“Apa maksudmu?”
Grace menggigit bibir bawahnya dan memaku pandangannya ke bawah. “Kau bisa menikah dengan Putri Jocelyn jika kau memang harus atau jika … kau menginginkannya.”
“Grace!” Adro menelangkup kedua rahang gadis itu dan mengarahkannya untuk menatapnya. Ia melihat air mata perlahan mengalir menuruni pipi gadis itu. “Kenapa kau mengatakan itu? Apa yang terjadi?”
“Aku hanya … berpikir itu adalah yang terbaik, untuk kepentingan banyak orang.” Grace kembali menurunkan pandangannya.
“Tidak. Pasti ada yang mengatakan sesuatu padamu. Katakan padaku, siapa yang mengganggumu?”
“Tidak ada yang menggangguku, Adro.” Grace mengangkat wajahnya, sementara bulir air matanya kembali mengalir. Ia melanjutkan, “Kebalikannya, akulah yang mengganggu mereka.”
“Kau mengganggu mereka?” Ulang Adro. “Grace, kau adalah orang yang paling berjasa di sini. Jika bukan karenamu, aku tidak akan bisa kembali ke sini-“
“Tapi karena aku, kau mencampakkan tunanganmu sendiri!” Potong Grace, membuat Adro terdiam.
Lalu Grace melanjutkan, “Putri Jocelyn … tadi aku bertemu dengannya. Ia adalah gadis yang baik – Ia sempurna, dan ia telah menunggumu dengan setia selama kau menghilang. Kini kau telah kembali, namun kau mencampakkannya karena aku. Penantiannya sia-sia, ia terpukul, dan masa depannya jadi berantakan. Semua itu karena aku,”
Adro tahu, pada akhirnya Grace akan mengetahui semuanya, namun ia tidak menyangka itu akan terjadi secepat ini. Ia berencana untuk memperkenalkan Grace dengan Jocelyn besok setelah ia memikirkan apa yang nantinya harus ia katakan untuk menjaga perasaan keduanya, namun ternyata takdir mempertemukan mereka di istana seluas ini.
“Grace, tenangkanlah dirimu. Aku membatalkan pernikahan kami bukan hanya karenamu, melainkan karena aku sudah mengerti bagaimana rasanya mencintai seseorang. Aku tidak mau menikah dengan orang yang tidak aku cintai.” Jelas Adro pelan.
“Sejak awal, inilah yang aku takutkan. Apakah kau ingat? Ini adalah alasan aku tidak berani memperjuangkan perasaanku padamu, alasan aku tidak ingin ada hubungan serius di antara kita. Aku sudah bilang, aku tidak mau menyakiti gadis lain.” Balas Grace.
“Lalu kau lebih memilih menyakitiku?”
Pertanyaan Adro membuat isakan Grace terhenti. Ketika menyadari ekspresi pada wajah pria itu, tubuhnya mematung.
Adro menatap Grace tajam. Rahangnya mengerat dan lehernya menegang. Terakhir kali ia menangis di dunia ini adalah ketika ia masih balita, namun sepertinya malam ini air mata pria dewasanya akan menetes di tanah ini.
“Aku tidak tahu siapa yang egois di sini - apakah itu kau atau aku. Namun tidak bisakah kau memilihku dibandingkan orang lain? Kita saling mencintai, Grace. Apakah tidak menyedihkan jika harus berpisah hanya karena ada orang lain yang tersakiti?”
“A-aku…” Gracer tergagap. Air mata yang menggenangi mata Adro seperti sebuah tangan kekar yang meremas jantungnya.
“Aku tidak ingin berpisah. Apa pun pilihanmu, seberapa keraspun kau meronta, aku akan tetap memelukmu. Jika bukan denganmu, aku tidak akan menikah. Kau mengerti?” Ucap Adro.
“A-Adro-“
Tanpa menunggu Grace menjawab, Adro langsung mendekap gadis itu erat. “Aku tahu kau mengerti. Yang harus kau lakukan adalah memberanikan dirimu. Aku tahu itu tidak mudah, aku tahu selama ini kau kesulitan melakukannya. Tapi tolong jangan menyerah mencoba berani. Jangan takut, Grace. Jangan takut memperjuangkan kebahagiaanmu karena aku akan terus melindungimu.”
***
‘Aku akan memastikan masa depan Jocelyn akan baik-baik saja - Itu tidak sulit. Karena itu, kau tidak perlu khawatir. Aku bisa membereskan semuanya.’
