Langsung ke konten utama

73. Menahan Diri // Dikutuk Bersama Tuan Vampir

    Banner Novel Seri

Triana.

 

Air mata menggenangi kedua iris birunya. Triana terus menahan agar air mata itu tidak terjatuh.

Vlador telah meninggalkannya. Vlador membuangnya.

Dengan langkah limbung, Triana kembali menuju kamarnya. Udara dingin yang memecut kulit dan menusuk tulangnya tidak ia pedulikan. Hatinya sakit dan ketakutan menyelimutinya.

Vlador memang tidak mengembalikannya pada keluarganya, namun ia meninggalkannya di kapal yang entah berlayar ke mana.

Triana hanya bodoh.

Ia pikir Vlador tulus padanya. Namun ternyata hal yang sempat ia takutkan benar adanya. Yang selama ini pria itu pedulikan hanyalah kutukan mereka.

Pada akhirnya, Triana menyadari bahwa tidak ada seorang pun di dunia ini yang tulus padanya. Semua orang hanya tinggal untuk memanfaatkannya.

Ia hanyalah boneka yang dipamerkan, dan akan dibuang ketika sudah usang dan membosankan.

Tiba-tiba sesuatu menarik lengan Triana dan membuat tubuhnya berbalik.

“Triana, aku sudah berkata jangan keluar dari kamar. Apa kau tidak tahu betapa berbahayanya di luar sini?”

Mata Triana terbelalak menatap Vlador yang sedang memarahinya.

“Kau bahkan tidak mengenakan mantelmu. Apa kau berniat mati kedinginan? Apa yang ada di dalam pikiranmu?” Lanjut Vlador seraya membuka mantelnya sendiri.

Pandangan Triana berkabut. Air matanya akhirnya menetes dan tangisan keras meledak. Ia memeluk Vlador dengan geram.

“Apa yang terjadi? Apa ada yang mengganggumu?” Tanya Vlador langsung.

“Kenapa kau pergi sangat lama? Aku menunggumu, namun kau tidak kunjung kembali. Aku pikir kau meninggalkanku!” Seru Triana dalam tangisnya.

“Aku sudah memberitahumu; aku akan memeriksa kondisi di luar. Mana mungkin aku meninggalkanmu?” Balas Vlador.

Namun tangis Triana semakin menjadi. Ia tidak pernah merasa sekacau itu. Rasa kesal, marah, dan lega bercampur aduk di dalam dadanya.

“Aku pikir kau membuangku karena kau tidak lagi membutuhkanku. Aku sangat takut.” Ucap Triana dengan wajah masih terbenam di dada Vlador.

Perlahan, kedua lengan Vlador membungkus tubuh Triana. Usapan tangannya di punggung Triana membuat tangisnya mereda.

“Maaf, aku tidak bermaksud pergi terlalu lama dan membuatmu khawatir.” Ucap Vlador seraya membalut tubuh Triana dengan mantel hitam, besarnya.

Kemudian pria itu mengangkat tubuh Triana dan menggendongnya di depan seperti anak-anak. Air mata masih mengalir perlahan menuruni pipi Triana. Ia menyembunyikan wajahnya di leher Vlador, sementara pria itu membawanya kembali ke kamar.

 

***

 

Vlador.

 

Ia meletakkan susu hangat dan roti di atas pangkuan Triana.

“Kita tidak tahu sampai kapan kau bisa menikmati susu selama berada di kapal ini.” Ucap Vlador.

Triana mengangkat susu itu dari atas nampan dan meneguknya hingga hampir habis.

Menghela, Vlador duduk di kursi kecil yang sebelumnya ia seret ke samping ranjang. Matanya terus memperhatikan Triana dengan seksama.

“Semakin lama, kau menjadi semakin liar. Apa ini adalah kesalahanku yang mengajarkanmu untuk menjadi pemberani?”

Bibir Triana masih mengerucut. Mata sembabnya membuat Vlador tertawa kecil. “Terlalu lama menangis membuatmu buruk rupa.”

“Jangan menggodaku terus! Kau benar-benar menyebalkan!” Desis Triana.

Kembali menghela panjang dan melipat lengan di depan dada, Vlador menjawab, “Kau sendiri yang menuduhku kabur meninggalkanmu, namun kau malah menyalahkanku?”

