Langsung ke konten utama

6. Dikutuk Bersama // Dikutuk Bersama Tuan Vampir

    Banner Novel Seri

Triana.

Vlador terlihat gagah dan segar. Rambut hitam tebal yang tertata ke belakang dengan salur-salur tipis menjuntai dari kening hingga ke tulang pipi membingkai wajah tegasnya. Rupanya mungkin menawan, namun itu tidak menghapus fakta bahwa ia adalah sosok monster yang akan membunuh Triana sebentar lagi.

“Darahmu…”

Suara Vlador membuat Triana mual dan pandangannya semakin bergoyang. Kedua lututnya bergetar saat vampir itu mengambil langkah pertama menuju ke arahnya.

“… aku dapat menciumnya, bahkan dari tempat terpencil sekalipun. Itu sangat harum. Itu adalah darah terbaik yang pernah mengalir di tenggorokanku.”

“Tidak...” Triana menggeleng seraya melangkah mundur hanya untuk membenturkan punggungnya pada tubuh kuda di belakangnya.

“Ucapkan selamat tinggal pada dunia ini karena sebentar lagi tubuhmu akan mengering seperti daun di musim gugur.” Ucap Vlador seraya menjatuhkan mayat pengawal dari tangannya.

Secepat kedipan mata, Vlador melesat ke arah Triana hingga terlihat seperti sekelibat bayangan yang kemudian menutup pandangannya dan membuat kepalanya berputar hebat. Ketika Triana tersadar, ia telah terduduk di atas tanah, memandang bulan purnama terang yang terbingkai ranting-ranting pohon yang sedang menggugurkan daun-daun mereka.

Ketika mata biru Triana bergulir ke samping, ia melihat wajah dengan sepasang mata merah bersinar terang. Lalu sebuah seringai mengembang pada bibir pria itu dan taringnya nampak memanjang dan meruncing.

Triana kehilangan kata-kata. Lidahnya telah kaku dan matanya yang terpaku pada wajah itu mengalirkan air. Memori hidupnya terbesit di depan matanya ketika ia melihat vampir itu membuka mulut sangat lebar ke dengan mata melotot besar hingga urat-urat biru dan hijau menyembul di bawah permukaan kulit pucatnya.

Suara melengking yang terdengar mendengung menjadi musik pembuka ritual kematian Triana karena setelahnya, mulut yang terbuka secara tidak normal hingga memperlihatnya sisi dalamnya yang gelap seperti kelamnya malam itu melahapnya di leher.

Rasa sakit yang sama terulang kembali. Taring itu kembali menancap di tempat yang sama untuk membuat Triana berteriak dengan seluruh jiwanya.

Hanya dalam hitungan detik, rasa sakit itu berlipat ganda ketika Vlador mulai menghisap darahnya lagi, berkali lipat lebih brutal dari yang sebelumnya.

Kulit Triana berangsur berubah pucat pasi. Bibirnya yang sebelumnya sempat mendapatkan sedikit warna kemerahannya kembali, kini membiru. Pandangannya kabur dan tangannya hanya bisa bertengger tanpa daya pada punggung vampir yang masih sibuk menghisap darahnya itu.

Tenaga Triana telah habis. Ia merasakan jantungnya berdegub melambat hingga tiap detakannya terasa menyakitkan. Namun ketika seluruh kesadarannya hampir musnah, hisapan itu tiba-tiba berhenti.

“Apa yang terjadi?” Gumam Vlador seraya melepas mulutnya dari leher Triana dan menjatuhkan tubuh lemah gadis itu ke atas tanah yang berselimut daun kering dalam posisi menyamping.

“Akh! Jantungku! Apa yang terjadi?” Keluh Vlador seraya memegangi dadanya.

Tiba-tiba, angin datang berputar menerbangkan daun-daun kering. Angin itu berhenti beberapa langkah di depan mereka sebelum memunculkan cahaya hijau dari dalam tanah, dan diikuti oleh kemunculan sosok penyihir kurus dan bungkuk di tengah-tengahnya.

Kedua mata Vlador melebar. “Kau! Apa yang kau lakukan, penyihir kotor?!” tanyanya seraya terus memegangi dadanya.

Tawa mengalir dari bibir hitam penyihir itu. Cahaya kehijauan dan asap hitam mengelilinginya.

“Penyihir tanah… kau sialan!” Geram Vlador.

“Khe khe khe… Apakah kau pikir aku tidak akan membalasmu setelah kau membantai semua saudariku? Dahulu, tawamu sangat besar, Dracount. Jika bukan karena penyihir pengkhianat yang bekerja dengan para manusia itu, aku sudah membunuhmu dengan kedua tanganku sendiri!”

