Triana.
Air mata itu akhirnya terjatuh tanpa dapat ia tahan.
Triana mengangguk. “Aku mengerti. Terima kasih sudah menjawab pertanyaanku.”
Tanpa menunggu apa yang akan Vlador katakan, Triana berbalik dan melangkah cepat meninggalkan pria yang hanya diam di tempatnya itu.
Sambil terus menitikkan air mata, Triana terus melangkah. Bodohnya, ia masih sempat berpikir Vlador akan mengejarnya. Ia berharap pada pria berhati dingin itu; Pada pria yang tidak menginginkannya sejak awal hingga akhir.
Ia menyukai Vlador. Ia mengakuinya dan meneriakkannya di dalam hati, pada dirinya sendiri. Ia ingin terus bersama pria itu. Ia tahu Vlador hanya menganggapnya sebagai rekan dalam perjalanan. Namun apakah itu tidak cukup untuk mengijinkannya terus ikut bersamanya?
Triana tidak mau kembali pada keluarganya. Ia tahu, saat kembali, perlakuan mereka padanya sudah berubah. Ia hanya akan dilihat sebagai barang rusak yang berakhir terbengkalai di peti usang. Namun kelihatannya ia tidak bisa berharap pria seperti Vlador mengerti kerisauannya.
Setelah sikap hangat yang Triana terima akhir-akhir ini, Vlador akhirnya kembali menyadarkan Triana bahwa ia adalah pria berhati dingin. Meski begitu, Vlador tetaplah pria terbaik yang pernah ia temui dalam hidupnya.
Sayangnya, Vlador tetap memilih untuk membuangnya di akhir cerita.
“Akh!” Pekik Triana ketika kakinya memijak sesuatu yang licin dan membuatnya terpeleset.
“A-aduh…” Erangnya seraya mengusap bokongnya yang membentur jalanan keras. Namun erangan itu tidak berlangsung lama ketika Triana melihat hamparan salju kosong di depan matanya.
Menoleh ke sekeliling, ia menyadari bahwa ia telah berjalan terlalu jauh tanpa sadar. Tidak ada rumah atau bangunan lain di sekelilingnya.
“Astaga,” Ucap Triana seraya bangkit berdiri.
Ia memutar tubuhnya, dan menemukan bagian belakang beberapa bangunan.
“Aku tidak percaya aku berjalan keluar dari pemukiman. Kenapa aku sangat ceroboh?” Gumamnya sebelum melangkah kembali dengan hati-hati agar tidak terpeleset lagi.
Namun langkahnya terhenti ketika ia melihat sosok pria berdiri tidak jauh darinya. Pria itu mengenakan mantel putih yang membuatnya terlihat menyatu dengan salju tebal di sekelilingnya.
Awalnya, Triana pikir itu adalah salah satu penduduk yang mungkin bisa menemaninya kembali ke pusat kota. Namun napasnya tercekat setelah ia melihat kedua mata pria itu.
Sepasang mata merah seakan menyala di bawah rambut pirang dan di antara kulit putih pucat. Dan yang lebih buruk, ia memperlihatkan sepasang taring ketika ia tersenyum lebar.
“Hm… Apa yang seorang gadis lakukan sendirian di sini?”
Suara pria itu membuat tubuh Triana bergetar.
“Ti-tidak-“
Tenggorokan Triana belum sempat menghasilkan teriakan, namun pria itu telah menerjangnya. Seketika pandangannya menggelap.
***
Vlador.
Tangannya mengepal dan rahangnya mengeras. Ia memandangi gadis itu berlari menjauh.
“Ya, itulah yang seharusnya kau inginkan; Lari menjauh dariku.” Gumamnya.
Lalu Vlador menggertakkan gigi. “Kenapa kau malah menginginkan sebaliknya?”
Meletakkan kedua tangan di bawah padangannya, Vlador dapat melihat gambaran kulit vampir pada umumnya.
“Apa yang salah denganmu, Itik? Apa kau telah kehilangan akal sehatmu?” Ia bergumam.
Lalu ia menatap langit dan memejamkan mata, merasakan butir-butir salju mendarat di kulit wajahnya. Kutukannya harus segera dihapuskan. Mereka tidak boleh terlalu lama bersama.
Mata Vlador terbuka, lalu ia menoleh ke arah Triana pergi. Gadis itu sudah menghilang. Langit pun mulai meredup. Ia segera berjalan mengikuti jejak kaki Triana yang semakin memudar ditutup salju.
Tiba-tiba, sebuah sensasi aneh mengganggu dada Vlador. Ia berhenti melangkah dan mengerutkan kening. Matanya membesar saat ia menyadari bahwa itu adalah perasaan takut yang berasal dari Triana.
“Ia dalam bahaya.” Gumamnya sebelum berlari mencari gadis itu.
Ikatan kutukan mereka membawa Vlador ke bagian belakang sebuah lumbung kuda besar. Di bawah bayangan atapnya, ia menemukan Triana berada dalam kuncian seorang pria yang terlihat hendak menggigit lehernya.
Mata Vlador membesar dan pupilnya menipis. Secepat kilat, ia melesat ke arah pria itu dan menendang tubuhnya. Pria itu terguling-guling ke samping dan cengkramannya pada tubuh Triana terlepas.
Tanpa satu lirikan pun pada pria asing itu, Vlador menggapai Triana dan membantunya duduk. “Kau tidak apa-apa?”
“Tuan Vlador,” Gumam Triana dengan suara serak.
