Triana.
Langit mulai mendapatkan sinarnya. Triana terbangun mendengar suara ketukan pintu. Butuh dua detik baginya untuk mengingat bahwa ia sedang berada di dalam kamar sebuah penginapan dan kenyataan bahwa semalam ia tidur dengan seorang vampir pria di sampingnya.
Namun Triana menyadari dirinya berada di tengah-tengah ranjang, dengan selimut nyaman berbau apek membungkus tubuhnya. Menatap seluruh kamar sempit itu, Triana mendapati dirinya hanya seorang diri.
Di mana Vlador?
Suara ketukan pintu kembali terdengar, kini dengan kekuatan dan jumlah yang menunjukkan ketidak sabaran pengetuknya.
“Ya,” Seru Triana seraya turun dari ranjang dan berlari kecil menuju pintu.
Membuka pintu tersebut, ia disapa oleh dua orang pelayan wanita yang membawa baskom mandi dan sebuah gaun biru tua.
“Selamat pagi, Nona. Kami datang untuk membantumu membersihkan diri dan berpakaian. Tuan Vlad yang mengirim kami ke sini.” Jelas salah satu pelayan itu.
“Oh, baiklah,” Triana bergeser untuk membiarkan kedua pelayan itu masuk.
“Apa kalian tahu di mana Tuan Vlad?” Tanya Triana sembari merentangkan kedua tangannya ke atas.
“Tuan Vlad sedang mengurus kereta kuda, Nona. Kami akan mengantar sarapanmu setelah ini.” Jawab pelayan itu sembari melepaskan gaun tidur dari tubuh Triana.
Mengangguk kecil, Triana terhanyut dalam pikirannya. Ia tidak menyangka Vlador akan mengirimkan pelayan untuk membantunya berpakaian dan menyiapkan sarapan. Kejadian semalam membuatnya merinding namun di sisi lain memberikan rasa hangat tidak biasa di pipinya.
Pria itu sungguh aneh. Triana tidak mengerti karakternya yang terkadang sangat jahat dan dingin, namun di lain waktu penuh perhatian dan hangat.
Sebenarnya apakah Vlador sungguh menganggap Triana hanya sebagai makanan? Bahkan jika pria itu menjaga kesehatan Triana dan memastikan ia tidak kelaparan karena nyawa mereka terhubung, itu agak aneh jika ia juga memperhatikan pakaian dan kenyamanannya.
Namun bukankah para peternak juga memperhatikan kenyamanan dan kebahagiaan sapi-sapi mereka agar dagingnya lebih berkualitas saat disembelih nanti? Apakah Vlador berpikir seperti itu terhadap Triana? Jika kutukan mereka telah terangkat, apakah vampir itu akan berusaha menyantapnya seperti pertemuan pertama mereka?
“Kau sudah selesai, Nona,”
Tersadar dari lamunannya, Triana mengembalikan pandangannya ke depan, pada cermin ramping yang menempel di samping perapian. Ia tersenyum dan mengangguk kecil.
‘Ini tidak buruk.’
Gaun biru yang mempertegas warna matanya memang tidak seindah gaun yang biasa ia kenakan. Itu terlihat cukup sederhana dengan sedikit bordiran ringan di bagian badan depannya. Triana tidak menyangka bahwa tubuhnya tetap terlihat bagus meski ia tidak mengenakan korset yang kabarnya telah dibuang oleh Vlador.
Setelah mengganti pakaian dan berias, Triana menyantap sarapan sederhananya yang terasa seperti sarapan termewah yang pernah giginya kunyah.
Padahal, itu hanyalah roti, potongan keju, dan sup kaldu sayur. Namun porsinya cukup besar dan dimasak dengan baik hingga masih terasa hangat di tenggorokannya. Kelaparan selama dua hari dan hanya menyantap daging kelinci bakar tak berbumbu sebagai makanan terakhirnya membuat makanan kali ini terasa luar biasa bagi Triana.
Sebelumnya, pelayan menyampaikan pesan Vlador pada Triana agar ia menghabiskan semua sarapannya, atau setidaknya memenuhi perutnya hingga ia tidak dapat menelan makanan lagi. Kelihatannya pria itu sungguh merasa terbebani atas lemahnya tubuh Triana hingga berpikir bahwa makan banyak akan membuat tubuhnya lebih kuat - yang mungkin saja benar.
Tidak menggunakan korset membuat Triana mampu makan melebihi porsi makannya yang biasa. Ia menyadari bahwa ia telah makan terlalu banyak, namun ia akan melanggar peraturan ibunya untuk kali ini. Ia yakin ia telah kehilangan cukup berat badan atas siksaan selama dua hari terakhir. Semua makanan itu akan mengembalikan bobot tubuhnya menjadi normal.
Setelah sarapan, Triana keluar dari penginapan dan menemukan sebuah kereta kuda terparkir di depannya, lengkap dengan sang kusir yang terlihat sedang berbincang dengan Vlador.
Melangkah menghampiri Vlador, Triana hendak memanggilnya, namun hanya sebatas menarik napas saja karena pria itu telah berbalik menghadapnya sebelum ia sempat mengeluarkan suara.
“Terima kasih telah menungguku. Maaf jika aku menghabiskan waktu sedikit lebih lama,” Ucap Triana begitu ia berdiri di depan Vlador.
