Langsung ke konten utama

67. Di Tengah Badai Salju // Dikutuk Bersama Tuan Vampir

    Banner Novel Seri

Vlador

 

Ia adalah vampir yang berhasil mengalahkan ratusan vampir di masa perang. Nyawa manusia yang meregang di tangannya pun tak terhitung jumlahnya.

Namun hanya dengan sihir penyihir, sang pangeran kegelapan jatuh di atas kedua lututnya dan terkurung di penjara kastilnya sendiri hingga seratus tahun lamanya.

Vlador tidak tahu ia mampu melepaskan diri dari rantai sihir penyihir sehebat klan Elix. Dan ia yakin, Elijah adalah salah satu yang tidak boleh diremehkan.

Sayapnya menghantam patah jeruji yang mengurungnya. Lalu cakarnya menyambar salah satu jeruji tersebut sebelum melemparnya ke arah Frederick yang hendak membawa Triana kabur.

Naas, bahkan untuk sesama vampir, Frederick tidak mampu menyaingi kecepatan gerakan Vlador, terlebih ketika ia sedang murka. Tiang besi itu menghantam kepalanya hingga ia terlempar ke depan.

“Hentikan dia!” Seru Elijah, hendak menembakkan sihirnya ke arah Vlador.

Namun mata merah Vlador mengerling pada sosok penyihir berambut putih yang tengah berusaha bangkit duduk itu. Ia mengibaskan sayapnya lagi hingga membuat angin ribut berputar.

“Aku akan membunuhnya!” Seru Dyan, hendak menikam Triana dengan tangan gemetar hebat.

Pria itu pantas takut karena maut sedang menerjang ke arahnya. Tanpa ia duga, Vlador sudah berada di depan wajahnya dan memutus tangannya yang memegang pisau hanya dalam satu kedipan mata.

Tangan Dyan jatuh ke lantai batu. Teriakan kesakitannya nyaris tidak terdengar karena puluhan panah melesat ke arah mereka.

Vlador membentangkan sayapnya sebagai tameng agar tidak ada satu pun panah melukai Triana. Tanpa membuang waktu lagi, ia menyambar gadis itu dan membawanya pergi.

Melihat Vlador kabur, Elijah mengangkat tangannya dan menciptakan tombak es di udara seraya bangkit duduk. Tombak es runcing itu meluncur, namun ia meleset dan hancur menabrak dinding batu tepat di samping tangga, tempat Vlador melarikan diri ke atas.

Bagai seekor monster yang sedang mengamuk, Vlador menabrak sekelilingnya dengan membabi buta. Ia tidak peduli sayap raksasanya yang terlalu besar untuk segalanya yang ada di dalam Mansion Verdonix. Ia tidak bisa melipat masuk kedua benda yang sedang melindungi dirinya dan Triana dari panah-panah yang terus mengejar mereka.

“Tutup matamu!” Ucap Vlador pada Triana begitu ia berhasil keluar dari ruang bawah tanah menuju aula utama mansion.

Ia akhirnya dapat mengepakkan sayapnya lebih keras dan lebih lebar hingga membawa tubuhnya terbang ke atas, dan menabrak salah satu jendela patri besar.

Angin membekukan menghantam tubuh Vlador dengan keras. Butiran salju yang seharusnya tidak membahayakan menjadi ganas karena jumlahnya yang padat dan pergerakannya yang menuruti angin badai.

“Bertahanlah.” Ucap Vlador pada Triana yang berada dalam pelukannya.

Ia dapat merasakan Triana mengangguk dan mengeratkan pelukan kecilnya pada pinggangnya. Namun hal itu tidak membuat Vlador merasa lebih tenang karena ia juga merasakan suhu tubuh Triana jatuh dengan cepat.

Menoleh ke belakang, Vlador mendapati para vampir Verdonix mengenjarnya meski mereka tidak dapat menembakkan panah atau senjata lainnya karena angin terlalu keras. Bahkan tembakan sihir Elijah pun tidak mampu melawan angin badai yang bergerak tidak tentu arah.

