Langsung ke konten utama

74. Haus Tak Tertahankan // Dikutuk Bersama Tuan Vampir

    Banner Novel Seri

Vlador

 

Angin berhembus kuat. Suhu dinginnya seperti pisau yang menusuk tulang-tulang dan mengikis kulit, namun hal itu tidak memengaruhi Vlador.

Ia berdiri diam di atap tertinggi kapal. Matanya memandang ujung lautan, namun pikirannya sedang berkelana di dalam kekalutannya sendiri.

Akhir-akhir ini Vlador minum dengan baik. Mungkin Triana tidak menyadarinya karena ia bersembunyi seperti kalelawar di malam gelap, namun ia telah meminum darah secara rutin untuk mencegah rasa hausnya timbul. Hanya saja ada hal yang tidak ia mengerti - rasa haus itu terus muncul dan terasa semakin kuat saat ia berada di dekat Triana.

Apakah sisa kutukan itu masih ada di dalam dirinya?

Suara pintu yang tertutup keras hingga terdengar seperti suara bantingan membuat Vlador menoleh ke bawah. Seorang pria berpakaian tebal muncul sambil menarik sebuah barel, lalu menuangkan isinya ke laut lepas.

Setelah memastikan tidak ada orang di sekitar, Vlador perlahan turun menuju dek kapal. Ia berdiri di belakang punggung pria itu.

“Astaga!” Seru pria itu begitu ia berbalik punggung. “Apa yang kau lakukan? Kau sungguh mengejutkanku!”

Vlador tersenyum tipis. “Malam yang dingin, benar?”

Pria itu mengeratkan syal yang melilit lehernya. “Ya, dan aku bertugas membuang sampah. Ini sungguh menjengkelkan.”

“Tidakkah syal itu mencekik lehermu?” Tanya Vlador.

“Udara dingin ini lebih mencekikku.” Jawab pria itu, lalu melanjutkan, “Aku tidak sabar pindah ke wilayah yang sedikit lebih hangat.”

Lalu pria itu hendak menarik barelnya lagi. “Kau menghalangi jalanku, pria muda. Apa yang kau inginkan?”

Tidak menjawab, Vlador melebarkan senyumnya.

 

***

 

Triana

 

Angin menembus masuk dari celah kecil jendela dan pintu. Udara di dalam kamar kian menusuk kulit.

Triana terjaga karena merasakan jari-jari kakinya seperti membeku.

“Dingin sekali,” Gumamnya, hampir tanpa suara.

Ia menoleh ke cerobong penghangat dan mengerutkan dahi karena benda aneh itu seakan tidak berguna sama sekali. Setelah itu ia menoleh pada sisi ranjang yang ia sisakan untuk Vlador. Ia menghela napas saat mendapati sisi dingin tersebut, lalu kembali berbaring.

“Ke mana dia?” Gumam Triana seraya membenahi bantal kepalanya. Namun, sesuatu di pojok ruangan membuat tubuhnya mematung.

Meski tidak dapat bergerak, Triana berkedip beberapa kali untuk mempertajam pengelihatannya. Sepasang mata merah menyala tengah memperhatikannya dari dalam kegelapan.

Perlahan, Triana kembali duduk. Sambil terus menjaga mata yang menyala itu, ia menyipitkan matanya, dan menyadari bahwa sepasang mata menyeramkan itu adalah milik Vlador yang sedang berdiri beberapa langkah dari kaki ranjangnya.

“Tuan Vlador?” Panggil Triana, masih berusaha melihat dengan jelas ke dalam kegelapan. “Kenapa kau berdiri di sana?”

Namun Vlador hanya diam.

“Apa kau baik-baik saja?” Triana menyibak selimutnya, hendak turun dari ranjang.

“Diam di sana.”

Suara Vlador menghentikan Triana tepat sebelum salah satu kakinya sempat turun dari ranjang.

“A-apa yang terjadi?” Tanya Triana, memperhatikan kedua mata merah Vlador.

“Apa kau takut?” Tanya Vlador.

Diam sejenak, Triana menggeleng. “Aku khawatir padamu. Apa yang terjadi? Katakanlah jika ada masalah – aku akan membantu sebisaku.”

“Apa kau yakin bisa membantuku?” Tanya Vlador.