Tidak merespon, Vlador kembali menatap kusir. “Kita bisa jalan sekarang,”
“Baik, tuan.” Jawab kusir itu.
“Naiklah,” Ucap Vlador pada Triana seraya mengarahkannya pada pintu kereta yang terbuka.
“Baik.” Ucap Triana sembari memegang tangan Vlador yang terbuka untuknya sebagai tumpuan. “Terima kasih,”
Tanpa membalas, Vlador memanjat masuk ke dalam kereta dan duduk berhadapan dengan Triana. Setelah pintu ditutup dari luar, kereta itu mulai melaju.
Terdiam, Triana memaku pandangannya ke luar jendela meski merasa tidak perlu melihat apa pun karena ia hanya menggunakan jendela tersebut sebagai peralihan kegugupannya.
Kejadian semalam tidak akan Triana lupakan. Apa yang Vlador lakukan dan katakan membuat wajahnya memanas.
Seharusnya ia tidak sesensitif ini. Perasaannya terlalu lunak; ia menyadarinya. Namun, entah mengapa, ia tidak dapat menyingkirkan perasaan itu meski ia tahu bahwa Vlador melakukan semua hal itu untuk menakutinya karena kesal.
Kesunyian di dalam kereta memperparah kecanggungan yang Triana rasakan. Ia bahkan tidak sanggup melihat wajah Vlador.
“Apa kau menghabiskan sarapanmu?”
“Ya?” Triana relfek menoleh pada sumber suara itu. Ia menatap Vlador beberapa saat dengan mata membulat.
“Aku bertanya, apa kau menghabiskan makananmu?”
“Oh, i-iya, aku menghabiskannya.” Triana menjawab sambil mengerjap-ngerjap untuk mengumpulkan kesadarannya kembali.
Menyadari Vlador memperhatikannya agak lama, Triana tersenyum kikuk dengan mata yang sesekali bergerak ke berbagai arah. “Eum… apakah mungkin… ada yang ingin kau katakan padaku?”
“Kau terlihat lega.” Ucap Vlador, masih menyandarkan pipinya di kepalan tangannya. Kedua matanya bergerak turun memperhatikan dada dan perut Triana.
Menutup dadanya dengan seluruh telapak tangannya, Triana berdehem, “Permisi, tapi aku penasaran, lega apa yang kau maksud, Tuan Vlador?”
“Kau nampak lebih nyaman. Tidak ada lagi napas tertahan dan tidak ada lagi tubuh lemas. Aku percaya itu semua berkat benda bernama korset yang tidak lagi kau kenakan.” Ucap Vlador.
Menghirup banyak udara ke dalam mulut, tangan Triana berpindah dari dada menuju mulutnya. Ia tertawa kecil. “Ya, sebenarnya ini adalah pertama kalinya aku tidak mengenakan korset sejak aku berusia 11 tahun. Ini terasa agak aneh namun ternyata cukup nyaman. Dan tahukah, kau, aku tidak pernah makan sebanyak tadi selama hidupku. Sekarang, aku merasa perutku akan meledak,”
Tanpa sadar, Triana berbicara terlalu banyak. Ia merasa perutnya berat oleh makanan, namun anehnya, tubuhnya terasa ringan. Itu semua membuatnya bersemangat seakan sekeliling kepalanya dibingkai oleh kumpulan bunga.
“Kini aku yakin kau benar-benar sudah sehat.”
Triana mengerjap sekali menatap wajah datar Vlador. Mungkin ia sudah gila. Apakah itu bayangan dari luar jendela? Ia berpikir ia melihat pria itu tersenyum barusan.
“Selama bersamaku, kau tidak akan mengenakan korset.” Lanjut pria itu.
“A-apa?” Gumam Triana, perlahan merasakan pipinya menghangat.
Apa alasan Vlador melarangnya menggunakan korset selama mereka bersama? Memangnya sampai kapan mereka akan bersama?
“Mengenakan korset membuatmu lemah dan menyusahkan. Tidak mengenakannya sama dengan menghapus salah satu hambatan dalam perjalanan ini.” Lanjut Vlador.
“O-oh… ya, sebenarnya kau ada benarnya,” Sahut Triana dengan tawa kecil tanpa sukacita.
Memalukan! Kenapa ia harus berpikir bahwa Vlador mempermasalahkan korset hanya agar ia menjadi lebih nyaman?
Vampir itu memang tidak segan menunjukkan kepeduliannya. Namun kepedulian itu timbul karena ia ingin tujuannya cepat terlaksana, sama seperti Triana yang ingin kutukan mereka cepat terangkat agar mereka bisa berpisah selamanya.
“Tuan Vlador,”
Pria itu mengangkat wajahnya dan menatap Triana dengan kening sedikit mengkerut.
“Aku ingin berterimakasih padamu karena sudah menjaga dan memperhatikanku selama ini. Aku mengerti bahwa kau melakukan ini semua agar perjalanan kita lancar. Meski begitu, aku tetap berterima kasih dan akan berusaha keras untuk menjadi berguna dan tidak menyusahkanmu.” Tutur Triana.
Kedua mata Vlador membesar sekilas sebelum wajahnya kembali dingin seperti awal. Ia mengalihkan pandangannya ke luar jendela. “Bagus kau menyadarinya.”
![]() |
| Brow Maker >>> |
![]() |
| Sepatu Wanita >>> |


Komentar
Posting Komentar