Kalimat Adro semalam terus bergema di kepala Grace. Ini adalah istana yang sangat indah, namun tiga hari berada di sini terasa seperti tiga minggu karena Grace terus mendekam di dalam kamarnya, memandangi langit jernih kerajaan Groendez dari balkon kamar sendirian.
“Apakah Adro akan berhasil mengatasi semua ini?” Gumam Grace. Lalu ia menghela panjang seraya melangkah masuk ke dalam kamar. Ia mendaratkan bokongnya ke kursi terdekat dan bersandar malas. “Aku bahkan tidak yakin aku bisa kembali.”
Belum selesai masalah peperangan yang semakin dekat dan Jocelyn yang menderita karenanya, kini Grace mengetahui bahwa ia tidak bisa kembali ke dunia asalnya. Sebenarnya, Grace tidak masalah jika ia tidak bisa kembali selama ia bisa terus bersama Adro, namun Adro merasa dunia ini terlalu berbahaya untuk Grace sehingga meminta para sorcerer untuk memulangkan Grace terlebih dahulu. Sayangnya, tidak ada satupun dari mereka yang berhasil membuat portal antar dunia.
‘Jangan takut memperjuangkan kebahagiaanmu karena aku akan terus melindungimu.’
Grace menggigit bibir bawahnya. Selama mengurung diri di kamar karena merasa terintimidasi oleh orang-orang istana, hati dan perasaannya seakan terus berperang siang dan malam. Adro benar, ia harus memperjuangkan kebahagiaannya sendiri. Melihat air mata Adro mengalir, Grace merasa sangat bersalah.
Adro adalah kekasihnya, pria yang ia cintai. Lalu mengapa ia malah menyakiti pria itu demi gadis yang tidak memiliki hubungan apapun dengannya?
“Rasa bersalah yang datang dari kiri dan kanan,” Gumam Grace, mempertemukan ujung kedua jari telunjuknya. “Aku harap Adro benar bisa menyelamatkan masa depan Putri Jocelyn, meski ia tidak mungkin bisa menyelamatkan hatinya yang terluka,”
“Bagaimana … jika aku berada di posisi Jocelyn?” Gumam Grace lagi dengan suara bergetar.
Merasakan nyeri di rongga hidungnya dan panas pada kedua matanya, Grace segera menggeleng keras. “Tidak, Grace. Jangan menyerah! Kau tidak boleh lemah!”
‘Diam di kamar seperti ini membuat pikiranku berkeliaran kemana-mana,’ Keluh Grace sembari bangkit berdiri. ‘Sekarang, semua orang sedang sibuk menyelamatkan keadaan, namun aku hanya santai-santai di sini. Calon mertuaku akan semakin menganggapku tidak berguna,’
‘Kelihatannya kerajaan ini mirip dengan kerajaan jaman dulu di duniaku. Itu artinya, patriarki masih cukup kental di sini. Adro memang bukan pria seperti itu, namun aku tidak ingin dibenci oleh orangtuanya,’ Pikir Grace.
Bagaimanapun, Grace memang tidak seharusnya berdiam diri di dalam kamar. Selain menjadi tidak berguna akan semakin merusak citranya, ia bisa gila jika terus-terusan sendirian tanpa internet atau aktifitas.
Sejak kemarin, Grace telah diijinkan berkeliling istana sepuasnya karena Adro yang bertihtah untuk membiarkan Grace karena ia bukan lagi tamu biasa, melainkan tamu istimewa putra mahkota. Tidak Grace duga, pria itu memiliki kuasa yang cukup besar meski saat ini posisi tertinggi adalah raja. Kelihatannya raja dan ratu sesayang itu padanya meski ia adalah putra yang suka memberontak.
Meski sudah pernah berkeliling sedikit, sulit untuk tidak mengagumi apa yang ia lihat meski itu hanya lantai marmer yang ia pijak. Tidak terasa, Grace sudah berkeliling hingga matahari nyaris terbenam.
“Istana Groendez memiliki sangat banyak taman. Cahaya matahari terbenam membuat pucuk pepohonan terlihat menakjubkan – Itulah yang dikatakan setiap tamu yang berkunjung ke sini.” Jelas Anez dalam langkah ringannya menemani Grace berjalan di pinggiran taman barat.
Namun, Grace tidak memberi tanggapan selain termenung. Ia malah mengeluarkan pertanyaan yang terlalu menyesakkan dadanya, “Apakah aku boleh tahu bagaimana keadaan Putri Jocelyn sekarang?”
