Langsung ke konten utama

12. Mencari Petunjuk // Dikutuk Bersama Tuan Vampir

    Banner Novel Seri

Vlador.

Menyaksikan musim terus berganti dan bulan purnama yang muncul dan pergi dari balik jendela kecil terus mengikis jiwa Vlador. Rasa putus asa membuatnya beberapa kali berharap untuk mati, sama seperti keluarga dan bangsanya.

Peperangan antara manusia dan vampir akhirnya berakhir setelah ratusan tahun penuh pertumpahan darah. Sayangnya, peperangan itu dimenangkan oleh bangsa manusia.

Dari generasi ke generasi, manusia dan vampir terus berperang. Sama seperti peperangan lainnya, mereka memperebutkan wilayah untuk berkembang biak, mencari makan, dan membangun peradaban. Vampir selalu menjadi musuh utama manusia karena manusia adalah makanan mereka.

Manusia selalu menganggap bahwa diri mereka adalah keturunan dewa - Berpendapat bahwa mereka adalah ciptaan Tuhan yang paling suci dan sempurna. Selain karena sering membunuh bangsanya, mereka juga membenci vampir karena vampir adalah keturunan iblis, yang adalah benar.

Sama seperti vampir lainnya, Vlador juga sangat membenci manusia. Namun, ia juga membenci para vampir yang mengelilinginya. Saat melihat seluruh keluarganya dibantai, untuk pertama kalinya, Vlador merasa bahagia. Namun senyumnya tidak bertahan lama karena ia ditangkap oleh para manusia yang bekerjasama dengan penyihir.

Mereka menghukumnya atas perbuatan yang tidak ia lakukan, namun hanya karena ia adalah keturunan terakhir yang masih hidup dari Raja Dracount, raja terkuat dan paling ditakuti dari tiga raja vampir yang tersebar di seluruh dunia.

Raja Dracount Ledov Arvadus adalah raja vampir yang telah merendam kedua tangannya di lautan darah manusia. Ia membunuh manusia bukan hanya untuk memuaskan dahaganya, melainkan untuk kesenangan pribadi.

Seluruh keturunan Raja Dracount adalah vampir yang ditakuti, tidak terkecuali Vlador Lev Dracount. Vlador adalah anak terkuat di antara semua saudaranya. Namun ia memiliki sebuah hal yang membuatnya dipandang layaknya sampah oleh semua bangsa vampir, termasuk keluarga yang berbagi garis keturunan dengannya.

Sesudah memastikan seluruh vampir di Galvadea telah musnah, Raja Matteo Alexarus III membayar para penyihir untuk menyiksa Vlador. Ratu dan putra mahkota Raja Matteo yang dibunuh oleh Raja Dracount menumbuhkan akar dendam kuat di dalam jiwanya.

Kerajaan Alexarus yang masih muda dan harus berdiri di bawah kerjaan Galvadea membuatnya tidak dominan dalam peperangan besar itu. Seluruh keluarga Dracount dihabisi oleh kerajaan besar yang tangguh dalam peperangan.

Sebagai vampir terkuat di kerajaannya, Vlador berhasil selamat dari peperangan setelah menciptakan sebukit timbunan tubuh manusia dan penyihir. Namun ketika ia berpikir ia bisa bernapas lega, ia terperangkap dalam jebakan penyihir bayaran Raja Matteo, yang bahkan tidak pernah mendapat sedikit pun perhatiannya.

Seperti mimpi, Vlador dikutuk menjadi abadi meski ia tidak meminum darah manusia. Tubuhnya akan mengering, namun jantungnya tetap berdetak. Ia dirantai di dalam ruang bawah tanah kastilnya sendiri, sementara kastil itu disihir agar hanya terlihat ketika bulan purnama bersinar dan juga tidak dapat dimasuki oleh penyihir lain.

Semenjak ia dikurung, Vlador tidak tahu apa yang terjadi di dunia luar. Hari demi hari berlalu, rasa lapar menggerogoti tubuhnya hingga ke dalam tulang-tulangnya. Ketika bulan dan tahun berjalan melewatinya, Vlador mendapati tubuhnya telah mengering meski kesadarannya tetap penuh.

Keputusasaan telah hinggap di pundak Vlador selama beberapa tahun hingga ia memutuskan untuk berhenti menghitung hari. Rasa lapar yang tak tertahankan membuatnya yakin bahwa ia akan segera mati. Sayangnya, itu tidak pernah terjadi.

Namun di satu malam yang ia pikir tidak ada bedanya dengan malam menyakitkan lainnya, Vlador merasakan kehadiran beberapa manusia di dalam kastilnya. Ketika pintu penjaranya terbuka, seorang gadis manusia cantik muncul di hadapannya, membuat rasa laparnya menggandakan diri.

