Triana.
Kereta menarik mereka hingga ke kota Verxic, tepatnya di depan kantor perjalanan kapal di dekat dermaga untuk memeriksa apakah ada kapal yang akan berlayar dalam waktu dekat.
“Berikan satu kamar terbaik di kapal itu dan bawakan semua barang kami ke sana.” Ucap Vlador seraya meletakkan uang di atas meja.
Tanpa menggerakkan kepalanya, Triana melirik kepingan koin tersebut. Vlador bahkan tidak ragu meminta satu kamar tanpa bertanya tentang pendapatnya terlebih dahulu.
Mengingat kejadian di tub darah, jika mereka tinggal dalam satu kamar selama di kapal, apa yang akan terjadi?
Mungkin pikirannya terlalu kotor, namun bukankah wajar jika hal itu muncul di benaknya?
“Ini adalah kapal pertama yang berlayar dalam satu bulan ini. Angin musim dinginnya masih belum berakhir, namun tidak sebesar dua hari terakhir.” Jelas petugas pria dengan kumis tebal dan bekas luka panjang di punggung tangan hingga lengannya.
Petugas itu menyodorkan selembar kertas. “Tolong isi persetujuan ini bahwa kalian membebaskan kami dari segala tuntutan jika terjadi kecelakaan di tengah perjalanan. Kapal ini lebih kecil dari yang biasanya dan diperuntukkan untuk logistik daripada pelancong”
Vlador mulai mengisi surat pernyataan itu dengan santai. “Terombang ambing di laut saat badai lebih baik daripada menetap lebih lama di sini.”
“Maaf jika kalian mendapat mengalaman buruk di kota ini. Kami memang belum cukup siap menerima pelancong.” Ucap petugas.
“Oh, percayalah, tuan, itu bukan tentang kota ini. Warga Verxic sangat ramah dan hangat.” Triana segera meluruskan.
Petugas itu menghela singkat dan tersenyum sebelum menoleh pada Vlador. “Kau sangat beruntung memiliki istri yang cantik dan berhati lembut.”
Kalimat petugas itu membuat Vlador menghentikan tangannya selama dua detik sebelum kembali menulis dalam diam.
Triana segera berdehem dan tertawa kecil. “Maaf, tapi kami bukanlah pasangan. Ia adalah tuanku dan aku adalah… pengikutnya.”
“A-ah… Maafkan kelancanganku.” Ucap petugas itu seraya menggaruk kepalanya yang seharusnya tidak gatal.
Triana menekan kedua bibirnya dan sedikit menunduk. Itu memalukan karena petugas itu mungkin menilainya dengan rendah karena ia adalah seorang gadis yang tidur berduaan dalam satu kamar bersama tuannya yang merupakan seorang pria. Namun ia bisa menahannya karena tidak ingin membuat Vlador lebih terbebani lagi.
Tarikan napas panjang Vlador membuat Triana meliriknya. Suasana menjadi tegang di antara mereka.
Sembari menyerahkan kertasnya pada petugas, Vlador tersenyum. “Wajahnya terlihat meyakinkan, benar? Istriku sangat pandai membuat suaminya terlihat jahat di depan orang lain.”
Mata Triana membesar. Kepalanya refleks menoleh pada Vlador.
Petugas itu tertawa keras. “Astaga! Ternyata ia adalah wanita yang suka bercanda. Aku masih ingat ketika aku dan istriku adalah pasangan muda. Pernikahan memang terasa sangat menyenangkan dan segar kala itu.”
Vlador tersenyum. “Aku akan menunggu barang-barangnya.”
Kemudian Vlador meraih pinggang Triana dan membawanya pergi menuju kapal. Sementara itu, Triana masih berusaha mencerna kalimat Vlador.
Bagai mimpi di siang hari, Triana tidak menyadari bahwa mereka telah tiba di kamar kapal.
“Ini adalah kapal barang. Jangan heran jika kamarnya kecil dan dingin seperti ini.” Ujar Vlador seraya memeriksa penghangat usang yang berada di sisi kamar. “Benda ini masih berfungsi saja sudah bagus.”
“Ini adalah peti terakhirnya, tuan.” Ucap krew laki-laki muda seraya berjalan mundur ke arah pintu.
“Apa tidak ada kamar lain dengan penghangat lebih layak?” Tanya Vlador.
