu hanya gaun bangsawan paling standar di tempat ini.
“Adro,” Panggil Grace tiba-tiba.
“Ya?”
“Sepertinya berlatih pedang sangat menyenangkan. Apakah aku bisa melakukannya untuk olahraga malam?” Tanya Grace.
Adro mengangkat kedua alisnya. “Kau yakin? Tidakkah kakimu lelah setelah berjalan seharian menyusuri hutan?”
“Saat menunggumu, aku tertidur cukup lama. Aku takut kesulitan tidur malam ini karenanya,”
“Hm…” Adro mengangguk-angguk sambil berpikir sejenak. “Baiklah. Namun aku yang akan mengajarimu dan kita hanya akan menggunakan pedang kayu. Bagaimana?”
Grace tersenyum. “Tentu saja boleh. Terima kasih.”
Setelah itu, Adro mengambil sebuah pedang kayu yang paling ringan dan membawa Grace ke taman dekat lapangan latihan.
“Pegang gagang pedangnya seperti ini,” Adro berdiri di belakang Grace, lalu membungkus kedua tangan gadis itu dengan tangan besarnya. “Sejajarkan kedua pergelangan tanganmu agar kau bisa menggerakkan pedangnya dengan lentur.”
“M’m,” Grace mengangguk. Namun, Adro yang berbicara tepat di samping telinganya entah mengapa membuat pipinya panas.
“Aku tidak tahu kau tertarik dengan orang yang memainkan pedang, padahal kau sering menonton film peperangan kerajaan,” Ucap Adro, menyempitkan kedua lengannya seakan ia sedang memeluk Grace. “Mungkinkah kau mendengar desas-desus tentang peperangan yang semakin dekat?”
“A-apa?” Grace menoleh, namun hanya untuk membenturkan wajahnya dengan sisi wajah Adro.
Adro tersenyum lembut, lalu mengecup bibir Grace beberapa detik sebelum melepasnya perlahan. “Jangan khawatir. Aku akan selalu melindungimu,”
Tiba-tiba, sebuah rasa bersalah muncul di hati Grace. Ia langsung meronta untuk melepaskan pelukan Adro, dan mengambil beberapa langkah menjauh dari pria itu dengan dada berdebar keras.
“Grace? Apa yang terjadi?” Tanya Adro terkejut.
Menggigit bibir bawahnya, Grace menggeleng kecil. “T-tolong jangan sembarangan memeluk atau menciumku di sini. Seseorang mungkin melihat kita,”
“Oh,” Adro tertawa kecil. “Seingatku aku pernah berkata bahwa sekedar berpelukan dan berciuman bukanlah hal yang dilarang di sini meski kita belum menikah,”
“Adro,”
“Ya?” Tanya Adro, mengerutkan keningnya. “Grace, apa terjadi sesuatu padamu? Kenapa wajahmu seperti itu?” ia melangkah mendekati gadis itu.
“Adro … ada yang ingin aku katakan padamu,” Ucap Grace dengan suara memelan.
Kening Adro semakin mengkerut. Matanya menatap bertanya pada kedua mata berkaca-kaca Grace. “Katakanlah. Apa pun itu, aku akan mendengarkan. Apakah ada yang berbuat buruk padamu sementara aku pergi tadi?”
Grace menggeleng kecil, lalu menarik napas panjang. “A-aku… Aku tidak apa jika … kau ingin melanjutkan pernikahanmu dengan Putri Jocelyn.”
.png)
Komentar
Posting Komentar