Di luar semua ekspektasi Vlador, ternyata gadis itu membuatnya terbebas dari kutukan yang membelenggunya selama seratus tahun. Namun sama seperti dahulu, ketika ia berpikir ia bisa bernapas bebas, kutukan lain mengikat lehernya.

Vlador tidak pernah menyukai manusia dan penyihir. Tidak. Ia tidak pernah menyukai siapa pun di dunia ini selain dirinya sendiri. Namun manusia dan penyihirlah yang telah membuatnya menderita selama lebih dari seratus tahun. Bukankah itu alasan masuk akal untuk membuatnya sangat membenci mereka?

Sayangnya, kini, ia harus mencari petunjuk di antara sampah-sampah, di dalam sarang seorang penyihir busuk, dan bersama seorang gadis manusia tidak berguna yang membuatnya terjerat kutukan baru. Bukankah ini jauh lebih buruk dibandingkan jika raja iblis menyeretnya kembali ke neraka?

“Apa… aku terlihat seburuk itu?”

Suara pelan seorang gadis membuat fokus Vlador terusir. Ia mengalihkan pandangannya dari meja menuju gadis berambut blonde itu. Meski ia baru saja mengajukan pertanyaan, wajahnya masih tertunduk dalam.

Vlador menyipitkan matanya. “Apa yang sedang kau bicarakan?”

“Kau berkata bahwa aku terlihat seperti monster. Apakah aku sungguh seburuk itu? Aku tidak dapat menemukan cermin di sini sehingga aku masih tidak bisa melihat bagaimana rupaku sekarang.” Jelas Triana.

‘Oh…’

Vlador menaikkan satu alisnya. Ia bahkan lupa bahwa ia telah membohongi gadis bodoh itu. Karena kesal pada kenyataan bahwa ia kembali terkutuk hanya karena Triana menginginkan kecantikan abadi, Vlador secara spontan mengatakan bahwa gadis itu telah berubah menjadi buruk rupa.

Kelihatannya Triana sungguh menggantungkan seluruh hidupnya pada kecantikannya. Sama seperti wanita-wanita cantik yang Vlador pernah temui, mereka kerap memanfaatkan kecantikan mereka untuk mendapatkan berbagai hal. Para wanita itu adalah penyumbang besar ketidakadilan di dunia ini.

Dapat Vlador lihat jelas, Triana sangat terpukul saat ia mengetahui bahwa kecantikannya telah tergantikan oleh buruk rupa. Ia terus melamun dan matanya tidak berhenti berkaca-kaca. Gadis manusia itu pantas mendapatkannya. Karena keegoisannya, ia menyeret orang-orang ke dalam penderitaan.

“Kau bertanya rupa monster pada seorang monster. Meski begitu, aku akan menjawabnya: Wajahmu adalah wajah terburuk yang pernah aku lihat selama ratusan tahun hidupku.” Jawab Vlador.

Wajah Triana semakin menunduk, disusul oleh air matanya yang menetes ke atas meja. Ia adalah gadis bangsawan paling cengeng yang pernah Vlador lihat. Ya, tentu saja. Seorang gadis cantik tidak berguna adalah produksi dari orangtua dan lingkungan yang memanjakannya. Hidupnya pasti sangat mudah sehingga berbagai hal dapat membuatnya ketakutan dan menangis.

“Berhenti menangis dan carilah-“

“Aku menemukan sesuatu,”

Kalimat Vlador terhenti. Ia melihat tangan mungil Triana yang sedang memegang sebuah tongkat kecil yang terbungkus oleh sehelai kain lusuh dan diikat dengan tali merah.

“Tidakkah ini terlihat mencurigakan?”

Kening Vlador mengkerut. Bukan karena ia melihat benda yang ditunjukkan oleh Triana, melainkan karena wajah gadis itu seketika berubah. Kesedihan tidak lagi tergambar di sana. Meski ia masih terlihat pucat dan lemas, semangat membuat wajahnya menjadi cerah, seakan ia telah melupakan apa yang sedang terjadi padanya. Kedua matanya membulat besar dengan kedua alis terangkat tinggi. Triana menatap Vlador dengan kedua mata besar tanpa rasa takut tergambar di sana.

“Eum… apakah… ini tidak terlihat penting?”

Mengerjapkan matanya sekali, Vlador berhasil mengambalikan fokusnya yang sempat terganggu. Ia tidak mengerti kenapa ia harus membuang waktu mempelajari perubahan ekspresi drastis pada wajah Triana.

Tempat Sendok Garpu >>>

Pressure Cooker >>>




Komentar