Seorang wanita berkulit coklat masuk ke ruang besar itu.
Vlador mengenali wajahnya, ia adalah gadis pelayan yang ditugaskan mendampingi Triana. Ia sempat berpikir gadis itu hanyalah pelayan biasa yang akan menjadi teman Triana untuk sementara, namun ternyata ia telah lengah hingga tertipu oleh mata-mata itu.
Elijah yang melangkah dengan dagu terangkat dan pundak tegap membuat Vlador mengerutkan keningnya. Rasanya tidak mungkin pelayan itu bersikap seangkuh itu hanya karena ia telah menjalankan tugasnya dengan benar sebagai mata-mata; ia adalah manusia.
Selain Elijah, keluarga Vampir Verdonix yang lain juga memasuki ruangan. Mereka berdiri melingkari kadang yang mengurung Vlador, namun Elijah berdiri beberapa langkah dari jeruji yang memenjarai Vlador.
Senyum terbentuk di bibir Elijah. “Aku sudah berkata, kalian tidak perlu menutup matanya. Ia bisa melihat segalanya bahkan di jurang tergelap sekalipun. Sihirku sudah cukup kuat terbalur pada rantainya.”
“Siapa kau sebenarnya?” Desis Vlador, menatap mata Elijah tajam.
“Aku,” Elijah mengibas tangan kirinya. Cahaya biru terang mengikuti gerakan itu, mengubah wujudnya menjadi wanita berkulit putih pucat dan berambut putih.
“Aku adalah penyihir yang selama ini kau cari, putra Arvodus.” Ucap Elijah.
Mata Vlador membesar. Ia tidak menyangka Frederick dan sanak keluarganya telah menipunya separah itu. Jauh dari kecurigaannya bahwa mereka benar-benar memelihara penyihir Elix dan bekerjasama untuk menangkapnya.
“Kau penyihir kotor,” Desis Vlador. “Aku tidak menyangka kalian menggunakan cara serendah itu demi bisa mengalahkanku.”
“Kau memiliki lidah seperti ayahmu, Vlador. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.” Ucap Elijah, melirik Cresentia yang tersenyum miring.
Frederick melangkah maju untuk berdiri di samping Elijah. “Pasukan vampir kuno hanya bisa dibangkitkan oleh keturunan Arvodus terpilih. Melalui ritual Langit Hitam, putra itu akan menjadi raja vampir seutuhnya yang tidak terbebani oleh belas kasihan, melainkan dianugerahkan oleh naluri vampir murni.”
Vlador menggertakkan gerahamnya. Jadi upacara Langit Hitam yang tertulis di catatan penyihir tanah itu adalah ritual untuk menjadikannya vampir utuh? Mereka telah merencanakan ini semua dari awal.
‘Sebuah kutukan darah akan mengikat mereka. Darah merah yang diam atau hidup hanya akan terpisah oleh sihir si darah biru berambut putih. Kematian oleh waktu ditiadakan hingga sihir terangkat. Upacara langit hitam hanya bisa dibangkitkan dengan gadis mortal.’
Vlador memanggil catatan penyihir itu dari ingatannya. Kalimat gadis mortal terasa seperti sayatan di keningnya.
“Aku akan menghabisi kalian jika kalian berani menyentuh Triana.” Geram Vlador.
“Jangan khawatir, pangeran.” Jawab Frederick, tersenyum ramah. “Kau tidak akan memikirkan itu ketika kau sudah menjadi sama seperti leluhur para vampir, menjadi raja kami.”
“Hanya dengan meminum darah mortal yang telah meracuni naluri vampirmu maka ritual langit hitam baru bisa dilaksanakan. Itulah syaratnya.” Ucap Elijah.
Tawa mengalir dari bibir merah Frederick. “Akhirnya! Seratus tahun kami menunggu hal yang tidak pasti, bahkan terasa mustahil. Menunggu keajaiban itu hingga harapan kami remuk dimakan waktu karena keputusasaan mewujudkan syarat kompleks dan mustahil itu.”