Vlador menyeka rambut Triana yang berantakan dari lehernya. Tidak ada tanda gigitan di sana. “Syukurlah. Kau baik-baik saja.”
“Tuan Vlador, pria itu…” Triana menatapnya dengan pupil bergetar.
“Seorang Vampir.” Sambung Vlador.
Beberapa meter dari mereka, pria vampir itu bangkit ke atas kedua kakinya. Kedua mata merahnya menatap Vlador heran.
“Siapa kau?” Tanya Vlador setelah ia bangkit berdiri bersama Triana yang terlindungi di dalam lingkar lengannya.
Pria itu menarik senyum yang tidak kalah nampak bingung dibanding tatapan kedua matanya. “Kau adalah vampir. Aku tidak tahu masih ada vampir hidup di luar sana.” Ucapnya, lalu tatapannya mengarah pada Triana. “Dan yang lebih mengejutkan, kau bersama seorang gadis manusia.”
“Aku bertanya, kau siapa?” Tanya Vlador lagi.
Pria itu mengubah senyumnya lebih ramah. “Namaku Dyan Verdonix.”
Mata Vlador seketika membesar. “Kau adalah Klan Verdonix?”
“Aku tidak tahu klan kami seterkenal itu. Atau kau hanya terkejut karena klan kecil seperti kami bisa selamat dari perang?” Tanya Dyan, tersenyum lebar.
Mengeratkan rahangnya, Vlador menjaga agar suaranya tetap rendah. “Apa kau sendirian? Di mana sisa anggota klanmu?”
“Kawan, kau bisa bersikap lebih sopan dan adil dengan memperkenalkan dirimu dahulu sebelum bertanya lebih rinci tentang diriku.” Protes Dyan sambil bertolak pinggang.
“Aku Vlador Lev Dracount, putra dari Raja Dracount Ledov Arvadus.” Jelas Vlador.
Namun, mata Dyan mendadak membesar. Sedetik kemudian, ia jatuh di atas kedua lututnya.
“Maafkan kelancanganku, Yang Mulia Pangeran. Aku tidak tahu bahwa itu adalah kau. Kami mengira kau tidak akan kembali lagi. Kami pikir kau sudah mati seperti yang lain!” Ucap Dyan dengan suara lantang dan sedikit bergetar.
Vlador saling bertukar pandangan dengan Triana. Ia yakin mereka berbagi pikiran yang sama.
“Apa maksudmu? Aku tidak pernah bertemu denganmu atau satu pun anggota klanmu.” Tanya Vlador pada Dyan yang masih berlutut dengan kepala menunduk.
Dyan bangkit berdiri perlahan, lalu mengangkat wajahnya untuk menatap Vlador. Senyum menantangnya sudah menghilang, hanya menyisakan raut ketakutan.
“Pangeran, kita memang belum pernah bertemu sebelumnya. Klan Verdonix terlalu kecil untuk mencuri sedikit saja perhatianmu. Kau mungkin tidak tahu, namun leluhur Verdonix adalah pengikut keluarga Arvadus.” Jelas Dyan.
Kedua bibir Vlador saling mengunci. Ia pernah mendengar bibinya berkata tentang hal itu.
“Aku tahu.” Ucap Vlador.
Sebuah senyum lebar merekah di wajah Dyan. “Ini adalah berita membahagiakan bahwa kau masih hidup dan berkeliaran bebas seperti sekarang, Pangeran Vlador.” Lalu ia kembali menundukkan wajahnya dan sedikit membungkukkan punggungnya. “Mansion kami akan merasa sangat terhormat jika bisa menerimamu sebagai tamu.”
Merasakan tarikan kecil pada tuniknya, Vlador menoleh pada Triana yang sedang menatapnya khawatir.
Ia mengetatkan rangkulannya dan berbisik. “Kita akan baik-baik saja.”
Lalu ia kembali menatap Dyan. “Angkat kepalamu dan tataplah aku. Ada hal yang ingin aku bicarakan dengan petinggi klanmu.”
***
Vlador
Masuk ke dalam hutan gelap, Vlador dan Triana tidak mengucapkan sepatah katapun di dalam kereta kuda tanpa atap itu. Mereka harus menjaga agar Dyan tidak mendengar hal-hal yang tidak harus ia dengar.
Hutan itu mengarah ke belakang sebuah bukit. Tidak lama, Vlador melihat sebuah mansion besar dengan cat hitam yang tersamar dengan pohon-pohon.
Kereta mereka berhenti di depan mansion itu. Vlador menurunkan tangannya dari lengan atas Triana menuju tangan dinginnya. Ia menuntun gadis itu turun sebelum mengamankannya di dalam rangkulannya lagi.
Itu benar ada; kediaman klan Verdonix, klan vampir yang Igredris sebutkan memiliki hubungan dengan klan penyihir Elix.
Jika ia menemukan klan Verdonix di dataran Verxic, ia pasti juga dapat menemukan penyihir Elix. Namun di samping hal bagus itu, kenapa Dyan mengatakan bahwa klannya menunggu Vlador selama ini? Apakah mereka mengetahui rahasia keluarganya?
“Selamat datang di Mansion Verdonix!”
Seruan Dyan membawa Vlador keluar dari pikirannya. Keningnya mengerinyit saat ia melihat senyum lebar menjengkelkan di wajah pria muda tersebut. Selain itu, ia juga menyaksikan empat vampir dengan rambut pirang yang sama tengah datang menghampiri mereka.
![]() |
| Bulu Mata >>> |
![]() |
| Celana Rok Olahraga >>> |


Komentar
Posting Komentar