Vlador.
"Jadi kalian berkata bahwa peradaban pulau ini hanya ada di lingkungan kecil ini saja?" Tanya Vlador.
Rextov mengangguk dengan satu alis terangkat. "Kabar baiknya, kami hidup rukun di lingkungan kecil ini."
"Kebetulan, kami datang ke kota ini untuk mencari sebuah keluarga. Mereka memiliki rambut seputih salju dan mata sebiru gletser. Apa kau pernah melihat mereka di kota ini?" Tanya Vlador.
"Oh, itu adalah ciri-ciri yang unik. Aku tidak pernah melihat seseorang dengan ciri-ciri itu di mana pun, jangankan kota ini." Rextov mengusap dagunya.
"Apa kau yakin?" Tanya Vlador. "Orangtuaku berkata mereka seharusnya tinggal di dataran es ini sejak lama."
"Berapa lama tepatnya?" Balas Rextov. "Aku lahir dan tinggal di sini. Nenek moyangku adalah penduduk asli. Rata-rata orang di pulau ini berambut pirang atau merah. Mungkin keluarga yang kau maksud adalah pendatang, dan tidak tinggal di kota ini."
Penjelasan Rextov membungkam bibir Vlador. Ia tidak mungkin memberi penjelasan lebih detail hingga membuat orang-orang curiga bahwa ia memiliki hubungan dengan penyihir. Lagipula, itu sudah jelas bahwa tidak ada orang dengan ciri-ciri seperti penyihir Elix di Kota Verxic.
"Saat ini, hanya informasi itu yang aku tahu." Ucap Vlador.
"Kira-kira apakah kau tahu tempat di mana kami bisa bertanya pada penduduk lokal lain?" Triana bertanya pada Rextov.
"Di dekat penginapan ini ada bar yang sering ramai. Selain itu kau juga bisa mengunjungi pasar. Saat ini cuacanya sedang bagus, jadi kalian bisa berkeliling pada siang hari." Jelas Rextov.
Lalu pelayan wanita di sampingnya menambahkan, "Tidak lama lagi, angin musim dingin akan datang; seharusnya itu di akhir bulan. Kalian harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin karena jika angin itu sudah datang, orang-orang tidak akan keluar dari rumah mereka."
"Apakah anginnya separah itu? Aku kira sekarang sudah masuk musim dingin?" Tanya Triana.
Wanita itu menggeleng. "Kami baru saja akan memasuki musim dingin. Langit masih cerah dan suhu masih cukup hangat. Ketika angin musim dingin datang, kita hampir tidak dapat melihat matahari dan tubuhmu bisa membeku hanya beberapa saat berada di luar."
Triana menoleh pada Vlador sambil menghela panjang. Vlador menanggapinya dengan sebuah anggukan tipis.
"Kau benar. Kami harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin." Ucap Vlador, lalu bangkit berdiri. "Terima kasih untuk keramahan kalian."
***
Triana.
Terbalut pakaian yang lebih tebal, mereka berjalan di pusat Kota Verxic.
Mereka menghampiri berbagai toko dan pasar untuk bertanya pada orang-orang tentang sebuah keluarga atau setidaknya seseorang yang memiliki ciri-ciri seperti penyihir Elix. Sayangnya, tidak ada seorang pun yang pernah melihat mereka.
"Oh, berry Banrisin di musim dingin?" Gumam Triana sebelum memindahkan satu sekop buah beri berbentuk bulat itu ke dalam keranjang belanjanya.
Ia tidak menyangka ada beberapa makanan musim panas yang masih dijual di toko. Suhu yang sangat dingin mengijinkan makanan-makanan itu tetap awet hingga berbulan-bulan.
Sambil bersenandung tipis, Triana kembali ke meja kasir, di mana Vlador tengah berbincang dengan pemilik toko.
"Mungkin kau salah mengunjungi kota, Tuan. Tidak ada orang dengan ciri-ciri seperti itu, bahkan di pulau ini."
Triana berhenti beberapa langkah di belakang Vlador.
