Triana.
Memaku tatapannya pada vampir yang nampak marah itu, jantung Triana berdebar kuat ketika ia dapat merasakan aura gelap di sekeliling Vlador meski tidak dapat melihat langsung dengan matanya.
“A-apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Triana.
“Penyihir sialan itu menggunakan ramuannya untuk mengutuk kita. Aku akan mati jika kau mati, begitu juga sebaliknya.”
Rahang Triana menjuntai ke bawah dan ia segera menutup mulutnya dengan tangan. “Penyihir itu membuat nyawa kita saling bergantung,” simpulnya.
“Bukan hanya nyawa kita, Itik. Masih ada kutukan lainnya yang akan membuatku sangat menderita.” Ucap Vlador seraya menyeka rambut panjang yang membingkai wajah Triana. “Untuk tetap hidup, kau harus meminum darahku setidaknya lima hari sekali. Dan aku akan selalu mengidam darahmu.”
Menjatuhkan pandangannya ke lantai, Triana berusaha mencerna kondisi tidak masuk akal tersebut.
Ia harus meminum darah seorang vampir untuk tetap hidup? Lalu vampir yang darahnya harus ia minum malah mengidam untuk meminum darahnya. Sementara itu, nyawa mereka saling terhubung sehingga jika ia mati, maka vampir itu akan mati. Itu artinya, vampir itu tidak boleh membunuhnya, begitu pula ia juga tidak boleh membunuh vampir itu.
“Apakah otak kecilmu mampu mencernanya?” Tanya Vlador.
Triana menaikkan pandangannya dengan air mata yang kembali menggenangi matanya. “Berhenti memperlakukanku seperti orang bodoh! Aku adalah bangsawan terhormat yang mendapat pendidikan dari guru terbaik!”
“Kau terlihat sangat bangga. Apakah kecantikanmu yang mengijinkanmu mendapatkan itu semua?” Tanya Vlador seraya bangkit berdiri.
“Orangtuaku tidak akan membiarkan ini. Mereka akan menyelamatkanku bagaimanapun caranya.” Ucap Triana, sedikit mendesis.
“Dengan kondisimu yang sekarang? Bukankah kau baru saja mengatakan bahwa masa depanmu telah hancur?”
Senyum mengerikan pada wajah Vlador membuat Triana merinding. Bibirnya bergetar dan ia merasa ingin berteriak dan menangis sejadi-jadinya karena kenyataannya, Vlador benar.
Dengan kondisinya yang seperti ini, apakah orang-orang mau membantunya? Bagaimana jika ia diperlakukan seperti orang-orang buruk rupa? Ia akan dikucilkan, begitu pula dengan keluarganya.
Kemudian Triana mengerjapkan matanya kuat dan menggelengkan kepala sekilas untuk mengumpulkan kewarasannya kembali. Ia mengangkat wajahnya, lalu bangkit berdiri.
“Bagaimana denganmu? Apakah kau akan menerima dan diam saja dengan kondisimu sekarang, Tuan Dracount? Ya… kau adalah tengkorak itu, ‘kan?” Tanya Triana.
“Setelah terbebas dari pasung dan kutukan abadi, aku malah harus terjebak dengan gadis manusia sepertimu dan kutukan bodoh ini. Kau pikir aku dapat menerimanya?” Jawab Vlador yang sudah duduk di tengah-tengah jendela besar, memunggungi cahaya bulan.
Meneguk liur, Triana mengangguk dan berusaha memasang wajah tegas meski pundaknya bergetar tipis. “Kalau begitu, mengapa kita tidak berusaha menghapuskan kutukan ini?”
“Itu adalah hal yang sudah aku pikirkan.” Vlador kembali pada kedua kakinya.
Vampir berkaki panjang dengan pundak lebar itu menghalangi cahaya rembulan. Triana tidak kuasa melangkah mundur saat ia melangkah mendekatinya.
“Apa yang…” Kalimat Triana terhenti ketika sebuah tangan besar pucat terjulur ke depan wajahnya.
“Tidak ada gunanya membuang waktu.” Ucap Vlador. Ia tersenyum lebar hingga memperlihatkan kedua taring tajamnya. “Mari bertamu ke rumah penyihir sialan itu.”
Dengan ragu, Triana meletakkan tangannya di atas telapak tangan itu untuk menyadari bahwa tangan tersebut ternyata lebih besar dari kelihatannya. Namun yang aneh, tangan itu tidak dingin seperti yang ia bayangkan sebelumnya.
Bukankah vampir adalah makhluk setengah hidup? Rumor berkata bahwa tubuh mereka sedingin mayat.
