Vlador.
Matanya bergulir mengikuti Frederick yang melangkah menuju kursinya. Begitu pria itu duduk di tempatnya, fokusnya berpindah pada Triana yang hanya mengatupkan bibirnya.
Seperti yang ia duga, Frederick berusaha memperalat Triana. Setidaknya Triana cukup pintar memahami situasi dan berusaha untuk tidak banyak bicara meski para vampir itu memperlakukannya dengan baik, yang mana itu hanyalah sebuah kepalsuan.
Vlador tahu jelas bagaimana vampir memandang manusia, dan ia yakin klan Verdonix-lah yang selama ini membunuh warga Verxic, bukan binatang buas.
"Aku berpikir apakah kalian pernah bertemu dengan penyihir Elix di pulau ini,"
Kalimat tiba-tiba Vlador membuat semua yang ada di meja itu terdiam, termasuk Frederick yang saling bertukar pandang dengan anggota keluarganya.
"Hahaha..." Frederick tertawa canggung. "Yah, mereka benar bahwa kau adalah pria yang tegas dan tidak suka berbasa-basi. Pertanyaan pembuka itu bahkan mendahului hidangan pembukanya."
Kemudian Frederick memberikan gestur tangan pada para pelayan yang berdiri di sekeliling mereka. Para pelayan itu segera bergerak ke belakang dan mulai berdatangan kembali dengan nampan-nampan berisi makanan.
Yang pertama disajikan adalah makanan milik Triana. Ia memiliki hidangan yang lebih bervariasi. Cukup mengejutkan karena makanan-makanan itu memiliki tampilan yang setara dengan makanan yang tersaji di kediaman bangsawan.
"Aku datang ke sini bukan untuk bersantai, apalagi sengaja mengunjungi kalian." Ucap Vlador.
"Tentu aku mengetahuinya," Frederick menggidik bahu. "Kau bertanya tentang penyihir Elix, 'kan? Aku pernah mendengar tentang mereka, namun aku tidak tahu bahwa mereka ternyata juga berada di daratan ini."
Di saat yang sama, makan malam mereka telah selesai disajikan. Sebongkah daging mentah yang terendam di sepiring kolam darah duduk di hadapan tiap vampir. Dari aromanya, Vlador langsung tahu bahwa itu adalah milik manusia.
Frederick melempar senyum hangat pada semua orang yang ada di meja makan. "Baiknya kita berbincang sambil menyantap makan malamnya, benar? Selamat menikmati!"
Melirik Triana, Vlador mendapati gadis itu terus menurunkan pandangannya sambil perlahan menyantap makan malamnya. Ia pasti merasa tidak nyaman atas makanan yang tersaji untuk para vampir. Ia harap Triana tidak mengetahui bahwa makanan mereka adalah daging dan darah manusia, namun ia juga tahu bahwa Triana tidak bodoh.
"Ya," Vlador menatap Frederick yang sedang menyuap potongan daging ke dalam mulutnya. "Aku pernah mendengar dari seseorang bahwa klan Vampir Verdonix memiliki hubungan dengan Penyihir Elix."
"Itu benar." Frederick mengangguk. "Namun hubungan itu sudah putus sejak lama, bahkan sejak aku belum lahir. Hubungan itu terputus tepatnya ketika ayahku masih sangat belia."
"Hubungan apa kalian dulu kalian miliki?" Tanya Vlador.
"Hmm," Frederick mengusap dagunya sambil berpikir. "Sebenarnya aku tidak cukup yakin karena itu tidak diceritakan secara khusus pada generasi selanjutnya. Namun dari kabar yang aku dengar, mereka, penyihir Elix, bekerjasama dengan klan kami untuk menyelamatkan diri saat tragedi pembantaian di perang barat."
Kening Vlador mengkerut. "Apa kau yakin?"
"Aku berkata bahwa aku kurang yakin, Pangeran." Frederick mendecak, lalu melanjutkan, "Namun itulah yang jelas-jelas aku dengar. Kabarnya, dahulu klan kami sangat kecil dan kesulitan mencari makan. Namun penyihir Elix membantu kami dengan membuat kami bisa masuk ke dalam kediaman Raja Dracount untuk menjadi pengikut."
Bibir Vlador mengatup. Ia tidak pernah melihat Penyihir Elix. Penyihir yang mau menolong orang lain, bahkan vampir adalah hal terjanggal yang pernah ia dengar. Namun Igrediris berkata bahwa penyihir Elix memang berbeda dari penyihir lainnya. Ia tidak bisa menilai apakah Frederick berkata benar atau sedang mengarang cerita.
"Jika boleh bertanya, kenapa kau mencari penyihir Elix, Pangeran?" Tanya Frederick.
"Salah satu dari mereka berhutang padaku dan menyebabkan sedikit masalah." Jawab Vlador seraya memotong daging mentahnya.
"Ow, aku pikir penyihir Elix tidak pernah menampakkan diri. Namun sepertinya yang satu itu cukup liar dan berani untuk membuat masalah dengan pangeran vampir sehebat dirimu." Ucap Frederick.
Menelan dagingnya, Vlador menjawab, "Karena itu adalah segalanya yang ingin aku tahu, maka kami akan kembali besok siang."
"Oh, itu sungguh disayangkan," Frederick menurunkan garpu dan pisau besinya. "Aku berharap bisa menjamu kalian lebih lama lagi. Dan jika seperti katamu bahwa penyihir itu ada di dataran ini, aku bisa membantumu mencari mereka."
