Langsung ke konten utama

58. Mansion Verdonix // Dikutuk Bersama Tuan Vampir

    Banner Novel Seri

Vlador

“Selamat datang di Mansion Verdonix, Pangeran Vlador. Perkenalkan, aku Frederick Garvus Verdonix. Aku adalah ketua klan Verdonix. Kami merasa sangat terhormat kau bersedia datang ke mansion sederhana kami.”

Vlador diam menatap pria berambut pirang itu dari kaki hingga kepala. Pria dengan garis halus di sekitar matanya itu memiliki tinggi yang sama dengan Vlador. Kedua matanya merah, namun tidak menyala, sama seperti mata Dyan.

“Aku tidak perlu berkata bahwa bahwa sikap kalian terasa tidak wajar, ‘kan?” Tanya Vlador.

“A… haha…” Frederick tertawa kecil. Lalu ia mengangguk-angguk. “Penilaian itu pantas kau berikan kepada kami, pangeran. Maaf sudah bersikap membingungkan.”

Lalu pria itu merentangkan satu tangannya dan bergeser ke samping. “Bagaimana jika aku menjelaskannya dalam jamuan makan malam?”

Tawaran Frederick kembali ditanggapi Vlador dengan keheningan. Ia hanya melihat pria itu tepat di kedua matanya. Baiknya kawanan vampir itu mengetahui jelas bahwa ia tidak mempercayai mereka hanya karena mereka sama-sama vampir.

Berdehem, Frederick melanjutkan, “Aku dengar ada hal yang ingin kau tanyakan pada kami, pangeran. Aku tidak tahu pertanyaan apa itu, namun akan dengan senang hati menjawab. Bahkan jika kau memerlukan bantuan, aku bersedia menyediakannya sebisaku.”

Senyum yang menghilang dari wajah Frederick meredakan ketidaksukaan di hati Vlador. Sejak awal ia tidak menyukai senyuman culas pada wajah vampir-vampir itu.

Melirik Triana, Vlador meletakkan tangannya di atas pundak gadis itu. “Lady manusia ini bersama denganku. Dan ia akan terus berada di sampingku dalam kondisi aman.”

“Oh,” Frederick menaikkan kedua alisnya hingga matanya sedikit melebar. “Kalau begitu, kami akan berusaha membuat makan malamnya senyaman mungkin untuk sang Lady.”

“Tapi…” Frederick mengambil satu langkah maju. Ia kembali tersenyum. “Sebagai pemilik mansion ini, sungguh wajar jika aku ingin mengetahui identitas tamu-tamu yang akan masuk ke dalamnya.”

Triana meraih tangan Vlador dan menggesernya turun. Ia melangkah maju, mengangkat kedua sisi roknya, dan menekuk lutut. “Perkenalkan, Tuan Verdonix, aku adalah Lady Triana Rexa Galev, putri bungsu dari Duke of Vargace, Stefanus Galev.”

Mata Frederick membesar, begitu pula dengan senyumnya. Di belakangnya, Vampir Verdonix yang lain saling bertukar pandang.

“Yang Mulia,” Frederick menatap Vlador.

“Lady Triana bersamaku. Hanya itu yang cukup kalian tahu.” Desis Vlador.

Diam sesaat, Frederick mengangguk dengan senyum masih berada di wajahnya. “Aku mengerti. Kalau begitu silahkan masuk. Kalian pasti membutuhkan istirahat.”

“Antar Pangeran Vlador dan Lady Triana menuju kamar tamu di sayap kanan.” Perintah Dyan pada tiga pelayan yang berdiri di belakang mereka.

“Silahkan masuk,” Ucap Frederick pada Vlador dan Triana, sekali lagi merentangkan tangannya ke samping.

Kembali merangkul lengan atas Triana, Vlador menuntunnya berjalan memasuki gerbang mansion besar itu. Dalam langkahnya, ia melirik Triana yang berjalan dalam diam dan dengan mata yang menatap kosong ke depan.