“Kamar ini adalah satu-satunya kamar dengan penghangat yang berfungsi cukup baik, tuan. Kau pun bisa menetap di sini karena membayar mahal.” Jawab laki-laki itu.
“Tugasmu sudah selesai. Pergilah.” Vlador membayar upah laki-laki itu. Begitu pintu kamar tertutup, ia berbalik pada Triana.
Refleks menurunkan pandangan, Triana terkekeh canggung. “Ya, kapal ini memang kurang berkelas, namun apa yang bisa kita lakukan sementara hanya ini yang tersedia.”
Karena kalimatnya tidak mendapat respon dari Vlador, Triana mengangkat pandangannya hanya untuk mendapati bahwa pria itu sedang menatapnya lekat dengan kedua lengan terlipat di depan dada.
Triana melarikan padangannya ke samping. “Apa ada yang salah?” tanyanya dengan nada setenang mungkin.
Namun kalimat itu hanya membuat Vlador melangkah mendekatinya. Triana pun tidak kuasa mencegah kakinya untuk melangkah mundur.
“Bukankah itu seharusnya adalah pertanyaanku?” Tanya Vlador, masih dengan kedua tangan terlipat dan tatapan yang terus menelisik, seakan Triana adalah seorang pencuri.
“Apa maksudmu, Tuan Vlador?” Triana berlagak berpikir. “Aku tidak merasa ada yang salah. Namun tentu aku merasa bingung jika kau menatapku dengan tatapan seperti itu.”
“Kau terlihat canggung.” Ucap Vlador, membuat debaran jantung Triana semakin keras. “Apa karena kita berdua menempati kamar yang sama?”
Triana berdehem dengan harapan suaranya tidak akan bergetar. “Kita pernah tidur di kamar yang sama, bahkan di ranjang yang sama. Untuk apa aku mempermasalahkannya sekarang?”
“Hm,” Vlador mengangguk-angguk. Lalu ia melangkah maju hingga tidak ada jarak tersisa di antara mereka. Triana yang sudah tersudutkan, terjatuh duduk di pinggir ranjang.
“Biar aku beritahu sesuatu padamu, lady.” Ucap Vlador dengan senyum yang hanya terukir pada kedua matanya. “Keadaanmu saat itu jauh berbeda dengan saat ini.”
Triana memundurkan punggungnya dan menoleh ke kanan dan kiri. Ia meneguk liur melihat bagaimana kedua tangan Vlador telah memenjarakan ruang geraknya. Lehernya menjadi sekaku kayu kering dan terasa sakit untuk menopang kepalanya yang harus medongak ke atas.
“Saat itu kita bersama karena kita terikat oleh kutukan. Namun sekarang, kita bersama karena kau adalah milikku.” Lanjut Vlador.
Triana tidak lagi sanggup meneguk liur. Matanya terpaku memandang leher Vlador yang berada di depan wajahnya. Napasnya nyaris berhenti ketika pria itu meletakkan jari telunjuknya di rahang kirinya dan menggambar garis hingga ke dagunya.
Mengunci dagu bulat Triana dengan jarinya, Vlador mendekatkan wajahnya pada telinga Triana, lalu berbisik, “Bukankah kau berkata ingin menjadi berguna untukku? Mungkin aku bisa menitipkan anak vampir di perutmu.”
Jantung Triana berdegub tanpa irama yang jelas. Wajahnya memanas dan napasnya seakan berubah menjadi uap mendidih.
Tiba-tiba tawa mengalir dari mulut Vlador. Napasnya yang menabrak telinga Triana membuatnya tubuhnya tersontak.
Vlador meluruskan punggungnya kembali, masih terkekeh. “Rapihkan barang-barangmu. Aku akan memeriksa beberapa hal di luar.” Ucapnya seraya melangkah menuju pintu. “Jangan berkeliaran dan jangan membuka pintu untuk siapapun. Kuncilah pintunya begitu aku keluar.”
Suara pintu yang tertutup seakan membuka belenggu yang mengikat Triana. Tubuhnya lepas dari ketegangan dan ia bisa bernapas kembali. Ia memegang dadanya yang masih berdebar keras.
Sebenarnya apa yang Vlador maksud? Apa ia sedang mempermainkannya karena ia adalah seorang lady muda yang menyatakan perasaannya, bahkan hingga memohon-mohon pada pria itu seperti seorang wanita murahan?