Sibuk dengan pikirannya, Triana tanpa sadar telah melangkah mengikuti tarikan tangan Vlador menuju jendela besar yang menghadap bulan purnama.
Angin malam awal musim gugur berhembus menerbangkan rambut pirang Triana dan menggelitik kulit wajahnya. Perlahan, ia menjorokkan tubuhnya keluar dari jendela besar itu, dan tanpa sadar menggenggam jemari tangan Vlador.
“Wah…” Gumaman mengalir keluar melalui kedua bibir merah muda Triana.
Ia baru menyadari bahwa ia berada di kastil terbengkalai yang tadi ia masuki. Kini ia berada di bagian teratasnya yang menyuguhkan pemandangan Hutan Kegelapan yang berada di bawah langit malam cerah dan diterangi bulan terang. Ini adalah hal yang jarang terjadi di musim gugur.
“Menyeramkan namun indah.” Triana kembali bergumam.
Vlador memandang Triana dari samping. “Itu adalah kalimat yang seakan tidak mungkin keluar dari mulutmu.”
Tersadar dari ketertegunannya, Triana menoleh pada Vlador yang berdiri di sampingnya. “Um… kenapa kau membawaku ke sini?”
“Kau akan segera tahu.” Jawab Vlador seraya meraih tangan Triana yang satunya lagi hingga ia menggengam kedua tangannya.
Lalu dalam sekali lompatan sederhana, Vlador membawa Triana berdiri di tengah-tengah bingkai jendela besar itu.
Jantung Triana seakan diremas. Ia mengerahkan kedua tangannya untuk berpegangan pada tangan Vlador karena tembok tempatnya berdiri terlalu sempit. Saat menoleh ke bawah, pemandangan yang sebelumnya terlihat indah baginya, membuat lututnya lemas. Menara ini bahkan lebih tinggi dari pohon-pohon di hutan.
“A-Apa yang kau lakukan?” Pekik Triana, berusaha melompat turun ke dalam kamar, namun tidak berhasil karena kedua tangannya ditahan oleh Vlador.
“Bukankah kau ingin mencari penyihir yang telah mengutuk kita itu?” Tanya Vlador.
Mata bergetar, Triana tidak bisa fokus menatap wajah Vlador. “Tolong biarkan aku turun. Aku bisa mati jika terjatuh ke bawah sana.”
“Sebelumnya kau berkata lebih baik mati daripada hidup dengan wajah buruk rupa, ‘kan?” Kedua ujung bibir Vlador menekuk ke atas.
Triana menggeleng. “Tidak. Aku mohon. Aku hanya berucap omong kosong.”
“Pertama menipu, lalu mengucap omong kosong. Kelihatannya lidahmu tidak sebangsawan statusmu, benar?”
“Aku mohon, Tuan Dracount. Bukankah kau berkata jika aku mati, maka kau akan mati? Aku mohon biarkan aku turun!”
“Bukankah semua manusia menganggap vampir adalah keturunan iblis? Apakah kau mempercayai kata-kata iblis?” Tanya Vlador, menatap Triana jenaka.
Jantung berdegup semakin keras, Triana merasakan dingin merangkak naik ke punggungnya. Lagi-lagi ia berada di ambang kematian. Namun kini, ia tidak akan diam saja. Ia tidak melihat tanda-tanda Vlador akan menerkamnya seperti sebelumnya. Mungkin kali ini ia bisa melawan, atau setidaknya mencobanya.
Tanpa pikir panjang lagi, Triana melompat dari tembok itu untuk mendarat di atas lantai kamar gelap di sebelahnya, namun ia hanya membuat Vlador semakin erat menggenggam tangannya dan malah menarik tubuh gemetarnya.
Tulang pipi Triana menabrak sebuah bidang yang keras dan bergelombang. Ia menolehkan wajahnya untuk menyadari bahwa yang membentur wajah dan tubuhnya adalah tubuh besar Vlador. Sebelum Triana bahkan berpikir untuk menjauh dari tubuh itu, dua benda besar dan panjang menyelumbungi tubuhnya.
Mata melotot besar, Triana menyadari bahwa benda itu adalah kedua lengan Vlador. Lalu ia segera menempatkan kedua tangannya di depan dada sebagai pembatas. “Apa yang kau-“
Kalimat protes Triana terputus saat kedua lengan itu mencekik tubuhnya semakin erat.
“Apa kau pernah terbang?”
![]() |
| Celana >>> |
![]() |
| Mug Lucu >>> |


Komentar
Posting Komentar