“Apa… yang kau lakukan padaku?!” Geram Vlador.

“Kalian berdua … telah aku kutuk. Hahahaha!” Seru penyihir itu keras hingga liur memuncrat keluar dari mulutnya.

Samar-samar, Triana dapat mendengar apa yang penyihir itu katakan. Meski detak jantungnya melemah dan pandangannya semakin buram, ia masih memiliki cukup kesadaran untuk mampu memahami bahwa kelihatannya ia telah ditipu oleh penyihir itu.

“Selama ini, aku lapar untuk membunuhmu, Dracount. Namun para penyihir gila itu dengan serakahnya memberikan sihir pelindung pada kastilmu. Tapi itu tidak masalah. Jika aku pikir, aku tidak perlu mencabut jantungmu dan hanya melihatmu meregang nyawa dalam beberapa detik, ‘kan? Bukankah lebih baik aku membuatmu menderita dengan caraku sendiri?”

“Selain menjadi penyihir, sejujurnya aku memiliki bakat terpendam menjodohkan orang. Melihat kalian berdua membuat bakatku bergejolak. Kalian memiliki kepribadian yang sama dan keahlian yang sama dalam membuatku kesal.” Jelas penyihir itu dengan selingan tawa di beberapa kalimatnya.

“Aku akan merobek mulut sialmu itu, penyihir sampah! Tenggorokanmu akan tercabik, sama seperti saudari-saudarimu!” Desis Vlador.

Sebuah senyum merekah lebar di bibir penyihir itu. Kemudian, ia mengangkat kedua tangannya di depan tubuhnya dan berkata,

“Kalian memiliki kesombongan yang sama. Bukankah memakan atau dimakan adalah prinsip hidup kalian? Sekarang, menderitalah bersama dalam kutukanku!”

Cahaya hijau bercampur asap hitam mengalir keluar dari telapak tangan penyihir itu, kemudian mengarah mengitari Triana dan Vlador seperti angin puyuh.

“Ramuan itu telah mengikat kalian di dalam kutukanku. Jantung kalian berdetak bersama. Nyawanya adalah nyawamu dan nyawamu adalah nyawanya. Kalian terikat pada tali kematian yang sama.

Triana Rexa Galev, jantungmu bergantung pada darah Vlador Lev Dracount. Dan Vlador Lev Dracount, kau akan selamanya haus akan darah Triana Rexa Galev. 

Selamanya, kalian terikat dalam lingkaran kutukan ini. Selamanya, kalian akan menderita meski kalian telah mempelajari kesalahan kalian!”

Cahaya hijau itu memudar bagai uap. Sementara itu, detak jantung Triana semakin melambat, seakan hendak berhenti. Ia tidak peduli lagi pada apa yang penyihir itu katakan. Jika memang ia telah dikutuk, itu tidak akan menjadi masalah jika ia mati.

Pandangan kian menggelap, Triana perlahan menutup kelopak matanya yang terasa berat. Hal terakhir yang telinganya dengar adalah hembusan angin kuat di sekelilingnya. Kemudian, ia merasakan tubuhnya diangkat dan sesuatu yang hangat mengaliri tenggorokannya.

***

Triana.

Rasa pening bagai palu yang memukul-mukul kepalanya membuat kening Triana mengkerut. Ia membuka kedua mata perlahan untuk mendapati kegelapan menyelimutinya.

Dengan pandangan yang masih buram, Triana mencoba menutup matanya erat dan membukanya lagi. Kini ia menyadari bahwa apa yang berada di atas sana adalah atap kayu usang yang dipenuhi sarang laba-laba. Udara dingin berhembus, membuat Triana menoleh untuk mencari tahu di mana ia berada.

Ia mendapati dirinya terbaring di sebuah ranjang di dalam kamar besar yang hanya diterangi oleh cahaya bulan yang masuk melalui sebuah jendela besar dengan pemandangan langit malam.

Butuh beberapa detik bagi Triana untuk mencerna apa yang sedang terjadi dan mengingat apa yang sebelumnya terjadi.

“Kau adalah bencana.”

Suara berat itu membuat Triana menoleh ke arah kaki ranjang. Napasnya tercekat dan jantungnya seakan berhenti saat ia mendapati seorang pria berbalut tunik putih tengah bertengger di sana seperti kalelawar. Kedua mata coklat terangnya bersinar dalam gelap, menatapnya tajam.

Rok Panjang >>

Cermin Saku >>




Komentar