Vlador mengepakkan sayapnya lebih keras sehingga mereka melesat lebih cepat membelah angin yang seakan merubah butiran salju menjadi butiran kerikil tajam. Ia memeluk Triana lebih erat, berharap bisa menghantarkan panas tubuhnya lebih banyak.

“Bertahanlah, Triana.” Ucap Vlador lagi sebelum mengeratkan rahang. Ia tidak tahu harus terbang ke mana. Angin keras dan salju lebat mengacaukan navigasinya.

Di tengah perjuangannya untuk terus terbang secepat mungkin, ia berusaha medeteksi sekeliling, namun yang ia dapatkan tidak lebih dari padang es luas dan beberapa pohon.

Tubuh Triana semakin dingin dan Vlador dapat merasakan detak jantung gadis itu melambat. Nyawanya terancam.

Menoleh ke kanan dan kiri, Vlador mendapati kedua sayapnya kian kaku, bukan hanya karena ia melemah mengikuti kondisi jantung Triana dan karena banyaknya luka pada tubuhnya, melainkan karena kedua sayapnya mulai membeku.

“Argh,” Valador menggeram, berusaha mengepakkan sayapnya yang sudah membeku sebelah.

Vlador gagal untuk terus bertahan di udara. Ia mengeratkan pelukannya dan melindungi kepala Triana sebelum tubuhnya meluncur jatuh ke atas salju tebal.

“Hah!” Vlador berusaha keluar dari salju yang nyaris mengubur tubuhnya.

Begitu berhasil naik, Vlador memeriksa kondisi Triana dan mendapati gadis itu tidak sadarkan diri. Ia bahkan memiliki gumpalan-gumpalan es yang sudah bersarang di rambut pirangnya.

“Triana. Triana.” Vlador menepuk-nepuk pipi dingin Triana.

Mata Triana terbuka sedikit, namun wajah kakunya tidak memberi ekspresi apa pun. Vlador tersenyum sekilas sebelum kembali menyimpan Triana dalam dekapannya.

“Bertahanlah. Aku akan membawamu ke tempat aman. Kau akan baik-baik saja. Kau dengar aku?” Ucap Vlador meski tidak mendapat tanggapan. Namun ia yakin Triana mendengarnya.

Kemudian Vlador berusaha menekuk kedua sayapnya ke depan. Ia mengerang karena hal itu membuat kulit tebal sayapnya retak. Namun ia tetap memaksa hingga membuat sendi-sendi mereka menembus keluar.

Meski menyakitkan, bibir merahnya mengalirkan kekehan singkat. Setidaknya ia berhasil mengubah kedua sayap lemahnya sebagai pelindung di sisi kanan dari kirinya agar salju dan angin tidak menerpa mereka secara langsung.

“Kelihatannya mereka gagal mengejarku.” Gumam Vlador seraya melangkahkan kakinya melintasi salju yang sedikit lebih tinggi dari lututnya.

Angin berhembus semakin kuat. Vlador terus menggunakan pengelihatan jarak jauhnya dan akhirnya samar-samar menemukan sebuah gua kecil meski berjarak cukup jauh dari mereka.

Namun tiba-tiba Vlador merasakan denyutan menyakitkan di jantungnya. Matanya membesar dan ia menatap ke bawah, pada Triana yang memberikan erangan tipis.

“Bertahanlah sebentar lagi. Aku akan memberimu darah di tempat aman. Bertahanlah. Kita hampir sampai.” Ucap Vlador, berusaha berjalan lebih cepat.

Vlador terus melangkah dengan jantung yang terus berdenyut menyakitkan. Namun ia tidak boleh goyah karena rasa sakit yang terus menikam dadanya menandakan bahwa Triana juga sedang berujuang untuk bertahan.

Begitu sampai pada gua kecil itu, salju berhenti menghantam tubuh mereka. Vlador tidak pernah merasa selega itu di dalam hidupnya.

Dengan terseok, Vlador melangkah lebih jauh ke dalam gua hingga akhirnya terjatuh di atas lututnya sambil terus memegangi belakang kepala Triana. Tenaganya sudah terkuras. Tubuhnya yang terluka parah bahkan kesulitan menyembukan dirinya sendiri.