Perasaan Triana masih berantakan setelah Vlador berkata pada petugas pelabuhan bahwa ia adalah istrinya. Sekarang, pria itu bisa bercanda dengan berkata bahwa Triana akan mengandung anaknya.
Triana menggelengkan kepalanya keras. “Aku harus tenang. Jika aku terus bersikap canggung, bagaimana aku bisa melewati hari-hari panjang di kapal ini bersama Tuan Vlador? Bukan, aku bahkan akan terus bersamanya bahkan ketika kami turun dari kapal. Aku adalah pengikutnya.”
Ia bangkit dan melangkah menuju peti pakaian. Sebisa mungkin ia harus terus menyibukkan diri agar kecanggungannya cepat menghilang.
Dua puluh menit berlalu. Senyum awet merekah di wajah Triana karena ia tengah membongkar perbekalan dan oleh-oleh yang dikemas oleh para Penyihir Elix untuknya. Bukan hanya berbagai pakaian hangat cantik dan manisan, mereka juga menyelipkan beberapa pernak-pernik unik dan buku-buku menarik.
“Aku harap aku bisa mengunjungi mereka suatu saat nanti. Mungkin beberapa tahun lagi vampir-vampir Verdonix itu sudah menyerah. Dengan begitu, kami berdua bisa mengunjungi mereka lagi.” Gumam Triana seorang diri.
Namun kening Triana mengkerut ketika ia merasakan kapalnya bergoyang. Ia langsung bangkit berdiri dan menghampiri jendela yang tertutup. Angin menerbangkan rambutnya ketika ia membuka jendela tersebut.
Ketika Triana mengintip keluar, matanya terbelalak saat ia melihat bahwa kapalnya telah berlayar cukup jauh dari daratan.
“Kapalnya… sudah berlayar?” Gumam Triana setelah menarik kepalanya masuk kembali. “Bagaimana mungkin aku tidak menyadarinya?”
Lalu ia menoleh pada pintu kamar. “Kenapa Tuan Vlador belum kembali juga?”
Kembali ke ranjang, Triana duduk di bagian yang sebelumnya ia duduki. Jarinya mulai mengusap satu sama lain di atas pangkuannya.
Vlador telah pergi cukup lama, bahkan hingga kapal sudah bergerak sejauh itu dari daratan. Kenapa ia sangat lama?
‘Manusia akan sengsara jika hidup bersama vampir. Contoh jelasnya adalah ibuku.’
Tiba-tiba Triana teringat pada kalimat yang pernah Vlador ucapkan.
Matanya seketika terbelalak dan ia berlari menuju pintu. Ia membuka jendela kecil di tengah pintu itu dan mengintip keluar hanya untuk menemukan lorong kosong.
Napas Triana mulai berhembus berat. Apakah Vlador pergi meninggalkannya?
Tanpa berpikir panjang lagi, Triana membuka kunci pintu dan keluar dari kamar. Dengan jantung berdegub cepat dan mata memanas, ia menyusuri lorong itu.
“Tuan Vlador! Tuan Vlador!” Seru Triana.
Ia berjalan cepat, lalu berlari tidak tentu arah. Ia terus meneriakkan nama Vlador dan bertanya tentang keberadaan pria itu pada setiap orang yang ia temukan. Namun tidak ada yang pernah melihat sosok yang terlalu menonjol jika dibandingkan dengan para penumpang kapal itu.
Triana tidak percaya bahwa Vlador meninggalkannya. Ia tidak mungkin setega itu. Bukankah ia sudah berjanji?
Kaki Triana terus berlari meski terasa lemas, hingga ia tiba di depan kapal. Di sana, ia tetap tidak menemukan Vlador. Ia hanya melihat lautan luas yang nampak mengerikan. Angin membekukan bertiup keras hingga membuat tubuhnya menggigil.
Vlador tidak ada. Triana benar-benar sendirian sekarang.
Teman2! Makasih banyak supportnya yaa!
Selamat Hari Raya Idul Fitri untuk teman2 yang merayakan! Mohon maaf lahir batin 😊🙏
![]() |
| LIHAT PRODUK |
![]() |
| LIHAT PRODUK |


Semangattt kakaaaa!! Terimakasih updatenyaaa!
BalasHapusTrimakasih jugaaa 💗💗
HapusSEMANGAT KAKK💐💐❤️❤️❤️
BalasHapus