"Apakah setidaknya terdapat rumor tentang seseorang dengan ciri-ciri seperti itu?" Tanya Vlador.
Pemilik toko menggeleng. "Seumur hidupku tinggal di sini, aku tidak pernah mendengarnya."
Menggigit bibir bawahnya, Triana menurunkan pandangannya pada keranjang makanan yang berada dalam pelukannya.
Kenapa ia malah bersenang-senang membeli jajanan ketika Vlador tengah berusaha menghapuskan kutukan mereka?
Kemudian Triana menatap punggung lebar Vlador. Dahulu, saat pertama kali kutukan itu menimpa mereka, ia sangat takut pada apa yang akan terjadi ke depannya. Ia pikir masa depannya telah runtuh dan hari-harinya akan terasa seperti di neraka. Namun sekarang, ia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika mereka berpisah.
Tiba-tiba Vlador menoleh ke belakang hingga pandangan mereka bertemu. Triana tersenyum tipis dan menghampiri pria itu.
"Bagaimana?" Tanya Triana.
Vlador menggeleng kecil, lalu melihat bawaan Triana. "Apa itu sudah semuanya?"
Triana mengangguk. Lalu Vlador mengeluarkan uang untuk membayar belanjaan itu.
"Kita lanjutkan besok. Sebentar lagi langit menggelap." Ucap Vlador.
Keluar dari toko, Triana menemukan kondisi di luar lebih sepi dari sebelumnya. Dalam langkahnya menuju jalan besar, Triana menoleh ke belakang dan menemukan toko yang baru saja mereka kunjungi sedang ditutup oleh pemiliknya.
Triana kembali menghadap ke depan dan melirik tangan Vlador. Ia menggigit bibir bawahnya dan menggapai siku mantel pria itu.
Tarikan pada lengan pakaiannya membuat Vlador menoleh. Triana menatap Vlador dengan bibir rapat selama beberapa saat sebelum menurunkan pandangan.
Tiba-tiba Vlador menghentikan langkahnya, membuat Triana melepaskan pegangan itu.
"A-aku..." Triana hendak menjelaskan, namun kalimatnya terhenti ketika ia melihat lengan Vlador tertekuk.
"Dingin?" Tanya Vlador seraya menyondongkan lengannya pada Triana.
"Dan menakutkan." Ucap Triana seraya menyelipkan tangannya di lengan hangat itu.
Tawa kecil mengalir dari bibir Vlador. Lalu ia melanjutkan langkahnya, dan Triana mengikuti dengan jantung berdebar.
Diam-diam, Triana melirik Vlador. Lalu ia berdehem kecil. "Maaf aku tidak membantu apa-apa hari ini."
"Apa mungkin Igredis salah menyebutkan nama kota? Ia sudah sangat tua." Ucap Vlador.
"Aku yakin ia mengingat dengan benar." Jawab Triana. "Ia bisa berkomunikasi dengan baik dan memiliki memori seperti orang muda."
Vlador menghela panjang hingga kepulan uap berkumpul di depan wajahnya. "Waktu kita semakin tipis di kota ini. Kalau kita belum berhasil menemukan Penyihir Elix hingga angin musim dingin datang, kita akan terjebak di kota ini dalam waktu yang sangat panjang."
"Biaya di kota ini tidak besar. Aku rasa jika kita berhemat sedikit, kita bisa bertahan hidup. Aku akan meminta potongan harga pada pemilik penginapan karena kita akan tinggal lama." Jelas Triana.
Dengan kening berkerut, Vlador menatap Triana. "Aku harap rencana itu tidak akan perlu kita gunakan. Aku akan memastikan kita sudah bertemu dengan penyihir itu sebelum angin musim dinginnya datang."
Bibir Triana saling menakan. Ia menurunkan pandangannya dan terdiam. Debar jantungnya kembali berpacu.
Bukankah ia harus mengatakannya?
"Tuan Vlador," Panggil Triana seraya mengangkat pandangannya. "Aku memiliki sebuah pertanyaan. Bisakah kau menjawabnya dengan serius?"