Menyipitkan matanya, Vlador menatap Frederick lekat-lekat. "Bagaimana caramu membantuku?"
"Aku memiliki banyak pria yang bekerja untukku. Aku juga memilihara kawanan srigala. Aku bisa menyuruh mereka mencari sarang penyihir Elix jika itu benar ada di pulau ini. Sementara mereka melakukan tugas mereka, kau bisa sedikit beristirahat di masion ini." Jelas Frederick.
"Itu adalah penawaran yang menarik." Balas Vlador, lalu menaikkan kedua alisnya. "Apa imbalan yang kau harapkan dariku?"
"Oh, pangeran-"
"Tidak perlu bermain indah," Vlador memotong ucapan Frederick. "Tidak ada vampir waras yang menawarkan bantuan tanpa imbalan."
Sebuah senyum lebar merekah di wajah Frederick. "Biar bantuannya aku siapkan dahulu. Setelahnya, aku akan memberitahu bantuan yang aku butuhkan darimu."
Kemudian ia meraih garpu dan pisaunya lagi sebelum melempar tatapan gembira pada seluruh orang di meja. "Malam masih panjang, mari nikmati dulu sajiannya."
***
Triana.
"Gaun ini sangat cocok denganmu, Lady. Sungguh mengejutkan bahwa mata birumu dapat bersanding dengan warna merah kelam seperti ini."
Triana diam menatap pantulan dirinya di dalam cermin yang berdiri di hadapannya. Ia dapat mendengar pelayan berbicara di belakangnya, namun ia hanya melihat dirinya duduk sendirian di sana.
Sebuah kalung berhias kristal merah darah melayang dan hinggap di bawah leher Triana. Di samping telinganya, pelayan itu kembali bicara, "Bahkan kalung ini sangat cocok duduk di kulitmu yang halus dan hangat."
Pundak Triana bergidik dan ia segera bangkit dari kursinya. "Aku rasa perhiasan-perhiasan ini sudah cukup ramai. Terima kasih sudah membantuku berias. Kalian boleh pergi."
"Baik, Lady. Namun Nyonya Cresentia berkata ingin bertemu denganmu setelah ini. Apakah kau bersedia?" Tanya pelayan itu.
Kening Triana mengkerut. Setelah berusaha mengingat sejenak, nama itu akhirnya muncul kembali dalam ingatannya. Cresentia adalah wanita paruh baya yang duduk bersama mereka di makan malam semalam. Saat itu ia tidak banyak bicara setelah memperkenalkan dirinya, namun sekarang ia ingin bertemu dengannya.
Apa yang ia rencanakan?
"Tentu." Jawab Triana. "Namun aku akan berbicara dengan Tuan Vlador dulu."
Pelayan itu tersenyum tipis dan mengangguk. "Aku akan mengantarmu, Lady."
Lalu Triana mengikuti pelayan itu keluar dari kamar. Di depan pintu, Vlador masih menunggunya, sesuai janjinya sebelum keluar dari kamar untuk memberi Triana privasi saat mengganti pakaian dan berias.
Tanpa basa-basi, Triana langsung menghampiri Vlador dan sedikit berbisik, "Mereka berkata wanita yang bernama Cresentia ingin bertemu denganku. Ia adalah wanita bergaun hijau tua yang ada di meja makan semalam."
Namun, Vlador tidak menjawab. Ia hanya menatap Triana dengan mata agak membesar.
"Bagaimana menurutmu?" Tanya Triana dengan kening mengkerut, namun ia tidak kunjung mendapat respon.
"Tuan Vlador? Apa yang terjadi padamu?" Triana mengguncang lengan pria itu.
Mata Vlador mengerjap dan ia menggelengkan kepalanya sekilas. "Maaf, apa yang baru saja kau katakan?"
Menarik napas dalam dan menghelanya panjang, Triana mengulang pertanyaannya, "Wanita yang ada di makan malam semalam, Cresentia, ingin bertemu denganku. Ia mengundangku ke ruangannya."
"Oh," Vlador lalu menatap kedua pelayan yang berdiri tidak jauh dari mereka. "Di mana ia berada?"
"Nyonya Cresentia berada di perpustakaan. Kami akan mengantar Lady Triana ke sana, Pangeran."
Tiba-tiba Triana merasakan sesuatu menyentuh pinggang belakangnya. Ia menoleh untuk mendapati Vlador sedang menatapnya dengan kedua alis terangkat. "Aku pergi bersamamu."
Mengikuti kedua pelayan, Triana melangkah bersama Vlador dengan tangan pria itu yang masih bersandar di pinggang belakangnya yang membuat punggungnya menegang.
"Ehm!" Triana berdehem sambil menempelkan kepalan tangannya di mulut.
"Oh, maaf," Vlador segera menarik tangannya. "Aku pikir kau mungkin merasa tidak nyaman di tempat ini."
Triana menarik senyum tipis yang tidak dapat menutup kecanggungannya.
"Tidak apa-apa." Ucapnya, meski ia menahan diri untuk mendecih karena sikap Vlador'lah yang membuatnya merasa tidak nyaman.
![]() |
| Carger Case >>> |
![]() |
| Spray Anti Tikus >>> |


Komentar
Posting Komentar