“Namun gadis manusia naif itu tiba-tiba muncul. Penyihir tanah terkutuk yang telah menunggu tugasnya rampung selama seratus tahun akhirnya berhasil menunaikannya dengan cara tidak terduga.” Sambung Elijah.
Vlador tidak dapat mengatakan apa pun. Ia mengerti sekarang. Semuanya jelas.
Klan Verdonix dan Elijah telah merencanakan semuanya sejak peperangan berakhir. Kutukan pengikat darah itu bukan semata-mata untuk membuatnya menderita, namun sengaja dimanterakan untuk mengikatnya bersama Triana dalam waktu yang lama.
Sejak awal mereka telah menjebaknya untuk jatuh cinta pada Triana, si gadis mortal.
Selama berada di mansion Verdonix, mereka bahkan memastikan bahwa Triana benar-benar telah membangkitkan sesuatu yang tidak seharusnya dimiliki oleh seorang vampir di dalam diri Vlador, yaitu perasaan.
“Kalian ingin mengubahku menjadi vampir utuh sehingga bisa mengendalikanku untuk berkuasa atas manusia.” Gumam Vlador.
“Tidak ada cara lain karena kau memiliki darah manusia yang terukir di jantungmu. Kau memiliki kelemahan seorang manusia, yaitu belas kasihan.” Ucap Frederick.
“Bukankah itu yang menjadi alasanmu membunuh ibumu sendiri, pangeran? Bukan karena kau adalah pangeran vampir yang kejam.” Lanjut pria itu.
Menggertakkan giginya, Vlador kembali menggeram, “Bawa Triana padaku.”
“Tentu,” Jawab Frederick. “Aku baru saja akan mengeluarkannya.”
Lantai batu di dekat Frederick terbuka, lalu Dyan muncul dari bawah bersama Triana yang terantai kedua tangannya.
“Tuan Vlador!” Tangis gadis itu.
“Tenanglah.” Ucap Vlador.
Air mata terus mengalir menuruni pipi Triana. “Ma-maafkan aku. Elijah… ia ternyata adalah Penyihir Elix. Ia telah mengelabuhiku.”
“Tenanglah, Triana.”
Kalimat Vlador membuat Triana tertegun seketika, lalu menekan kedua bibirnya dan mengangguk.
“Lepaskan kami. Aku akan membangkitkan pasukan vampirnya.” Ucap Vlador pada Frederick.
“Pembohong!” Seru Elijah. “Leluhurmu adalah penipu, tidak mungkin kau berbeda dari mereka. Klan Arvadus, kalian adalah vampir paling licik yang pernah aku ketahui.”
“Kau mungkin bisa berkata seperti itu sekarang. Namun aku yakin kau tidak akan tega melihat gadis kesayanganmu itu menangis meraung-raung di sebelah jasad keluarganya yang ia rindukan. Bukankah kau telah menjanjikan kehidupan manusia normal padanya?” Lanjut penyihir itu.
Mendengar itu, mata Triana membesar. “Apa maksudmu? Apa yang akan kalian lakukan?”
“Kami berencana mengubah pangeranmu menjadi raja vampir yang tidak lagi memiliki perasaan, bahkan untukmu, lady.” Ucap Frederick, berdiri di samping Triana.
Elijah mengangkat kedua tangannya ke udara. Bersamaan dengan mantara yang mengalir dari mulutnya, awan hitam terbentuk di atas mereka seperti langit yang sedang murka.
Mata Vlador membesar menyaksikan pemandangan itu. Di sebrangnya, Triana berada dalam kendali Frederick dan Dyan yang memegang pisau. Ia tidak pernah berada dalam situasi di mana ia harus mengkhawatirkan sesuatu untuk melakukan tindakan.
Tiba-tiba udara dingin mengepung kedua kakinya. Vlador menoleh ke bawah untuk menyadari cahaya biru penyihir Elix sedang menyelumbungi tubuhnya.