“Siapa yang tidak berpikir seperti itu jika kau ke luar sangat lama, bahkan hingga kapal berlayar jauh? Ini adalah kapal kecil, apa yang kau periksa?”

Omelan Triana membuat Vlador diam.

Itu benar. Vlador memang tidak memeriksa apa-apa di luar. Ia hanya mencari alasan untuk menghindari Triana karena tiba-tiba sesuatu di dalam dirinya akan membahayakan gadis itu. Ia tidak menyangka nafsunya mendadak merangkak naik karena leluconnya sendiri.

“Kesalahanku telah membuatmu khawatir. Namun aku ingin mengingatkanmu lagi bahwa aku telah berjanji tidak akan meninggalkanmu. Aku tidak akan mengingkari janjiku, jadi jangan ada lagi pikiran seperti itu di benakmu.” Ucap Vlador.

Triana mengangguk pelan. Air mata kembali menggenang di balik kelopak matanya yang sembab. “Maafkan aku sudah membuat keributan. Aku sangat takut sehingga pikiranku menjadi pendek. Aku pikir kau meninggalkanku karena aku sudah tidak berguna.”

“Aku sudah mengijinkanmu ikut denganku, untuk apa aku mempermasalahkan hal itu?” Tanya Vlador kesal.

Triana hanya menatapnya bingung sambil mengerjap beberapa kali.

Vlador mendecak. “Baiklah, Itik. Aku tidak benar-benar memintamu menjadi berguna untukku. Aku hanya mengerjaimu karena kau sangat berisik. Aku tahu kau takut tinggal sendirian di dunia ini namun tidak mau kembali pada orangtuamu. Kau tidak perlu memberiku imbalan apapun. Kau juga bisa menjadi wanita berdaya, seperti impianmu. Karena itu, jangan terlalu banyak khawatir dan…”

Kalimat Vlador tersangkut di tenggorokannya. Ia menarik napas dan berdehem singkat sebelum melanjutkan, “Dan kau tidak perlu sampai harus mengatakan bahwa kau mencintaiku dan bahkan memberikan tubuhmu untukku hanya demi bisa ikut denganku. Mungkin ada beberapa hal yang membuatmu berpikir bahwa aku adalah pangeran berengsek, namun aku tidak serendah itu. Aku tidak berniat memanfaatkanmu.”

Kesunyian hinggap di antara mereka selama beberapa detik. Dengan rasa tidak nyaman di dadanya, Vlador memperhatikan wajah Triana.

Gadis itu menatap lurus ke depan. Meski wajahnya yang sembab terlihat lucu, ketiadaan ekspresi di sana membuat Vlador gugup.

“Tapi, Tuan Vlador,” Triana menatapnya. “Aku pun tidak serendah itu.”

Kening Vlador mengkerut. “Apa?”

“Aku pernah membohongimu tentang ramuan yang membuat kita terikat dalam kutukan. Namun aku tidak mungkin berbohong tentang perasaanku.” Jelas Triana.

“Tuan Vlador, kau yang mengajarkanku tentang banyak hal dan membuka pikiranku lebih bebas. Aku selalu bahagia dan merasa aman saat berada di sisimu, dan aku percaya seterusnya akan seperti itu. Karena itu, aku bersikeras untuk ikut denganmu.” Lanjut gadis itu, lalu menurunkan pandangannya. “Aku berkata bahwa aku mencintaimu. Itu adalah perasaanku yang sesungguhnya.”

Pernyataan Triana membuat Vlador harus menahan napas. Ia menarik selimut Triana hingga ke dada gadis itu. “Beristirahatlah. Ini adalah hari yang melelahkan.”

Triana membaringkan tubuhnya tanpa melepaskan pandangannya dari Vlador. Sementara itu, Vlador hanya mengusap rambut pirang Triana yang tergerai di atas bantal dengan jemarinya.

“Apa kau merasa terganggu?” Tanya Triana pelan.

Vlador menatap mata Triana lembut dan menggeleng. “Tidak.”

“Lalu apa yang sedang kau pikirkan?” Tanya Triana lagi.

“Cara melindungimu.” Jawab Vlador.

Triana menghela panjang, lalu menatap kosong ke langit-langit kamar. “Apa menurutmu mereka masih mengejar kita?”