Diam sesaat, Vlador balik bertanya, "Pertanyaan apa?"
"Ini adalah pertanyaan yang pernah aku tanyakan padamu, namun tidak mendapatkan jawaban. Sekarang karena kita sudah semakin dekat dengan tujuan kita, aku harap aku akan mendapatkan jawaban itu." Jelas Triana pelan.
"Jika kutukannya berhasil terangkat, apa selanjutnya?" Lanjut gadis itu.
Vlador kembali terdiam. Lalu pandangannya lari ke samping dalam sekejap, dan kembali lagi pada kedua mata Triana. "Kita akan kembali pada kehidupan masing-masing."
"Maksudmu kita akan kembali ke Galvadea?" Tanya Triana.
Bibir Vlador menarik senyum tipis. "Aku telah mempertimbangkan untuk mengampuni nyawamu. Aku tidak akan membunuhmu dan akan memulangkanmu ke Kastil Galev."
"Tunggu." Triana mengerutkan keningnya. "Jadi kau berencana membunuhku?"
Menghela, Vlador menjawab, "Saat itu aku sangat membencimu karena kau telah membuatku terjebak di dalam kutukan yang baru. Namun ternyata kau tidak seburuk itu dan telah membantu banyak hingga kita bisa mencapai kota ini."
Lalu Vlador memegang kedua pundak Triana seraya membuat senyuman lagi. "Aku tidak lagi menganggapmu sebagai keturunan dari musuhku, melainkan sebagai pasangan dalam sebuah perjalanan panjang."
Penjelasan Vlador membuat rahang Triana mengeras. Sensasi menusuk mengganggu rongga dadanya. Ia menepis kedua tangan pria itu dari pundaknya. "Aku tidak mau pulang ke sana."
"Apa?" Vlador mengerutkan dahinya.
"Tempat itu," Ucap Triana dengan suara bergetar dan pandangan jatuh ke jalan bersalju. "Keluargaku. Orangtuaku. Mereka bukan lagi rumahku. Sejak mereka membuangku... mereka bukan lagi tempat untukku pulang."
Kemudian ia mengangkat pandangannya lagi untuk menatap Vlador yang hanya diam menatapnya. "Aku ingin mengikutimu saja, Tuan Vlador."
"Tidak." Jawab Vlador langsung. "Kau tidak bisa melakukan itu."
"A-aku akan berusaha tidak menyusahkanmu. Aku akan membantumu dengan banyak hal. Aku bisa menjadi dokter dan menghasilkan banyak uang untukmu." Tawar Triana cepat.
"Apa kau lupa berapa banyak hartaku di kastilku? Kau pikir aku butuh hasil jerihpayahmu itu?" Tanya Vlador.
Rahang Triana kembali mengeras. Jantungnya memompa keras dan napasnya memberat. "Apa saja." Ucapnya dengan suara tertahan. "Jika begitu, jadikan aku apa saja, asalkan aku bisa terus ikut denganmu."
"Tidak bisa." Jawab Vlador tegas. "Aku bukan rumahmu."
Mata Triana tidak kuasa membendung air matanya lagi, hingga ia harus menundukkan wajahnya untuk menyembunyikan hal memalukan itu.
Menarik napas panjang dan menghelanya kasar, Vlador melanjutkan, "Aku akan membelikanmu rumah yang nyaman di pusat kota Galvadea. Atau jika kau tidak ingin tinggal di sana, kita bisa mencari rumah di kota maju lainnya. Lalu kau bisa memulai hidup baru di sana."
"Dan setelah kau memberikan itu semua, apa kau akan membuangku?" Triana mengangkat pandangannya untuk menatap Vlador.
Namun pria itu hanya diam. Rahangnya terkunci dan untuk pertama kalinya, ia tidak membalas tatapan Triana.
Thank you sudah membaca! Jangan lupa supportnya, teman2 🥰💜💜
![]() |
| Workout pants >>> |
![]() |
| Lip Balm >>> |


Komentar
Posting Komentar