“Darah mortal adalah penawar bagi racun yang menggenangi jantung vampir.” Ucap Elijah.
Setelah rapalan itu, pengelihatan Vlador bergoyang. Rasa haus tiba-tiba mencekik lehernya dan mengeringkan lidahnya. Tatapannya tertuju pada Triana. Rasa haus yang sama ketika ia pertama kali bertemu Triana kembali menghampirinya.
“TIDAK!” Seru Triana ketika tangannya ditarik paksa oleh Frederick.
Dengan pisau di tangannya, pria itu menyayat telapak tangan Triana hingga darah mengalir deras dari sana. Namun setetes pun darahnya tidak mengotori lantai karena cahaya biru Elijah menjadi mangkuk penadahnya.
“Le-lepaskan dia,” Ucap Vlador, berusaha mengendalikan dirinya. “Apa kau lupa bahwa nyawa kami terhubung? Aku… akan mati jika ia mati.”
“Kau tidak perlu khawatir. Kutukannya akan aku angkat bersamaan dengan rampungnya ritual ini. Setelah itu, gadis itu akan kami persembahkan sebagai santapan pertamamu sebagai raja vampir.” Jawab Elijah, lalu tertawa keras seraya menarik darah Triana mendekat ke jeruji Vlador.
Vlador menutup matanya rapat, namun aroma darah Triana yang mendekat semakin mencekik lehernya. Sesuatu dari ritual Langit Hitam membuatnya kehilangan kendali atas dirinya.
“Minumlah darah mortal ini, pangeran. Maka kau akan menjadi vampir seutuhnya dan menguasai dunia.” Ucap Elijah.
Aroma darah Triana memenuhi indra penciuman Vlador. Bisikan-bisikan leluhurnya berputar di kepalanya. Pangelihatannya memerah, terfokus pada segumpal darah segar dan lezat yang melayang di depan hidungnya.
‘Kau akan menjadi raja.’
‘Kau akan berkuasa, bukankah itu yang sebenarnya kau inginkan?’
‘Kau akan menjadi vampir seutuhnya, lebih murni dari keluargamu yang selalu menghinamu.’
‘Kau akan terlepas dari bayang-bayang ibumu, Vlador.’
‘Vlador.’
‘Vlador.’
“VLADOR!”
Bibir Vlador yang sudah terbuka sedikit berhenti. Suara itu menyelinap masuk di antara suara-suara leluhurnya. Itu adalah suara paling hangat yang pernah ia dengar.
“Vlador! Kau adalah dirimu sendiri dan itu sudah cukup!” Seru Triana.
Mata Vlador menyipit. Melalui pengelihatan kaburnya, ia berfokus pada Triana yang terus meneriakkan namanya dengan air mata berderai. Gadis itu bahkan tidak takut pada pisau yang ditempelkan pada wajahnya.
Memejamkan matanya keras, Vlador mengerahkan kekuatannya untuk mendorong sayapnya keluar dari punggungnya hingga rantai berlapis sihir yang mengikat lehernya pecah.
Begitu sayapnya terbuka lebar, ia mengibaskannya ke depan hingga menciptakan angin keras yang menerbangkan Elijah dan beberapa vampir yang berada di sekitar kandangnya.
Mantra langit hitam yang dibawa Elijah seketika terputus dan awannya berangsur menghilang.
“Ba-bagaimana bisa?” Gumam Elijah, menyaksikan Vlador memutus rantai-rantai pada tangan dan kakinya dengan beringas.
Trimakasih sudah membaca, teman2! Happy weekend!
![]() |
| Bag Charm >>> |
![]() |
| Sepatu >>> |


SEMOGA KKA BISA CEPAT UP GK SABARRRR KELANJUTAN NYAAðŸ˜ðŸ˜ðŸ’žðŸŒ·
BalasHapusTrimakasih supportnya kak 🥰🥰
Hapus- kalongungu