Vlador membaringkan Triana di atas pangkuannya. Sambil meringis, ia menyeka helaian rambut basah dan salju yang mengotori wajah Triana. Lalu ia meletakkan pergelangan tangannya di atas bibir gadis itu.

“Kita sudah aman. Minumlah darahku,” Ucap Vlador seraya menepuk-nepuk pipi Triana. Namun kedua mata gadis itu tetap terpejam erat dan kedua bibir birunya mengatup rapat.

Menyadari keadaan Triana, Vlador segera menggigit lidahnya sendiri hingga berdarah. Kemudian ia membuka mulut Triana untuk mengalirkan darah dari dalam mulutnya langsung ke dalam mulut Triana.

Sedetik kemudian kedua mata Triana terbuka lebar. Bagai keajaiban, ia mendapat kesadaran dan kekuatan untuk meraih leher Vlador, dan mulai minum dengan rakus.

Vlador menggigit lidahnya di berbagai sisi agar darahnya terus keluar deras untuk memuaskan dahaga gadis itu. Sementara melakukannya, ia menatap kedua mata biru Triana yang berada tepat di depan kedua matanya.

Meski kedua mata sebiru langit cerah itu adalah milik Triana, ia tidak melihat ada jiwa gadis itu di dalamnya. Itulah apa yang kehausan dapat lakukan. Seseorang akan kehilangan jiwanya dalam sesaat dan menjadi monster.

Sakit di dada Vlador perlahan mereda. Triana sudah selamat. Mereka selamat karena tubuh Triana berhasil bertahan. Dan yang cukup mengesankan adalah darahnya membuat tubuh Triana menjadi lebih kuat.

Meski begitu, itu bukan berarti mereka sudah aman. Kondisi Triana masih kritis karena tubuhnya kedinginan parah. Jika terus begini, nyawa mereka akan kembali berada dalam bahaya.

Triana sudah selesai minum namun kembali tidak sadarkan diri. Vlador mengamankan tubuh dingin Triana ke dalam dekapannya lagi dan menutup tubuh mereka dengan sayapnya bagai sebuah tenda.

Dalam kegelapan, Vlador menatap wajah Triana. Lalu ia berbisik, “Aku mohon bertahanlah.”

Apa ini yang dinamakan sebagai rasa takut?

Vlador tidak tahu apa yang sebenarnya ia takuti.

Apakah ia takut mati karena Triana akan mati atau ia hanya takut pada Triana yang akan kehilangan nyawanya?

Namun yang pasti, selama hidupnya, melainkan takut pada kematian, Vlador pernah berharap agar kematian menjemputnya.

Dengan rahang mengerat, Vlador meletakkan telapak tangannya di pipi Triana dan mengusapnya dengan jari jempolnya. Ia tidak dapat membuat senyum saat ia merasa kacau seperti biasa.

“Aku harap kau tidak perlu melihat hal itu.” Ucap Vlador.

Lalu ia menarik napas dalam dan nyaris menggeram kesal sebelum melanjutkan, “Jika ada kehidupan selanjutnya, aku harap aku tidak perlu menyakitmu. Dan aku harap kita tidak perlu bertemu lagi jika nantinya kau mendapatkan kehidupan bahagia yang sesungguhnya.”

“Maafkan aku … Triana.”

Srak. Srak.

Mata Vlador melebar. Apakah itu adalah suara langkah kaki?

Apakah para Verdonix berhasil mengejarnya? Bagaimana mungkin ia tidak menyadarinya?

Membuka salah satu sayapnya, Vlador bersiap menyerang. Namun bukannya vampir Verdonix yang ia temukan, melainkan seorang wanita dan seorang gadis kecil.

Kening Vlador mengkerut dan secara nuluriah ia menurunkan cakarnya. Kedua orang itu bukan vampir, ia yakin. Namun mereka memiliki fisik yang melekat di kepala Vlador.

Rambut seputih salju dan mata sebiru gletser.

Sepatu >>>

Pouch Makeup >>>



Komentar

Posting Komentar