Mengangguk pelan, Triana menjawab, “Aku cukup yakin aku bisa.”

Sunyi sejenak dari sudut kamar. Kemudian suara kayu berdecit dan Vlador keluar dari kegelapan itu.

Mata Triana membesar saat melihat kondisi tunik yang dikenakan Vlador. Hampir seluruh bagian depan tunik putih tersebut berlumur darah. Bukan hanya pakaiannya, tetapi juga mulut pria itu kotor oleh darah segar.

Triana refleks menutup mulutnya dengan satu tangan. Meski itu bukan pertama kalinya ia melihat penampakan Vlador setelah meminum darah secara brutal, ia tetap belum terbiasa.

“A-Apa kau baru saja makan? Apa seseorang di kapal ini melihatmu melakukannya?” Tanya Triana, berusaha untuk tidak panik.

“Tidak.” Jawab Vlador.

“Syukurlah,” Triana langsung melompat turun dari ranjang dan menghampiri peti pakaian. Ia membuka peti tersebut dan menarik keluar salah satu tunik Vlador. “Maka semua akan baik-baik saja. Namun tunikmu kotor. Kau harus segera menggantinya.”

Kemudian Triana membalik tubuhnya untuk memberikan tunik tersebut, namun ia jatuh terduduk saat mendapati Vlador tengah berjongkok tepat di belakangnya.

Vlador tidak mengatakan apa-apa selain menatap kedua mata Triana dalam-dalam, seakan hendak menyantap jiwanya. “Aku berkata agar kau diam di atas ranjang. Udara sangat dingin - kakimu mungkin membeku.” Ucapnya seraya melirik kaki Triana.

Meneguk liur diam-diam, Triana menurunkan pandangannya. Tatapan Vlador mengintimidasinya, namun entah mengapa ia tidak melihat ancaman di sana. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada pria itu.

“Sesuatu yang aneh terjadi padaku, Triana.” Ucapan Vlador tiba-tiba membuat Triana kembali menatapnya. Lalu ia melanjutkan, “Aku sudah minum, namun tubuhku masih merasa haus.”

“Apa?” Triana mengerutkan keningnya. Lalu matanya membesar. “Mungkinkah kutukannya masih tersisa?”

“Aku tidak tahu.” Ucap Vlador.

“Apakah…” Triana menekan kedua bibirnya, lalu melanjutkan, “… bantuan yang kau maksud itu adalah meminum darahku?”

Vlador diam selama beberapa detik, namun napasnya terdengar berat. Lalu ia menjawab, “Benar.”

Triana terdiam. Jadi ia harus membiarkan Vlador meminum darahnya lagi? Sejujurnya ia agak takut. Ia tidak pernah melihat Vlador begitu berantakan hanya karena darahnya seperti ini. Ia takut Vlador meminum darahnya dengan berlebihan dan malah mengancam nyawanya.

Rasa takut dan suhu membekukan membuat tubuh Triana menggigil. Tiba-tiba Vlador mengangkat tubuh mungilnya hingga membuatnya memekik. Pria itu menggendongnya ke atas ranjang tanpa ia minta. Namun, yang aneh, Vlador melakukannya dengan sangat cepat. Pergerakannya bahkan terasa lebih kasar dari biasanya.

“Jika kau keberatan, aku akan keluar.” Ucap Vlador dengan nada terburu-buru.

Mendengar itu, Triana segera memegang satu tangan Vlador untuk menahannya agar tidak pergi. Lalu ia menarik napas panjang dan berkata, “Kau sudah pernah meminum darahku. Hanya karena kita sudah tidak terhubung oleh kutukan itu, bukan berarti kau tidak lagi bisa meminum darahku.”

“Namun, Tuan Vlador,” Triana berdehem sebelum melanjutkan, “tolong jangan bersikap kasar dan perhatikan seberapa banyak yang sudah kau ambil. Nyawa kita sudah tidak terhubung, jadi aku cukup mengkhawatirkan milikku.”

Vlador hanya menatap kedua mata Triana selama dua detik dalam diam, lalu mata merah itu bergerak ke arah meja nakas di samping ranjang. Ia menyambar gelas air dan membuang asal isinya ke lantai kayu sebelum memberikan gelas kosong itu kepada Triana.