“Aku dengar, ia lebih sering mengurung diri di kamar, Nona. Ia beberapa kali mengatakan ingin pulang ke istananya, namun perjalanan menuju Kerajaan Pentapore terlalu berbahaya saat ini.” Jelas Anez.
“O-oh,” Grace menatap kakinya yang tertutup gaun panjangnya.
“Maafkan kelancanganku, Nona. Tapi, apakah kau dan Pangeran berencana untuk menikah?” Tanya Anez takut-takut.
“Hm? Se-sejujurnya, ia sudah melamarku namun kami hanya menunda upcaranya,”
“Oh, itu artinya, kau adalah calon putri mahkota dan akan menjadi ratu ketika Pangeran Adro naik takhta. Aku merasa sangat terhormat bisa melayanimu sekarang, Nona,” Anez menundukkan kepalanya dalam-dalam.
“Ta-tapi… aku tidak yakin soal itu.” Grace menggigit bibir bawahnya. “Lagipula, aku tahu banyak yang tidak setuju,”
“Memiliki status Putri Mahkota adalah peraturan mutlak jika seorang perempuan menikah dengan putra mahkota, apa pun status perempuan itu sebelumnya dan apa pun pendapat rakyat atau anggota kerajaan. Karena itu, kau tidak perlu ragu, Nona,” Anez tersenyum.
“Eum, itu…” Grace menghentikan langkahnya, lalu menghadap Anez.
“Ya, Nona?”
“Apakah … Adro harus menjadi raja suatu saat nanti? Maksudku … apakah itu harus Adro?”
Anez mengerutkan keningnya, lalu mengangguk, “Tentu saja, Nona. Pangeran Adro adalah putra mahkota. Di sepanjang sejarah Groendez dan kerajaan lainnya, aku tidak pernah menemukan raja yang tidak berasal dari putra mahkota. Putra mahkota adalah keturunan laki-laki pertama raja sehingga memiliki garis dewa.”
“A-apa?” Grace mengerutkan kening. Garis dewa? Itu terdengar aneh baginya, namun ia tidak ingin mempertanyakannya lebih jauh karena dunia ini adalah negri dongeng.
KAKK!
Tiba-tiba suara kicauan melengking terdengar dari arah langit.
“AWAS!” Seru seorang pria yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakang Grace.
“Awas, Nona!” Seru Anez, menarik tangan Grace yang sedang memunggungi taman.
Mata Grace membesar saat ia menoleh ke belakang. Seorang penjaga telah diserang oleh seekor monster bersayap yang penampakannya membuat Grace teringat pada dinosaurus bersayap yang pernah ia pelajari di sekolah.
“Astaga!” Grace menutup mulutnya dengan tangan sambil menatap horror pada penjaga yang bagian perutnya sudah dicabik oleh monster itu. Ia terluka karena berusaha melindunginya dan Anez.
KAKK!
Grace dan Anez tersentak ketika monster itu beralih meninggalkan penjaga sekarat itu untuk mengejar mereka.
“Cepat lari, Nona!” Seru Anez, namun, kakinya tersandung hingga ia terjatuh ke depan setelah mereka berlari beberapa langkah.
“Anez!” Grace segera berhenti dan hendak menolong gadis itu, namun monster tersebut sudah terlalu dekat.
“Lari, Nona! Jangan menungguku!” Usir Anez.
“Tidak. Ayo berdiri!” Grace berusaha membopoh Anez.
“Kakiku terkilir. Aku tidak bisa berlari. Tolong Nona larilah. Penjaga akan segera datang menolongku.” Anez berusaha melepaskan tangan Grace.
Di saat yang sama, monster itu melangkah semakin cepat ke arah mereka. Dengan jantung berpacu, Grace melihat sekeliling, lalu mengangguk. Ia melepaskan Anez dan berlari meninggalkannya.
“Tolong! Tolong! Penjaga!” Seru Anez seraya menyeret tubuhnya menjauh dari monster yang sudah berada tepat di depannya.
KAKK!
Monster itu melebarkan sayapnya sembari mengarahkan salah satu cakarnya pada Anez, membuat gadis itu hanya bisa berteriak sambil menutup mata. Namun tiba-tiba, monster itu berteriak lagi, namun dengan suara kesakitan.
Kakkk!
Membuka matanya, Anez mendapati monster tersebut sedang membalik badan dengan punggung terluka sayatan besar. “Nona!”
Dengan napas terengah, Grace menggenggam erat gagang pedang milik penjaga yang tadi menyelamatkannya. “Aku tidak akan membiarkanmu menyakitinya!”
.png)
Komentar
Posting Komentar