Masuk ke dalam mansion yang didominasi oleh warna hitam dan merah itu, Vlador dapat melihat kediaman vampir kuno yang mengingatkannya pada masa-masa ketika vampir masih berkuasa. Tidak lama, mereka tiba di sebuah kamar dengen jendela besar yang mengarah ke hutan rimbun.

“Apa ada hal yang kalian butuhkan?” Tanya salah seorang pelayan.

“Tidak ada yang aku butuhkan. Terima kasih sudah mengantar kami.” Jawab Triana sambil tersenyum tipis seadanya.

“Kalian bisa pergi.” Perintah Vlador.

“Baik. Selamat beristirahat.” Ucap kedua pelayan itu sebelum pergi dan menutup pintu.

“Mereka bahkan memiliki vampir sebagai pelayan mereka.” Ucap Vlador seraya berbalik badan, dan menemukan Triana sudah berdiri di belakang jendela besar sambil menatap kegelapan hutan.

“Pohon Klerk.” Ucap Vlador seraya menghampiri gadis itu dan berdiri di sampingnya. “Mirip pohon pinus, namun berukuran lebih besar. Mereka tumbuh menembus es dan salju dan tidak bisa bertahan di suhu hangat.”

Triana tidak menjawab. Matanya tetap menatap ke luar.

Menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan, Vlador kembali bicara, “Mereka tidak boleh mengetahui apa yang menyebabkan kita bersama. Kutukan ini tidak boleh mereka ketahui.”

“Aku akan menutup mulutku rapat-rapat hingga kutukannya terangkat. Kau tidak perlu khawatir.” Jawab Triana.

Vlador menekan kedua bibirnya dan mengusap keningnya. Lalu ia berdehem sekali. “Dengarlah. Mengenai hal yang tadi-“

“Aku mengerti, Tuan Vlador.” Triana memotong kalimatnya. Lalu ia berputar untuk menghadap Vlador sambil menarik senyum tipis. “Penjelasanmu tadi sudah sangat jelas dan aku pun sudah mengerti. Aku minta maaf telah membebanimu dengan keinginanku yang kekanakan. Itu adalah hakmu untuk menerima atau menolakku sebagai pengikut.”

Vlador mengepalkan tangannya yang ia tarik ke belakang pahanya. “Aku… aku mengambil keputusan itu berdasarkan beberapa alasan.”

“Tentu saja semua orang memiliki alasan saat mengambil sebuah keputusan.” Sahut Triana sambil tertawa kecil. “Apapun alasanmu, itu adalah hakmu. Karna aku pun bukan tanggungjawabmu, benar? Bukankah sejak awal, kita bersama-sama karena kutukan ini?”

Kalimat Triana membungkam mulut Vlador. Rahangnya saling menggigit dan udara terasa mencekik. Segalanya yang Triana katakan adalah benar. Namun sesuatu yang aneh di dalam dirinya seakan berusaha mendobrak keluar untuk melawan semua fakta itu.

Triana berdehem. Sebuah senyum lembut terbentuk di wajah gadis itu, membuat sesak yang mencekik leher Vlador perlahan menghilang.

“Tapi apakah aku boleh tahu kenapa mereka tidak boleh mengetahui tentang kutukan kita?” Tanya Triana.

Menarik napas dalam dan menghembuskannya panjang, Vlador menjawab, “Aku tahu kau memiliki banyak pertanyaan di pikiranmu selain itu. Kita memang bersama karena kutukan, namun aku harap kau tidak perlu menjadi kaku karenanya.”

“Sepertinya aku bersikap berdasarkan naluri. Maaf soal itu,” Triana terkekeh kecil sambil menusap keningnya dengan jari. “Anggap saja yang barusan adalah pertanyaan pertamaku. Aku pun ingin mengetahui tentang siapa mereka. Aku kira selama ini seluruh vampir telah punah kecuali dirimu.”

“Aku juga berpikir begitu.” Sahut Vlador, lalu menatap ke luar jendela. “Mereka adalah keluarga vampir dari dataran utara yang bermigrasi ke pinggiran Verukaza, wilayah yang sekarang telah berubah nama menjadi Kerajaan Galvadea. Yang aku tahu, mereka sempat mengabdi pada keluarga Raja Dracount. Namun saat aku lahir, mereka telah melepaskan diri dari kami.”