“Maksudmu Verdonix?” Tanya Vlador, lalu melanjutkan, “Mungkin saja.”

“Shebsa berkata bahwa mereka mengejarmu untuk membangkitkan pasukan vampir kuno. Dengan begitu, kau akan menjadi raja dari semua vampir. Kenapa kau menolaknya?” Tanya Triana.

Tangan Vlador yang sedang membuai rambut Triana terhenti. Ia menghela napas panjang sembari memundurkan punggungnya untuk bersandar pada sandaran kursi yang mengeluarkan suara decitan.

Triana kembali duduk. Ia menatap Vlador penuh tanya. “Bukankah kau memimpikan kekuasaan?”

“Kau masih sangat muda. Kau tidak akan bisa membayangkan bagaimana keadaan dunia jika vampir kembali bangkit dan berkuasa.” Tutur Vlador.

“Kau… tidak mau terjadi peperangan lagi,” gumam Triana sendiri.

“Sebaik-baiknya jika vampir bangkit, itu adalah hal yang buruk untuk umat manusia.”

Kalimat Vlador membuat Triana tersenyum tipis. Ia menatapnya dengan mata berbinar. “Terima kasih telah memikirkan hal itu, Tuan Vlador. Dan terima kasih telah memikirkan keselamatanku.”

Senyuman Triana membuat kening Vlador mengkerut. Sesuatu di dalam dirinya kembali bergejolak.

“Apa kau tidak takut sama sekali padaku?” Tanya Vlador.

“Kenapa aku harus takut padamu?” Triana bertanya balik.

“Sekarang nyawa kita tidak lagi terhubung. Aku bisa memakanmu hidup-hidup kapan saja.” Jawab Vlador.

Tawa kecil mengalir dari bibir merah Triana. “Kau tidak akan melakukan itu.”

Vlador menyipitkan matanya. Lalu ia berdehem untuk mengobati kerongkongannya yang terasa tidak nyaman. “Selain itu, apa tidak ada hal lain yang kau takuti dariku?”

“Hm,” Triana berpikir sejenak. “Satu-satunya yang aku takutkan adalah jika kau meninggalkanku. Selain itu, tidak ada. Aku merasa aman jika berada di dekatmu.”

Vlador menjatuhkan tangannya ke samping kursi dan mengepalkannya kuat-kuat.

“Ngomong-ngomong, kau mungkin tidak menyadarinya, namun sejak awal kita bertemu, kau tidak pernah menyebut namaku secara langsung. Kau selalu memanggilku dengan sebutan Itik. Namun akhir-akhir ini kau menyebut namaku secara langsung. Aku rasa aku juga harus memanggilmu dengan gelarmu yang sebenarnya, yaitu Pangeran Vlador.”

Vlador terdiam. Itu benar. Sejak kapan ia mulai memanggil Triana dengan namanya langsung? Sihir apa yang Triana tanamkan padanya?

Senyum cerah merekah di wajah Triana. “Pangeran Vlador; apa itu terdengar aneh jika aku yang mengucapkannya?”

Kalimat Triana bagai pematik yang meyulut peledak di dalam dada Vlador. Ia memejamkan matanya erat dan bangkit berdiri.

“Beristirahatlah. Jangan menungguku kembali. Aku mungkin akan lama di luar.”

Namun tangan hangat Triana menangkap jemari Vlador saat ia hendak pergi, mengalirkan kejutan yang menggelitik perutnya.

Triana berdehem. “Tolong jangan berpikir aneh, namun di kamar ini hanya ada satu ranjang saja. Meski tidak besar, aku akan menyisakan cukup tempat jika kau ingin beristirahat.”

Vlador melepaskan tangan Triana. “Vampir tidak tidur.” Ucapnya sebelum bergegas keluar kamar.

Keningnya terus mengkerut. Ia tidak tahan untuk menggertakkan giginya. Ia haus. Ia harus minum.

Trimakasih sudah membaca dan terus support cerita ini, teman2!! 💗💗💜💜

Jangan ketinggalan info setiap update bab, selalu aku posting di story IG : @author_kalong_ungu

Klik untuk lihat produk

Klik untuk lihat produk



Komentar

  1. Akhirnyaaa yg dtungu tunggu🥳🥳🥳🥳🥳😍semngat trussss kak

    BalasHapus

Posting Komentar