“Jika aku berlebihan dan tidak menyadarinya, pukul kepalaku sekuat tenagamu.” Ucap Vlador.

“Apa kau bercanda?” Triana menatap gelas yang masih mengambang di hadapannya.

Vlador meraih tangan Triana dan membuatnya menggenggam gelas tersebut. “Kau tahu aku tidak bercanda. Aku tidak ingin menyakitimu.”

Kalimat Vlador mengirimkan sensasi aneh di dalam dada Triana, membuatnya menekan kedua bibirnya. Ia mengangguk kecil. “Semoga aku tidak harus menggunakan benda ini.”

Tanpa mengatakan apa pun lagi, Vlador berlutut di depan tubuh Triana. Dinding di belakang punggung Triana sudah membuatnya sesak, namun Vlador seakan mencekiknya dengan membatasi ruang geraknya dengan kedua kaki jenjangnya yang bertekuk lutut.

Napas Triana semakin sesak ketika Vlador menarik lepas tunik kotornya dari tubuhnya. Lalu ia mengusap asal bekas darah korban sebelumnya yang mengotori wajahnya sebelum melempar tunik tersebut ke kegelapan.

Lekuk tubuh Vlador yang memantulkan cahaya kekuningan dari satu-satunya lampu minyak di kamar terlihat seperti perbukitan misterius yang menyimpan kutukan. Triana tidak kuasa meneguk liur. Jantungnya berdegup semakin keras.

Vlador mendekatkan wajahnya. Sayangnya, Triana tidak dapat menjauh lagi karena ada dinding di belakangnya. Punggungnya menegang ketika tangan Vlador menyusup masuk ke balik rambutnya. Telapak tangan hangat dan besar itu bergerak seperti ular, membungkus batang lehernya dari belakang.

“Aku akan melakukannya sesingkat mungkin. Pukul kepalaku jika aku berlebihan.” Ucap Vlador lagi dengan suaranya yang terdengar seperti bisikan.

Meski Vlador pernah meminum darah Triana beberapa kali, keadaan kali ini berbeda. Ada sesuatu yang janggal yang tidak dapat Triana utarakan. Di samping sikap Vlador yang cukup aneh, Triana tidak dapat menyangkal bahwa perasaannya terhadap Vlador membuatnya tidak mampu mengendalikan detak jantung dan rasa hangat di wajahnya.

Memejamkan mata erat, Triana memiringkan kepalanya seperti biasa. Meski ada rasa khawatir dan kecanggungan, pancaran suhu hangat dari tubuh Vlador memberikan rasa nyaman dan aneh di saat yang sama. Semua perasaan itu bercampur aduk di dalam perut Triana, membuat pipinya semakin panas.

Perlahan, Triana merasakan rambut Vlador menggelitik kulitnya, lalu mulut pria itu menempel pada pangkal lehernya. Ia menahan napas ketika sepasang benda tajam perlahan menembus kulit dan dagingnya.

Rasa nyeri membuat Triana meringis, namun ia masih bisa menahannya meski tanpa sadar telah meremas bahu keras Vlador.

Setelah menancapkan taringnya cukup dalam, Vlador menarik kembali kedua taring tersebut hingga menciptakan luka lubang gigitan yang mengucurkan darah. Saat itu juga pria itu menghisap darah Triana, menambah rasa sakit yang sudah ada.

Setidaknya Vlador tidak menghisap darah Triana sebrutal saat pertemuan pertama mereka. Kali ini Vlador sangat berhati-hati, bahkan Triana dapat merasakan bibir panas pria itu bergerak pelan di pundaknya dan lidah lunaknya beberapa kali menyapu lukanya hingga membuat Triana merintih kecil. Namun, ia tidak menyangka akan mendengar Vlador menggeram.

Cek Produk >>

Cek Produk >>



Komentar

  1. Semangattt thorr🥰🥰

    BalasHapus
  2. SEMANGAT TERUS KAK❤️❤️❤️

    BalasHapus
  3. Kakakkkk semangattt, aku nunggu karyanya terusss

    BalasHapus
  4. semangat kaa update nyaa 🫶🏻🫶🏻

    BalasHapus

Posting Komentar