“Apa itu sebabnya mereka mengenalmu?” Tanya Triana.

“Aku yakin, benar.” Jawab Vlador. “Namun aku masih tidak mengetahui kenapa mereka begitu menghormatiku.”

“Mereka sangat mencurigakan.” Triana menyipitkan matanya. “Tapi mereka adalah klan vampir yang Igredris sebutkan memiliki koneksi dengan klan penyihir Elix, ‘kan?”

Menarik senyum, Vlador mengangguk. “Ingatan yang bagus.”

“Tentu saja aku mengingatnya,” Triana menaikkan kedua pundaknya. “Itu adalah hal pertama yang melintas di kepalaku saat vampir bernama Dyan itu menyerangku.”

“Terlalu banyak hal mencurigakan dari mereka. Karena itu mereka tidak boleh mengetahui tentang kutukan kita untuk mencegah mereka menggunakanmu untuk mencari keuntungan dariku.” Jelas Vlador.

“Hm…” Triana bergumam, “Memangnya… apa keuntungan yang bisa mereka ambil darimu? Apa mereka menginginkan hartamu? Tapi lokasi kastilmu terlalu jauh dari sini. Lagipula mereka juga terlihat hidup nyaman di mansion ini.”

“Kau tidak harus mengetahui tujuan busuk seseorang untuk menjadi waspada. Bahkan bunga mawar memiliki duri pada batangnya.” Ucap Vlador.

***

Vlador.

Mereka memasuki sebuah ruang makan yang dipenuhi lilin. Keluarga Verdonix telah duduk rapih di meja makan besar dan panjang yang terletak di tengah-tengah ruangan itu.

“Selamat datang, Pangeran Vlador dan Lady Triana,” Frederick bangkit dari duduknya.

Bukannya membalas sambutan itu, Vlador mengedarkan pandangannya untuk meneliti lima vampir yang akan makan satu meja dengannya dan Triana.

Dua dari kelima vampir itu adalah Frederick dan Dyan, sementara sisanya adalah satu vampir laki-laki dan dua vampir perempuan. Mereka semua memberikan senyum gembira yang ia yakini adalah formalitas klise mereka yang suka menjilat para bangsawan.

“Silahkan duduk,” Frederick menghampiri dua buah kursi dan menariknya untuk Vlador dan Triana. “Aku tidak menyangka hari di mana aku bisa makan bersama keturunan Raja Dracount akhirnya datang juga.”

Pernyataan Frederick bagaikan sebuah duri yang menusuk telinga Vlador. Ia bisa saja langsung mempermasalahkan keanehan pria itu. Namun ia akan menahan diri selagi ia masih membutuhkan mereka untuk mencari penyihir Elix.

Vlador menggenggam pergelangan tangan Triana dan mengarahkan gadis itu untuk duduk di kursi di sampingnya. Seperti yang ia duga, tindakannya membuat Frederick langsung beralih pada gadis itu.

“Lady Triana, aku harap kau mengerti bahwa makanan yang dimasak bukanlah hal yang pernah kami sentuh. Namun kami akan berusaha memberikan sajian terbaik untukmu. Aku harap ada yang sesuai dengan seleramu.” Ucap Frederick.

Triana tersenyum canggung. “Itu tidak masalah. Akulah yang seharusnya berterimakasih pada keramahanmu, Tuan Verdonix.”

“Oh, kau adalah seorang Lady yang rendah hati. Kau bisa memanggilku Frederick, Lady.”

“Frederick,” Panggil Vlador, membuat pria itu menoleh. Ia lalu meliriknya dengan tatapan tajam. “Aku pikir makan malamnya akan dimulai. Kenapa kau tidak kembali ke kursimu?”

“Oh,” Frederick melirik Triana sekilas sebelum melangkah mundur menjauhi gadis itu. Ia kembali tersenyum. “Aku baru saja akan kembali ke kursiku.”

Gym Bag >>>

Baju Bumil >>>



Komentar